Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
8


__ADS_3

"Serena Raharja."


"Michelle Louis."


"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." Puji Serena saat jabat tangan mereka terlepas.


"Terima kasih, Bu."


"My pleasure, Michelle." Balas Serena ramah.


"Dan ya... Hari ini ada sesuatu yang berbeda dalam meeting kita," sambung Serena yang masih berdiri di samping Michelle. "Saya mau memperkenalkan seorang model yang sudah saya seleksi lebih dulu untuk menjadi bagian dalam agensi kita. Model yang saya pilih ini akan masuk dalam beberapa projek besar kita ke depannya. Jadi saya harap kita semua dapat bekerja sama dengan baik. Silakan, Michelle, perkenalkan diri kamu."


Wanita bertubuh ramping itu mengangguk kecil dan maju selangkah. "Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Michelle Louis. Saya akan menjadi bagian dari agensi ini dalam beberapa waktu ke depan. Oleh karena itu, saya mohon bantuannya dan bimbingannya. Senang bertemu kalian semua. Terima kasih."


Lima orang dalam ruang meeting itu bertepuk tangan menghormati. Begitupula Michelle yang membungkukkan sedikit badannya.


"Silakan duduk, Michelle."


Sejenak setelah duduk, Serena memperhatikan gerak-gerik Michelle. Cara duduknya, cara ia menghormati beberapa orang dalam ruang meeting ini, cara Michelle tersenyum, bahkan sampai cara Michelle bicara. Damn! She's really perfect. Apalagi ditambah kecantikannya yang terlihat natural namun punya pancaran luar biasa. Mempunyai kulit kecoklatan yang tetap bersinar dan cocok dengan wajah blasterannya.


Selama proses berjalannya meeting semua lancar-lancar saja. Hampir semua orang tidak menyadari ada yang salah, namun Hana tentu saja menangkap sinyal tak baik dari mata Serena. Sahabatnya itu terlihat tak bergairah sama sekali. Hanya diam, tersenyum kecil, sesekali menjawab bila dibutuhkan. Sangat bukan dirinya yang seperti biasa.


Dan bahkan sampai meeting selesai pun harus Hana yang menutupnya, karena Serena nampak tak menyadari sebab asik melamun sedari tadi.


"Baiklah saya rasa cukup pembahasan dalam meeting kita kali ini. Saya harap semuanya dapat berjalan lancar." Tutup Hana dan langsung membuat Serena kelabakan kebingungan.


Semua orang telah meninggalkan ruang meeting dan hanya menyisakan Serena dan Hana.


"Han, kok cepet banget?"


"Satu jam setengah menurut loe cepet?"


"Hah?"


"Kita ke ruangan loe sekarang. Gue mau ngomong."


• • • • •


Hana mondar-mandir di depan Serena dengan tangan yang berkecak pinggang. Raut wajahnya kacau. Campur aduk antara marah dan kesal. Sementara Serena duduk di sofa ruangannya dengan tak berekspresi. Hanya memainkan kuku-kuku cantiknya tanpa gairah.


"Sebenernya ada apa sih sama loe, Re? Bisa-bisanya pas meeting loe malah ngelamun. Loe gak liat wajah-wajah mereka yang kebingungan gara-gara liat loe yang gak ngasih pendapat sama sekali."


"Gue juga gak tau apa yang gue rasain sekarang, Han."


"Bukan gak tau, tapi loe coba nutup-nutupin. Terlalu naif tau gak?"


Keheningan Serena membuat Hana melenguh napas kasar. "Kenapa sih loe ngelakuin ini? Loe frustasi karena foto-foto Ares waktu itu?"


Spontan Serena membulatkan matanya. "Apaan sih loe?! Jangan sangkut pautin semua ini sama masalah itu!"


"Itu emang sumber masalahnya, kan? Gue yakin loe belum tanyain tentang foto Ares waktu itu, kan? Makanya loe jadi uring-uringan begini? Udah deh ngaku aja. Mending loe selesiin masalah loe sama laki loe."


"Emangnya apa yang harus gue selesein sama Ares? Bukannya loe sama Cecil bilang semuanya mungkin aja salah paham, kan?"


"Tapi diem loe ngartiin banyak hal. Gue tau loe sakit hati, gue tau loe penasaran, gue tau loe pengin tau siapa tuh cewek. Tapi gengsi loe kegedean, Re. Apa salahnya sih tanyain ini sama Ares? Apa mau seterusnya loe ngindar dari dia?"

__ADS_1


"Gue gak kenapa-napa. Gue gak semenyedihkan yang loe bilang."


"Baik-baik aja tapi jadi lebih sering ngelamun, teledor, lupa makan siang--kalo gak si bajingan itu dateng, gak fokus pas meeting."


Serena kehabisan kata-kata. Mulutnya mengatup rapat, tapi matanya berkaca-kaca.


Hana mengusap pundak kanan Serena dengan lembut. Mata dan nada bicaranya juga melembut. "Please, Re, dewasa dikit. Gapapa kalo emang loe belum bisa cinta sama Ares. Tapi disini posisi loe istri. Dan istri wajib tau apa aja yang dilakuin suaminya di luar sana, sama siapa."


"Tapi gue bingung mau mulai dari mana, Han. Gue maunya Ares yang jujur. Ares yang terus terang tanpa gue minta."


"Dan apa itu sekarang kejadian? Apa Ares inisiatif bilang ke loe?" Hana menggeleng kecil. "Enggak, kan? Jadi sampe kapan loe diem."


"Gue bingung, Han. Gue gak tau lagi." Lirih Serena dengan setetes air mata yang membasahi pipinya.


"Re," Hana berjongkok di depan Serena. "Percaya sama gue, semuanya akan baik-baik aja seperti semula kalo loe udah tau jawabannya. Ares pasti akan jawab dengan jujur kalo loe mau tanya."


"Dan kalo jawaban dia malah mengakui dia ada apa-apa sama cewek di foto itu gimana, Han? Apa semuanya akan baik-baik aja seperti semula?"


"Waktu itu loe tanya sama gue, apa gue percaya kalo Ares bisa punya cewek lain? Dan sekarang pertanyaan itu gue balik ke loe. Loe yakin suami loe bisa ngelakuin hal serendah itu?"


"Enggak, tapi..." Serena benar-benar tercekat. Ia menyeka air matanya yang mulai jatuh satu per satu.


"So? Apa yang perlu loe takutin? Tinggal tanya, dan gue yakin jawaban dari Ares gak akan bikin loe kecewa. Gue yakin dia lelaki baik-baik."


"Jadi menurut loe Ares gak mungkin ada affair di belakang gue?"


"Gak mungkin. Ares cowok paling setia yang pernah gue temuin."


• • • • •


Di sebuah kamar berdominasi warna putih gading yang dihiasi foto-foto polaroid bergantungan, ada sepasang manusia yang tengah duduk di sofa biru tua yang berada tepat di depan ranjang.


"Capek?" Tanya Ares sangat lembut.


"Capek. Tapi aku puas."


Ares terkekeh dan mengecup sekilas kening wanita itu. "Kamu ternyata jago juga, ya?"


"Kamu baru tau aku jago?"


"Aku tau kamu jago dalam segala hal, tapi aku gak nyangka kamu jago ngedekor kamar. Pake maku-maku segala, ngecat."


"Tapi hasilnya jadi bagus banget, kan? Liat deh foto-foto kita. Bagus dan jadi estetik banget."


"Apalagi yang pojok kiri. Ada kamu tuh yang lagi makan gulali. Pipinya sampe ngembung gitu. Seragamnya juga sampe sesek gitu diliatnya."


Wanita itu memukul manja dada Ares dan mengerucutkan bibir. "Namanya juga masih SD. Mana pernah mikirin penampilan. Yang ada tuh jajan dan jajan."


"Aku gak gitu. Kamu aja kali yang doyan makan. Kalo aku sih udah ganteng dari lahir."


"Oh ya? Coba liat sana foto yang tengah. Siapa tuh yang dekil banget, item, seragamnya kotor sama lumpur."


"Namanya juga cowok. Ya wajar lah, Sweetheart, main bola. Lagian itu udah lama juga pas SMP."


"Jadi intinya, semua orang pernah jelek. Dan yang bisa merubahnya cuma waktu dan proses."

__ADS_1


"Hmm. Exactly. Oh ya, gimana tadi ketemu agensinya? Meetingnya lancar?"


"Lancar. Orang-orangnya juga pada baik. Apalagi bosnya. Udah cantik, berwibawa, ramah lagi. Pembawaannya kalem gitu. Aku suka."


"Syukur deh kalo kamu nyaman. Aku juga ikut seneng. Kapan mulai kerjanya, Nye?"


"Mungkin sekitar minggu depan, perkiraanku. Tapi gak tau juga sih, gimana dikabarinnya aja."


"Semoga lancar ya, Nye, aku yakin kamu pasti bisa."


"Amin. Tapi kayaknya ada satu hal deh yang kamu lupain."


"Hal apa?"


Tubuh wanita itu berubah jadi duduk. Menghadap Ares dengan wajah merajuk. "Kamu ingkar janji."


"Ingkar janji? Ingkar janji apa?"


"Tuh kan lupa. Kamu kan pernah janji mau temuin aku sama anak kamu setelah aku balik kesini. Sekarang mana?"


Ares menepuk jidatnya. "Oh iya lupa. Iya nanti deh aku bawa. Kan aku ini pulang dari kantor langsung ke kamu, makanya gak bawa Altan. Nanti deh weekend."


"Bener ya janji?"


"Janji, Anyelir bawel. Altan pasti seneng ketemu Onti Anyenya yang cantik kayak artis Hollywood ini."


"Gombal terus sampe mampus. Udah yuk makan? Kamu dinner disini, kan? Aku mau masakin kamu mie pake telor sama rawit. Gimana?"


"Kayaknya enggak sekarang deh, Nye. Aku belum izin sama istriku."


"Oh my God. Jadi seorang Antares Risjad takut juga toh sama istrinya?" Cibir Anye terkekeh.


"Bukannya takut, tapi itu rules yang udah aku buat sama istriku. Jadi setiap hari kita harus sampe rumah sebelum jam makan malem. Walaupun kita sama-sama sibuk, tapi seenggaknya kita selalu luangin waktu buat makan bareng sama Altan."


"Oh gitu. Ya udah deh gapapa. Kasian juga anak sama istri kamu nungguin."


"Makasih ya, Nye, pengertiannya."


"Iya. Tapi nanti kita bisa kali makan bareng. Aku juga mau kenal sama istri kamu."


"Nanti coba aku tanya istriku dulu. Kalo dia ada waktu luang, pasti nanti aku kenalin."


"Btw, istri kamu itu kayak gimana, sih? Aku penasaran, deh."


"Istriku itu wanita paling cantik di dunia. Matanya, bibirnya, rambutnya, hidungnya, apapun yang ada sama dia aku suka. Dia itu sempurna di mataku, Nye."


"Oh ya? Hmmmm... aku jadi makin penasaran, siapa sih cewek yang bisa naklukin cowok se-anti-cewek kayak kamu."


"Pokoknya liat aja nanti. Kamu pasti iri karena kecantikan dia."


"Jadi dia doang nih yang cantik? Aku enggak."


"Kalian berdua sama cantiknya kok di mata aku. Kalian punya ciri masing-masing. Dan aku suka itu."


"Well... Oke. Aku juga udah gak sabar. Btw namanya siapa? Aku gak pernah denger."

__ADS_1


"Serena. Serena Raharja."


———————————————


__ADS_2