Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
33


__ADS_3

Pekan pertama di awal tahun baru 2022 sudah memasuki hari Minggu. Tak terasa sudah seminggu Serena libur dari segudang pekerjaan dan bersantai di rumah. Tapi, entah kenapa tahun ini mengundang banyak sekali hujan. Seharipun tak pernah terlewati tanpa gemerciknya.


Seperti sore ini, Serena memandang jendela yang basah pasca hujan tadi siang. Di atas ranjang, berselonjor kaki, menikmati hari yang menggelap lebih awal karena mendung. Entah karena terlalu lama di rumah atau apa, Serena selalu merasa badannya lemas sekali. Meriangnya di malam tahun baru itu sudah sembuh, tapi ia tetap merasa badannya tak enak. Ia sempat berpikir, besok---di hari pertama masuk kerja lagi, ia akan cek ke dokter. Ia ingin memastikan ada apa dengan dirinya ini.


"Papi, warna itemnya habis."


Suara rajukan Altan membuat Serena menoleh. Saking hanyutnya ia melamun, ia sampai lupa kalau di bawah sana---di karpet beludru itu---Ares dan Altan sedang mewarnai bersama. Kedua lelaki berbeda generasi itu duduk bersila dengan gaya yang sama. Membuat Serena tersenyum tenang melihatnya.


"Ya udah pake warna yang lain aja ya. Tuh masih banyak warna lain." Ares menoleh sekilas, lalu lanjut memoles gambarnya.


"Gak mau. Altan udah terlanjur warnain mobilnya pake warna item. Altan gak mau ganti warnanya. Ayo, Pi, kita beli lagi krayonnya." Altan mulai merengek menggoyang lengan ayahnya yang acuh saja terus mewarnai.


Serena yang memperhatikan itu turun dari ranjang dan bersimpuh di dekat Altan. "Altan, jangan rewel gitu dong, Sayang. Mending Altan warnain dulu gambar yang lain, yang gak ada itemnya. Terus besok kalo udah beli krayon lagi, baru deh Altan warnain mobilnya."


"Gak mau. Altan maunya sekarang. Kita belinya sekarang aja."


"Tapi ini udah mendung banget, loh. Bentar lagi ujan."


"Mamiiii. Altan mau krayon. Ayo beli."


"Alta---


"Kayaknya Altan masih punya krayon, deh," suara Ares membuat Serena menoleh. Lalu pria itu ikut mengangkat kepala. "Seinget aku aku pernah beliin dia krayon pas jemput sekolah. Tapi waktu itu dia gak bawa masuk krayonnya. Mungkin masih ada di mobil aku, atau bagasi. Cek gih. Aku mau lanjut mewarnai."


Ares kembali menunduk mewarnai. Dengan senyum tertahan, Serena tergeleng heran. Aneh sekali. Siapa yang sebenarnya bocah di sini? Kenapa Ares terlihat lebih serius dan khusyu mewarnai daripada Altan?


Setelah mengais kunci mobil Ares di tangannya, Serena sampai di halaman depan dan langsung membuka bagasi mobil. Tak banyak yang bisa ia temui di sana. Hanya beberapa kardus berisi berkas tak terpakai, sandal jepit, dua pasang sepatu kerja, sebuah box biru muda, lalu satu kresek hitam.


"Mungkin ini kali ya." Gumam Serena menarik kresek hitamnya. Dan ya, benar. Saat dibuka isinya memang krayon.


Sesaat akan menutup lagi pintu bagasi, tangan Serena mendadak tertahan. Ia kepikiran sesuatu. Diliriknya box biru muda di pojok dekat sepatu kerja.


Box apa itu? Pikirnya.


Tanpa berpikir apa-apa, ia membawa box biru muda itu mendekat. Lalu dibukanya tutup box itu karena tak tahan menahan penasaran.


Hm?! Keningnya kontan mengerut melihat isinya. Apa ini? Bulatan-bulatan kertas lecek, sebuah toples kaca bertulisankan spidol hitam "obat migrain buat kamu", segepok polaroid yang disusun telungkup, lalu sebuah tape recorder.


Karena bingung, Serena menimbang alat perekam suara itu di tangannya. Punya siapa benda ini? Apakah punya Ares? Lalu dengan santai, ia tekan tombol power merah yang ada di bagian atas alat itu.


"Hai, Res."


Serena terlonjak kaget saat tape recorder itu berbunyi. Suara perempuan siapa itu yang menyapa Ares?


"Sebenernya aku beli tape recorder ini karena bingung mau nulis apa. Kamu liat sendiri kan banyak kertas-kertas lecek yang ada di kotak itu? Hehe. Maaf ya aku masukin situ. Aku sengaja. Biar kamu tau gak mudah buat aku menuliskan kata perpisahan ini..."


Mata Serena reflek melirik bulatan kertas di dalam box. 


"...Antares, aku tau ini mengejutkan buat kamu. Ini terlalu mendadak dan tanpa kabar. Tapi buat aku enggak, Res. Setelah hari itu, semalaman suntuk aku memikirkan ini. Mencari jalan apa yang harus aku ambil dan langkah apa yang harus aku jalani..."


"...Semuanya terasa membingungkan sampe buat aku buntu dan gak bisa mikir apa-apa lagi. Otakku mentok. Dan satu-satunya kata yang mampir di otakku tadi malam adalah pergi. Satu kata itu..."


"...Aku gak tau apa yang aku rasain sekarang, Res. Semuanya hampa. Yang aku pengin cuma ketenangan. Dan hal itu gak akan bisa aku dapatkan kalo terus disini..."


"...Semoga kamu ngerti dengan apa yang sudah aku pilih dan putuskan. Ini terasa sulit banget buat aku. Jadi jangan buat aku merasa bersalah dengan kamu yang berlarut dalam kesedihan..."


"...Kita LDR sekali lagi oke? Bisa gak? Harusnya sih bisa. Kan kita udah pernah coba hahaha..."


"...Kalo kangen aku dengerin aja ini ya. Atau kalo enggak, bikin aja mie pake telor sama rawit. Tapi jangan keseringan, nanti sakit perut. Dimakan juga obat migrainnya. Polaroidnya jangan dibuang, aku susah motonya. Oh ya, aku bawa satu foto gapapa, kan? Foto yang kamu lagi pake kumis palsu pas teater di sekolah dulu, soalnya aku suka banget foto itu, kamu keliatan lucu dipeluk aku..."


Mendadak, detak jantung Serena memacu tak terkendali. Apa mungkin yang sedang bicara ini adalah Anyelir? Apa mungkin box ini dan segala isinya adalah pemberian Anyelir?


"...Udah ya, jangan kepanjangan. Aku haus. Semoga kamu tetep semangat ngejalanin hari-hari kamu. Jangan sedih aku pergi..."


"...Jangan lupa perbaiki semuanya juga. Terkhususnya, rumah tangga kamu. Jujur, aku masih merasa istri kamu gak salah dalam hal ini. Mungkin kalian hanya kurang berkomunikasi..."


Apa maksudnya? 'Rumah tangga kamu' apa? Apakah ini berarti rumah tangga dirinya dan Ares? Dan apa yang wanita ini tahu sampai bisa bilang kalau 'istri kamu gak salah dalam hal ini'?


"...Terus baik-baik aja ya. Bye, Antares. INGAT! JANGAN CARI AKU SAMPE AKU PULANG DENGAN SENDIRINYA!..."


"...Salam sayang, dari Anyelir."


Boom!


Tremor sudah tangan Serena seketika. Mulutnya terbuka saking kagetnya.


Anyelir?


Anyelir?!


Jadi pemilik suara dalam tape recorder ini benar-benar Anyelir?!


Ya Tuhan.


Dengan masih bergetar, tangan Serena menaruh tape recorder itu kembali. Matanya menatap gamang pada semua isi yang ada di dalamnya.


Anyelir... ternyata memang pergi. Itulah sebabnya Ares tak pernah lagi menemuinya. Tapi ini, kenangan yang dia tinggalkan ini, terasa ganjal bagi Serena. Dia bertingkah seolah-olah tahu keadaan rumah tangga Ares dan dirinya. Apa mungkin, Ares membagi kisah rumah tangga mereka pada orang lain? Tapi... apakah Anyelir orang lain bagi Ares? Serena rasa tak demikian. Anyelir bukan orang lain. Bahkan dia bukan hanya seorang--Serena benci mengatakan ini--kekasih bagi Ares, tapi sepertinya lebih dari itu.


Tadi kalau tidak salah, dia sempat mengatakan; 'pas teater di sekolah dulu', lalu; 'kita LDR sekali lagi, kan udah pernah'.


Dua kalimat itu mengikat kesimpulan di otak Serena bahwa mereka berdua sudah saling mengenal dari zaman sekolah. Jauh sebelum Ares mengenal dirinya. Apa mungkin Anyelir adalah mantan kekasih Ares yang kembali lagi setelah mereka LDR? Lalu dia merasa kecewa karena mengetahui Ares sudah berumah tangga dan akhirnya memutuskan pergi lagi?

__ADS_1


Sumpah demi apapun! Siapa Anyelir itu?! Seperti apa sosoknya?!


Apa ia harus nekat mencari tahu seperti apa Anyelir dari segepok polaroid yang dia tinggalkan?


Entah untuk alasan apa, ada perasaan takut dan cemas saat ia melirik foto-foto itu. Jari-jarinya membelai dengan ragu. Padahal, ia hanya perlu membalikkan satu saja, satu saja foto itu, lalu semuanya beres. Itu saja. Itu saja!


Dengan atas nama nekat, diambilnya satu foto paling atas. Sedikit bergetar. Lalu---


"Mami!" foto itu terjatuh lagi karena Serena terlonjak. Ia mendongak ke atas dimana Altan meneriakinya dari balkon. "Cepetan! Altan mau pake krayonnya."


"I-iya. Iya. Sebentar."


Tanpa berpikir apa-apa lagi atau sekali lagi saja melirik polaroid yang tadi ia pegang, Serena menutup pintu bagasi Ares dan pergi dari sana.


Padahal, di polaroid yang sudah tanpa sengaja terbalik itu, Serena bisa melihat seperti apa wajah Anyelir.


...• • • • •...


Menyambut malam, Serena terbaring dengan perasaan yang gundah. Kejadian tadi sore benar-benar membuatnya kepikiran. Box biru muda itu, isi-isinya, tape recorder, suara Anyelir, semuanya berputar-putar dengan liar.


Ia melirik Ares yang baru saja duduk di sisi ranjang, lalu berbaring di sebelahnya. Pria itu menarik selimut, lalu memejamkan mata.


Serena berpikir, haruskah ia bertanya pada Ares tentang ini? Apa ini waktu yang tepat? Tapi... bagaimana ia harus memulainya? Ia bahkan tak siap mendengar kebenaran apa yang akan ia tahu kalau bertanya pada Ares. Tapi, ia juga bisa gila kalau terus penasaran begini. Akan lebih baik ia bertanya saja kan daripada benar-benar hilang akal?


"Res," panggilnya takut-takut. Berharap Ares sudah tidur saja agar tak jadi bertanya. Tapi tidak! Ares malah berdehem---memaksa Serena melanjutkan niat nekatnya tadi. "Uhm... c-cerita... cerita-cerita yuk?"


Sungguh! Hanya itu yang terpikirkan Serena. Biar saja lah.


"Udah malem. Waktunya tidur. Bukan ngobrol."


"Tapi aku belum ngantuk." Cicitnya.


"Nanti juga ngantuk."


"Temenin."


"Besok Senin. Harus kerja."


"Ayolah. Sebentar aja."


Ares membuka pelan matanya, lalu menatap Serena. Entah kenapa ia merasa nada suara Serena berbeda. Bukan jahil dan menggoda seperti biasa. Ini seperti permohonan yang mendesak. Sedikit resah. Pun begitu yang Ares lihat di matanya.


"Cerita apa sih malem-malem begini?"


"Apa aja. Cerita... tentang... kamu mungkin?"


"Ya cerita tentang aku tuh cerita apa? Kalo diceritain semua kapan beresnya?"


"Sekolah ya sekolah aja. Gak gimana-gimana."


"Ya apa kek. Ekskul kamu kek, organisasi yang kamu ikutin kek, atau... mantan kamu pas sekolah gitu?"


Ares menghela napas malas. "Ekskul teater, gak ikut OSIS, gak ada cewek. Udah."


"Masa sih kamu gak ada mantan di sekolah?"


"Di sekolah tuh belajar, bukan pacaran."


"Iiih jawab aja. Ada mantan gak pas sekolah?" Serena menggoyang lengan suaminya. Benar-benar tak sabar.


"Dibilangin gak ada. Ngotot banget, sih!"


Haruskah Serena lega? Itu berarti, dugaannya bahwa Anyelir adalah mantan Ares berarti salah?


"Kalo cewek yang kamu taksir?"


Terang-terangan Ares berdecak karena benar-benar jengah. Sebenarnya apa yang ingin dikorek Serena dari masa lalunya? Lebih baik tanyakan langsung saja daripada begini. Dasar perempuan!


"Ada. Puas?"


"Siapa?"


Ares mendelik dan mendorong mundur kening Serena. "Mau tau aja. Udah ah aku mau tidur."


"Tapi---


"Jangan ganggu!" Titahnya sambil menarik selimut sampai menutupi wajah.


...• • • • • ...


Di saat besok harus bekerja dan malah terjaga pada dini hari begini adalah sebuah siksaan bagi Ares. Kurang lebih sudah lima belas menit ia hanya melamun menatap langit-langit kamar. Entah keresahan apa yang membuatnya tak bisa tidur begini. Tapi ia rasa ini ada kaitannya dengan pembicaraannya bersama Serena sebelum tidur tadi.


Masa sekolah. Masa sekolahnya. Sepuluh tahun lalu.


15 Juni 2011


Pekan Ujian Tengah Semester di SMA 405 Jakarta telah berkahir. Pembelajaran ditiadakan dahulu dan diganti oleh acara-acara lomba yang diadakan besar-besaran antar sekolah se-Jakarta.


Ares, berdiri di depan kaca memasang kumis palsunya. Hari ini tim teaternya akan ikut tampil untuk berlomba. Membawakan cerita dari novel 'Bumi Manusia' karya Pramoedya Ananta Toer. Ia mendapat peran utama---Minke---yang anggap saja sebagai peran terakhirnya sebelum beberapa bulan lagi lulus.


Ruang kelas yang diubah jadi ruang wardrobe ini begitu berisik. Penuh suara yang menghapal dialog, menanyakan kostum mereka, berteriak gugup, dan lain-lain. Belum lagi di luar sana lebih berisik. Sepertinya tengah ada lomba marching band, entahlah.

__ADS_1


"Nye, gimana penampilan aku?" Ares bertanya dengan cemas, sesaat setelah didatangi Anye---sahabatnya---yang tersenyum lebar.


"Cakep, Mas Minke." Ckrek! Ia memoto Ares dengan SLR yang tergantung di lehernya.


"Beneran?"


"Iya. Ganteng. Apalagi pake kumis hihi."


"Aku gugup banget, Nye. Takut salah dialog, takut gak ada ekspresinya, takut kalah lomba."


"Ck! Santai aja kali. Pasti menang, kok. Percaya, deh."


"Kamu enak bilang gitu karena gak ikut ekskul. Lah aku?" Ares mendelik yang dibalas kekehan ringan dari Anye. Sahabat Ares dari kecil itu memang tidak ikut ekskul apapun. Katanya terlalu malas. Dia lebih suka memotret. Dan sayang sekali di sekolah ini tidak ada ekskul seperti itu.


"Eh, Res, foto yuk? Bentar," lantas ia celingukan mencari teman dan melambaikan tangan. "Ilham! Sini, Ham! Tolong fotoin gue sama Ares, dong."


Setelah kamernya dipegang Ilham, Anye merapatkan tubuh ke sebelah Ares. Berdiri mengaitkan lengannya dan tersenyum lebar.


Ckrek!


"Thanks, Ham," Anye tersenyum makin lebar melihat-lihat hasil jepretan Ilham di kameranya. "Liat, Res, bagus. Kamunya juga lucu pake kumis gini."


"Iya." Ares tersenyum sewajarnya seraya ikut melihat-lihat.


"Entar aku mau cetak juga polaroidnya. Biar bisa ditempel di tembok kamar."


"Hm. Oke."


"PERWAKILAN SETIAP EKSKUL DISURUH KUMPUL!" suara teriakkan itu berasal dari Fadil, ketua OSIS, yang mendadak membuka pintu. "SIAPA DI SINI PERWAKILANNYA IKUT GUE."


"Gue, Dil." Ares yang adalah ketua dari ekskul ini mengangkat tangan.


"Ya udah ayo, Res."


"Nye, aku tinggal bentar." Pamit Ares pada Anye yang dibalas dengan senyum, lalu gadis itu kembali menunduk sibuk pada kameranya.


Sepanjang koridor lantai 3 ini benar-benar penuh dengan siswa-siswi yang menonton lomba. Ares sampai harus berdesakan dan beberapa kali menyenggol orang. Ditambah lagi suara lomba marching band itu berisik sekali. Membuat Ares tambah kesal saja.


"Eh, Res," Dito---salah satu teman Ares---yang sedang menonton di pinggir tembok pembatas, menarik Ares hingga dada Ares menyentuh besi menengok ke bawah"Liat tuh ada cewek cantik. Liat liat!"


"Apaan sih loe?!" sembur Ares pada Dito. "Gue mau kumpul! Ngapin loe narik-narik gue ke sini?!"


"Itu liat dulu," Dito mendorong pipi Ares sampai menunduk lagi ke bawah. "Tuh yang itu tuh! Yang mayoret! Cakep banget, kan?!"


Dito memang salah satu teman Ares yang playboy. Kenalan perempuannya banyak. Dan dia juga sering menawarkan pada Ares salah satunya. Tapi, tak ada satu pun yang Ares suka. Selain karena tak ada yang cocok, ia juga malas untuk berpacaran.


Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, Ares terpana akan rekomendasi Dito. Ia diam. Bibirnya rapat. Tapi jelas jantungnya berdetak ricuh---bahkan mengalahkan keramaian di sini. Perasaan macam apa ini? Apa mungkin ia...


"Dia anak SMA 143 Jakarta. Mayoret kebanggaan di sana." Dito merangkul pundak Ares.


Ares menolehkan kepala. Menatap Dito beberapa saat. Lalu, tanpa aba-aba, ia bergegas kembali ke kelasnya. Menubruk siapa saja yang menghalangi jalannya. Membuka pintu kelas dengan sekali hentak, lalu membuat semuanya mendongak.


"Anye, minjem ini bentar." Ares menarik kamera Anye dari lehernya.


"Eh? Buat apa?"


"Buat sesuatu pokoknya. Aku pinjem bentar ya."


Ares berlari lagi keluar kelas dan membawa kamera itu membelah lautan manusia. Sampai di depan tembok pembatas yang tadi ia tempati, ia menarik napas. Mengangkat kamera Anye dan membidik seseorang di bawah sana.


Ckrek!


Tersenyumlah Ares memandangi hasil jepretannya. Cantik. Luar biasa cantik. Hasil fotonya tak kalah cantik dari aslinya.


"Res!" Ares tersentak merasakan tepukan di bahunya. "Lagi apa, sih?"


"Hah?" ia reflek menurunkan kameranya. "Enggak."


"Terus kenapa senyum-senyum sendiri? Apa yang kamu foto?"


"Mau tau apa yang aku foto?" kedua alis Ares terangkat menggoda. Yang justru membuat alis Anye berkerut heran. "Cewek cantik!"


Raut Anye langsung berubah. Terdiam dan agak kaget.


"Mau liat?" tentu saja Anye maju ingin tahu. Tapi, Ares langsung menarik kameranya ke belakang tubuh. "Eits! Gak boleh. Rahasia."


Ares terkekeh. Tapi Anye tetap tak menampilkan ekspresi apapun atau tersenyum seperti biasa. Dia diam. Wajahnya layu.


"Tau gak, Nye?" Ares menyondongkan wajah pada Anye. "Aku rasa aku naksir dia, deh. Gila, kan?! Akhirnya ada juga cewek yang aku suka!"


Sebelumnya, tak pernah Anye melihat Ares se-bahagia ini. Tapi entah kenapa, di saat Ares seperti ini Anye malah tak bisa melepaskan senyum. Susah sekali. Keceriaannya entah menguap kemana.


"Eh aku minjem dulu kamera kamu, ya? Mau pindahin foto-foto dia ke laptop. Aku juga mau cetak fotonya yang baaaanyak banget. Ntar aku taro di dompet biar dia selalu aku ajak kemana-mana."


Sekarang, di malam ini, dalam sunyi, Ares mengusap pelan foto usang yang selalu ia simpan dalam dompetnya itu. Seorang mayoret yang tersenyum memandu barisannya dengan membawa tongkat besi, yang mampu menggetarkan jiwa remaja Ares saat itu, yang selalu Ares bawa dalam tiap langkahnya, dan yang kini, tengah Ares tatap berbaring di sampingnya. Terlelap dalam tidurnya. Nyenyak. Damai.


Serena. Gadis polos yang menjadi cinta pertamanya, perempuan yang selalu ingin ia datangi tiap kali pulang ke Indonesia saat kuliah di Inggris, wanita yang ia selamatkan hidupnya dengan menikahinya lima tahun lalu.


Serena. Begitu besar ia mencintainya sepanjang hidupnya. Memberikan semua yang ia punya atas nama cinta. Dan hanya karena satu kesalahan, ia bisa begitu tega menyakitinya dengan sangat parah. Ia selalu memberinya penderitaan, sakit hati, dan perlakuan kasar. Kenyataan ini seolah memukul telak kepala Ares. Ia tersadar sudah begitu jahat. Bagaimana bisa ia menyakiti wanita yang katanya ia cintai itu? Wanita yang sudah memberinya seorang putra? Padahal, kesalahan Serena itu belum tentu kebenarannya. Dan Serena sudah berusaha keras memperbaiki semua kesalahannya.


Apa ini sudah saatnya ia memaafkan Serena? Apa ini sudah saatnya ia memulai lembaran baru? Apa ini sudah saatnya ia mengembalikan dirinya seperti dulu lagi?

__ADS_1


Tangan Ares membelai rambut Serena. Mengusapnya dengan teramat lembut selembut tatapannya, lalu bergumam dalam hati; "Serena, seberapa banyak pun luka yang pernah kamu beri untuk aku, itu semua tetap kalah sama rasa cinta ini. Aku gak bisa bohongin diri sendiri kalo aku masih cinta kamu. Aku masih sangat mencintai kamu seperti saat pertama, seperti dulu. Melihat betapa gigih perjuangan kamu untuk rumah tangga kita, sekarang aku tau kamu begitu mencintai aku. Aku berjanji, setelah hari ini, aku akan membayar setiap luka yang pernah aku kasih. Aku akan memperlakukan kamu dengan baik dan penuh cinta lagi. Terima kasih sudah mau sabar menghadapi aku dan bertahan sampai sejauh ini. I love you. I love you so much."


__ADS_2