
Adreano Prahadi mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas celana jeans biru pudarnya. Kedua tangannya sengaja ia tumpu pada pahanya guna menghalau rasa gelisah yang tiba-tiba membuat pengap suasana di dalam CRV-nya. Kepalanya menunduk, matanya bergerak cemas, dan otaknya ia kerja rodikan untuk berpikir kata pertama apa yang pas diucapkan sebagai pembuka pembicaraan ini.
Sekuat tenaga ia berusaha untuk berani melirik Serena. Melenguhkan satu-satunya kalimat yang muncul di otak buntunya. "Apa kabar, Re?"
"Dua menit tiga puluh tujuh detik," jawab Serena dengan angkuh. Tangannya bersidekap, dan matanya lurus ke depan. Menatap toko roti Tante Lisa di sebrang jalan. "Setelah aku nunggu, ternyata cuma pertanyaan murahan itu yang kamu tanyain."
Mulut Reno megap-megap kecil. Ia terlalu kaget akan perubahan sikap Serena yang sangat drastis. Intonasi lembut lima tahun lalu, berganti nada dingin terkesan acuh saat ini.
"Maaf, Re, aku bingung mau mulai dari mana." Jujurnya masih sekaku sebelumnya.
"Kalo gitu to the point aja. Basa-basi cuma akan buang-buang waktu kamu yang tinggal sedikit." Serena masih menatap keluar jendela. Ia rasa lebih mengasyikan melihat apa yang ada diluar sana, daripada yang ada di sebelahnya.
Di luar sana ada segerombolan anak yang pulang sekolah, penjual tisu yang mengelap keringatnya, pengemis yang tengah menyuapi anaknya dengan nasi bungkus yang diambil dari tempat sampah, dan lalu lalang tukang parkir minimarket--tempat dimana mobil Reno kini terparkir.
"Kamu... sekarang agak berubah ya." Reno tersenyum sumbang yang terlihat miris.
Serena mendengus. "Berubah lebih baik? Of course. Makasih untuk pujiannya. By the way, kamu juga udah berubah sejak terakhir kali kita ketemu."
"Begitu?" Reno menelengkan kepala. Merasa sedikit memiliki asa karena Serena ternyata memperhatikannya. Walau dalam diam.
"Hm." Gumam Serena kecil, lalu menoleh meneliti penampilan Reno. Jujur ia belum berani bersitatap dengan mantannya itu.
Mengikuti kemana mata Serena berjelajah, Reno ikut meneliti penampilannya juga. Kemeja flannel kotak-kotak abu dan hitam yang membungkus kaos putih polosnya. Jeans biru pudar yang terlihat bersih dan masih baru. Sneakers dengan logo merek terkenal, dan pelengkapnya jam tangan kulit produksi Italia.
"Apa aku masih keliatan kayak anak kost yang gak suka mandi dan kurus kering gara-gara keseringan makan mie instan?" Tanya Reno dengan senyum kecil. Mencoba mencairkan suasana.
Serena tercenung beberapa detik. Tak menyangka Reno masih mengingat ledekkan yang sering Serena lontarkan ketika mereka masih bersama.
"Masih, ya? Sampe kamu susah jawab gitu?" Goda Reno dengan tatapan jahil. Seperti dulu.
Kamu tampan, Ren.
Astaga! Memang minta dibekap sekali pikirannya ini. Hell!
"Nope," balas Serena ringan. Kali ini ia memberanikan diri menatap Reno. Mendoktrin pikirannya agar sesantai saat menyesap teh hijau bersama Hana. "Karena sekarang aku yakin, anak kost yang dulu jarang mandi dan kerempeng itu udah punya rumah kayak istana dan bahkan bisa beli perusahaan mie instan."
Tawa renyah Reno mencuat. "Wow. Aku tersanjung untuk pujian kamu itu. Kalo gitu, mau coba mampir ke rumah aku gak?"
"Mampir?" cabik Serena seakan meledek. "Apa kamu berpikir setelah pertemuan kita ini, aku masih mau ketemu kamu?"
"Sorry? Maksud kamu... apa, ya?"
"Ya... aku berharap ini pertemuan pertama dan terakhir kita." Serena menggoyang bahunya ringan.
Reno benar-benar bingung akan sikap Serena ini. Saat tadi mereka bertemu, Serena tanpa banyak pertimbangan mengiyakan ajakannya untuk mengobrol sebentar. Tapi sekarang? Benar-benar, pikiran wanita sulit untuk ditebak dan dimengerti.
"Astaga! Jangan bilang, kamu ngira aku udah maafin kamu?" Tanya Serena dramatis.
Reno mati kutu. Memang benar tadi pikirannya berpikir seperti itu. Mengira bahwa Serena sudah memaafkannya, dan memberinya kesempatan untuk kembali masuk dalam hidupnya.
Lalu selanjutnya, giliran Serena yang tertawa. Kepalanya menggeleng-geleng. "Come on, Reno. Jadi kamu beneran mikir kayak gitu?"
Melihat Serena yang nampak puas menertawai kebodohannya, membuat Reno agaknya tersinggung. Tatapan pria itu sedikit membeku tak sehangat sebelumnya. "Kalo emang iya, apa aku salah, Re?"
"Really kamu nanyain itu ke aku, Ren? Setelah semua yang kamu lakuin ke aku, apakah sikap kamu itu bisa disebut benar?" Cibir Serena dengan sisa tawanya.
"Semua orang bisa ngelakuin kesalahan." Tegas Reno yang mulai kelihatan serius.
Begitu pula Serena yang tak mau kalah, ia balik menatap Reno menantang. "Tapi gak semua orang layak dimaafkan."
"Semua orang layak mendapatkan kesempatan kedua. Buat memperbaiki apa yang udah dia rusak."
"Tapi kalo sesuatu yang dirusaknya udah terlanjur gak bisa di tata ulang, maka kesempatan kedua hanya akan sia-sia."
"Dan kamu tau aku, Serena. Kamu tau aku adalah orang yang gak gampang nyerah untuk dapetin apa yang aku mau. Jadi aku akan--
"Jadi pembahasan kesempatan kedua ini adalah tentang kamu, Ren?" tanya Serena mendengus pelan. "Kalo emang iya, liat ini," Serena mengangkat tangan kanannya. Memperlihatkan perhiasan kecil yang melingkari jari manisnya. "Seharusnya kamu cukup mengerti untuk itu."
__ADS_1
"Jadi kamu udah nik--
Ponsel Serena tahu-tahu berdering dari dalam tasnya. Wanita itu terpaksa meredam sedikit emosinya dan mengambil benda persegi miliknya.
Sekonyong-konyong, bibirnya tanpa sadar tertarik ke atas. Bolehkah ia merasa sangat disayang Tuhan sekarang? Melihat nama Ares muncul dari layarnya sungguh mukjizat yang ia tunggu agar terbebas dari masalah bernama Adreano Prahadi yang mengurus emosi.
"Ya, Sayang. Aku masih di jalan. Iya, tadi aku mampir ke tokonya Tante Lisa. Uhm, paling sebentar lagi. Enggak, kok, aku usahain gak akan telat. Iya, aku hati-hati. Bye, Sayang. Haha... I know you love me."
Bangunkan Reno kalau ini adalah mimpi. Sungguh Reno tak mau lebih lama lagi dalam mimpi buruk ini. Hatinya remuk redam, cahaya matanya redup, dan napasnya sedikit sesak. Ia benar-benar terusik saat wanita yang masih sangat dicintainya itu berdialog mesra bersama pria lain. Oh bukan pria lain. Suaminya. Su a mi.
"Suamiku," jelas Serena dengan bangga, walau tanpa ditanya. "Sori, sampai dimana pembahasan kita tadi? Oh, masih tentang kamu yang butuh kesempatan kedua itu, ya? Maaf banget ya, Ren, ternyata selain kesempatan kedua, waktu kamu buat bicara juga udah habis. Ini udah lebih dari sepuluh menit dari waktu yang kamu minta."
"Aku belum selesai bicara, Sere."
"Tapi kalo suamiku udah bicara dan nyuruh aku pulang, aku gak akan bisa nolaknya. Lagipula aku harus nganter itu," tunjuknya pada paper bag toko roti Tante Lisa yang ia taruh di atas dash board. "Buat mertuaku. Aku mau ke rumah mereka dan aku gak boleh telat."
"Kasih aku lima menit lagi buat bicara. Please."
Serena menggeleng seraya menenteng paper bagnya. "Aku tetep gak bisa. Makasih ya untuk sepuluh menit yang sangat penting ini."
"Serena, tunggu," Reno menggenggam pergelangan tangan Serena karena wanita itu sudah membuka pintu mobilnya. "Apa kita benar-benar gak bisa kayak dulu lagi?"
"Harus ya aku ngejawab pertanyaan yang udah kamu tau jawabannya?"
"Oke, kalo gitu... kita jadi teman. Ya... teman. Aku gak masalah untuk itu."
Dengan sangat sopan, Serena melepas cekalan tangan Reno. "Bisa dipikirkan. Tapi aku gak yakin aku punya waktu untuk memikirkannya."
• • • • •
Saat sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Ares, pikiran Serena benar-benar berkabut. Perasaannya sangat jauh dari kata nyaman. Banyak sekali hal-hal yang berkecamuk dan hilir mudik. Tak dapat dibohongi memang semuanya menyangkut pertemuannya dengan sang mantan tadi. Kilas balik dari awal mula kisah cintanya, sampai titik akhir hubungannya dengan Reno, tiba-tiba menyeruak tanpa permisi.
Kegamangan pun kembali melanda hatinya. Melihat Reno ada di depan matanya, ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Semuanya sulit. Menghapus bayang-bayang seseorang yang pernah bersama kita selama tiga tahun nyatanya memang tak semudah menghapus coretan dalam lembar kertas.
"Are you okay, Sayang?" Tanya Ares yang sedari tadi memperhatikan mendungnya wajah sang istri.
Ares lagi-lagi menoleh memperhatikan Serena. Tidak mungkin orang merasa baik-baik saja, disaat menarik napas pun terdengar berat seperti itu. Tapi ketidak terbukaan Serena membuat semuanya terasa sulit terpecahkan. Sehingga harus Ares sendiri yang menerka-nerka.
"Kalo kamu emang udah capek dengan semua ini, berhenti pura-pura. Aku gak mau istriku merasa terbebani." Seloroh Ares santai.
"Maksud kamu?" Serena menoleh bingung.
"Di depan orang tuaku nanti, kita bersikap sewajarnya aja. Gak perlu pura-pura terlihat mesra dan romantis lagi," lalu Ares ikut menoleh menatap mata Serena, mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang. "Itu kan yang mengganggu pikiran kamu saat ini?"
"Jadi kamu mikirnya gitu?"
"Setidaknya itu yang aku tebak." Ares menggoyang satu bahunya.
Jadi Ares berpikiran seperti itu? Ungkap Serena dalam hati. Sungguh, kalau saja bisa, Serena ingin mengatakan kalau bukan itu yang menjadi masalahnya. Tapi rasanya tidak baik membicarakan mantan kekasih di hadapan suami sendiri. Lebih baik ia diam saja.
"By the way, aku suka denger suara kamu pas tadi ngangkat telepon." Goda Ares.
Pipi Serena tiba-tiba merasa terbakar. Malu. Selama pernikahan mereka, tak pernah sekali pun Serena terdengar sealay itu saat bertelepon dengan Ares. Tapi tadi, karena ada Reno, Serena jadi tak punya pilihan lain selain melakukan hal memalukan itu.
"Apaan sih. Biasa aja. Gak usah dibahas, deh." Serena mendelik jutek.
"Lain kali, kalo teleponan sama aku, ngomongnya semanis tadi lagi ya biar aku semangat kerja."
"Udah dibilang jangan dibahas juga ish. Lagian... itu terpaksa kali. Ada Tante Lisa tadi tuh. Gak enak."
"Oh ya udah kalo gitu, nanti aku teleponnya pas ada Tante Lisa aja biar kamu ngomongnya manis."
"Antares, ish! Nyebelin." Serena menghentak kakinya kesal, dan Ares malah tertawa puas.
• • • • •
Di rumah bergaya Eropa klasik ini, Serena dirangkul menuruni tangga oleh seorang wanita berumur berpotongan rambut pendek. Entah karena gugup atau karena sepatu hak tingginya tertancap pada gelaran karpet merah undakan tangga ini, Serena merasa tubuhnya agak bergetar. Berjalan pun kurang seimbang. Memang sudah beberapa bulan belakang ia kerap merasa tidak nyaman bersisian dengan sang mama mertua.
__ADS_1
Tapi seakan mengerti kegelisahannya, beruntung Ares setia tetap berada di belakangnya. Berjalan selisih satu tangga saja dengan dirinya dan mama mertua.
"Maaf ya, Sayang, Papa mertuamu itu malah tidur pas kamu kesini." Ujar wanita anggun itu.
"Gapapa, Ma, aku ngerti, kok. Papa kan emang butuh istirahat."
"Iya. Tadi Papa abis minum obat langsung tidur. Efek obat kan kayak gitu, rata-rata bikin ngantuk." Gurau Yolita dengan kekehan pelan.
Sampailah pada pijakan terakhir, Serena bisa bernapas lega karena akhirnya ia digiring duduk. Kakinya benar-benar sudah lemas.
"Mau minum, Sayang?" Tawar Yolita saat mereka baru duduk.
"Gak usah, Ma, nanti aku ambil sendiri aja."
"Kalau kamu, Res?"
"Akhirnya aku ditanya juga," rajuk Ares pura-pura kesal. "Dari tadi aku berasa makhluk tak kasat mata, gak diajak ngomong sama sekali."
"Halah kamu nih. Sama istri sendiri aja sirik. Lagian kalo sama kamu ngobrolnya gak nyambung, ngalor ngidul."
"Ya kan aku laki-laki. Mana ngerti pembahasan perempuan."
"Tuh kan pembahasannya jadi ngaco. Padahal Mama tadi cuma nawarin minum, loh. Tapi malah merembet kemana-mana." Cibir Yolita pada putra tunggalnya itu.
"Loh? Kan Mama ngomong, ya aku ladenin. Emang Mama mau ngobrol sendiri?"
"Haduuuuh, mimpi apa Mama ini, Serena. Emang sih dulu Mama pengin punya anak perempuan. Tapi kok Tuhan malah ngasihnya anak laki yang cerewetnyaaaaa lebih dari perempuan."
Serena terkekeh pelan. "Mungkin Tuhan mau ngasih kebahagiaan double buat Mama. Di satu sisi Mama dikasih anak cowok, tapi di sisi lain Mama juga dikasih kesempatan buat ngerasain gimana punya anak cewek."
"Iya kali ya gitu," Yolita tersenyum cerah seraya menggenggam erat kedua tangan Serena dipangkuannya. "Anak Mama yang cerewet itu beruntung loh punya kamu, Sayang. Udah cantik, kalem, anggun, cerdas lagi. Kalo sampe Ares ngelirik yang lain, berarti dia tuh mendustakan nikmat Tuhan."
Melihat sang Mama mendelik jutek ke arahnya, membuat Ares merasa tertuduh. "Apa?"
"Awas ya kamu kalo berani-berani nyakitin menantu kesayangan Mama ini. Entar Mama jewer kuping kamu sampe lepas."
Ares hanya berdecak dan membuang tatapan ke arah lain.
"Oh iya, Sayang," Yolita sudah kembali lagi pada Serena. "Gimana? Udah ada tanda-tanda isi?"
"Isi apa?" Malah Ares yang menyahut kebingungan.
"Isi kulkas." Jawab Yolita jutek.
"Yeah. Biasa aja kali." Ares mendelik.
Sekarang Serena tahu apa yang membuat dirinya tak senyaman dulu saat bersama mertuanya. Karena ini. Topik ini selalu jadi pembahasan yang takkan terlewatkan kalau berkunjung kesini. Sebenarnya bukan hanya disini, orang tua kandungnya juga sama-sama mencecarnya untuk segera punya momongan lagi.
Saat dirinya masih belum siap.
"Gimana, Re?" Ulang Yolita dengan mata berbinar penuh harap.
"Uhm... maaf, Ma, kayaknya belum." Jawab Serena hati-hati.
"Oh... belum ya," nada bicara Yolita sedikit menurun dan cahaya matanya redup. Tapi demi membuat Serena nyaman, ia mencoba tetap tersenyum walau hatinya merasa sedikit kecewa. "Ya sudah. Gak apa-apa. Mungkin Tuhan belum ngasih. Atau... kamu mau ikut program, Sayang? Kebetulan Mama punya kenalan. Kenalan Mama itu---
"Enggak enggak. Ngapain sih, Ma, program segala? Anak Mama ini seratus persen subur. Masih bisa buat anak sendiri tanpa campur tangan medis."
"Mama kan cuma nawarin. Ini juga demi kebaikan kalian. Lagian ini udah waktunya Altan punya adik. Kalian mau menunda sampai kapan lagi?"
"Kita gak--
"Gak ada yang menunda, Ma," potong Serena karena tak mau anak dan ibu itu terus bertengkar. "Mungkin emang belum dikasih aja. Aku harap Mama sabar ya. Aku gak mau Mama dan Ares bertengkar terus karena hal ini."
"Maafkan Mama, Sayang. Mama gak bermaksud menekan kamu dan menjadikan hal ini sebagai beban. Tapi kamu tau kan kalau Mama sangat ingin punya keturunan perempuan? Dulu Mama gak dikasih kesempatan untuk punya anak perempuan. Dan saat punya cucu, itu pun cucu laki-laki. Bukannya Mama gak bersyukur dan gak menyayangi Altan, hanya saja Mama berharap keluarga kita, keluarga kalian, akan lebih ramai kalo ditambah satu anak lagi. Syukur-syukur kalau anaknya perempuan sesuai keinginan Mama."
"Iya, Ma, aku sangat mengerti. Aku pasti usahakan untuk punya momongan lagi. Dan aku harap, Tuhan juga mengizinkannya."
__ADS_1
———————————————