
4 bulan kemudian
Bunyi terompet yang melengking panjang menjadi pembuka malam tahun baru di kediaman Ares dan Serena. Percikan kembang api dilesatkan ke langit dengan ledakan berwarna-warni. Euforianya makin terasa meriah karena semua penghuni rumah ikut bergabung. Dua satpam Ares memegangi petasan yang menembak ke langit, sementara Altan berjingkrak senang dalam jangkauan Mbok Nunik.
Serena tersenyum lebar ikut merasakan kebahagiaan malam ini. Sudah jauh-jauh hari Altan selalu cerewet membahas tahun baru. Dia sudah mengultimatum ibunya ini untuk tidak menidurkannya dulu dan membuat acara bakaran di halaman belakang rumah.
Walau sebenarnya ia sedang kurang enak badan karena dari kemarin meriang dan pusing, ia memilih untuk tak mengecewakan pangeran kecilnya. Apalagi berkat semua ini ia bisa melihat lagi Ares tersenyum di sisinya. Ya, walaupun senyumnya tipis dan terlihat mau tak mau merayakan malam tahun baru ini.
Saat Serena menatap Ares penuh cinta, Altan tiba-tiba menariknya untuk membakar jagung. Bocah itu dengan tak sabar menyuruh para satpam untuk segara membakarkan jagung.
Tinggallah Ares sendiri di tengah halaman rerumputan bersama pikirannya yang melanglang buana.
Pria itu mengutas senyum tipis menatap langit. Matanya menyiratkan ada sebuah harapan yang sungguh ia tunggu untuk dikabulkan. Tangannya tak tahan untuk tidak mengambil ponsel dari sakunya, lalu mengetik nama kontak yang setiap harinya selalu ia nantikan akan menghubunginya.
...Sweetheart...
^^^Selamat tahun baru, Nye. Ini udah bulan ke empat kamu gak ada di sini. Aku cuma berharap kamu baik-baik aja dan gak kekurangan suatu apapun. Satu hal yang harus kamu tau, aku bakal nunggu kamu selama apapun.^^^
^^^I miss you. I miss you so bad.^^^
^^^00:02^^^
Serena yang tengah memegangi jagung milik Altan, merasa janggal melihat keterdiaman Ares yang seakan hanyut dalam telepon genggamnya. Entah apa yang pria itu pikirkan hingga senyumnya yang tadi sempat rekah kini kembali layu. Padahal Serena tadi sudah lumayan senang karena Ares bisa menikmati malam ini. Tapi lihatlah sekarang? Tuan minim ekspresi itu kembali punya dunia sendiri. Kalau sudah begini terpaksa Serena harus turun tangan.
"Mbok, tolong pegangin jagung punya Altan ya. Saya tinggal sebentar."
"Baik, Nyonya."
Serena bergegas mengambil tempat di sebelah Ares. Sepertinya pria itu masih asik memandangi ponselnya sampai tak sadar ada Serena di sebelahnya. Sebenarnya Serena ingin mendengus karena diabaikan. Bahkan kalau bisa, ia ingin langsung merampas ponsel Ares dan melemparnya ke Selat Malaka. Tapi jika diingat misinya untuk membuat Ares tersenyum lagi, sepertinya hal-hal di atas hanya akan cari mati.
Merasa tak ada persiapan apapun untuk membuat Ares mau menolehkan pandang ke arahnya, Serena mengambil langkah awal dengan mencium pipi kiri suaminya itu.
Boom!
Berhasil! Ares menoleh!
Ya, walaupun ada aksen tambahan matanya yang melotot.
"Selamat tahun baru, Sayang. Semoga di tahun yang baru ini kita bisa makin baik lagi dan ngerayain tahun demi tahunnya sama-sama terus."
Tak ada tanggapan apapun yang diberikan Ares. Ia masih terlalu shock akan ciuman di pipinya. Apa-apaan tindakan Serena yang tiba-tiba itu? Apakah dia tidak melihat banyak orang di sini? Untuk apa pula dia bergelayut manja begini seperti anak monyet?
"Kok diem? Jawab, dong." Lengan Ares digoyangnya.
"Kamu tuh apaan, sih? Gila ya maen cium-cium kayak tadi? Gak malu apa diliat orang lain?"
"Malu diliat siapa? Orang mereka lagi sibuk bakar jagung."
Ares menetralkan raut marahnya seraya mengawasi orang-orang di sini satu per satu. "Ya tetep aja. Aku gak suka hal pribadi kayak gitu jadi konsumsi publik."
"Ooooh," Serena tersenyum iseng. "Jadi kalo di ruangan yang private boleh?"
Gigi Ares kembali bergelatuk menahan kesal. Wanita satu ini benar-benar ya. "Tau ah. Udah sana minggir."
"Iih kok minggir? Orang masih mau sama kamu."
"Terserah."
Serena makin meringsek dalam pelukan lengan Ares. Dalam diamnya ia berpikir apa yang tengah Ares pikirkan saat ini? Apakah sama dengannya yang sedang mengulang masa indahnya bersama Ares dulu? Masa dimana Ares begitu teramat mencintainya.
"Res, aku bener-bener serius sama doa aku yang tadi," mata Serena menerawang ke depan. "Aku mau hubungan kita kayak dulu lagi dan bahkan lebih baik. Aku mau kita sama-sama terus sampe kapanpun dan ngelewatin suka duka bareng. Tolong jangan pergi lagi dari aku. Aku gak tau apa aku mampu bertahan untuk yang ke dua kalinya atau enggak."
Dalam diamnya Ares merasa hatinya menghangat. Empat bulan terakhir ini Serena memang berubah jadi sosok yang selalu melakukan yang terbaik buatnya. Serena memenuhi hari-harinya penuh cinta. Ares kadang merasa luka hatinya perlahan pulih karena disirami kasih sayang. Tapi di satu waktu, ia juga tak menampik bayang pengkhianatan Serena begitu abadi dalam ingatan.
Pandangan keduanya bertemu saat Serena mendongak. Serena tak tahu apa yang Ares pikirkan saat ini, yang ia tahu hanyalah ia merasakan cinta yang begitu dalam untuk suaminya itu.
"Aku cinta kamu, Res," bisiknya lembut. "Aku cinta kamu lebih dari yang kamu tau."
Angin kencang yang berhembus menerbangkan rambut mereka tak lantas memutus tatapan mereka yang sarat akan makna. Dinginnya malam yang makin pekat justru membuat keduanya seolah tenggelam dalam mata masing-masing.
__ADS_1
Ares memajukan wajahnya. Berniat memagut bibir sang istri yang tipis dan ranum. Serena pun tak kalah memberi lampu hijau. Matanya terpejam perlahan merasakan desir malam dan hangatnya hembusan napas Ares di depan wajahnya.
Tik.
Mata Serena kontak terbuka merasakan air menjatuhi keningnya. Ia mengernyit menatap langit. Rintik hujan yang mulanya datang satu per satu berubah jadi guyuran tak tertahankan.
"Hujan!" suaranya melengking. "Ayo masuk, Res. Altan ayo masuk. Ujan, Sayang."
Serena berlari menghampiri anaknya namun Altan menolak untuk diajak masuk.
"Aku mau main hujan-hujanan."
"Gak gak. Nanti kamu sakit, loh."
"Sebentar aja, Mami. Please."
"Altan..."
Bocah itu malah berlari menghampiri Ares dan menarik tangan sang ayah seolah mencari pembelaan. "Papi ayo main hujan-hujanan. Temenin Altan main. Altan mau main air. Ya, Pi, ya? Pliiiiis?"
Ares melirik Serena yang nampak keberatan. Tapi jelas saja ia lebih tak bisa menolak Altan. Jadi ia putuskan, baiklah ia akan main hujan.
Altan berjingkrak senang. Ia menarik tangan Ares ke tengah lapangan. Meloncat-loncat bak anak kecil pada umumnya yang suka hujan-hujanan. Ares pun tersenyum lebih lebar dari tadi. Sungguh, tak ada yang lebih bisa membuatnya bahagia dari melihat Altan tertawa bahagia juga.
Tanpa diduga, bocah itu menarik Serena ikut dalam kesenangannya. Saling berpegangan tangan dan membuat pola lingkaran.
Ares dan Serena saling tatap dengan tangan yang berpegangan. Senyum kedunya timbul walau Ares masih terlihat agak gengsi.
...• • • • • ...
Serena memeluk lengannya setelah keluar dari kamar Altan. Ia merasa sedikit menggigil dan badannya makin tak enak. Mungkin ini karena baju basahnya belum diganti karena ia mengurus Altan dulu. Sepertinya setelah di kamar ia akan mandi air hangat dan langsung tidur saja. Itu akan membuat badannya lebih baik.
Saat memasuki kamar tidurnya ia melihat Ares tengah merokok menyaksikan hujan di balik pintu balkon. Serena merasa heran kenapa Ares belum mengganti bajunya yang basah.
"Kok belum ganti baju?" Tanyanya sambil melengos ke walk closet untuk mengambil baju.
Setelah mengambil satu baju tidur yang cukup panjang untuk mengatasi rasa dinginnya, Serena dikejutkan dengan kehadiran Ares yang sudah berdiri di depan pintu walk closet.
Ares hanya diam. Dan itu membuat Serena heran. Pria itu terlihat tak seperti biasanya.
"Res."
Makin gugup Serena saat tatapan Ares seperti mengulitinya dari atas ke bawah. Tatapannya seperti...
"Eh?" Serena tersentak saat Ares menarik pinggangnya mendekat.
Ares menatapnya dengan dalam. Penuh damba. Sekarang Serena tahu maksud dari tatapan itu.
Pria itu menyingkap rambut basah Serena ke belakang. Gelenyar geli Serena rasakan saat telunjuk Ares merambat dari pipi hingga lehernya. Secara naluriah Serena jadi memiringkan sedikit kepalanya dan membuat Ares begitu mudah memeluknya dan menjamah lehernya.
"Ssshh." Serena merintih merasakan bibir hangat Ares menyentuh kulitnya yang basah.
Ares mengecup, kembali mengecup, lalu mengendus-endus belakang telinga Serena.
"Res." Serena baru ingat ia sedang tak enak badan. Badannya lemas sekali.
"Hm?" Geramannya begitu seksi di telinga Serena.
"Aku..." Suara Serena tercekat. Apakah ia harus bilang kalau sedang tak enak badan? Tapi ia tak tega menolak Ares. Kasihan Ares kalau harus menahan gairahnya.
Maka saat ini, Serena membiarkan Ares menjamah tubuhnya. Baju tidur yang baru ia ambil terjatuh ke lantai saat ia harus mengalungi leher Ares yang tiba-tiba mencium bibirnya. Ciumannya terasa penuh napsu hingga Serena sulit mengimbanginya. Tangannya juga langsung bergerilya kemana-mana memberi remasan yang membuat Serena melenguh.
Sungguh, Serena merasa benar-benar kewalahan saat Ares menarik dress selututnya untuk menelanjanginya. Kilat gairah begitu hidup di matanya melihat tubuh Serena yang tinggal berbalut dalaman terlihat basah.
Ares mengais tubuh Serena lalu dibaringkan di atas ranjang. Melihat Serena dalam kondisi pasrah dengan kedua kaki terbuka lebar, ia merasa sangat panas walau seluruh bajunya masih basah. Diloloskannya kaus rumahan yang ia pakai ke lantai. Sambil berlutut di tengah kaki Serena ia membuka kancing celanannya dan membuatnya merosot sampai paha. Inti tubuhnya berkedut-kedut. Ia sudah tak tahan.
Malam itu, di malam tahun baru dan berisik oleh suara hujan, dua insan itu memuntahkan gairah mereka. Rasa dingin karena cuaca, panas karena badan mereka terus terhentak, ada yang lemas karena tak enak badan, dan ada rindu Ares pada Anye yang ia salurkan pada Serena.
Semuanya melebur jadi satu.
__ADS_1
"Miss you... Anyelir." Bisik Ares di sisa pelepasannya.
...• • • • • ...
Serena mengeratkan pegangan pada selimut yang menggulung tubuhnya sambil menatap Ares yang masih terlelap. Pagi selepas hujan semalam terasa membawa hawa lebih dingin dari biasanya. Serena terpekur diam mengingat percintaan panas mereka yang luar biasa.
Sejujurnya sejak empat bulan terakhir mereka sudah biasa melakukan hubungan intim. Awal-awal agak kaku, tapi kemudian terbiasa sendirinya seiring berjalannya waktu. Seringnya Ares yang meminta, dan Serena dengan senang hati mengizinkannya.
Setiap kali berhubungan intim Serena selalu merasa Aresnya yang dulu telah kembali. Yang lembut, yang menyentuhnya penuh perasaan, yang tatapannya penuh cinta walau diselipi napsu. Itulah sebabnya Serena selalu merasa dicintai Ares begitu dalam.
Semalam, untuk pertama kalinya, Serena tak merasakan itu semua dalam sesi pergulatan mereka. Ares kelihatan sangat bernapsu dan hilang kendali. Gerakannya cepat dan membuat tubuh meriang Serena jadi agak ngilu.
Awalnya Serena memakluminya karena mengira Ares tak kuasa menahan napsu setelah seminggu mereka tak berhubungan badan. Tapi di akhir percintaan mereka, Ares menggeramkan satu nama yang langsung membuat Serena paham bahwa yang Ares rindukan bukan dirinya, melainkan orang lain, tubunya ini hanya sebagai penyaluran hasrat saja.
Anyelir.
Nama yang sudah lama sekali tak ia dengar selama empat bulan ini. Nama yang ia kira sudah lenyap dan Ares buang jauh-jauh dari kehidupannya. Saking jarangnya nama itu disebut, Serena sampai menerka-nerka apa hubungan Ares dengannya sudah berakhir? Ares juga tak pernah lagi pulang malam. Ares tak pernah lagi pergi ke klub. Serena juga tak pernah lagi mencium aroma parfum wanita di kemeja Ares.
Sesaat, pemikiran itu membuatnya merasa aman. Ia benar-benar menikmati perannya sebagai istri dan ibu yang sesungguhnya. Semuanya perlahan kembali normal. Selain sudah kembali berhubungan badan, Ares juga tak se-ketus dulu padanya. Ares jadi lebih mudah melunak tak se-kejam dulu. Hanya saja, sifat irit bicaranya memang susah Serena kembalikan seperti semula. Aresnya yang kini lebih banyak gengsinya.
Serena kira, di awal tahun yang baru ini akan ada perubahan yang lebih baik dari itu. Tapi ternyata, membuat Ares berpaling tak semudah kedengarannya. Harus sekeras apa lagi Serena mencoba? Apa usahanya masih kurang gigih? Kapan Ares bisa kembali menjadi miliknya seutuhnya seperti dulu?
Jujur saja, Serena iri dengan Anyelir. Anyelir bisa memenangkan hati Ares tanpa perlu usaha setengah mati seperti dirinya.
Anyelir ada, bahkan di saat dia tidak ada.
Tangan Serena terulur mengusap rahang sang suami. "Res, apa sesusah itu kamu ngelupain dia?"
...• • • • •...
Sisa-sisa tetes hujan berjatuhan dari genteng yang sudah usang dan berlumut hitam. Sebuah rumah sederhana ala masyarakat Jawa terlihat begitu tenang dan sunyi dari hingar bingar ibukota.
Dari dalam, terlihat wanita paruh baya berkebaya tradisional dengan tak lupa sanggul di rambutnya, membawa nampan berisi bubur ayam mengepul yang baru ia buat. Di ketuknya dua kali pintu sebuah kamar, lalu masuk setelah mendorong pintunya.
Senyum di bibir keriputnya terpancar melihat seorang gadis terbaring tenang di ranjang kayunya. Ia menggiring tubuhnya mendekati gadis itu, lalu duduk di sisi ranjang.
"Bagaimana keadaannya, Nduk? Sudah baikan?"
Anye tersenyum lemah. "Baik, Mbah."
"Syukur alhamdulillah. Mbah tadi buatkan bubur ayam buatmu. Sengaja dibuat ala Jakarta biar mengobati rindumu sama kota itu. Resepnya Mbah lihat dari HPnya bulekmu. Di opo iku namanya yang ada video-video begitu?"
"YouTube, Mbah." Anye terkekeh kecil.
"Nah itu. Ini, ayo dimakan. Biar cepet sembuh. Biar bisa ngelilingin Jogja lagi kayak waktu kecil. Anyelir sudah bosan kan baringan terus?"
"Iya, Mbah."
"Mbah suapin. InsyaAllah rasanya mirip sama yang di Jakarta."
Satu suapan Anye terima dengan senyum dan dalam baringannya. Bubur itu akan enak kalau mulutnya tidak sepahit ini. Aromanya juga pasti sangat nikmat kalau saja ia bisa menciumnya. Tapi, inilah keadaan yang harus ia jalani selama empat bulan ini. Tak ada rasa, tak ada aroma.
Psst! Ini bukan covid ya readers HAHA
Kadang, Anye merasa hidupnya tak ayal berwarna hitam putih saja. Setiap hari hanya bisa menyapa pagi lewat jendela, menjalani siang tetap di atas ranjang, merasakan sore saat anak-anak kecil ramai bermain, meratapi malam dengan merindukan Ares.
"Nduk, opo yo dipikirkan lagi mau balik ke Jakarta. Kondisimu ini belum sepenuhnya pulih loh, masih butuh banyak istirahat. Memangnya gak betah toh tinggal di rumah Mbahmu sendiri?"
Bubur yang ada dalam mulutnya Anye telan perlahan. Gelengannya pun masih terlihat lemas.
"Mbah, Anye sangat senang bisa kembali ke sini dan tinggal sama Mbah. Sejujurnya, di kondisi Anye ini Anye lebih butuh tempat sunyi seperti ini daripada keramaian Jakarta. Tapi, Mbah, ada beberapa hal yang harus Anye selesaikan di sana. Anye takut gak punya waktu lagi kalau bukan sekarang."
Wajah Mbah yang masih kelihatan keberatan, lantas membuat Anye meraih tangan keriput sang nenek dalam genggamannya.
"Ini hanya sebentar. Anye hanya perlu menemui seseorang. Sebelum itu semua selesai, Anye gak bisa tenang. Anye harus selesaikan dulu. Mbah izinin, kan?"
Mbah Marinah menghela napas pasrah. "Yo... Mbah bisa opo toh kalau itu memang sudah maumu? Kalau menurutmu itu yang terbaik, yo wis, laksanakan saja. Mbah hanya titip, tolong jaga diri kamu baik-baik. Ingat kesehatanmu. Di sini Mbah pasti terus doakan kamu."
"Terima kasih, Mbah."
__ADS_1
Anye tersenyum memandang jendela yang memperlihatkan pagi yang damai di Jogjakarta. Perasaannya pun serta merta menghangat melihat gambaran dirinya dan Ares yang berlari di bawah guyuran hujan selepas pulang sekolah saat SMA.
"Aku akan kembali buat kamu, Res."