Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
26


__ADS_3

Plak!


"Kenapa ini bisa sampai kejadian?! Kamu gak jagain anak saya, hah?!" Satpam bernama Gayus itu mengelus pipinya yang perih sehabis ditampar sang atasan. Badannya memang besar, tampangnya juga garang, tapi tetap saja jika dihadapkan dengan Ares yang sedang murka, nyalinya jadi kerdil.


Suasana berubah senyap. Tak ada yang berani buka suara. Tidak Mbok Nunik yang hanya menunduk sambil berurai air mata, tidak Pak Rapto yang badannya sudah gemetaran, bahkan tidak pula Serena yang menatap Ares panik dengan kedua matanya yang berair.


Pandangan Ares beralih pada satu satpamnya lagi. Beliau sudah cukup berumur. Namanya Pak Rapto. Ares pun meredakan sedikit emosinya. "Jelaskan kronologinya. Kenapa anak saya sampai bisa keluar rumah sendirian? Bapak dimana?"


Pria paruh baya itu *******-***** tangan keriputnya. "Saya gak tahu, Tuan. Saya lagi di belakang. Hari ini Gayus yang jaga pagi."


Rahang Ares kembali mengetat. Ia spontan menarik kerah seragam hitam-hitam yang dikenakan Gayus. "Gak becus!" bentakkan Ares menggema di seluruh ruang tamu. "Jaga anak kecil aja gak bisa! Kerja kamu apa?! Kamu kemana sampe Altan bisa gak ada?! Dimana kamu, hah?!"


Gayus menegang panik. Badannya gemetaran. Dan bibirnya seolah jadi gagap.


"Kalo saya tanya, jawab!" Bentaknya lagi.


"An-anu, Tuan. S-saya... saya...


"Jawab yang bener!"


"Tadi saya sudah jaga di depan, Tuan, pas Den Altan main di teras rumah. Saya... pengin ke toilet sebentar, tapi gak jadi karena si Mbok lagi masuk ke dalam sebentar. Saya yang nemenin Den Altan gantiin si Mbok. Terus Den Altan malah nyuruh saya ke belakang aja dan bilang gapapa kalo ditinggal sebentar. Den Altan sendiri yang---


"Bodoh!" teriak Ares di depan wajah Gayus. "Kamu nurut aja dia bilang begitu, hah?! Dan sekarang kamu malah nyalahin anak saya?! Argh! Sialan!!!" Mbok Nunik dan Pak Rapto sudah meringkuk takut saat tangan Ares melayang ke udara, tapi tangan Serena menghalaunya.


"Cukup, Res, jangan kayak gini aku mohon. Altan gak bakal ketemu kalo kita cuma nyalahin orang. Lebih baik kita---


"Diam kamu!!!" Ares mendorong tubuh Serena sampai hampir terjerembab jatuh, namun untungnya ditahan Mbok Nunik. "Jangan sok menasihati aku! Semua ini terjadi juga karena kamu! Kalo aja semalam kamu gak sok ngide nidurin Altan lebih awal, mungkin Altan akan ikut sama kita. Kalo aja semalam kamu gak mabuk, mungkin kita akan pulang lebih awal dan gak perlu nginep!!!"


"Aku gak tau kalo bakal kayak gini, Res. Aku gak tau." Isak Serena dalam tangisnya.


"Kamu emang gak tau segalanya! Kamu gak tau gimana cara merawat anak! Kamu gak tau cara menjaga anak! Kamu udah gagal jadi seorang istri! Dan sekarang kamu juga gagal sebagai seorang ibu, Serena!!!"


"Tuan jangan salahin Nyonya," Mbok Nunik menangis saat mengatakan ini. "Saya yang salah. Saya yang lalai. Saya yang ninggalin Den Altan di teras depan. Kalo Tuan mau salahin orang, itu saya orangnya, Tuan. Salahin saya saja."


Ares mengepalkan tangan menatap Serena. Tensi kemarahannya sama sekali tidak turun. Ia sudah terlanjur diselimuti kemarahan. Ia panik, namun tak bisa menjelaskannya hingga meluapkanya lewar emosi. Wanita di depannya yang tengah menangis dalam pelukan Mbok Nunik ini terlihat sangat menyedihkan. Tapi Ares sama sekali tidak kasihan. Entah dimana hati nuraninya. Di matanya, Serena selalu salah.


"Mami! Papi!"


Semua yang ada di ruang tamu kompak menoleh ke sumber suara. Ada Altan yang tengah tersenyum lebar di depan pintu utama. Ia terlihat sangat ceria karena bisa kembali ke rumahnya sendiri. Tapi kehadirannya tidak sendiri. Ia didampingi seorang wanita yang berdiri dengan tubuh menegang dan wajah terkejutnya.


Serena menegakkan tubuh. Matanya yang basah karena air mata, kini berbinar haru. Wanita itu berlari menghampiri Altan. Meraba-raba wajah puteranya untuk memastikan bahwa ini bukan halusinasi semata.


"Sayang...." Bisiknya haru. Lalu memeluk Altan seerat-eratnya seolah tak ingin dan tak akan pernah melepaskannya.


"Mami jangan nangis." Usap Altan sayang.


Ibu dan anak itu hanyut dalam keharu biruan. Orang-orang rumah juga ikut merasakan lega karena tuan kecil mereka sudah kembali. Namun keadaan berbeda ditunjukkan sang tuan besar yang nampak tak bergerak sama sekali. Mata tajamnya berubah jadi penuh keterkejutan. Menatap wanita yang berdiri sekitar enam langkah darinya itu dengan tatapan tak percaya.


"Michelle," tatapan kosong Anye pada Ares harus terputus saat Serena berdiri di depannya. Bosnya itu tersenyum haru menatap dirinya. "Terima kasih. Terima kasih banyak. Saya gak tau harus dengan cara apa saya menyampaikan rasa terima kasih ini. Terima kasih udah bawa Altan pulang." Serena memeluk Anye penuh rasa syukur. Sementara Anye diam tak melakukan apapun. Membalas pelukan Serena pun tidak. Tatapannya hanya lurus pada Ares seorang.


"Papi. Kenapa Papi diem aja?" Pertanyaan bocah kecil itu menarik perhatian sampai-sampai semuanya menoleh pada Ares. Termasuk Serena yang perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Ares.


Ares, pria itu berjalan dengan ragu. Mencoba menarik sedikit sudut bibirnya agar Altan merasa senang. Kakinya ia turunkan agar sejajar dengan wajah puteranya. Ares mengecup lama kening Altan. Anaknya itu lalu menyambut pelukan darinya dengan penuh sayang. Saat memeluk Altan, Ares sempat melirik Anye yang juga tengah menatapnya.


Ares melepaskan pelukan dan mengusap lembut pipi Altan. "Are you okay?"


"Iya," bocah itu tersenyum memperlihatkan gigi rapinya. "Tadi Altan ditolongin Tante ini, Pi."


Menghembuskan napas kasar, Ares berdiri di depan Anye. Membiarkan hening menjadi penengah di antara mereka untuk beberapa waktu. "Terima kasih. Terima kasih telah... membawa Altan pulang."

__ADS_1


Anye diam seribu bahasa. Matanya terlihat berkaca-kaca. Wanita mana yang kuat dihadapkan sebuah fakta sebesar ini?


"Res, kenalin. Ini Michelle. Salah satu model di agensiku. Dia juga udah aku anggap sebagai temanku sendiri," senyum Serena pada sang suami yang justru sedang menatap lurus pada Anye. "Dan, Michelle, kenalin. Ini Ares suami saya."


Anye melirik Serena datar. Penuh kegamangan dan ketidak percayaan. Namun demi kesopanan, ia menyunggingkan senyum segaris. Sangat tipis, nyaris tak terlihat. Ia pun mengulurkan tangan pada Ares. "Michelle. Michelle Louis."


Gerakan slow motion diperlihatkan Ares saat mengangkat tangan. Saat saling bersalaman, ia sengaja mengusap-usap punggung tangan Anye dengan ibu jarinya. "Ares."


Anye nampak tak nyaman. Ia sengaja menarik uluran tangan lebih dulu. Menoleh pada Serena dengan senyum yang mati-matian ia pertahankan. "Altan sudah disini, saya izin pamit, Bu."


"Loh? Kenapa buru-buru. Belum saya tawarin duduk dan minum."


"Gak perlu repot-repot, Bu."


"Kamu aja nganterin anak saya gak bilang repot. Kenapa saya harus merasa direpotkan kalo cuma menjamu kamu disini."


"Maaf banget, Bu, sekali lagi. Mungkin lain kali. Saya masih ada urusan."


"Sayang banget," desah Serena kecewa. "Ya udah deh kalo gitu. Kamu saya izinin pulang. Mau saya antar pulang gak?"


"Gak usah, Bu. Saya bawa mobil, kok."


"Oh ya udah. Kalo gitu saya antar ke depan." Serena mengantar Anye sampai teras depan. Diiringi Ares, Altan, dan ketiga pekerja rumah ini.


Untuk ke sekian kalinya Serena berterima kasih lagi pada Anye. Anye sampai bingung harus bersikap bagaimana karena ia pun bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Sebelum benar-benar pamit, Anye sempat melirik Ares dalam--seperti tak rela beranjak pergi. Karena jujur saja, rasa-ingin-menuntut-penjelasan dalam dirinya sangat tinggi. Ia ingin Ares menjelaskan apa semua ini? Apa ini?


Dan hal itu disadari seseorang yang mengawasi rumah mewah bertingkat dua itu dalam range rover hitam. Senyumnya tersungging miring--bahkan hampir menyeringai. Ia merasa puas menyaksikan adegan di depannya ini.


"Well done. Semoga ini bisa bikin kamu sadar, Antares."


...• • • • •...


Serena sengaja mengajak Altan menonton karena belum mau membahas masalah hilangnya Altan tadi. Ia takut Altan akan mempunyai ingatan buruk akan hal itu.


Dalam keheningan yang terjadi karena Altan terlalu hanyut pada filmnya, Serena menoleh ke sisi kiri. Ada Ares yang tengah menumpu dagu dengan tangan kirinya. Pria itu terlihat melamun. Pandangannya memang ke depan, tapi Serena yakin pandangan itu kosong. Ares seperti sedang berpikir keras, namun entah apa yang ia pikirkan.


"Papi lagi."


Oh ya, Serena lupa kalau acara menonton Altan kali ini ditemani semangkuk puding coklat kesukaannya. Altan minta Serena membuatkannya tadi. Dan yang memegang mangkuk kecil itu adalah Ares. Altan ingin papinya yang menyuapi. Mungkin itu ia lakukan sebagai penyampaian rasa rindu.


"Papi," bocah itu menoleh dengan kening berkerut, mungkin bingung papinya tak menyahut. "Papi. Altan mau lagi." Tetap tak ada jawaban.


Serena yang kasihan melihat anaknya kebingungan. Mencoba menyentuh lengan kanan Ares. "Res, Altan manggil."


"Ya, Sweet---" Jawaban Ares yang spontan itu spontan juga ia hentikan karena melihat raut muka Serena yang sama spontannya berubah diam.


Wanita itu menatap Ares lama dengan raut muka yang sudah bisa ditebak bagiamana bentuknya. Ya, bisa ditebak. Tebak saja bagaimana raut muka seorang istri bila suaminya malah menyebut wanita lain saat mereka bersama. Ada anak mereka pula. Dan lebih sakitnya lagi, ternyata itu yang Ares pikirkan sejak tadi. Itu yang membuat Ares hilang fokus. Ternyata sedahsyat itu pengaruh 'sweetheart' ini bagi dia. Sampai Ares masih memikirkannya bahkan disaat dia tidak ada. Serena hanya bisa menelan ludahnya dalam diam.


Menelan ludah atau menelan pil pahit, Re? Cibirnya pada diri sendiri.


"Altan mau puding lagi, Pi."


Rengekan Altan itu membuat Ares tersadar dan memutus pandangan dari Serena. Dengan masih sedikit salah tingkah, Ares menyuapi Altan. Mencari pengalihan karena tiba-tiba saja hatinya dirundung ketidak enakan. Mengatakan pada pikirannya bahwa yang barusan terjadi bukanlah apa-apa dan tidak masalah. Mengabaikan mata Serena yang meredup sedih. Bahkan mencoba menganggap bahwa yang barusan terjadi tidak terjadi.


Yang harus ia pikirkan hanyalah Anye. Ia harus segera menemuinya.


"Uhm... Altan... pudingnya kan udah abis, filmnya juga udah mau udahan. Papi boleh gak pergi sebentar?"


Altan langsung menoleh tak suka. "Papi mau kerja?"

__ADS_1


"B-bukan... bukan kerja, kok."


"Terus Papi mau kemana?" tanya bocah tampan itu sendu. "Ini kan hari Minggu."


"Papi... mau ketemu teman sebentar. Ada urusan mendadak."


"Setiap hari Papi pergi. Kalo Papi pergi terus, kapan main sama Altannya? Kenapa Papi gak mau lagi main sama Altan?"


"Bukan gitu, Sayang, Papi cum--


"Urusan kamu udah terlalu sering menyita waktu kamu. Setidaknya sisain sedikit untuk Altan hari ini." Kata Serena datar. Wanita itu tengah mati-matian menahan sesak yang melanda dadanya. Ia bahkan tak berani menatap Ares karena takut air matanya akan jatuh. Menatap televisi adalah pengalihan yang ia pilih.


"Altan gak mau Papi pergi. Altan mau Papi di rumah temenin Altan. Mau kan, Pi?"


Tolong bilang iya, Res. Tolong jangan buat anak kita merasakan sakitnya penolakan. Tolong jangan biarkan dia seperti ibunya ini yang hatinya sudah hancur tak berbentuk dan membusuk. Karena kamu.


"Ya udah Papi temenin Altan," Serena melenguhkan rasa syukur akan jawaban itu. "Papi perginya nanti sore aja." Dan jawaban ini tidak bisa tidak membuat Serena mengumpat sejadi-jadinya dalam hati.


Sepenting itu ya, Res, si sweetheart ini di mata kamu?!! Sampai kamu sebegitu gak bisanya menyumbangkan sedikit aja waktu kamu yang berharga itu buat anak kamu sendiri!


Miris. Ekspektasi memang seringnya tak sejalan dengan fakta ya.


...• • • • •...


"Anyelir."


Sosok yang namanya dipanggil itu hanya menoleh malas. Selebihnya ia merasa lebih tertarik untuk hanyut lagi dalam lamunannya. Kaki yang ia tekuk di atas sofa ruang tamu, dipeluk erat sampai menghimpit dadanya. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Ia pun tak tahu hal apa yang dilamunkannya sedari tadi.


"Are you okay?" Suara Ares terdengar berbisik cemas. Pria itu memeluk leher Anye dari belakang sofa dan menciumi rambutnya dengan memejamkan mata.


"Aku gak tau apa yang aku rasain." Lirih Anye yang terlihat menatap kosong pada televisi yang tidak menyala.


Ares berpindah ke sisi Anye. Meraup kedua sisi wajah wanitanya itu hingga menatapnya lurus. "Gak ada yang perlu kamu pikirin. Everything's okay. Everything is gonna be okay."


"Menurut kamu gak wajar kalo aku mikirin kejadian hari ini, huh?" bisik Anye tajam. "This surprised me. This damn surprised me, Antares." Katanya datar.


"Aku juga sama terkejutnya. I feel what you feel. Tapi seharusnya ini gak jadi masalah, kan?"


Anye menatap Ares dengan pandangan terluka. "Apa yang gak masalah untuk kamu, jadi masalah buat aku."


"Apa? Masalah apa? Nothing wrong with all of this."


Tangan Ares ditepis Anye. Ia menggeleng tak percaya. "Seriously, Antares? Seriously kamu merasa gak ada yang salah dari semua ini?"


"Ya. Aku serius. Karena menurutku ini cuma soal sepele."


"Sepele?" Anye tersenyum miring. Ia lalu berdecih melipat tangan di dada. "Ya. Buat kamu ini semua memang cuma soal sepele."


"Sweetheart, dengar," dengan lebih lembut, Ares menangkup lagi wajah Anye. "Gak ada yang salah dari semua ini. Kamu cuma masih kaget aja karena ternyata istriku adalah bos kamu sendiri, kan?"


"Ya justru karena itu," pekik Anye tertahan karena hilang kesabaran. "Justru karena dia bosku. Istri kamu bos aku, Res, bosku. Dia adalah orang yang sangat aku hormati, aku segani, dan aku kagumi karena kebaikannya. For God sake, bahkan aku udah anggep dia sebagai temanku sendiri. Tapi ternyata apa? Apa? Dia istri kamu yang sudah mengkhianati kamu. Yang sudah membuat kamu hancur dan kehilangan kebahagiaan kamu."


"Ya aku tau, aku ngerti. Its okay, Sweetheart."


Anye berdecak frustasi. Untuk kedua kalinya ia menepis tangan Ares. "Enggak. Kamu gak ngerti. Kamu gak ngerti posisiku, Antares. Posisiku ini sulit. Aku mengagumi dan membenci orang yang sama," matanya berair dan air wajahnya mulai berubah putus asa. "Terus menurut kamu aku harus gimana? Aku harus berbuat apa? Haruskah aku berbuat baik sama dia sebagai seorang teman, atau aku harus membenci dia sebagai orang yang udah menyakiti kamu?"


Bibir Ares terkunci rapat. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah membawa Anye dalam pelukannya. Menyalurkan kekuatan seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Apa yang harus aku lakuin setelah tau fakta ini, Res? Apa?"

__ADS_1


__ADS_2