
Setelah pulang dari penjara, Bizard pun mengajak Bianca untuk pulang. Di dalam mobil Bianca masih menangis, dan hal tersebut membuat Bizard tak bisa langsung menyalakan kendaraan roda empat miliknya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu kan sudah bilang, apapun hasilnya, kamu akan terima," ucap Bizard seraya menghapus air mata Bianca. Sementara wanita itu terus tersedu-sedu.
"Aku benar-benar merasa jahat, Bee."
"No. Kamu adalah wanita baik yang aku kenal, lupakan semuanya," balas Bizard. Namun, tangis Bianca malah makin pecah, membuat Bizard akhirnya menarik kepala wanita itu untuk masuk ke dalam dada bidangnya.
"Jangan ingkari janjimu, aku tidak mau pulang dari sini kamu kenapa-kenapa. Ingat, kalau kamu terus menangis, anak-anak kita pun bisa merasakan kesedihanmu," bujuk Bizard seraya mengecupi kepala Bianca.
"Maafkan aku, Bee."
"Kamu tidak bersalah padaku, kenapa harus minta maaf?"
"Pokoknya aku mau minta maaf."
"Oke, aku sudah memaafkanmu, jadi berhentilah menangis. Lebih baik kita pergi ke suatu tempat, kamu mau ke mana? Biar kamu dan Baby Triplets happy." Bizard terus membujuk Bianca, karena dia tidak mau hal tersebut mempengaruhi kandungan wanita itu.
Hingga perlahan-lahan akhirnya Bianca mau diam. Dia melirik ke arah Bizard, ada satu tempat yang sangat ingin dia kunjungi sekarang. "Apa aku boleh memilihnya?"
"Tentu saja, Sayang, kamu mau ke mana? Aku pasti akan mengabulkannya."
"Aku ingin memperkenalkanmu pada Mama dan Papa," ujar Bianca dengan bola mata yang kembali berkaca-kaca. Sudah lama dia tidak datang ke makam kedua orang tuanya, dan sekarang dia ingin membawa Bizard ke sana.
__ADS_1
Mendengar itu, Bizard mengulum senyum. Inilah yang dia suka dari Bianca, selalu meminta sesuatu yang sederhana, tetapi entah kenapa sesuatu yang sederhana itu bisa terasa sempurna saat mereka berdua.
"Oke, aku akan tunjukkan pada mereka, bahwa aku adalah suami yang baik. Aku bisa menjaga istriku, dan calon anak-anak kita. Supaya mereka mempercayakan kamu padaku untuk selamanya," balas Bizard yang membuat Bianca selalu merasa haru.
"Kenapa kamu selalu membuatku jatuh cinta?"
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku setiap hari."
Tanpa aba-aba Bizard meraup bibir Bianca, dan sedikit memberikan lumataan. Hingga terdengar bunyi nyaring, beberapa decapan yang tercipta akibat penyatuan bibir mereka.
Dan setelah itu, Bizard baru menyalakan mesin mobil, menuju pemakaman umum, di mana orang tua Bianca di kebumikan.
Di sinilah mereka sekarang, dengan menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam, akhirnya mereka tiba di salah satu pemakaman yang ada di ibu kota.
"Kamu yakin masih mengingat jalannya?" tanya Bizard.
"Masih, ingatanku terlalu bagus untuk mengenang sesuatu yang mengejutkan."
"Bohong, buktinya kamu tidak mengingatku sama sekali," timpal Bizard mengajak istrinya bercanda. Sukses, kalimat itu membuat Bianca menoleh.
"Kata siapa? Bahkan aku tidak bisa melewatkan namamu barang sedetikpun. Karena aku selalu punya alasan untuk mengingatmu," jawab Bianca sambil melirik ke arah perutnya.
Bizard tersenyum.
__ADS_1
"Bolehkah aku menciummu sekali lagi di tempat seperti ini?"
Bianca mendelik, dia tidak menghiraukan ucapan Bizard dan terus melangkah hingga akhirnya mereka tiba di dua makam yang saling berdekatan. Dan dua makam itu milik ibu dan ayah Bianca.
"Sampai," kata Bianca, dia ingin berjongkok tapi lagi-lagi susah. Melihat itu Bizard menekuk satu lututnya sebagai penopang, lalu menekuk kaki yang satu lagi, agar Bianca bisa duduk di pahanya.
"Duduklah."
"Sayang, nanti kamu pegal."
"Yang lebih aku khawatirkan adalah kamu. Aku tidak mau kamu terus berdiri seperti itu." Bizard menepuk pahanya lagi, bahkan menarik Bianca agar lekas duduk di sana.
Akhirnya mereka pun menaburkan bunga secara bersama-sama. Bianca bahagia karena dapat kembali ke tempat ini, bahkan ditemani orang yang sangat dia cintai.
"Ma, Pa, kenalkan ini Bizard, suamiku. Orang yang sangat aku cintai, untuk saat ini dan selamanya. Dia adalah orang baik, dia selalu berusaha membahagiakan aku, meskipun itu kecil. Di dekatnya aku selalu merasa bahwa apa yang dia berikan lebih dari cukup. Seperti saat ini, kalian lihatkan aku sangat bahagia?" Bianca berbicara sendiri, seolah kedua orang tuanya benar-benar mendengarkan.
Sementara Bizard terus memperhatikan wanita itu sambil membenahi rambut Bianca ke belakang telinga.
"Ma, Pa, putrimu sangat cantik. Aku jadi tidak bisa untuk tidak jatuh cinta. Kalian pun harus tahu, bahwa dia adalah wanita yang sangat mencintaiku, aku bersyukur memilikinya. Melebihi apapun yang aku punya, dia tetap yang paling berharga. Apalagi sekarang di dalam perutnya ada buah cinta kami," timpal Bizard, yang membuat Bianca tak bisa untuk tidak mengulum senyum.
Dia memiringkan badan, lalu melingkarkan tangan di sepanjang leher Bizard. "Dia suami terbaikku, Ma, Pa. I love you, Bizard."
"I love you more, Bianca. Selamanya aku adalah milikmu."
__ADS_1