
Mulut semua orang disana benar-benar menganga saat melihat Ares meluncur bebas memasuki kolam renang. Pria itu meraih tubuh Serena yang nampak lemas mengambang di atas air.
Dibawalah istrinya itu menuju pinggiran kolam. Dengan cepat Ares menekan-nekan dadanya. Serena terbatuk-batuk kecil. Matanya yang sayu menatap Ares.
"Dingin... d-di... ngin..."
Yolita dan Henri berlari mendekati Ares. "Res, bawa dulu aja ke kamar kamu. Ayo biar Mama temani."
"Gak usah, Ma. Biarkan Ares saja yang bawa istrinya. Kalau Mama gak ada, gak enak sama tamu. Mereka akan makin bertanya-tanya," kata Henri Risjad. "Sudah, Res, ayo bawa Serena ke kamar kamu."
"Iya, Pa." Digendong ala bridal, jajaran orang yang berkerumun itu kompak membelah pasukan memberi jalan pada pasangan suami istri yang basah kuyup itu.
Ares membawanya masuk lewat pintu belakang. Menaiki tangga menuju lantai dua dan membuka pintu hitam besar--kamarnya saat belum menikah. Menidurkan Serena di atas ranjang putihnya, Ares berlari ke kamar mandi mengambil handuk.
"Aresshhh.... enggghhh..." lenguhnya saat Ares mengeringkan bagian tangan Serena dengan handuk. "Dingin... dingin banget."
Ares makin panik dan cepat-cepat menggosok handuk itu agar tubuh Serena segera kering. "Sabar sebentar... aku coba keringin dulu ya."
"Dingin... dingin..." Racaunya dengan menatap Ares.
"Kayaknya gue harus ganti bajunya biar dia gak kedinginan," gumamnya pada diri sendiri. "Tapi gimana caranya? Gue... gak mungkin... gantiin baju dia."
Mata Ares naik menatap Serena yang nampak lemas. Ia menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan sekarang. Serena nampak semakin kedinginan jika dibiarkan memakai gaun ini terus. Tapi jika ia yang menggantikan, rasanya tidak nyaman--meskipun ia suaminya sendiri dan jelas tak apa-apa jika melihat keseluruhan tubuh Serena.
"Tunggu. Aku akan panggil Mama."
"Engh," tangan Serena menahan tubuh Ares yang hendak berdiri. Pria itu menoleh dengan tatapan kaku saat Serena bangkit dan menahan kedua bahunya agar ia duduk menghadapnya. "Jangan pergi. Gak mau sendirian. Jangan kemana-mana." Geleng Serena manja. Nampaknya pengaruh alkohol itu masih ada.
"Aku mau panggil Mama. Kamu... harus ganti baju." Katanya mencoba tenang.
"Enggak. Gak mau Mama. Gak mau Mama," rengeknya. "Kamu aja. Kamu aja. Aku mau kamu."
Ares bergeming beberapa saat. "Gak bisa. Aku gak bisa."
"Kenapa? Kenapa gak bisa? Kenapa kamu masih jahat sama aku? Apa salah aku?" kali ini remasannya beralih pada kerah kemeja hitam yang dikenakan Ares. "Aku gak tau salah aku apa. Aku gak tau kenapa kamu marah..."
"...Tiba-tiba aja kamu galak. Kamu sering melotot ke aku. Aku takut. Aku takut kalo kamu lagi marah, soalnya kamu kayak monster. Kamu ngelukain aku pake tangan kamu yang besar ini," tangan Ares diangkat Serena menuju pipinya yang sempat lebam, lalu menampar-namparnya lemah. "Rasanya sakit. Sakit banget sampe aku gak bisa tidur."
Ares membuang muka ke samping karena sejujurnya ia benci mengingat hari itu. Rasanya ia sangat pecundang setelah melukai seorang wanita, apalagi istrinya sendiri.
"Kamu berubah," racaunya dengan mata terpejam dan itu membuat Ares kembali menoleh padanya. "Kamu nakal. Kamu jadi jahat. Aku gak suka kamu mabuk terus. Aku gak suka ada lipstik perempuan di kemeja kamu," mata Serena terbuka lagi dengan sendu. "Kenapa kamu selingkuh? Apa kurangnya aku? Apa salahnya aku? Kenapa kamu sakitin aku saat aku udah mencintai kamu?"
Pria itu diam. Menatap dalam-dalam kedua bola mata Serena. Sementara Serena sendiri malah tersenyum miring meremas rambut belakang Ares. "Aku udah bilang itu berkali-kali, tapi kamu gak percaya. Kamu malah terus marah-marah dan kita terus bertengkar. Kenapa? Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku?"
"Karena aku udah gak cinta lagi sama kamu." Timpalnya dingin.
"Bohong," gelengnya tegas dengan bibir cemberut. "Kamu tuh cinta sama aku, Ares. Kamu cinta. Kamu cuma lagi marah aja makanya bilang gitu."
"Jangan mimpi. Aku memang gak mencintai kamu."
Kepala Serena menggeleng-geleng. "Kamu mau bawa aku pulang karena kamu gak mau aku malu di depan semua orang. Kamu juga nolong aku yang hampir tenggelam. Padahal bisa aja kamu biarin aku mati," lalu ia menangkup pipi Ares dengan mata sayunya. "Apa itu namanya kalo bukan cinta?"
Mata Ares membeku. Pundak Serena ia pegang erat-erat agar wanita itu bisa menatap keseriusannya. "Dengar, Serena, hentikan omong kosong ini. Gak ada cinta lagi di antara kita. Gak ada lagi cinta untuk kamu. Aku udah bilang kan kalo semenjak aku minta pisah kamu udah gak penting lagi buat aku? Ingat itu baik-baik."
"Kenapa? Kenapa kamu gak mencintai aku lagi? Apa salah aku?"
"Karena aku benci kamu. Aku sangat membenci kamu, Serena. Cintaku sekarang cuma untuk paca---
"Enggak," Serena spontan memeluk Ares erat. Memejamkan mata di pundak kokoh itu karena kepalanya benar-benar sudah pening. "Kamu gak boleh mencintai wanita lain. Kamu cuma boleh mencintai aku. Cinta kamu cuma buat aku."
"Lepas!" Ares mendorong kasar tubuh Serena, tapi entah kebodohan apalagi yang ia buat hingga tubuhnya ikut terdorong berbaring pada ranjang. Ia menindih tubuh Serena sangat rapat, karena wanita itu masih melingkarkan tangan pada bagian belakang lehernya.
Seperti sihir. Tak ada yang mengedipkan mata di antara mereka. Mata Ares masih terbelalak tak percaya, sementara Serena terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Wanita itu justru merasa nyaman berada di dekat Ares.
"I love you. I love you, Antares." Lirih Serena meniupkan hawa panas yang membuat suaminya itu menahan napas karena gejolak.
Ares lalu menangkap tangan Serena yang berniat mendekatkan bibir keduanya. Kening Serena berkerut, dan Ares malah merasa gamang. Come on! Ia pria normal yang bisa tergoda oleh wanita. Berulang kali ia mengatakan hari ini Serena luar biasa cantik. Apalagi gaun basahnya yang makin mengetatkan bagian tertentu membuat Ares merasa tak tahan ingin menyentuhnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kamu nolak?" Racaunya kecewa.
"Jangan. Kita gak bisa begini. Kamu cuma lagi gak sadar."
Seolah tak bisa mendengar apapun selain suara hati yang meronta-ronta, Serena nekat menarik wajah Ares dan mengecup bibirnya dalam. Kontan hal itu membuat Ares menegang. Dia sama sekali tak ada persiapan apapun.
Saat mencoba melepaskan ciuman, Serena malah menggigit bibir bawahnya yang membuat Ares mengerang. Sial! Ini nikmat! Ares terhanyut dan mulai mendalami ciumannya. Balas mengulum dan menyesap tergesa-gesa.
Serena menjambak rambut Ares, dan itu membuatnya makin bersemangat lagi. Ia pun menurunkan hisapannya pada leher Serena. Menggerakkan tangan kirinya meremas sesuatu yang sedari tadi ia inginkan. Serena melenguh, Ares mendesah.
Tubuh basah mereka terlihat jelas sejak kain demi kain yang mereka pakai teronggok sembarangan ke lantai. Ares makin menggelap, dan Serena makin lupa daratan. Hisapan berganti *******. Darah makin berdesir saat remasan kian sensual. Kedua inti mereka langsung menegang saat menyatu padu. Menciptakan lolongan panjang yang membawa mereka pada kenikmatan duniawi.
...• • • • •...
Hal pertama yang Ares sadari saat bangun tidur adalah ada Serena di sampingnya sedang tertidur lelap. Selimut putih tebal menutupi tubuh polos keduanya. Ares beringsut mendudukkan badannya. Menatap profil wanita yang lima tahun lalu ia pilih sebagai pendamping hidupnya, yang setahun setelahnya membawa jagoan kecil ke dalam hidupnya, dua bulan lalu memberikan luka pengkhianatan, dan malam tadi hasrat mengalahkan semua sakit yang ia pendam.
Apa ini, Antares? Kenapa bisa loe segoblok ini?! Liat apa yang udah loe perbuat! Benih loe tertanam di rahimnya!!! Kalo takdir menjatuhkan lagi satu jagoan kecil untuk loe gimana, hah?
Pria itu mengepalkan tangan sembari meremas seprai putih di samping tubuhnya. Ia geram. Marah pada diri sendiri. Rasanya ia seperti remaja SMA yang habis meniduri pacarnya. Sangat menyesal.
Tok tok tok.
"Siapa, sih?!" Decaknya kesal.
Ares menyingkap kasar selimutnya. Beralih memungut ****** ***** dan celana bahan hitamnya. Pria itu tak ingin repot-repot memakai kemeja. Dengan santai ia berjalan membuka pintu.
"Mama?!" Kagetnya mengangkat dua alis.
Yolita mengutas senyum lebar dengan tatapan sedikit... nakal. "Pagi, Res. Gimana? Enak?"
"Apanya?!" Pekik Ares spontan.
"Tidurnya. Apa lagi?" bahu wanita itu bergoyang dan membuat Ares salah tingkah. "Mama semalam kesini juga mau ngecek keadaan Serena. Eh, kalian malah udah tidur. Nyenyak lagi sampe pelukan. Ya udah Mama balik lagi. Gak enak ah. Takut ganggu."
Bagus. Sekarang Ares merasa seperti pengantin baru yang baru selesai malam pertama. Great, Res! Gobloknya mutlak. Kenapa bisa sampe lupa gak kunci pintunya, hah?!
"Makasih, Ma."
"My pleasure. Mama ke bawah dulu ya. Nanti kamu ikut sarapan disini aja," Ares mengangguk mengiyakan. "Dan satu lagi," mata Yolita mengerling jahil. "Lain kali jangan lupa kunci pintunya."
Damn! Ares spontan membanting pintu saat Mamanya sudah pergi. Ia menggeram. Perkataan Mamanya mengingatkan ia tentang kejadian semalam. Jam berapa ini sekarang? Ia ingin ancang-ancang untuk kabur dari ajakan sarapan bersama, karena ia yakin Mamanya akan menyelipkan sesi menggoda di dalamnya.
Ares menolehkan kepala saat melihat Serena menggeliatkan badan. Mata wanita itu memicing menatapnya. Saat ia mencoba beringsut, terdengar ringisan kecil. Dapat Ares pastikan kepala Serena masih sakit karena efek alkohol semalam.
"Shhh..." Serena mengurut pelipisnya sambil duduk di atas ranjang. "Pusing banget."
Dengan sudah memasang tampang dingin lagi, Ares mendekati Serena. Melempar setelan pakaian dari Mama ke atas pangkuannya. Wanita itu mendongak bingung. Dan Ares malah acuh memungut kemejanya sendiri.
"Ini apa?" Cicit Serena.
Ares sedang mengancingkan kemejanya saat Serena menanyakan ini. "Pake. Dari Mama."
"Terus... kamu mau kemana?" Tanyanya hati-hati.
Ares mendelik seraya menenteng jasnya. "Pulang."
Serena diam menundukkan kepala saat Ares tengah memakai sepatunya. Wanita itu baru sadar apa yang sudah terjadi padanya. Pada Ares. Ia sadar yang semalam itu adalah kesalahannya. Ia yang bodoh. Dan sekarang apa? Apa yang harus dia lakukan? Rasanya menatap Ares saja sudah tidak mampu.
"Res soal yang semalam aku...." Helaan napas kasar Ares membuat Serena berhenti bicara. Pria itu sedang menatapnya sangat tajam.
"Yang semalam cuma kesalahan," balas Ares dingin. Sudah cukup! Ia tak ingin lagi mengingat malam itu. Ia tak ingin lagi mendengar hal yang berkaitan dengan malam sialan itu! "Anggap aja semuanya gak pernah terjadi. Jangan pernah ungkit lagi. Jangan dibicarain lagi."
"Tapi--
"Udah cukup!" bentaknya membuat Serena berjengit. "Dengar ya," Ares mencengkeram rahang Serena kasar. "Yang terjadi sama kita gak ada artinya buat aku. Aku anggap semua itu sama seperti apa yang udah aku lakukan pada wanita-wanita yang pernah aku tidurin. Dan kamu! Kamu cuma salah satu di antara wanita-wanita itu. Jadi jangan kepedean. Kita cuma seneng-seneng aja."
Wajah Serena terlempar saat Ares melepas begitu saja cengkeramannya. Matanya mulai memanas dan hatinya terasa terhimpit.
__ADS_1
"Dan satu lagi. Jangan lupa minum obat pencegah kehamilan. Kalo perlu pergi ke dokter. Aku gak mau sampai punya anak lagi dari wanita murahan seperti kamu."
Air matanya mengalir deras. Sakit. Perih. Lagi. Lagi dan lagi lukanya dibuat menganga. Kenapa mulut manisnya itu selalu menyimpan persediaan garam untuk menaburi lukanya? Kenapa setiap tindakannya selalu berhasil menciptakan luka baru? Ia sampai tak percaya bahwa sosok yang ia tatap ini adalah sosok yang sangat ia cintai.
Pria itu berdecih sambil melengos pergi. Langkah kakinya lalu terhenti pada hitungan ke tiga. Ia mendesah malas. Ponselnya berdering dalam genggamannya. Nomor telepon rumah. Ia pun mengangkatnya.
"Katakan," sapanya dingin. Mula-mula keningnya mengkerut seperti serius mendengarkan apa yang disampaikan di ujung sana. Lalu kelama-lamaan matanya membelalak kaget. "Apa?! Altan gak ada di rumah?!"
...• • • • •...
Pagi ini Anye terlihat tengah melakukan olahraga di sebuah taman. Dengan penampilan sporty dan rambut diikat satu, Anye berlari-lari kecil seperti yang dilakukan kebanyakan orang disini. Tamannya cukup ramai hari ini. Mungkin karena ini Minggu, dan kebanyakan orang sedang-tidak-perlu-lagi bergelut dengan setumpuk pekerjaan.
Anye menghembuskan napas panjang saat dirasa sudah harus berhenti berlari. Sembari menyusut peluh di dahinya, ia berkecak pinggang mengatur napas. Kepalanya memutar mencari tempat untuk ia beristirahat. Tapi sayang bangku taman sudah terisi penuh.
Ia pun memutuskan duduk di rumput taman. Kakinya ia tekuk naik sembari menikmati pemandangan dan lalu lalang orang. Ia memejamkan mata menikmati udara pagi yang terasa sangat segar ini.
"Tante, jangan tekuk kakinya kalo abis lari."
Suara kecil yang mendadak terdengar itu membuat Anye membuka kedua matanya. Ia mendapati seorang anak laki-laki berdiri di depannya. Bocah berusia sekitar empat atau lima tahun.
"Nanti kaki Tante sakit kalo ditekuk. Kalo abis lari harusnya kaki Tante dilurusin kayak gini, nih." Dengan polos bocah kecil itu duduk di samping Anye dan memperagakan meluruskan kakinya.
Anye tersenyum hangat seraya mengusap puncak kepala bocah itu. "Makasih ya udah diingetin."
"Tante gak minum? Emangnya gak capek abis lari?"
"Enggak. Nanti aja," balasnya ramah. "Kenapa? Kamu mau minum? Mau Tante beliin gak?"
"Aku tadi udah minum susu," jawabnya polos. "Terus kata Mami, kita jangan nerima sesuatu dari orang yang gak kita kenal."
"Pinter banget sih kamu," Anye terkekeh kecil. Ia merasa kagum pada bocah tampan ini. Apalagi saat alisnya mengerut serius seperti orang dewasa. "Mami kamu dimana? Kok kamu sendirian?"
"Mami sama Papi gak ada di rumah. Lagi di rumah Opa Oma."
Kening Anye mengernyit. "Kamu sendirian kesini? Ke taman seramai ini?"
"Tadi dianter Om yang pake masker. Aku gak kenal siapa. Kata Om-nya aku mau dianterin ke Mami sama Papi," lalu tatapannya berubah sendu. Pipi gembulnya mengembung. "Tapi Om-nya bohong, Tante. Gak ada Mami Papi disini. Aku ditinggalin sendirian."
Anye makin berpikir keras. Apa bocah ini baru saja mengalami penculikan? Tapi kalau memang ini tindak penculikan, kenapa penculiknya meninggalkan dia sendirian? Di taman seramai ini pula. Ini lebih tepat dikatakan seperti membuang anak daripada menculik anak.
"Uhm... terus sekarang... kamu gimana?"
"Aku mau pulang. Tapi gak tau harus kemana."
"Kamu inget gak nomor telepon orang tua kamu? Biar Tante teleponin," gelengan kepala bocah itu membuat Anye makin bingung harus melakukan apa. "Kalo alamat rumah kamu tau?" Lagi-lagi menggeleng.
"Tapi aku tinggal di Manggala Residence."
Seketika Anye mendapat secercah harapan. "Kamu inget jalannya gak?"
"Inget."
Akhirnya Anye dapat bernapas lega, walaupun sepertinya akan sedikit sulit menemukan rumah bocah ini. Karena setahunya, Manggala Residence adalah perumahan besar. Termasuk kawasan elit juga. Tapi semoga saja bocah ini benar-benar ingat jalan pulang.
"Tante anterin mau gak?" tawaran Anye dihadiahi kerutan kening bocah itu. Anye pun tersenyum manis. "Tenang, Tante bukan orang jahat, kok. Kamu Tante anterin sampe rumah. Tante jamin kamu selamat. Kamu mau kan ketemu Mami Papi kamu lagi?"
Bocah itu mengangguk polos. "Tante gak bohong kayak Om tadi, kan?"
"Enggak. Tante gak bohong, Sayang. Ayo, mobil Tante disana tuh." Anye bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya pada bocah itu.
Setelah mereka berdua berdiri, bocah itu mendongak polos. "Tante, kita belum kenalan. Aku gak mau pergi sama orang yang gak dikenal."
Tawa Anye tercetus. Dia mengacak rambut tebal bocah itu. "Kamu nih masih aja ya gak percaya sama Tante. Ya udah. Kita kenalan. Nama Tante Anyelir. Panggil Tante Anye aja ya. Nama kamu siapa?"
"Altan."
"Altan?"
__ADS_1