Haruskah Kita Bercerai?

Haruskah Kita Bercerai?
11


__ADS_3

Serena menyingkap gorden kamarnya saat mendengar suara mesin mobil Ares memasuki pekarangan. Wanita dengan setelan kantor itu terlihat sangat kesal. Semalaman menunggu Ares pulang, namun pria itu sama sekali tak datang. Tak ada pesan atau kabar apapun, dan kini Ares dengan santainya memasuki rumah.


Bergegas Serena mendekati pintu kamarnya saat derap kaki Ares mulai terdengar mendekat. Dengan sekali tarikan pintu, Serena bisa melihat Ares ada di depannya. Serena akui ia cukup tercengang menilik penampilan suaminya itu. Raut wajah Ares terlihat sangat lesu dan kacau. Kemeja birunya ia keluarkan. Jasnya ia tenteng begitu saja. Dan dasinya entah dimana.


"Dari mana kamu?" Tanya Serena tajam. Menyampingkan penasarannya.


Ares berdecih dalam hati. Matanya membeku, bibirnya terkunci rapat. Ia benar-benar malas melihat Serena saat ini. Sehingga dengan acuh Ares memasuki kamar, melewati Serena di ambang pintu.


"Gak inget punya rumah? Gak inget jalan pulang? Atau gak inget punya anak dan istri yang nungguin di rumah?" Serena membuntuti Ares yang nampak agak berbeda ini.


Karena kesal tak dihiraukan Ares, Serena menahan tangan suaminya itu. "Punya mulut, kan? Bisa jawab, kan? Ayo jawab!"


Kepala Ares menunduk melihat tangan Serena mengungkung tangannya. Dulu hal ini adalah hal yang paling ia inginkan. Tapi sekarang, membayangkan tangan ini juga pernah menggenggam tangan orang lain, membuat Ares muak. Pria itu menghembuskan napas kasar dan menarik pelan tangannya.


"Aku lembur." Jawabnya dingin, lalu melanjutkan langkah menuju ranjang.


Serena mendengus di depan Ares yang tengah membuka sepatu. "Lembur dimana sampe kamu bau alkohol gini? Diskotik?"


Terlihat benar-benar tak peduli, selesai menanggalkan sepatunya, Ares bangkit berdiri. Baru selangkah ia ingin maju, tapi Serena menghalangi jalannya.


"Aku lagi gak mau berantem." Lagi-lagi suara Ares mengalun dingin. Serena sampai tak percaya bahwa sosok di depannya ini Ares yang ia kenal.


"Aku gak akan kayak gini kalo kamu gak nyari masalah."


"Minggir."


"Jawab dulu pertanyaan aku! Kamu abis dari mana, Antares!" Tekan Serena.


Pria dua puluh delapan tahun itu berkata tanpa ekspresi. "Kamu udah menebaknya dengan benar tadi."


Mata Serena benar-benar menyiratkan kekecewaan. "Gila ya kamu, Res. Aku dan Altan nungguin kamu sampe-sampe anak kita gak mau makan sebelum kamu pulang, tapi dengan enaknya kamu ngabisin malam kamu di tempat kayak gitu?"


Hati Ares sedikit tersentil saat nama Altan disebut. Ia merasa kasihan pada anaknya itu. Tapi pada saat semalam ia tak berpikir panjang. Yang ia mau rasa sakitnya hilang, apapun caranya.


Nada bicara Serena berganti melirih. Tatapannya benar-benar terluka. "Aku kecewa sama kamu, Res. Kamu ingkarin peraturan yang udah kita buat sama-sama. Setidaknya sebelum melakukan semua itu kamu pikirin anak kita. Dia cemas, dia khawatir. Kamu gak berpikir kesana, ya?"


Ada satu sisi di hati Ares yang berharap Serena mengkhawatirkannya juga. Tapi agaknya wanita itu gengsi mengakui, atau memang tak peduli sama sekali. "Hanya Altan kan yang cemas dan khawatir? Jadi aku rasa kamu gak usah repot nasihatin aku, aku yang akan bicara sama dia nanti."


Karena sudah benar-benar tak mau lagi menatap Serena, Ares melengos pergi. Menatap Serena saat ini menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Dulu ia sangat suka melakukannya, tapi sekarang semenit pun rasanya sulit. Sangat sakit. Semua yang ada dalam diri Serena yang dulu sangat menenangkan, kini yang terlihat hanya bayang pengkhianatan.


"Gak hanya Altan, Res. Tapi aku juga." Lirih Serena sesaat setelah pintu kamar mandi dibanting keras oleh Ares.


• • • • •


Vino menatap tak percaya apa yang tengah di lakukan oleh sahabatnya itu. Di tengah siang hari bolong begini, Ares malah asik minum di depan tong sampah yang masih mengepulkan asap. Pria berperawakan tinggi itu menelengkan kepalanya meneliti.


"Loe ngapain sih, Men, kayak gini? Apa yang loe dapet?" Mata Vino menyipit karena kepanasan. Ia lupa tidak membawa kacamata, padahal di rooftop kantor Ares ini sangat panas.


Ares meneguk brutal minuman keras dalam besi alumunium itu. Setelah habis isinya, kaleng bir itu ikut terjun bersama barang yang sebelumnya sudah dibakar Ares. "Gue dapet ketenangan."


"Dengan bakar hadiah buat Serena? Dengan bakar semua foto-foto dia?"


"Sama seperti orangnya, barang-barang itu juga udah gak penting buat gue. Cuma sampah."


"Kalung yang loe niatin buat kado

__ADS_1


anniv tuh ratusan juta loh, Men. Dan loe bilang itu sampah? Bahkan sekarang udah jadi sampah beneran karena loe bakar."


"Yap. Karena itu cara paling mudah yang bisa gue lakuin sekarang."


"Ck! Tau gitu buat gue aja, Men. Biar gue kasih ke cewek gue."


"Selingkuh itu saking enaknya ya, sampe loe gak bisa berhenti main api di belakang istri loe?"


Vino meringis sambil menggaruk tengkuknya. "Ya gak enak juga sih, Men, ada gak enaknya juga. Tapi emang lebih banyak enaknya, sih. Loe jadi berasa muda lagi, lebih bebas, punya hiburan setelah dibikin mumet sama kerjaan."


"Kenapa loe gak ke istri loe aja? Bukannya itu ya manfaatnya punya istri dan keluarga? Bisa berbagi keluh kesah."


"Gimana ya, Men, ngomongnya. Istri emang tempat kita berbagi keluh kesah, sih. Tapi kadang kita tuh butuh seseorang baru yang ngasih suasana baru juga. Kalo kita punya yang lain di luar tuh kayak mood booster gitu."


"Jadi intinya loe bosen?"


Vino mengangguk-angguk. "Mungkin ini kedengeran jahat. Tapi itu sih yang gue rasain."


Ares tersenyum miris. "Pantesan Serena bisa ngelakuin itu. Mungkin karena menurut dia dunia gue terlalu membosankan."


"Emang loe bener-bener udah yakin kalo Serena selingkuh dari loe?" Senyum Vino agak kaku. Karena tak enak mungkin pernyataannya tadi membikin Ares tersinggung.


"Menurut loe apa yang harus gue raguin setelah gue melihat dengan mata kepala gue sendiri?" Lirik Ares pada Vino.


Vino menghembuskan napas pelan seraya mengangkat bahu. "Ya udahlah. Terserah loe. Gue yakin loe udah memikirkan ini baik-baik."


Hening beberapa saat. Kedua sahabat itu sama-sama melihat lurus ke depan, memasukkan kedua tangan mereka pada saku celana.


"Oh ya, Vin, entar malem loe ada rencana hangout?"


Bibir Ares sudah menjepit rokok dan tangannya siap memantik api. "Gue pengin ikut."


"Ikut kemana?"


"Sama loe. Cari cewek."


Vino sampai tak bisa mengatupkan bibir saking tak menyangkanya. "Ini loe sadar apa lagi mabok, sih?"


"Gue gak akan mabok kalo cuma sekaleng."


"Tapi yang loe bilang barusan sama sekali bukan loe banget, Res."


"Bukan gue banget gimana?"


"Loe beda. Ada sesuatu yang berbeda dari loe. Setau gue loe tuh orang yang sangat menghargai sebuah hubungan dan gak mungkin bejat kayak gue."


"Manusia gak akan sama lagi setelah ngerasain pengkhianatan."


• • • • •


Tubuh Serena kontan menegang saat ia baru memasuki ruangannya--selepas makan siang di luar bersama Hana--ia menemukan Reno tengah duduk di sofa putihnya. Menatap dirinya dengan penuh harap.


Serena menarik napas agak panjang. "Ngapain lagi sih kamu kesini?"


Reno bangkit dari duduknya. "Re, akhirnya kamu dateng. Dari tadi aku nungguin kamu."

__ADS_1


"Diem disitu." Cegah Serena saat Reno melangkah mendekatinya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Sere, aku--


"Siapa yang izinin kamu masuk?"


Reno terlihat tak bisa memberi jawaban apapun. Karena biasanya ia tidak pernah ditolak datang seperti ini oleh Serena.


"Siapa yang izinin kamu masuk, Reno?!"


"Aku bukan tamu kan, Re, yang harus izin dulu kalo mau ketemu kamu? Aku temen kamu."


"Sejak kemarin bukan." Tangkas Serena cepat.


Reno bergeming beberapa saat. Matanya meredup. Ia menelan ludah sesaat, lalu mencicit pelan. "Aku mau bicara, Re."


"Kemarin kamu sudah terlalu banyak bicara. Dan sekarang aku udah muak dengernya."


"Tapi kamu belum cukup mengerti maksud aku, Re."


"Belum cukup bagian mananya? Aku sudah lebih dari cukup untuk mengerti kamu."


"Aku mau minta maaf. Aku mau minta maaf untuk sikapku kemaren. Maaf kalo aku terkesan memaksa kamu."


"Bukan hanya terkesan, Ren. Tapi kamu emang memaksa aku. Dan itu yang buat aku muak sama tingkah kamu kemaren."


"Aku tau, Re, aku tau aku salah. Jadi aku minta maaf. Aku mau kita baikan."


"Ini udah ke berapa kalinya kamu minta dimaafkan, Ren? Ke berapa kali?"


"Aku tau. Aku tau. Tapi tolong kasih aku kesempatan."


"Kesempatan yang ke berapa? Kamu mau kesempatan yang ke berapa kalinya lagi, hah?"


"Tapi aku bener-bener nyesel kemaren, Re. Aku terlalu takut kehilangan kamu. Aku takut saat kamu bilang aku gak usah temuin kamu lagi."


"Justru dengan cara kamu kemaren, kamu buat aku bener-bener gak mau lagi ketemu kamu."


"Sere..."


"Udah. Cukup," Serena mengangkat telapak tangannya. "Tolong pergi dari ruangan aku sekarang."


"Sere, please."


"Pergi, Reno."


"Aku mau kita temenan lagi, Re, kayak kemaren-kemaren."


"Gak bisa. Aku udah bilang kan kalo aku mencintai suamiku? Jadi aku gak mau merusak rumah tanggaku hanya karena kamu."


"Tapi kita cuma temenan, kan? Suami kamu bakal mengerti itu."


"Gak ada kata cuma dalam mencintai, Ren. Menjaga perasaan suamiku lebih penting walaupum cuma menjadi teman kamu."


---------------

__ADS_1


__ADS_2