
"Kenapa jadi aku yang disalahkan? Kenapa harus aku yang ngerasa disudutkan? Apa aku gak boleh marah dengan apa yang udah kamu lakuin?"
Rentetan kalimat yang diucapkan Ares lewat telepon semalam terus saja mengiung di telinga Serena, berputar-putar dalam pikirannya. Kebingungan makin melanda otaknya yang memang sudah penuh dengan tanda tanya. Kejadian tadi malam begitu membuatnya sesak, namun mata Ares yang berkaca-kaca tak dapat diabaikan.
Pria itu pergi tanpa berkata apa-apa. Meninggalkan Serena yang masih terisak-isak dalam tangisnya. Menahan sakit dalam hati dan juga sakit pada sekujur badannya. Meringkuh berjam-jam tanpa bisa menutup mata. Hingga pada pukul dua pagi dering teleponnya berbunyi. Satu panggilan dari pria yang baru saja menyayat dan melukai hatinya.
Suara di ujung telepon sana parau, sedikit lemah. Suaranya teredam oleh dentum musik diskotik yang diputar sangat kencang. Walau dalam samar dan bising yang berkombinasi, Serena tak melewatkan satu kata pun yang Ares ucapkan. Otaknya merekam jelas satu per satunya, namun ia tak cukup mengerti apa maksud dari kata-kata Ares. Sebelum bertanya, panggilan diputus secara sepihak. Menggantungkan keingin tahuan Serena yang belum terpecahkan.
"Nyonya supnya!" Pekik Mbok Nunik yang buru-buru mematikan kompor.
Serena terperanjat. Ia kaget melihat air kaldu sup yang sedang dimasaknya meletup-letup karena terlalu lama dipanaskan. Wanita itu meringis kecil menatap Mbok Nunik yang masih nampak panik.
"Nyonya gapapa?"
"Gapapa, Mbok. Makasih ya. Untung ada Mbok."
"Iya, Nyonya," jawabnya diiringi anggukkan. "Oh ya, Nya, di ruang tamu ada Nyonya Yolita."
"Hah?"
"Iya. Tadi tamu yang ngetuk pintu itu Nyonya Yolita."
Serena mendadak dirundung gelisah. Mama mertuanya datang berkunjung tapi Ares belum pulang. Sudah pasti beliau akan menanyakan keberadaan putranya. Dan jika Serena menjawab jujur, ketidak beresan rumah tangga mereka pasti akan terendus. Apalagi Yolita termasuk orang yang peka terhadap sesuatu.
Dengan ragu Serena berjalan menuju ruang tengah. Jumpsuit formal untuk ke kantor sudah melekat padu dengan strip blazer. Rambut hitam lurusnya sengaja diurai. Bibir tipisnya yang diberi olesen lipstick menyunggingkan senyum indah pada sang mama mertua yang sudah menyambutnya. Terlihat juga Altan yang sudah duduk anteng sembari memakan cookies chocochip yang Serena tebak pasti buah tangan dari Mama Yolita.
"Hai, Sayang. Apa kabar?" Sambut Yolita dalam pelukan Serena.
Serena melepaskan pelukan itu dan tersenyum lebar. "Baik, Ma. Mama dan Papa baik juga, kan?"
"Papa baik. Dan Mama merasa lebih baik lagi setelah ketemu kamu." Gurau Yolita yang dibalas kekehan geli menantunya itu.
"Mama mau minum apa? Biar aku buatin dulu."
"Gak usah. Mama bisa ambil sendiri. Lagian kamu harus siap-siap dulu ke kantor, kan?"
Serena terkekeh kecil sembari melirik sendal rumahan yang ia gunakan. "Enggak kok, Ma, tinggal pake sepatu doang. Aku juga masih masak buat sarapan. Jadi gapapa kalo buat minum dulu."
"Enggak usah, Sayang. Mama belum haus, kok," belai Yolita pada rambut Serena. "Udah yuk duduk dulu."
Menurut pada mertuanya, Serena duduk di sofa ruang tamu. Melihat Yolita yang menyerahkan paper bag cukup besar.
"Mama masak rawon hari ini, terus keinget kamu yang suka banget rawon bikinan Mama. Ya udah Mama bawain. Kebetulan Mama juga bikin cookies kesukaan Altan kemarin."
"Aduh, Ma, repot-repot banget."
"Enggak kok gak repot. Lagian liat tuh Altan semangat banget makannya. Rasa capek Mama bikin cookies jadi kebayar."
"Abisnya cookies bikinan Oma enak, sih." Celoteh bocah itu yang membuat ibu dan neneknya terkekeh.
"Makasih ya, Ma, sekali lagi. Aku pasti bakal makan ini. Maaf jadi bikin Mama jauh-jauh kesini."
"Sama-sama, Sayang. Mama sengaja jauh-jauh kesini karena kangen banget sama kamu dan Altan."
"Oma gak kangen Papi juga?" Tanya Altan yang sedang fokus menyomoti chocochip dalam cookies itu.
"Papi kamu nyebelin ah. Oma jadi gak kangen, deh." Kekeh Yolita renyah.
Serena hanya tersenyum tipis dan kaku mendengar candaan mengenai Ares itu. Karena tak nyaman, ia menyampirkan rambutnya pada telinga--yang tanpa sadar membuat pipi kirinya yang sedikit lebam jadi tersorot.
Mata Yolita yang tak sengaja melihatnya, memicing curiga. Tangannya spontan memegang pipi Serena, dan sang empunya reflek meringis. Keduanya saling menatap dengan tatapan sulit terbaca.
"Pipi kamu kenapa?" Tanya Yolita pelan.
Serena membasahi bibir bawahnya dan menggeleng kecil. "Gapapa kok, Ma."
"Kalo lebam begini gak mungkin baik-baik aja, kan?" Elus Yolita pada pipi Serena dengan teramat lembut.
Serena diam. Bingung harus menjawab apa. Ke sepuluh jari-jarinya saling bertautan gugup. Mata teduh Yolita menyiratkan kecemasan yang membuat Serena benar-benar tak tega.
"Apa... ini ulah Ares?" Tanpa sadar bibir bawah Yolita bergetar.
Masih bergeming. Serena menatap nanar mertuanya itu. Ia makin bingung harus jujur atau tidak. Ia tak pernah berbohong pada Yolita sebelumnya. Namun jika jujur, ia takut permasalahannya akan melebar kemana-mana.
"Jadi benar karena Ares?"
Dan pilihan Serena jatuh pada gelengan di kepalanya. Wanita itu tak mau membuat Ares terlihat buruk di depan semua orang, apalagi ibunya sendiri. "Bukan Ares, Ma. Kemarin aku kesiram air panas waktu bikin teh."
Yolita diam sejenak. Matanya membidik sangsi. "Kamu yakin?"
"Ya, Ma," senyum Serena. "Lagian... Ares gak mungkin kan... tega nyakitin aku."
Tangan Yolita turun perlahan dari pipi Serena. Wanita matang itu terlihat masih tak percaya. Rasanya ada yang ganjil. Matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Ares dimana? Mama gak liat mobil dia di depan, dan dia juga gak ada disini." Kepalanya memutar menyapu semua sisi ruang tamu.
Remasan pada jarinya benar-benar tak membantu. Serena malah makin cemas. Duduknya kian tak nyaman. "Uhm... Ares... itu, Ma..."
__ADS_1
"Ya? Ares? Kemana? Kemana dia?" Cerca Yolita dengan sedikit tak sabar. Karena jujur, ada sedikit emosi dalam hatinya. Ia tak percaya tumpahan air panas bisa membuat pipi Serena sebegitu lebamnya. Itu seperti bekas tamparan. Dan Ares adalah orang yang paling mungkin melakukannya. Yolita harus dapat jawaban dari mulut anaknya sendiri.
"Anu, Ma, Ares---
"Itu Papi, Oma." Tunjuk Altan pada pintu utama yang membuat Yolita dan Serena ikut menoleh.
Tubuh Ares berdiri kaku saat mendapati mata sang ibu menatapnya sedikit tajam. Pria itu mengunci rapat bibirnya dan berusaha tenang walau ia tahu suasana setelah ini mustahil tidak tegang.
"Kamu baru pulang, Antares?" Yolita bangkit dari duduknya mendekati titik berdiri sang putra. Tatapannya benar-benar tidak lembut lagi seperti sebelumnya.
Serena ikut bangkit setelah mengisyaratkan Mbok Nunik untuk membawa Altan masuk ke kamarnya. Tak dapat dipungkiri, aura ketegangan antara ibu dan anak itu ikut membuatnya tegang.
"Kamu baru pulang kerja atau pulang mengembara sampe berantakan gini?" Tanya Yolita seraya terang-terangan memandangi Ares dari atas sampai ke bawah. Menyaksikan betapa tidak karuannya penampilan Ares sekarang.
"Aku pulang kerja, Ma."
"Pagi-pagi begini biasanya orang-orang mau berangkat kerja, bukan baru pulang kerja," Yolita tersenyum miring menelengkan kepala. "Apa sekarang dunia udah terbalik?"
Ares bergeming. Untuk urusan begini mamanya memang juara. Yolita selalu bisa saja mengalahkan lawan bicaranya dengan kata-katanya. Bahkan hanya ditatap tajam saja Ares yakin nyali musuh akan menciut. Dan keahlian itu menurun pada Ares. Pria itu juga semenakutkan mamanya jika menghadapi musuh. Namun jika lawannya adalah Yolita sendiri, jangankan Ares, papanya pun--Henrialdi Risjad--pasti akan kalah.
"Aku lembur. Banyak kerjaan." Jawab Ares tanpa ekspresi.
"Kamu emang ngerjain apa sampe gak bisa pulang ke rumah sendiri? Lagi bikin seribu candi?" Sindir Yolita dengan tatapan tajam.
"Ma, please, aku gak punya waktu untuk ribut begini."
"Sama seperti kamu gak punya waktu untuk anak dan istri kamu?"
Lenguhan malas Ares lolos begitu saja. Pria itu membuang muka ke samping karena terlalu lelah menghadapi mamanya. Semalaman ia sudah tak tidur karena memikirkan Serena. Belum lagi tamparan yang tak sengaja ia layangkan karena emosi, membuat rasa bersalah terus menerus menusuk ulu hatinya.
Sampai akhirnya kebuntuan memaksa ia menelepon Serena semalam. Entah apa yang ia bicarakan. Ia sendiri tak ingat karena terlalu mabuk dan langsung mematikan sambungan karena pening di kepalanya semakin menjadi-jadi.
"Antares denger---
"Ma," sergah Serena maju mendekati Yolita. Ia memegangi lengan mertuanya untuk meredakan ketegangan yang ada. "I-ini... ini semua salah paham. Ares gak salah."
"Suami kamu ini jelas salah, Serena. Jangan bela dia," lalu kepala Yolita memutar menguliti Ares dengan tajam. "Suami macam apa yang bisa-bisanya gak pulang karena alasan pekerjaan."
"Itu bukan alasan, Ma. Tolong jangan pojokkin aku terus."
"Kalau gak mau dipojokkin, ayo jujur sama Mama kenapa kamu gak pulang?! Jujur sam--
"Ares pergi ke ulang tahun temennya, Ma." Potong Serena cepat.
Yolita langsung menoleh pada Serena. Menatap sang menantu dengan pandangan membidik tak percaya.
Yolita terpekur diam beberapa saat. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Ares untuk beranjak dari sana. Pria itu tetap memasang wajah dingin dan kerasnya melewati mama dan istrinya. Tak memperdulikan pembelaan yang baru saja Serena berikan.
"Tunggu," perintah Yolita menatap punggung tegap Ares. Si empunya berhenti melangkah. Dan Serena sudah ketar-ketir cemas. "Serena, tolong buatin air lemon. Suami kamu udah terlalu banyak minum."
...• • • • •...
Selepas ketegangan yang beberapa waktu lalu terjadi, Serena mengajak Yolita untuk sarapan bersama. Niatnya ingin sedikit mengalihkan kecurigaan sang mama mertua dan kemarahannya pada Ares. Ia mencoba bersikap tenang walau dalam hati sudah ketar-ketir. Ia takut jika Ares keluar nanti, ketegangan itu akan kembali lagi. Semoga saja Ares tidak menolak untuk sarapan bersama dan membuat Yolita makin curiga.
"Kok gak dimakan, Sayang? Apa ada yang kurang ya dari masakan Mama?"
Serena gelagapan kaku karena ternyata Yolita memperhatikannya. "Enggak kok, Ma, enak. Enak banget malah."
"Terus kenapa gak dimakan? Mama perhatikan kamu melamun terus."
"Ah itu... enggak, kok. Mungkin perasaan Mama aja."
Yolita mengulas senyum tipis. "Ya udah kalo gitu, lanjut makannya. Oh atau kalau mau lebih semangat, tambahin sambal. Mama juga sengaja bawa."
Serena menaikkan kedua alisnya kaku saat Yolita meraih mangkuk kecil berisi sambal terasi. Mertuanya itu menyendokkan cukup banyak sambal ke dalam piringnya. "Nih Mama kasih banyak. Kamu suka banget kan sambal buatan Mama."
Ia akui sambal buatan Yolita memang juara. Juara enaknya dan juara pedasnya. Serena sangat menyukai itu, tapi ia tak bisa memakannya sekarang. Perutnya sedang sedikit bermasalah. Bagaimana caranya ia menolak jamuan mama mertuanya ini.
"Kok bengong? Ayo dimakan." Senyum lebar Yolita.
Serena meringis tak enak. "A-ak... aku..."
"Ayo, Sayang. Mama jamin gak bakal sakit perut. Mama aja gak kenapa-napa, nih."
Pergerakan tubuh Serena benar-benar kaku. Ia mencoba meraih sendok dihadapannya untuk menyiuk sedikit sambal. Tangannya ragu-ragu saat mendekatkan sendok itu pada mulutnya.
"Jangan dimakan." Sergah seseorang yang membuat semuanya mendongak.
Ares yang sudah lebih segar dan rapi dengan setelan formalnya terlihat sedikit panik seraya memegang sendok yang hampir mendarat di mulut Serena. Walaupun wajahnya kaku, tapi Serena tahu Ares mencemaskan dirinya. Pasangan suami istri itu saling berbagi pandang dengan sulit diartikan. Waktu seakan berhenti saat itu juga, seolah ingin kedua insan itu terus berbagi pandang.
Yolita berdehem singkat yang membuat keduanya salah tingkah. Terutama Ares. Pria itu merutuki kebodohan dirinya yang masih saja reflek perhatian pada Serena.
"Ada apa, Antares? Kenapa Serena gak boleh makan sambalnya?" Tanya Yolita tenang sembari menumpukan tangan di dagu.
Ares diam sejenak menetralkan mimik wajahnya. Pria itu menatap sang ibu cukup lama. "Dia punya asam lambung. Gak baik makan pedas pagi-pagi."
Pergerakan Serena *******-***** tangannya terhenti. Wanita itu mendongak menatap Ares yang menjawab pertanyaan Yolita barusan. Walau tanpa ekspresi dan nada sedingin biasanya, entah kenapa hati Serena menghangat mendengarnya. Wanita itu tak menyangka Ares masih seperhatian dulu. Ia bahagia melihat ada satu sisi baik dari Antaresnya yang tersisa.
__ADS_1
Sial! Ares mengumpat dalam hati. Ia benci ditatap mamanya dan wanita itu. Ia benci jadi pusat perhatian.
"Aku berangkat, Ma." Pamit Ares sewajarnya. Tak kuat menahan malu.
"Sarapan dulu."
"Maaf, Ma. Tapi aku gak bisa."
"Kenapa?"
"Papi kan gak pernah sarapan di rumah, Oma."
Pernyataan polos Altan membuat Yolita menoleh pada cucunya itu.
"Papi juga gak pernah makan malam lagi bareng Altan."
"Oh ya?" Yolita menebarkan senyum tipis walau hatinya mulai dihantui kecemasan lagi. "Terus Altan makannya bareng siapa?"
"Sama Mami aja."
Menghela napas sejenak, Yolita kembali buka suara. "Kalo gitu, hari ini Oma akan buat Altan makan bareng lagi sama Papi dan Mami. Altan mau?"
Bocah kecil itu mendongak sembari menggenggam tangan kiri Ares. "Papi mau sarapan bareng Altan lagi?"
Melihat Ares hanya diam saja, Yolita kembali menimpal. "Pasti mau dong, Sayang. Iya kan, Antares?" Tatap Yolita penuh arti pada anaknya itu.
Ares hanya bisa pasrah sembari melenguh malas dalam hati. Pria itu menarik kursi di sebelah kiri Altan, namun saat akan mendaratkan tubuhnya, Yolita menghalau.
"Kenapa duduk disitu? Mama sudah sediakan kursi disini, Antares." Yolita menunjuk kursi kosong di sebelah kanannya dengan dagu.
Ares bergeming. Saat ia menatap ke depan, matanya bersitatap dengan Serena. Keduanya sama-sama diam. Serena tahu kebekuan Ares karena ia enggan duduk di sebelahnya. Ares tak mau berdekatan dengannya. Namun apa yang bisa Serena perbuat? Jika mamanya yang meminta, tak ada yang bisa menolak.
"Kenapa diam? Ayo."
Kedua kalinya. Ares pasrah mengikuti permintaan sang mama. Ia duduk di samping Serena, sehingga ia berada di tengah-tengah mama dan istrinya. Perpaduan yang sangat sempurna, bukan? Ares merasa dirinya dikepung.
Serena tahu mama mertuanya pasti sudah sangat curiga ada yang tidak beres dalam rumah tangga anak dan menantunya ini. Namun biarkan ia bersikap naif dan seolah-olah mertuanya tidak tahu apa-apa. Langkah pertama yang ia ambil untuk meretas sedikit kecurigaan Yolita adalah melayani Ares makan. Mengambilkan piring beserta isiannya seperti istri pada umumnya. Walaupun Ares sepertinya tidak bisa diajak kompromi, karena pria itu terus saja bersikap cuek dan dingin.
Selama lima menit pertama suasana sarapan hening dan hawanya tidak nyaman. Serena terus menunduk sembari sesekali menyuap, karena selebihnya ia lebih banyak mengaduk-ngaduk saja. Mama mertuanya juga seperti belum menurunkan tensi amarahnya sepenuhnya. Terlihat sekali masih ada kilat api dalam matanya. Tak jauh beda dengan rahang Ares yang terus mengeras sejak tadi. Mungkin disini hanya Altan yang asik dengan sup ayamnya.
"Oma, Opa kok gak kesini? Kata Opa, Opa mau beliin Altan mainan."
"Opa kan kerja, Sayang. Jadi gak bisa kesini." Jawab Yolita.
"Kerja kayak Papi, Oma?" tanya Altan yang ditimpali angukkan Yolita. Lalu bibir bocah itu mengerucut gemas. "Altan gak suka kerja. Kerja bikin Opa gak bisa kesini bawain Altan robot-robotan.
"Nanti kalo Opa gak sibuk, pasti Opa kesini bawain Altan mainan yang banyak."
"Tapi Altan gak mau Opa sibuk kayak Papi. Nanti Oma di rumah sendirian karena Opa gak pulang."
Yolita bergeming dengan mimik yang sulit diartikan. Ares dan Serena juga menatap putra mereka dengan tatapan tak terbaca--mungkin terkejut.
Deheman Yolita terdengar beberapa saat kemudian. Wanita matang itu melirik sekilas pada Ares dengan delikan tajam. "Kata siapa Oma sendirian di rumah? Walaupun Opa sibuk, Opa selalu punya waktu buat Oma dan Opa selalu pulang ke rumah. Opa gak pernah tuh kerja lembur sampe ninggalin Oma sendirian."
"Tapi kenapa Papi jarang pulang?"
"Oma rasa, Papi kamu itu lebih sibuk dari presiden." Sindir Yolita dengan tertawa renyah pada Altan.
"Terus kena--
"Altan," sanggah Serena sembari menggeleng pelan. "Abisin dulu makannya, Sayang. Ngobrolnya nanti aja ya. Kasian tuh Oma makannya jadi ketahan-tahan terus."
"Iya, Mi."
Serena menarik napas lega dan melirik ke arah Ares yang mengaduk-aduk makanannya malas. Pria itu sama sekali tak melonggarkan keras di wajahnya. Sepertinya Ares benar-benar tak betah karena terus disindir Yolita.
"Biarin aja Altan bercerita, Serena. Mungkin selama ini dia terlalu kesepian dan gak punya tempat untuk berbagi." Yolita tersenyum tipis menatap sang menantu.
"Iya, Ma."
"Padahal dulu tuh Ares gak pernah loh sampe merasa kesepian begitu. Karena dulu, sesibuk-sibuknya Papa, Papa pasti nyempetin waktu buat main sama Ares," Yolita menoleh ke arah Altan dengan tatapan iba. "Mama jadi kasian sama Altan yang kurang diperhatikan ayahnya sendiri."
Prang. Bunyi sentuhan sendok dan garpu yang diletakkan kasar membuat semuanya terhenyak. Ares tentu saja menjadi pusat dari tatapan bingung mereka. Pria itu terlihat menyeramkan karena matanya benar-benar membeku tajam.
"Apa-apaan ini, Antares?" Tanya Yolita sedikit menahan emosi. Karena ia tak mungkin marah-marah di depan Altan.
Ares berdiri sehingga kursi di belakangnya berdenyit ngilu. "Aku udah selesai."
"Jangan bilang Mama gak pernah mengajarkan kamu tentang manner. Bukan seperti itu cara bersikap saat sedang makan begini."
"Aku gak merasa ini sedang makan. Karena suasana makan diisi dengan kehangatan, bukan sindiran sarkas."
Ares melengos begitu saja menyisakan Yolita yang nampak sangat emosi. Wanita itu menatap nyalang punggung sang putra yang baru saja melawannya ini. Apa-apaan? Sejak kapan Ares bersikap begitu lancang?
"Ma." Serena coba menenangkan dengan mengusap punggung tangan Yolita.
"Its okay, Sayang," jawab Yolita dingin dan tatapan tajam lurus ke depan. "Mama gak tau masalah apa yang sedang dihadapi kalian dan menimpa rumah tangga kalian. Tapi satu yang Mama minta," tatapan Yolita melunak saat menatap Serena. "Selesaikan semuanya baik-baik. Mama gak mau kamu dan Ares sampai berpisah. Jika Ares ada salah, atas nama dia Mama minta maaf. Ares mungkin bukan pria terbaik untuk kamu. Tapi Mama yakin kamulah yang terbaik buat dia. Tolong bertahan."
__ADS_1