Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
10


__ADS_3

Serena menggeliatkan badannya saat dirasa hari sudah mulai pagi. Matanya mengerjap-ngerjap pelan, dan tangannya meraih ikat rambut di atas nakas. Wanita berpiyama hitam itu beranjak duduk seraya mencepol rambutnya, menengok ke kiri dan melihat Ares masih bergulung dengan selimut. Setelah sudah cukup normal, Serena bergegas ke kamar mandi.


Berdiri di depan wastafel berniat cuci muka dan sikat gigi dulu, Serena merasa ada yang salah dari dirinya. Ia meraba bagian lehernya yang penuh bercak kemerahan. Seketika matanya membulat. Dengan tergesa-gesa Serena berlari kembali ke kamar. Langsung menyingkap selimut yang menggulung Ares.


"Ares bangun!" Serena menepuk-nepuk pipi Ares dengan tak sabar.


"Ares aku bilang bangun!"


"Ares!"


Merasa bajunya ditarik-tarik oleh seseorang, Ares mengerjapkan matanya. "Kamu ngapain, sih?"


"Bangun!"


"Iya nanti. Aku masih ngantuk." Ares memejamkan matanya lagi.


"Aku bilang bangun!" Kali ini tangan kiri Ares yang ditarik Serena.


"Aku biasanya bangun jam enam. Ini kan bel--


"Aku bilang bangun ya bangun, Ares!" Tegas Serena menaikkan nada suara.


Kontan nyawa Ares terkumpul sempurna. Pria itu membuka matanya dan turun dengan kasar dari ranjang. "Bisa gak sih kalo bangunin suami itu baik-baik?!"


"Kamu mau diperlakukan baik-baik, tapi kamu malah mau mempermalukan aku?!"


"Apa, sih? Mempermalukan apa? Udah deh pagi-pagi jang--


"Ini liat," potong Serena menunjuk lehernya. Ia benar-benar marah. "Ini kelakuan kamu, kan?"


Bibir Ares mengap-mengap kecil. Matanya mulai bergerak panik.


"Ayo jawab! Ini perbuatan kamu, kan? Kamu kan yang lakuin ini?!"


Ares masih bergeming.


"Ares jawab! Kenapa kamu diem aja, sih?!"


"Ya kalo itu perbuatan aku emangnya kenapa?"


"Kenapa?" Serena memicingkan mata. "Kenapa kamu bilang?! Jelas ini akan mempermalukan aku!"


"Kenapa mesti malu, sih? Itu hal yang wajar, kan? Kamu punya suami."


"Kamu tau gak hari ini aku ada pertemuan sama klien?! Kamu tau gak hari ini aku mimpin rapat buat projek modelku. Dan apa kamu masih bilang wajar kalo aku ketemu mereka dengan keadaan kayak gini?"


Mulut Ares terkunci rapat. Rasa bersalah mulai menyeruak pelan-pelan. Ia melihat Serena benar-benar marah padanya.


"Sebenernya apa sih yang ada di pikiran kamu, Res?! Kayak gini tuh biar apa? Kamu mau klaim kalo aku ini udah ada yang punya? Kamu pikir tindakan kamu ini keren, hah? Enggak, Res! Salah besar!"


Ares menggeleng-geleng. "Aku gak berpikiran kayak gitu, aku cuma---


"Cuma apa? Cuma mendahulukan napsu kamu?!"


Tangan Ares mencoba menggapai tangan Serena, namun Serena mundur selangkah. "Jangan sentuh aku! Aku gak mau disentuh sama orang yang memperlakukan istrinya kayak perempuan murahan."


"Sayang aku minta maaf. Aku gak--


"Kamu boleh bilang maaf kalo maaf kamu bisa ngilangin kiss mark ini. Tapi kenyataannya gak bisa, kan? Maaf kamu sama sekali gak merubah apapun."


"Aku tau aku salah. Maafin aku. Aku cuma kesel karena semalem kamu nolak aku lagi."

__ADS_1


Serena menggeleng tak percaya. "Gila ya kamu, Res. Cuma karena hal sepele kayak gitu kamu tega memperlakukan aku kayak gini?"


"Aku gak berniat gitu, Sayang. Aku bener-bener minta maaf."


"Kamu keterlaluan." Serena melengos karena terlalu marah.


Ares berlari mengejar Serena. "Aku minta maaf, Sayang, aku minta maaf. Sorry."


"Minggir. Aku muak liat kamu."


"Maafin aku dulu, Sayang. Sorry."


"Harusnya kamu mikir, Res. Tindakan kamu ini menjijikan. Bersihin otak kamu supaya isinya gak cuma hal kayak gitu."


• • • • •


Dengan langkah lebar penuh semangat, Ares menginjakkan kakinya di kantor Serena. Wajahnya berseri dan matanya memancarkan antusias luar biasa. Dengan kemeja navy yang digulung hingga siku, tangan kokoh itu membawa sebuket bunga kesukaan sang istri. Berharap bunga ini bisa meredam kemarahan Serena.


Saat kubikel besi itu terbuka di lantai lima belas, Ares melihat banyak meja yang kosong. Para karyawan sepertinya tengah beristirahat makan siang. Langkahnya ia teruskan pada pintu besar milik ruangan Serena, yang agaknya tidak ditutup rapat.


"Liat aku, Re."


Tangan Ares gagal mengetuk, langkahnya kontan terhenti. Matanya langsung tertuju ke dalam ruangan Serena saat telinganya dimasuki suara tak asing yang berasal dari dalam sana.


"Kamu bisa boongin semua orang, tapi kamu gak bisa bohongin aku. Aku tau kamu masih mencintai aku. Aku tau kamu masih mau balik lagi sama aku."


"Aku udah nikah, Ren, jangan lupain itu." Lenguh Serena dengan nada putus asa.


"Itu hanya status. Aku tau selama limat taun ini kamu gak benar-benar mencintai suami kamu itu. Kamu hanya mencintai aku, Serena, hanya Reno kamu ini."


"Ren..."


"Jangan berpura-pura lagi, Re. Udah saatnya kamu jujur sama hati kamu sendiri. Tinggalin suami kamu. Aku akan datang buat kamu. Kita bakal sama-sama lagi."


"Kita berhubungan lagi, Re, kayak dulu. Atau mungkin lebih jauh, lebih serius lagi."


"Aku gak mau suamiku tau soal ini. Kamu paham kan gimana posisi aku sekarang?"


"Suami kamu gak bakal tau kalo kita main aman. Toh selama ini dia juga gak tau kalo kita sering ketemuan di belakang dia..."


"...Please, Sere, aku masih sangat cinta sama kamu. Dan aku tau kamu pun begitu."


Seketika Ares mundur selangkah. Ia limbung. Kehilangan keseimbangan. Napasnya sesak. Matanya memerah berkaca-kaca. Bahkan kalau boleh dikatakan, nyeri yang ia rasakan pada hatinya benar-benar mengoyak dan mencabik-cabik perih.


Pemandangan dua insan yang tengah berpelukan dan memadu cinta di hadapannya benar-benar membuat dunianya terhenti. Hancur. Menggelap.


Satu tetes air mata Ares yang jatuh membuktikan bahwa ia berhenti sekarang. Menyerah. Ia membuang buket bunga yang indah itu ke dalam tong sampah alumunium. Meninggalkan note mengambang diatas kuncup bunga itu.


'Sorry'


• • • • •


"Enggak, aku gak bisa." Serena mendorong tubuh Reno yang barusan memeluknya. Ia seakan baru tersadar telah melakukan dosa.


"Gak bisa? Gak bisa apa, Re?"


"Gak. Enggak." Serena menggelengkan kepalanya seraya bangkit berdiri. Ia merutuki kebodohannya karena beberapa waktu lalu ia sempat hampir terbuai lagi. Sial!


"Serena, ada apa? Kamu kenapa?" Reno ikut berdiri mendekati Serena.


"Jangan deket-deket!" Serena mengacungkan telunjuknya.

__ADS_1


"Apa sih, Re, kenapa kamu jadi begini?"


"Lebih baik sekarang kamu keluar dari ruanganku. Sekarang!"


"Hah?" Reno kebingungan. "Ini sebenernya ada apa sih, Re? Kamu kenapa? Barusan semuanya baik-baik aja."


"Gak ada yang baik-baik aja. Semuanya salah."


"Salah apa? Aku gak merasa ngelakuin kesalahan."


"Semuanya! Semua yang kita lakuin salah! Aku gak seharusnya ngizinin kamu masuk lagi dalam hidup aku!"


"Tapi kamu barusan setuju kita--


"Aku gak pernah bilang kalo aku setuju!"


Reno maju selangkah menggapai Serena, namun Serena mundur. "Serena..."


"Aku bilang jangan deket-deket!"


"Aku gak bisa. Aku gak bisa jauh dari kamu. Tolong." Pinta Reno dengan wajah nelangsa.


"Reno, keluar dari ruanganku sekarang."


"Aku gak mau. Aku cuma mau kamu. Aku masih sangat mencintai kamu. Aku yakin kamu juga masih cinta sama aku. Iya, kan? Iya, Re? Aku tau. Aku yakin."


"Enggak! Aku gak lagi mencintai kamu!"


"Bohong! Kamu cuma cinta aku, kamu cuma bisa jadi milik aku!"


"Gak! Enggak akan!"


"Kamu masih mencin--


"ENGGAK!" Bentak Serena hilang kesabaran.


Reno kehabisan kata-kata. Mulutnya megap-megap kecil. Sorot matanya meredup. Ia berkata dengan lirih; "Tapi kenapa? Kenapa kamu gak mencintai aku lagi."


Air mata Serena meluncur tak tertahan. Ia merasa sangat bodoh karena baru merasakan ini sekarang. Tangannya mengepal, matanya memejam beberapa detik, lalu terbuka lagi. Menatap Reno dengan penuh keyakinan. "Karena aku udah menyadari kalo aku mencintai suamiku. Ares."


Maaf aku terlambat menyadarinya, Res. Sorry.


• • • • •


Anye yang saat ini terpaksa bangun dari tidurnya, berjalan dengan mata belum terbuka sepenuhnya. Pengetuk pintu ini benar-benar tak tahu aturan. Ini sudah sangat malam. Dan dia malah bertamu dengan mengetuk pintu tidak sabaran.


"Iya sebentar." Kesal Anye sambil memutar kunci pintu unitnya.


Saat pintu terbuka setengahnya, mata Anye benar-benar seperti akan keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak, di hadapannya saat ini ada Ares yang tengah bersandar pada dinding unitnya. Penampilannya berantakan. Pria itu teler dengan tangan yang memegang sebotol minuman keras.


"Ares. Res. Kamu kenapa?" Anye menepuk-nepuk pipi Ares.


Ares masih memejamkan mata seraya meneguk kembali minumannya.


"Ares. Sadar, Res. Kamu kenapa?"


Tubuh Ares menggeliat pelan. Matanya terbuka sedikit dan sangat layu. Anye baru menyadari bahwa mata pria itu memerah seperti habis menangis. "Hati aku sakit. Sakit."


"Apa yang terjadi sama kamu, Res? Apa?" Lirih Anye prihatin.


Tak dinyana, tubuh Ares malah jatuh dalam dekapan Anye. Pria itu sudah tidak bisa berdiri dengan tegak. "Tolong aku, Nye, tolong. Hati aku sakit."

__ADS_1


Merasa sangat kasihan dan percuma saja jika menginterogasi Ares saat ini, Anye berinisiatif memboyong Ares masuk. Membawa tubuh sempoyongan itu dengan terus berkata. "Aku ada disini, Res. Buat kamu. Selalu."


——————————————


__ADS_2