Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
13


__ADS_3

Serena yang tengah menyuapi Altan sarapan, langsung menciut gugup saat suara derap kaki terdengar memasuki ruang makan dari arah belakangnya. Aroma maskulin yang sangat ia kenali dan sukai itu perlahan mulai tercium dari jarak yang dekat. Serena coba menguatkan hati, tapi saat sosok itu tepat berada di depannya, tetap saja jantungnya berpacu cepat.


"Morning." Ares mencium puncak kepala Altan dengan sayang.


"Morning, Papi." Balas bocah itu sambil mengunyah.


"Makan apa?"


"Pancake. Papi mau?" Altan mendongak pada Ares yang masih berdiri di sampingnya.


Ares menggeleng. "Altan aja."


"Kenapa? Papi kan suka pancake buatan Mami."


"Hari ini Papi harus dateng lebih pagi, gak akan sempet sarapan."


"Kok Papi gak makan lagi? Nanti Mami sedih loh kalo Papi gak makan."


Ocehan polos Altan membuat Ares menarik napas dalam-dalam. Sungguh, mendengar nama Serena saja sudah malas, apalagi memikirkannya. Tolong biarkan ia memulai hari dengan tenang tanpa bayang luka hatinya.


Berbanding terbalik dengan suaminya, hati Serena justru merasa tercubit. Melihat mimik Ares yang berubah drastis saat Altan menyebut namanya, membuat matanya panas. Belum hilang kilas balik tentang kejadian semalam yang membuatnya menangis dalam tidur, kini Ares menambah lukanya dengan muncul tanpa menggunakan pakaian pilihannya.


Sekali lagi hal yang tak pernah dilakukan Ares sebelumnya, kini terjadi. Ares yang dulu tak pernah tak suka dengan apa yang Serena siapkan. Serena selalu menyiapkan keperluan kantor Ares dari atas sampai bawah, dan Ares selalu suka dan selalu memakainya.


Dan sekaranga apa lagi? Ares menolak sarapan bersama. Menolak masakan buatannya.


"Udah gapapa, Sayang, mungkin Papi emang buru-buru." Serena mencoba menghibur anaknya, yang sebenarnya, menghibur hatinya juga.


"Tapi nanti Mami gak makan lagi kayak semalem." Ucapan Altan membuat Serena tak bisa langsung menjawab dan melirik ke arah Ares. Tapi seperti semalam, tak sedetik pun Ares balas menatap.


"Uhm... Mami makan, kok. Tapi nanti, setelah Altan selesai."


"Bener?"


Serena mengangguk-angguk dengan senyum kecilnya. "Iya."


"Tapi Altan maunya Papi ikut makan, Mi."


"Nanti kalo kerjaan Papi selesai, Papi pasti ikut makan bareng kita lagi. Iya kan, Pi?" Tanya Serena sambil menatap Ares.


Apa daya, pria itu malah acuh dan terkesan tak menganggap keberadaan Serena. "Dihabisin ya makannya. Papi berangkat dulu."


Ares mencium pipi kanan Altan, dan bocah itu menahan tangan ayahnya saat akan pergi. "Yang dibilang Mami bener, Pi? Papi nanti makan bareng kita lagi, kan?"


"Iya." Katanya singkat sambil berlalu.


"Papi tunggu." Cegah Altan saat langkah ke tiga Ares. Kontan panggilan itu menghentikan Ares.


"Papi kok gak cium Mami juga kayak biasanya?"


Jujur Serena terkejut dengan pertanyaan Altan, tapi ia juga penasaran dengan apa yang akan dijawab Ares. Diam-diam tangannya saling meremas di atas meja makan. Matanya menatap punggung Ares yang belum juga membalikkan badan.


Dan tanpa disangka, jawaban Ares membuat hati Serena mencolos. "Papi buru-buru."


• • • • •


Ares merangkul pinggang Anye yang berjalan di sampingnya. Kali ini mereka tengah berada di sebuah mall untuk menghabiskan waktu makan siang. Rencananya disini Ares akan memberikan kado ulang tahun Anye yang dijanjikannya tempo hari.


"Gak romantis banget sih kamu. Dimana-mana orang kasih kado tuh rahasia. Ini malah disuruh pilih sendiri." Rajuk Anye.


Ares terkekeh pelan. "Kamu kan tau aku bukan tipe cowok romantis. Aku juga gak tau harus ngasih kamu apa. Daripada entar salah beli dan jatohnya kamu malah gak suka, lebih baik kamu pilih sendiri."


"Ya tapi kan aku juga pengin kayak orang-orang, diromantisin gitu."


"Romantis apa enggaknya gak penting. Yang penting kan kadonya. Iya gak?"


"Hmmmm." Gumam Anye malas.


"Udah dong jangan cemberut gitu," Ares menoleh pada Anye. "Sekarang kamu pilih mau kado apa. Bebas. Apapun. Mau beli berapa pun."


"Bentar aku mikir dulu mau apa." Anye menghentikan langkahnya dan memutar kepala ke seluruh penjuru mall. Mencari kira-kira apa yang menarik minatnya.


"Gimana? Udah ketemu?" Tanya Ares.


"Kayaknya aku pengin kamera, deh. Boleh?"


"Just it?"


Anye mengangguk-angguk antusias. "Aku lagi suka polaroid gitu. Jadi pengin bisa moto sendiri."


"Anything for you, Sweetheart."


Anye tersenyum bahagia dan membalas rangkulan Ares. Mereka berdua berjalan menuju toko kamera yang berada tak jauh dari tempat mereka berhenti tadi.


"Ayo." Ajak Anye di depan toko.


"Eh bentar," Ares merasakan getaran di saku celananya. Ia mengambil ponselnya dan mendapat satu panggilan dari kantor. "Kamu duluan aja. Aku angkat dulu telepon."


"Oh ya udah."


Ares berbincang kurang lebih tiga menit dengan orang di ujung telepon sana. Membahas pekerjaan. Setelah selesai dengan urusannya, Ares memasuki toko berniat menyusul Anye. Saat di dalam, mata Ares menyusuri seluruh isi toko mencari Anye. Namun matanya justru terpaku pada satu titik.

__ADS_1


Seakan terhipnotis dengan apa yang ia lihat, langkah kaki Ares menuntunnya kesana. Berdiri di depan sebuah rak kaca tinggi dimana deretan kamera retro tersaji disana.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" Seorang pegawai pria berambut kribo menanyainya.


Ares mengangguk ramah. "Saya mau liat yang itu."


Kompak dua suara. Tak hanya Ares.


Kontan Ares menoleh melihat siapa pemilik suara yang menimpalinya itu. Rahangnya mengeras seketika. Matanya menajam. Tak dinyana orang yang paling ia benci malah muncul di depannya.


Pun begitu pula dengan orang itu. Tak perlu meneliti dua kali, pria di depan Ares itu sudah tahu berhadapan dengan siapa. Pria arogan dan berwibawa yang membungkam mulutnya dengan kata-katanya waktu itu.


Dalam beberapa waktu, mereka berperang pandang. Terutama mata Ares yang kian menikam.


"Uhm maaf... Jadinya ini gimana ya, Mas?" Pria muda itu meringis takut menyaksikan dua pria itu terus diam namun menyeramkan.


"Saya yang beli." Jawab Reno.


"Saya, Mas." Timpal Ares dingin.


Reno menoleh tak terima pada Ares. "Saya yang nunjuk itu." Aku Reno pada pelayan toko. Tak mau kalah.


"Anda menanyai saya duluan kan, Mas?" Tanya Ares dengan tatapan dingin bak bongkahan es itu.


Si pelayan toko hampir mengangguk karena ketakutan, tapi Reno keburu membuka suara.


"Saya langganan disini, Mas, kalo Anda gak tau." Peringat Reno pada pelayan itu.


"Saya yang dateng duluan." Timpal Ares. Kali ini menatap Reno lebih dingin dari tadi.


"Dateng duluan apa belakangan gak penting."


"Langganan atau bukan juga gak penting."


"Itu penting, karena saya yakin pemilik toko ini akan ngasih ke saya."


"Biasanya yang sudah jadi langganan akan mendapat potongan harga."


"Saya gak akan nerima potongan harga itu. Saya bayar sesuai harga."


"Kalo gitu saya berani bayar lebih mahal dari Anda."


Saat Reno akan membuka mulut, si pelayan toko melerainya. "Eng.. anu, Mas. Tapi Mas ini bener. Dia dateng duluan."


Reno menatap tajam pada pelayan toko. "Kamu mau saya laporin ke bos kamu, hah?"


"Ada saya. Jangan takut. Orang gak tahu moral memang bisanya cuma mengancam." Bela Ares sarkas. Pelayan toko itu mengangguk.


Mata Ares meneliti telunjuk Reno yang mengacung di depannya. Rahangnya kembali mengeras. "Saya gak suka ditunjuk-tunjuk!" Desisnya tajam.


"Dan saya gak suka dibantah!"


"Kalo begitu jangan ambil hak milik orang lain!" Bentak Ares menjabel kerah kaus abu milik Reno.


Entah kenapa emosinya benar-benar tak terkendali. Kejadian kali ini seakan kamuflase dari kehidupan nyatanya. Kamera itu diibaratkan sebagai Serena--sesuatu yang sangat Ares suka dan sudah ia pilih. Lalu tiba-tiba Reno datang. Menyukai hal yang sama. Begitu saja merebut dan mengakui hal itu sebagai miliknya.


Sempurna! Sangat mirip.


"Berani ya An--


Tangan Reno yang sudah mengapung di udara berhenti saat seorang wanita tiba-tiba datang.


"Ares, ada apa ini? Udah lepas. Lepas baju Masnya." Titah Anye menarik tangan Ares. Ia panik dan malu karena kini pertengkaran Ares menjadi pusat perhatian.


Tatapan Ares masih menyalang pada Reno. Urat-urat di tangannya yang menonjol menandakan bahwa cengkeramannya di baju Reno begitu erat. Hampir mencekik.


"Ares, please. Udah ya." Bisik Anye lembut.


Dengan perlahan-lahan cengkeraman Ares melonggar, hingga terlepas sepenuhnya. Reno berdecih marah dan merapikan kausnya yang agak kusut.


"Pokoknya kamera itu milik saya. Titik!" Tekan Reno dalam setiap katanya. Tatapannya masih menghunus Ares.


"Perebut akan selamanya jadi perebut." Desis Ares tajam, sambil mendorong bahu Reno.


• • • • •


Ares berjalan cepat menaiki tangga karena Serena membuntutinya dari belakang. Rahangnya mengeras karena ia malas mendengar celotehan Serena yang tak ada habis-habisnya. Ditambah lagi bayang-bayang kejadian tadi siang ikut mampir di otaknya. Membuat ia teringat kembali pengkhianatan Serena.


Padahal maksud Serena baik. Dia hanya khawatir kenapa Ares baru pulang dini hari begini.


"Ares tunggu. Aku belum selesai bicara." Serena coba menekan suaranya agar tak terlalu berteriak supaya tak membangunkan Altan yang sudah terlelap.


Ares memutar gagang pintu kamarnya, dan melempar jasnya ke atas ranjang. Pria itu juga menarik kasar dasinya, lalu dihempas begitu saja.


"Tunggu, Ares." Tahan Serena dengan pelan. Tak sarkas dan galak seperti kemarin-kemarin.


Ares berdecak kecil dan akan melangkah ke kamar mandi, tapi Serena mencoba menahannya dengan menggapai tangan Ares. "Tung--


"Udah aku bilang jangan sentuh-sentuh aku!" Tubuh Ares mundur dari jangkauan Serena dan telapak tangannya mengartikan untuk Serena menjaga jarak.


"Res?" lirih Serena dengan tatapan tak percaya. "Kamu kenapa, sih? Kenapa aku gak boleh deket-deket? Kenapa dari kemarin kamu terus jauhin aku?"

__ADS_1


"Ya karena aku gak suka!" Sentak Ares tegas.


"Gak suka apa? Selama ini kita baik-baik aja. Kamu yang tiba-tiba berubah."


"Aku gak suka kamu tanya-tanya. Ngerti?!" Tekannya tajam.


"Emangnya aku salah sebagai seorang istri nanyain kamu? Emangnya aku salah mau tau kemana aja suaminya sampe gak pulang? Emang kamu pikir aku gak khawatir liat suamiku sendiri pulang malem dalam keadaan mabuk?"


"Aku bisa jaga diriku sendiri."


"Tapi aku gak bisa menjaga perasaan aku untuk tetap tenang, Res. Gak bisa."


"Kenapa? Kenapa gak bisa, hah? Dulu kamu selalu gak peduli sama aku, jadi sekarang apa susahnya untuk terus seperti itu?"


Serena menelan ludahnya kasar dengan mata berkaca-kaca. Ares benar. Ia memang seperti itu. Dulu. Tapi sekarang? Ia tak bisa. Ia tak bisa untuk tak peduli pada Ares. Suaminya, pria yang kini ia cintai. Kenapa Ares tak mengerti? Tak melihatkah ia di mata Serena ada rasa cinta yang begitu besar?


"Diem kan kamu? Gak bisa jawab?" cibir Ares dengan sarkas. "Itu karena kepedulian kamu sama aku cuma sebatas rasa takut. Kamu terbiasa ada aku, dan pas aku gak ada kamu jadi takut. Iya, kan?"


Serena menggeleng-geleng kecil, tapi Ares malah berdecih. "Drama tau gak?"


"Aku gak kayak gitu." Bisik Serena dengan suara paraunya.


"Terserah." Ares menubruk bahu Serena.


"Ares aku belum selesai bicara." Tubuh Serena menghadang jalan Ares.


"Apa lagi? Apa lagi yang mau kamu bicarain? Kamu gak sadar dari tadi kamu udah terlalu banyak bicara, hah?"


Serena memberanikan diri memegang kedua lengan Ares. Ia sudah menangis. "Aku cuma mau tau kamu kenapa? Kenapa kamu berubah? Aku ada salah apa sama kamu?"


"Lepas," desis Ares. "Aku harus ingetin berapa kali supaya kamu ngerti aku gak suka disentuh-sentuh sama kamu? Apa aku harus puk--


"Iya. Pukul aja, Res, pukul. Ayo pukul aku. Tapi asal kamu tau, aku gak akan lepasin kamu sebelum kamu jawab pertanyaan aku tadi."


"Kamu nantangin aku?!" Ares merampas kedua tangan Serena kasar, lalu meremasnya.


"Sshhh," Serena meringis lirih. "Sakit, Res."


"Kamu mau tau kan aku kenapa? Mau tau?"


"Ares, sakit. Lepas dulu." Serena berurai air mata.


Seakan dibutakan dan ditulikan, Ares malah memelintir tangan Serena ke belakang punggung wanita itu, lalu tangan kanan Ares menjepit dagu Serena sampai mendongak.


"Kamu, semua yang ada dalam diri kamu, aku muak," desis Ares setajam pedang. "Aku mau kita pisah." Lalu tubuh Serena dihempas begitu saja.


Tubuh Serena limbung didorong Ares. Tapi dirinya yakin yang membuat kakinya bergetar saat ini adalah perkataan Ares. Apa katanya barusan? Pisah? Tiba-tiba Serena kepayahan bernapas. Air matanya meluncur bebas. Tangannya bergetar tak mampu menyusut air mata sendiri.


"Aa-ap-apa?" Saking tercekatnya, Serena sampai terbata-bata.


"Pisah," kata Ares tenang. "Aku mau kita pis--


"Jangan," Serena tertatih mendekati Ares. Telunjuknya yang bergetar menempel di bibir pria itu. "Jangan bilang itu lagi. Jangan."


Ares menepis kasar tangan Serena. "Aku mau kita pisah!"


Kepala Serena menggeleng-geleng. "Enggak! Ini kamu pasti lagi gak sadar, kan? Iya, kan? Bilang kamu lagi mabuk, Res. Bilang kalo ini cuma becanda."


"In your dream," cibir Ares tajam. "Aku memang bener-bener pengin pisah dari kamu! Ngerti kamu, hah?!" Bentaknya.


"Tapi apa alasannya? Apa salah aku?Apa kurangnya aku?" Wajah Serena sudah banjir air mata. Kepalanya pening.


"Pokoknya aku mau kita cerai! Titik."


"Enggak. Enggak. Jangan bilang gitu. Kalo aku ada salah, aku minta maaf. Aku minta maaf. Kamu bilang apa yang harus aku perbaiki. Aku akan perbaiki semuanya. Kamu mau kita punya anak lagi, kan? Ayo! Aku setuju kita punya anak lagi. Tapi tolong jangan kayak gini."


"Kamu gak denger tadi aku bilang apa? Aku muak! Aku muak sama kamu! Aku muak dengan semua yang ada dalam diri kamu!"


"Apa alasannya? Apa?!" teriak Serena frustasi. Ia benar-benar tak tahu dimana letak kesalahannya, tapi Ares menempatkannya di posisi paling salah tanpa menjelaskan apa penyebabnya. "Aku gak tau salahku dimana, Res! Kenapa kamu menghukum aku begini, hah?! Kenapa?"


"Kamu masih tanya salah kamu dimana?" mata Ares memicing marah. "Pikir pake otak cantik kamu itu! Pernahkah kamu ngelakuin salah yang buat aku jadi berubah dan pengin pisah kayak gini?! Pikir!"


"Kalo aku salah, aku minta maaf," isak Serena parau. "Aku akan perbaiki semuanya, Res. Aku mohon. Jangan kayak gini. Apa aku perlu berlutut di depan kamu? Aku akan lakuin, Res, aku akan lakuin itu."


"Kamu gak perlu merendahkan diri kamu seperti itu, Serena. Dari awal kamu memang gak menerima pernikahan ini, kan? Buat apa kamu sekarang berlagak keberatan?"


"Enggak. Aku gak mau." Lirih Serena geleng-geleng kepala.


"Lepasin aku dan kita akan sama-sama bahagia. Mengerti?!"


"Enggak! Aku gak mau, Res. Tolong jangan paksa aku."


"Kenapa gak mau, hah? Bilang kalo kamu mau! Bilang kalo kita akan lepas!"


"Enggak. Gak akan! Aku gak mau ngelepasin kamu!"


"Kamu harus mau! Kamu harus!" Ares memegang erat dua sisi lengan Serena. Matanya menyalang habis kesabaran. "Bukankah dengan perpisahan kita kamu bisa kembali sama orang yang benar-benar kamu cintai? Dengan begitu kamu bisa bahagia! Aku juga bisa bahagia!"


"Gak mungkin aku bisa hidup bahagia kalo aku melepaskan orang yang aku cintai."


Tubuh Ares berubah kaku. Bola matanya bergerak kebingungan. Tangannya mulai lepas dari kedua lengan Serena. "Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Aku cinta kamu, Ares. I'm officially loving you."


__ADS_2