Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
23


__ADS_3

Seorang office boy berseragam abu meletakkan dua cangkir teh di meja tamu sang atasan. Senyumnya terukir ramah dan ia pamit saat kedua orang yang telah ia jamu mengucapkan terima kasih. Pemuda itu sengaja tidak menutup rapat pintu karena perintah bosnya. Sekarang tinggallah dua orang dalam ruangan itu. Duduk saling berdampingan pada sofa yang tersedia dalam ruangan.


"Maaf ya, Ren, telat balikin jaketnya," Serena tersenyum kaku sembari menyerahkan paper bag berisi jaket yang dipinjamkan Reno. "Ini udah dicuci dan disetrika juga. Makasih banget."


"Sama-sama," senyum lebar Reno menerima jinjingan itu. "Padahal kalo kamu mau simpan lebih lama juga gapapa, kok. Siapa tau kamu masih butuh."


"Thanks. Ini udah cukup, kok," Serena terlihat menggoyang bahunya. "Malah aku ngerasa banyak banget ngerepotin kamu."


"Gak ngerepotin, dong," Reno dengan sikap santainya menyeruput jamuan teh hangatnya. "Gak ada yang ngerepotin buat seorang temen, Re."


"Tapi kan seharusnya aku yang nyamperin kamu buat ngembaliin jaket. Bukan malah kamu yang kesini."


Reno meletakkan cangkir teh itu seraya mengulas senyum lembut pada Serena. "Re, aku kesini gak bermaksud mau ngambil jaket, kok. Aku malah gak inget jaket aku ada di kamu. Sejujurnya, kedatangan aku kesini adalah untuk liat keadaan kamu. Aku benar-benar khawatir sejak kejadian malam itu. How do you feel? Are you okay, Serena?"


"Better," anggukkan kecil dilayangkan Serena. "Terima kasih udah nolongin aku dan khawatir sampe sebegitunya. Katanya kemarin kamu kesini, ya? Maaf kemarin siang aku ada meeting diluar."


Reno tersenyum tipis. "Its okay. Aku merasa lega kok udah melihat kamu baik-baik aja," lalu air muka Reno berubah jadi kaku dan sedikit berhati-hati. "Uhm... Re, suami kamu gak marah kan aku nganterin kamu pulang malam itu?"


Kini giliran wajah Serena yang berubah kaku. Tarikan di bibirnya perlahan turun hingga menyisakan satu garis tipis di bibir indahnya. Dada kirinya seakan tersengat aliran listrik. Menghadirkan gelenyar sakit dari luka menganga yang semalam kembali ditaburi garam.


Oh, Ares. Kenapa saat mengingat nama kamu selalu ada bayang pengkhianatan? Kenapa memikirkan kamu menjadi hal yang sangat menyesakkan? Kenapa membayangkan wajah kamu tak lagi menjadi hal yang aku sukai? Apa benar hati itu sudah terlalu sakit? Karena kamu? Karena garam yang selalu kamu tabur itu?


"Serena," jentikkan jari Reno di hadapannya membuat Serena tersentak. "Kok bengong? Ada sesuatu yang kamu pikirin? Atau... suami kamu marahin kamu... gara-gara aku nganter kamu pulang?"


Gelengan cepat tentu saja diciptakan Serena. Sudah ia bilang kan kalau ia tak mau membuat Ares buruk di depan semua orang? Siapapun itu. Mana mungkin ia membenarkan tebakan Reno? Membeberkan bahwa malam itu mereka bertengkar hebat, malam itu jadi malam dimana Ares mengutuknya dengan sebutan terkutuk, dan malam itu jadi malam yang kelam karena sepanjang lima tahun mereka hidup bersama, untuk pertama kalinya Ares melayangkan tangan pada wajahnya. Gila saja kalau Serena sampai curhat pada Reno.


"Suamiku gak marah kok, Ren. Setelah aku ceritain semuanya, dia mengerti itu."


"Are you sure?" Entah kenapa walaupun Serena mengucapkannya dengan tersenyum manis, namun Reno bisa melihat pendar kesedihan di kedua netranya. Wanita itu seperti menyimpan banyak sekali rasa sakit.


"Sure, kenapa dia harus marah, kan?" Demi menutupi kegugupannya, Serena mengais cangkir teh untuk diseruput pelan.


Namun siapa sangka, mata Reno malah salah fokus pada lebam di pipi kiri Serena. Matanya membelalak panik sehingga ia spontan mengelus pipi Serena. "Ini kenapa?"


Tak kalah terkejut, Serena juga terlihat cemas. Cangkir teh yang ia pegang diturunkan pelan-pelan, sementara kedua matanya menatap lama pada Reno. Ia harus jawab apa sekarang? Kenapa lebam sialan itu tetap nampak walau ditutupi riasan cukup tebal? Dan kenapa pula Reno harus sepeka ini?


"Serena, pipi kamu kenapa lebam aku tanya."


"I-i-itu... itu..."


"Kamu dipukul siapa?"


Sial! Tenggorokan Serena tiba-tiba kering. Bibirnya kering. Ia tak bisa menjawab apapun.


"Kamu dipukul suami kamu?"


"Eng-enggak, Ren. In-ini... jatuh."


"Bohong. Luka begini gak mungkin jatuh." Reno menggeser duduknya semakin mendekat. Menangkup wajah Serena dan memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas lebam itu.


"Siapa yang tega ngelakuin ini?" Bisik Reno bermonolog pada diri sendiri.


"Reno ini---


Sementara di luar ruangan Serena, langkah seseorang terhenti di depan pintu yang tak ditutup rapat itu. Menyisakan keterkejutan karena nampaknya Serena sedang berciuman dengan seorang pria yang duduk membelakangi pintu masuk. Ia merasa tak enak jika mengganggu. Sepertinya ia harus pergi sebelum Serena melihatnya. Namun sial, paper bag yang ia bawa tak sengaja jatuh dan membuat Serena serta pria tak dikenal itu malah menoleh ke arahnya.


"Michelle." Karena terlalu terkejut, Serena spontan bangkit dari duduknya. Begitu pula Reno.


Anye meringis kecil menatap Serena. Ia merasa seperti pria yang ketangkap basah sehabis mengintip perempuan mandi. "Maaf, Bu, saya gak berniat... uhm..."


Serena mengerutkan kening karena Anye nampak grogi. Namun tak lama ia sadar. Kepalanya menoleh sekilas pada Reno, lalu kembali lagi ke Anye. Jangan-jangan modelnya ini salah paham karena adegan barusan.


"Ah iya gapapa, Michelle. Ayo masuk." Senyum Serena salah tingkah.


Dengan sungkan Anye mulai melangkah memasuki ruangan Serena. Tangannya menyodorkan sebuah paper bag biru muda dengan aksen polka dot. "Jaket Ibu yang kemarin Ibu pinjamkan. Terima kasih ya, Bu. Terima kasih banyak."


"O-oh iy-iya, sama-sama, Chelle," Serena terbata-bata gugup, lalu ia melirik Reno yang terbengong meneliti Anye. "Dan ya... k-kenalin. Reno, ini Michelle salah satu modelku. Dan Michelle, kenalin ini Reno teman saya."


Reno dan Anye bertatapan dalam hening. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Anye seperti mengenali pria ini. Ia seakan pernah melihatnya, tapi tidak tahu dimana. Sementara Reno, ia sangat yakin wanita ini adalah wanita di toko kamera waktu itu. Wanita yang melerai pertengkarannya, membawa Ares pergi, dan berarti wanita ini... kekasihnya Antares?!


Bagaimana bisa dia bekerja di kantor Serena?! Apa benar kata Ares; Serena menerima perselingkuhannya dan membiarkan wanita ini bekerja di kantornya? Atau... Serena sebenarnya tak tahu dia ini kekasih dari suaminya?


"Hei. Kok kalian pada bengong, sih?" Kekeh Serena kecil.


Reno berdehem menetralkan mimik wajahnya. Lalu secara jantan lebih dulu mengulurkan tangan. "Reno."


"Michelle." Balas Anye tak kalah ramah. Namun tatapannya masih kebingungan seperti memikirkan sesuatu.


"Nah kan enak kalo udah saling kenal. Kamu mau gabung, Chelle? Ikut kita ngobrol disini?" Tawar Serena.


Anye menggeleng. "Terima kasih tawarannya, Bu. Tapi saya masih ada pemotretan untuk Ratu Cantik Kosmetik."


"Ah iya. Produknya Bu Amy, ya?"


"Iya, Bu. Jadi saya harus segera datang biar gak telat."

__ADS_1


"Ya udah deh kalo gitu. Hati-hati, ya. Kamu diantar tim kantor, kan?" Anye pun mengangguk sebagai jawaban. "Bagus deh kalo gitu. Maaf ya saya gak bisa nemenin. Semoga semuanya berjalan lancar, Chelle."


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya pamit ya. Permisi semuanya."


Anye melenggang sampai pintu ruangan tertutup rapat. Namun ada yang mengganjal pengelihatan Serena. Ia melirik Reno yang ternyata masih tetap fokus mengawasi Anye. Dengan jahil, ia berdehem kecil. "Kenapa? Tertarik, ya?"


Reno tersenyum kaku. "Gak lah. Cuma kayak kenal aja. Tapi lupa dimana."


...• • • • •...


Ares melempar satu kaleng minuman soda pada Vino yang duduk merenung di sofa rooftop. Pria yang menggunakan kacamata hitam itu menoleh datar pada Ares, lalu membuka kaleng kemasan yang terlihat sangat segar itu. Ia meneguknya cepat. Tak sadar Ares memperhatikannya dari samping.


"Berantem loe sama Kania?"


Vino mengernyit menatap Ares. Namun yang ditatap malah melengos setelah sebelumnya mengedikan bahu. Ares berjalan menuju dinding pembatas rooftop dan menyulut sebuah rokok yang terselip di antara bibirnya. Pria itu terlihat santai memandangi Ibukota dari atas sini, di sore hari begini, terhitung jarang sekali. Menyelipkan tangan kiri pada saku, dan satunya lagi menjepit rokok.


"Gue cuma nebak aja. Gak biasanya loe dateng ke kantor gue tapi malah nongkrong di atap. Muka loe juga kusut banget." Jawab Ares sekedar membuat Vino tak bertanya-tanya dalam hati.


"Tau lah, Men, pusing gue."


Ares menengok ke belakang. "Loe tuh udah mau jadi calon papa. Gak pantes menye-menye gitu. Kayak anak indie aja ngegalau pas mau matahari tenggelam."


"Dari mana tuh pasalnya? Bikin sendiri loe?!" Kata Vino sewot.


"Dibilangin malah ngeyel," decih Ares menyedot rokoknya. "Sekarang apaan lagi masalahnya? Kepergok selingkuh lagi?"


Vino memutar bola matanya saat Ares berjalan ke arahnya. Ikut duduk bergabung di sampingnya. Kedua tangan Vino bersidekap. "Gak usah nanyain hal yang udah loe tau jawabannya."


Satu alis Ares terangkat. "Darah tinggi loe? Apa PMS? Sini gue elus-elus perutnya biar gak sakit."


"Gak lucu, goblok," Ares tertawa puas saat Vino menyiku tangannya yang tengah berada di perutnya itu. "Ketawa lagi loe. Dasar temen sialan. Bukannya hibur gue, kek. Malah ngeledekin."


"Lah! Loe yang selingkuh. Loe yang ke-gep. Loe yang berantem sama bini loe. Kenapa harus gue yang repot? Atur-atur lah udah gede ini. Bikin anak aja loe jago. Giliran begini kayak ABG galau."


Vino mendelik. "Bener-bener temen sialan." Gerutunya.


Ares mendesah kasar. Tubuhnya ia lempar pada sandaran sofa sambil menghisap rokoknya. "Kalo ngomongin perempuan emang seringnya bikin mumet kepala. Bisa bikin lelaki manapun kelimpungan gak jelas. I feel you, Vin."


Alis Vino mengkerut serius. "Loe berantem juga sama Serena?"


Ares menggeleng. "Sama Anye."


"Kenapa?" Kepala Ares menoleh. Ia menarik napas panjang menatap Vino.


"Aku rasa sebaiknya kamu emang harus tinggal sama Opa Tony." Ares mengatakan ini dengan intonasi hati-hati. Di sebuah restoran daerah Kemang, sore kemarin. Bersama Anyelir.


"Bukan begitu," Ares mendesah kasar seraya menggeser piring makanannya. "Aku ngerasa kalo... mungkin kamu akan lebih sehat setelah tinggal sama Opa. Disana kamu akan dapat perawatan yang lebih baik. Opa akan mengobati kamu dengan benar."


"Aku berdiri dengan kakiku sendiri udah hampir sepuluh tahun. Apa aku terlihat akan mati setelah jauh dari dia selama ini?"


"Tapi bersama Opa kamu pasti bisa sembuh. Kamu--


"Aku justru bisa mati kalau hidup sama dia!"


"Kok gitu sih kamu ngomongnya?! Aku cuma pengin yang terbaik buat kamu."


"Kamu yang maksa aku bilang gitu! Stop menyarankan hal yang gak akan pernah aku setujui." Anye bangkit dan berniat mengais tas selempangnya, namun entah kenapa tas itu malah jatuh dari genggamannya.


Anye spontan menatap telapak tangan kanannya yang mati rasa. Ia tak bisa merasakan apapun, bahkan meraih tasnya sendiri. Degupan jantung Anye berpacu cepat. Sudah beberapa hari kejadian seperti ini terulang. Tangannya yang tak bisa bergerak, ia tiba-tiba terjatuh karena kakinya sangat lemas, pernah bangun tidur dengan keadaan gelap gulita karena matanya tak bisa melihat apapun. Dan bahkan pernah duduk di closet selama satu jam karena kepalanya sangat sakit.


Segera Ares beralih ke samping Anye. Menggenggam tangan kanan wanita itu dengan tatapan panik. Bibirnya terbuka sedikit tak tahu harus bilang apa. "Tangan kamu gak bisa gerak?" Bisiknya tak percaya.


Anye memilih diam karena ia tahu Ares akan bertanya segala hal kalau ia menceritakan yang sebenarnya.


"Kita ke dokter," putus Ares menarik tubuh Anye. Namun Ares menoleh bingung saat Anye malah menahan tubuhnya. "Apa? Ayo kita ke dokter. Kita ke dokter sekarang."


"Aku gak mau." Lirih Anye dingin.


"Why?! Tangan kamu gak bisa gerak, Anyelir. Kita harus ke dokter."


"Lepas. Aku gak perlu dokter."


"Anye---


"Aku juga gak perlu kamu kasihani." Dengan sekuat tenaga Anye menarik tangannya. Ia tetap memasang wajah keras dan berusaha menyembunyikan ringisannya. Membungkuk memungut tasnya dengan tangan kiri.


"Tapi kamu mau kemana?"


"Kemana aja asal gak ngeliat muka kamu lagi."


"Tapi diluar hujan. Kamu bisa sakit. Ayo, biar aku antar. Kamu mau kemana, Nye?"


"Aku bisa sendiri," Anye menubruk bahu Ares dan Ares malah ikut melangkah. Kaki Anye berhenti saat Ares ikut berjalan di belakangnya. "Jangan ikutin aku! Kamu gak akan pernah liat aku lagi di muka bumi ini kalo kamu melakukan hal itu."


"Dan gue coba ke apartemennya. Tapi hasilnya nihil. Jangankan selesaikan masalah, diizinin masuk aja enggak."

__ADS_1


"Loe ngerasa bersalah banget emang?"


"Of course yes," Ares mengangguk yakin. "Gue sayang dia. Gue sudah berjanji kepada dia, orang tua dia, bahkan pada Tuhan sekalipun kalo gue bakal menjaga dia sebaik mungkin. Saat dia nangis dan sedih--apalagi karena gue, gue selalu mempertanyakan apa iya janji yang gue buat itu sudah gue penuhi atau belum."


"Really?"


Bahu Ares bergoyang acuh. Pria itu menyedot lama rokoknya, lalu membuangnya tepat ke bawah kaki. Diinjak hingga lebur.


"Dan untuk semua yang udah loe lakuin sama istri loe gimana? Apa loe ngerasain hal yang sama?"


Tatapan mata Ares perlahan membeku. Di bibirnya hanya terdapat satu garis. "Apa dia juga merasa bersalah saat menyakiti gue? Did she do that?"


"Pertanyaan itu dijawab, bukan dijawab dengan pertanyaan lagi."


"Apa yang gue omongin barusan udah mencakup jawabannya. You know it," jawabnya santai. "Loe seharusnya tau jawabannya."


"Jangan terlalu benci dia, Men, karena kita gak pernah tau alasan dibalik pengkhianatan seseorang." Selorohnya penuh arti.


Dan Ares hanya tersenyum miring. "Meminta seseorang untuk tetap berperilaku sama pada orang yang udah mengkhianatinya adalah tindakan yang bodoh. Apapun alasannya."


Vino menatap Ares tenang. Dia cenderung tak berekspresi. "Semua kebenaran memang seringnya gak terlihat dalam waktu dekat. Tapi waktu gak bisa menutupi selamanya."


...• • • • •...


Ares keluar dari kotak besi itu pada lantai dimana letak ruangannya berada--lantai 20. Saat melewati lorong lantai itu ada beberapa pegawai yang berada di lantai yang sama menyapanya. Ares pun membalas dengan wajar. Ia seorang pemimpin yang cukup dikatakan baik. Berwibawa dan tegas disaat yang tepat. Bukan CEO dingin seperti di novel-novel.


Saat hampir sampai pada ruangannya, Anggun--sang sekretaris, berdiri menyapa. "Ada tamu yang menunggu Pak Ares di dalam."


Sempat mengerutkan dahi sebentar, Ares mengangguk seraya memasuki ruangannya. Tepat disana. Di sofa hitam yang nampak empuk dan nyaman, Anye duduk menatapnya. Dengan tatapan dingin seperti kemarin sore. Namun Ares tetap saja tidak bisa tak tersenyum melihat kehadirannya.


Pria itu sedikit membungkukkan badan. Menangkup satu pipi Anye dan menciumnya lembut. "How happy I am to see you, Sweetheart," bisiknya, menatap Anye penuh kerinduan. Ia lalu berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan wajah Anye. "Udah gak marah lagi?"


"Gak tau." Desah Anye datar.


"Kok gak tau, sih? Aku seriusan bisa mati kalo kamu gak mau ketemu aku lagi."


"Lebay." Cemoohnya menepuk dada Ares pelan.


Pria itu terkekeh. Memeluk Anye dan menyembunyikan kepala pada ceruk leher yang dirindukannya itu. Entah tidak sadar atau memang sengaja, ia menghembuskan napas di area belakang telinga Anye. "Jangan marah lagi."


"Tergantung."


"Apa?" Ares mendongakkan kepalanya polos.


Bahunya bergoyang. "Ya, tergantung. Kalo kamu masih maksa aku lagi, aku akan marah terus sama kamu," melihat Ares yang terdiam seperti menimbang-nimbang, Anye mendesah kasar. "Gak mau, nih? Ya udah aku mar--


"Fine. Aku akan berusaha untuk gak mengulangi hal itu lagi. Jangan marah. Aku benar-benar merasa hampa kalo gak ada kamu."


"Deal, Mr.Risjad." Senyum Anye mengembang, begitupula Ares. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Ares dan memajukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan rapat.


"Aku rasa kita perlu banyak bicara." Bisik Ares serak. Lalu tak lama, tubuh tinggi nan ramping itu ia gendong. Menyelipkan satu tangan pada bawah kaki, dan satunya lagi pada belakang punggung Anye.


Ruangan pribadi Ares terbuka hanya dengan dorongan kakinya yang besar. Anye sempat merasa takjub dibuatnya. Tak tahu menahu Ares mempunyai ruangan seperti kamar di kantornya.


"Gak bilang-bilang kalo punya kamar di kantor kamu," gerutu Anye saat Ares membawanya duduk pada kursi yang tersedia di balkon kamar. Dengan Anye yang berada dalam pangkuannya. "Mana bagus banget lagi pemandangannya. Tau gitu aku tiap sore kesini aja biar bisa liat senja."


Senyum Ares terutas. Memandang sebentar langit Jakarta yang sudah menguning, lalu pada Anyelir yang nampak nyaman dalam pangkuannya dan menatap indahnya senja.


"Kemarin malam aku gak bisa tidur, Nye." Bisik Ares.


Anye menoleh seraya menyelipkan rambutnya yang terbang disapu angin. "Why? Kamu sakit? Atau migrain kamu kambuh lagi?"


"Aku sakit karena migrain aku kambuh lagi gara-gara mikirin kamu." Gurau Ares yang membuat bibir Anye berdenyut mengutas senyum geli.


"Masa, sih? Emang bisa ya orang lempeng kayak kamu galau?"


"Aku manusia kalo kamu lupa."


Anye terkekeh dan menggesek-gesek hidungnya di pipi Ares. "Oh ya, Res, cowok yang waktu itu berantem sama kamu siapa namanya?"


"Cowok mana?"


"Yang di toko kamera. Yang kata kamu..." Anye mencabik kecil. "mantannya istri kamu itu."


Ares diam untuk beberapa saat. Ia menatap Anye dengan pandangan membidik. "Kamu ngapain nanyain dia? Naksir?"


"Yang bener aja," Anye memutar bola matanya. "Aku cuma penasaran. Waktu itu kan kamu gak sebutin namanya."


Ares membuang napasnya kasar. "Reno."


Anye langsung terdiam menatap Ares serius. Namanya benar. Pria tadi bernama Reno. Saat Ares menggerakkan alis tanda kebingungan, Anye menggeleng kecil. "Uhm... kalo... nama istri kamu siapa? Aku lupa."


"Ngapain sih nanya-nanya, Sweetheart?" Erang Ares kesal.


"Jawab aja, Res."

__ADS_1


"Serena, oke? Udah! Sesi tanya-tanya nama selesai."


Serena dan Reno. Anye mengulang kedua nama itu dalam pikirannya. Dua orang yang memiliki nama sama seperti yang diceritakan Ares. Apa mungkin kedua orang itu adalah orang yang sama? Atau mungkin ini hanya kebetulan semata?


__ADS_2