
Waktu seminggu berlalu dengan sangat cepat. Wanita anggun bertubuh tinggi ramping itu tersenyum lebar saat kakinya menginjak tanah kelahirannya, Indonesia. Koper hitam yang digeretnya berlomba dengan langkah kakinya yang dibalut sneakers hitam berlogokan merek terkenal dunia. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya yang sangat kontras dengan bibir merah meronanya.
Rambut panjangnya yang lurus ikut bergoyang saat langkah itu kian melebar. Potongan pendek dari dress hitam yang dibalut jaket denim biru gelap itu memamerkan kaki jenjangnya yang sangat mulus. Ia benar-benar tak sabar menyambut pria di depan sana yang tengah menunggunya dengan senyuman lebar.
"Welcome back, Sweetheart." Ares menjulurkan sebuket bunga mawar merah muda dan putih ke hadapan wanita itu.
Wanita itu tak dapat menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya yang bersemu. Kacamata hitamnya ia naikkan ke atas rambut, dan matanya yang indah benar-benar berbinar.
"Do you miss me?" Dengan kedipan sebelah matanya, Ares merentangkan kedua tangannya.
Wanita itu tak menunggu lama untuk lompat dalam pelukan Ares. Meremas kemeja biru navy yang digunakan pria itu guna menyalurkan kerinduan yang tak tertahankan. Senyumnya ia umbar cuma-cuma, membuat Ares ikut bahagia seraya mengelus rambut indah milik wanita itu.
"Aku kangen." Bisiknya manja di telinga Ares.
Ares terkekeh pelan seraya mengecup pipi wanita itu sekilas. "Me too."
Wanita itu melepas pelukannya namun tangannya masih betah bertengger di kedua pundak Ares. Begitu pula Ares yang nampak nyaman merengkuh dua sisi pinggang ramping wanita itu.
"Aku kira kamu gak bakal nepatin janji kamu buat jemput aku."
"Emangnya pernah aku gak menepati janji sama kamu?"
"Abisnya kamu gak bisa dihubungi. Makanya aku hopeless banget dan berniat balik lagi ke Singapore."
"Sengaja bikin kamu kesel." Gurau Ares terkekeh.
Wanita itu berdecak kecil. "Emang udah kerjaannya orang ternyebelin se-JakSel ya kayak gitu? Bikin kesel orang mulu."
"Yang penting kan sekarang aku disini. Sama kamu."
"Ares geli," protes wanita itu saat ibu jari Ares bermain di pinggangnya. "Kenapa sih kebiasaannya gak ilang-ilang? Seneng banget gelitikin aku."
"Kamu juga. Masih aja geli pas aku gelitikin."
"Ya namanya juga geli, mana bisa ditahan?"
"Yang gak bisa ditahan itu rindu, bukan geli."
Jari telunjuk wanita itu mendarat di bibir Ares. "Yang gak bisa ditahan itu pegelnya badan aku. Pengin cepet selonjoran. Udah yuk pulang. Aku capek. Oh ya, Mas, sekalian bawain koper saya ya. Makasih."
Kekehan pelan Ares membuat wanita itu terkikik geli. Mereka berjalan bersamaan dengan tangan Ares melingkar posesif di pinggang wanita itu. Langkah kaki keduanya berlalu pergi makin jauh, tanpa sadar ada kilat kamera yang masih mengintai dari belakang.
• • • • •
Ares keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang jauh lebih segar. Rambutnya sedikit basah, dan wajahnya cerah berseri. Pria itu berjalan menuju ranjangnya dan duduk di samping sang istri yang tengah membaca majalah.
"Sayang bikinin teh gih." Pinta Ares seraya menyugar rambutnya ke belakang.
"Kamu kebiasaan deh mintanya jam segini. Males ah. Besok aja." Serena masih fokus pada majalahnya.
Lagi-lagi Ares hanya mampu membuang napas pelan. Ia dengan mati-matian menelan kekesalan lagi. Untuk pengalihan, ia meraih ponselnya di atas nakas. Membuka aplikasi pesan berwarnakan hijau muda itu.
Gimana apartnya?
Nyaman gak?
21:14
Nyaman bgt!!!
km emg paling bisa
21:14
Syukur deh.
Besok aku kesana.
21:15
Aku tunggu yaaa
21:15
Yaudah skrg km tidur.
Jgn begadang.
21:15
Iya. Kamu juga.
Good night.
21:16
Good night, Sweetheart.
Sleep tight.
21:16
"Res." Panggil Serena seakan teringat sesuatu.
Ares berdehem seraya menyimpan kembali ponselnya.
__ADS_1
"Besok kayaknya aku pulang agak telat gapapa?" Serena menatap Ares was-was.
"Kenapa?"
"Aku mau ketemuan sama Cecil. Temenku itu loh, yang waktu itu aku ceritain mau balik kesini."
"Iya aku inget. Terus?"
"Hari ini dia pulang. Tapi tadi aku sama Hana gak bisa jemput dia ke bandara karena banyak kerjaan. Jadi gantinya dia ngajak aku ketemu besok."
"Ketemunya jam berapa emang?"
"Jam lima. Boleh, kan?"
"Boleh, kok. Pergi aja. Besok aku jug--
"Yes!!! Makasih!!" pekik Serena senang. "Aku bikin kamu teh sekarang. Tehnya gak pake gula, kan? Tunggu ya."
Setelah Serena turun dari ranjang, Ares mengedikan bahunya acuh. Mungkin besok saja ia cerita tentang kejadian hari ini.
• • • • •
"Ih! Siapa nih!" Pekik seorang wanita bergaun tosca yang matanya ditutup oleh tangan seseorang dari belakang.
"Ayo tebak siapa." Wanita berponi itu memberatkan suaranya, lalu cekikikan bersama satu temannya.
"Hana ya?" Tebak wanita itu panik.
Dan tawa Hana pun langsung mencuat. Poninya sampai ikut bergoyang. "Panik banget, Bu. Biasa aja kaliiii."
"Yeee.. Gimana gak panik mata gue ditutup tiba-tiba." Cecil mendelik seraya membenarkan letak bulu mata palsunya.
"Kenapa? Takut diculik ya?" Gurau Serena dengan kekehan kecilnya.
"Takut sih... tapi kalo yang nyuliknya kalian gapapa, deh," cengir Cecil merentangkan dua tangannya yang disambut tak kalah seru oleh Serena dan Hana. "Gue kangeeeeeeeeen!!!!"
"Kita jugaaaaaaaaaa!!!!" Jawab Hana meniru gaya bicara Cecil.
Pelukan ketiganya terlepas dengan tertawa-tawa. Setelah hampir dua tahun tak bertemu, Cecil terlihat makin segar dengan rambut berpotongan pendek yang dicat warna dark brown. Ditambah penampakan perut buncitnya yang menggemaskan.
"Waduh bumil makin cetar aja, nih. Bahagia banget kayaknya hidupnya." Celetuk Hana.
"Bahagia, dong. Kalo gak bahagia bentukan gue gak segede gini."
"Bagus juga berarti asupan gizinya, ya? Subur gini." Timpal Serena terkekeh pelan.
"Ya mesti bagus lah, Re. Kalo nikah sama bule asupan gizi gue masih tempe, ngapain jauh-jauh minggat ke Singapore."
"Oh ya, btw, loe udah berapa bulan?" Tanya Hana penasaran.
"Waaah bentar lagi, dong?" mata Serena membulat semangat. "Udah tau belum jenis kelaminnya?"
Cecil mengangguk-angguk riang. "Its a girl!!!!"
"Woah! Cewek! Congrats, baby!!!" Pekik Serena menangkup gemas kedua pipi Cecil.
"Thank you."
"Bisa tuh, Re, kalo udah gede jadi jodohnya Altan." Seloroh Hana santai.
"Hahaha bener." Serena dan Cecil kompak tertawa.
"Tapi kalo kalian berdua besanan, lah anak gue sama siapa?"
"Cielah udah ngomongin anak aja. Cari aja dulu bapaknya." Cibir Cecil yang membuat Hana mengerucutkan bibirnya.
"Udah gue bilangin sama Ares aja sana. Gak mau sih loe." Gurau Serena.
"Ya jelas gak mau lah gila. Masa gue makan temen sendiri."
"Wait wait wait," Cecil mengangkat tangannya kebingungan. "Kalian bahas apaan, sih? Gue gak ngerti."
"Ini loh, Cil, si Sere. Masa iya dia mau lelang lakinya sendiri."
"Lelang?"
"Iya. Dia suruh lakinya pacar baru masa? Gendeng emang temen loe yang satu itu."
"Kok bisa? Loe kenapa sama Ares?" Cecil menatap Sere cemas.
"Gapapa, kok. Itu cuma becandaan gue sama Ares doang. Si Hana aja yang nanggepnya serius."
Mulut Cecil membulat kecil, namun raut wajahnya terlihat berubah kaku. "Gue kira beneran."
"Ya gak mungkin lah, Cil. Loe tau Ares, kan? Mana mungkin sih dia kayak gitu? Ngelirik cewek lain aja gak pernah, apalagi punya cewek lagi. Bisa-bisa gue gantung."
Cecil hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Serena. Ia lalu menyeruput jus alpukatnya mengalihkan gugup.
Hana memutar bola matanya malas. "Dia belum tau aja gimana nanti kalo Ares digondol pelakor."
"Uhuk uhuk uhuk." Cecil tiba-tiba tersedak seusai Hana selesai bicara.
Serena dan Hana panik menepuk-nepuk punggung Cecil.
"Mau minum gak?" Tawar Hana.
__ADS_1
Cecil menggeleng kecil seraya mengelus dadanya. "Im fine, Han."
"Kenapa sih loe? Kok bisa sampe keselek gitu?"
"Gapapa, Re, tadi gue cuma kaget aja."
"Huft! Gue kira loe mau brojol disini, Cil." Ucap Hana.
"Kaget kenapa? Perasaan tadi Hana gak ngomong apa-apa?" Serena kebingungan.
"Never mind. Gue cuma kaget biasa aja, kok."
"Beneran?" Mata Serena menyelidik.
Cecil tidak mengangguk, hanya tersenyum kecil.
"Loe kayaknya ada sesuatu yang dipikirin, deh. Gak kayak tadi."
"Setuju," timpal Hana. "Loe kenapa? Ada kata-kata kita yang nyinggung loe?"
"Enggak. Gak ada. Gue fine, kok."
"Beneran gak ada yang mau diceritain?" Tanya Serena lagi.
"Beneran."
"Serius? Gue dengerin, kok."
Bola mata Cecil bergerak gelisah. Bibirnya ia gigit kecil guna menghilangkan gugupnya.
"Ya udah kalo loe gak---
"Gue mau ngomong, Re." Potong Cecil cepat. Ia tak bisa menahan ini lebih lama lagi.
"Nah gitu, dong. Terbuka sama kita." Jawab Hana.
"Ngomong sama gue?" Serena menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa? Mau ngomong apa?"
"Ini mungkin kedengeran gak sopan banget gue ikut campur urusan rumah tangga loe. Tapi gue bener-bener gak mau nyembunyiin ini."
"Rumah tangga gue?" Kerutan di dahi Serena benar-benar dalam. Kaget sekaligus bingung.
"Sere, loe boleh percaya atau enggak, yang penting gue udah nyampein ini." Tatapan Cecil benar-benar terlihat tak tega dan seakan sangat berat mengatakannya.
"Apaan sih loe, Cil. Buruan napa. Gue ikut penasaran." Cerca Hana.
Cecil dengan was-was menatap sahabat baiknya itu. Tangan kanannya mengungkung tangan Serena, sementara tangan kirinya mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia membuka galeri foto dalam ponselnya, dan menyerahkan itu pada Serena.
"Loe nilai sendiri, Re." Dengan bingung Serena meraih ponsel Cecil. Melihat apa yang ingin ditunjukkan padanya itu.
"Ini..." Gumam Serena pada dirinya sendiri. Suaranya tercekat dan jantungnya berpacu cepat.
Foto demi foto ia geser. Mulai dari berpelukan, mencium pipi, saling tertawa bersama, berangkulan. Astaga! Tangan Serena benar-benar gemetaran memegangi ponsel Cecil.
"Itu kemaren, Re, di bandara. Gue gak sengaja ketemu mereka." Cicit Cecil hati-hati.
Serena mengangkat kepalanya. Menatap Cecil dengan mata yang tak dapat menyembunyikan luka.
"Coba sini gue liat." Hana merampas ponsel Cecil dari tangan Serena yang nampak tak sadar dan begitu saja melepasnya.
"Re," Cecil kembali mengusap punggung tangan Serena. "Gue bukannya jahat, gue gak bisa nyembunyiin sesuatu dari sahabat baik gue. Apalagi ini menyangkut rumah tangga loe."
"Enggak-enggak!" sanggah Hana setelah melihat foto-foto itu. "Gue rasa ini salah paham. Dia bisa aja kan temennya? Keluarganya? Atau siapa gitu?"
"Iya, sih. Ya udah ya, Re, jangan dipikirin."
"Lagian loe sih, Cil, ngapain coba ngasih beginian. Udah, Re, anggap aja ini bukan apa-apa. Gue yakin kok Ares gak mungkin kayak gitu."
"Iya, Re, yang Hana bilang bener. Coba loe tanya dulu aja sama Ares. Gue juga gak terlalu yakin sama yang gue liat kemaren, makanya gue bilang loe aja yang nilai sendiri, gue gak mau sok tau. Gue juga fotoin biar loe gak ngira gue nuduh tanpa ada bukti."
Serena tersenyum hambar. Jujur hatinya berdenyut nyeri, tapi entah kenapa ia tidak bisa menangis. "Kalau bener cewek yang di foto ini sodaranya Ares, gue rasa mereka gak mungkin semesra itu."
"Ya mungkin... loe gak mengenali karena cewek ini madep belakang. Gak keliatan mukanya. Tapi bisa aja kan itu beneran sodaranya?" Hana coba memberi pengaruh positif pada Serena.
"Bener kata Hana, Re. Loe jangan mikir macem-macem dulu. Kita gak tau pasti kan cewek itu siapa? Bisa jadi juga kliennya yang merangkap sebagai temennya dia juga." Cecil benar-benar terlihat sangat bersalah. Sedari tadi ia was-was melihat Serena yang nampak sangat sedih namun tetap menutupinya dengan senyum.
"Entahlah," kedua bahu Serena bergoyang acuh, bibirnya masih menebar senyum, namun nada suaranya bervolume pelan. "Biar nanti aja gue tanyain. Kalian gak usah ikut kepikiran."
"Re." Tatap Cecil dengan sedih.
"Its okay. Bener kata kalian, itu semua belum tentu bener."
"Tapi loe gimana? Loe pasti sedih. Maafin gue ya."
"Udah. Gapapa. Tapi kayaknya gue pulang duluan ya."
"Loh? Kenapa? Loe marah ya sama gue?" Cecil panik.
"Enggak, Cecil. Gue pulang karena kasian sama Altan. Dia gak bakal mau makan kalo gak ada gue."
"Serius? Loe gak marah kan sama gue?"
Serena menggeleng dengan senyuman manis. "Enggak. Gak sama sekali. Thanks ya jepretan kameranya."
———————————————
__ADS_1