
Bizard memegang kedua paha Bianca, membiarkan tubuh mereka semakin menyatu dengan sempurna. Sebentar lagi mereka akan mendapatkan pelepasan yang kedua kalinya, Bizard menenggak, semakin merasakan tubuhnya yang tersengat, dia menggerakkan pinggulnya dengan keras, bersama desaahan Bianca yang memenuhi kamar mereka.
Dua buah benda kenyal kesukaan Bizard ikut terombang-ambing, seiring laju hentakan yang semakin cepat. Hingga tak berapa lama kemudian, mereka serentak mendapatkan gelombang pelepasan. Mereka sama-sama menjerit, menyuarakan rasa yang mengikat dada masing-masing.
Bizard terengah dan ambruk di atas tubuh Bianca, kini kedua tangannya berada di antara kepala wanita itu, sementara peluh terus menetes dari pelipis membasahi dada wanitanya.
Mereka saling berebut udara, untuk mengisi ruang pernafasan masing-masing. Bianca meneguk ludahnya, dia merasakan tenggorokannya yang mengering akibat terlalu banyak mengeluarkan suara.
Sekali lagi Bizard memberikan kecupan dalam di kening sempit Bianca, menjadikan rutinitas itu sebagai kebiasaan setelah mereka bercinta.
Bianca merasakan ketenangan, hingga dia memejamkan mata saat Bizard menunjukkan sikap manis itu. Bizard menarik diri, bersamaan dengan dua bola mata Bianca yang terbuka, wanita cantik itu tersenyum, menunjukkan kepuasan.
"Aku mencintaimu, Honey."
Bianca mengangkat tangan, mengelus pipi Bizard yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Aku juga mencintaimu. Jika boleh aku mengatakannya lebih dari satu kali maka aku akan berkata aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Mendengar kata-kata penuh cinta dari Bianca, Bizard semakin merasa terbang ke angkasa. Bianca memang paling bisa menggodanya. Bizard melepaskan penyatuan mereka, sekilas dia melihat bercak darah yang berserakan di atas sprei, menandakan bahwa Bizard adalah orang pertama yang menyentuh istrinya.
"Terima kasih ya, Sayang. Aku sangat puas dengan pelayananmu," ungkap Bizard sambil membenahi rambut Bianca yang menutupi sebagian wajah wanita itu.
"Benarkah? Aku tidak mengecewakan?"
"Tidak sama sekali, aku sangat senang karena kamu selalu menuruti semua keinginanku."
"Karena itu sudah menjadi tugasku, Sayang. Sekarang kan aku istrimu, jadi aku hanya perlu menurut, lagi pun aku suka melakukannya."
__ADS_1
Bizard tersenyum penuh makna. Berada di sisi Bianca dia selalu merasa menjadi pria yang sempurna. Hingga kini pikirannya hanya dipenuhi oleh wanita cantik itu, Bizard menarik tubuh Bianca agar semakin dekat, kemudian mencengkram kecil dagu Bianca hingga wanita itu mendongak. "Bagaimana kalau kita melakukannya sekali lagi?"
Bianca langsung melebarkan kelopak matanya. Tak percaya dengan permintaan Bizard, bahkan sisa pelepasan yang baru saja ia terima masih terasa nyata. Pria itu malah menginginkannya lagi?
Melihat wajah cemas Bianca, menjadi hiburan tersendiri untuk Bizard. Dia hanya ingin menggoda wanita cantik itu, tetapi ternyata reaksi Bianca sungguh menggemaskan, hingga membuat Bizard tak bisa untuk tidak mencium bibir istrinya.
"Aku bercanda, Honey. Kenapa wajahmu seserius itu?" goda Bizard.
"Aku hanya tak habis pikir, ternyata aku baru saja dinikahi oleh pria yang begitu perkasa."
Kekehan Bizard semakin keras.
"Bahkan kalau kamu mau aku bisa melakukannya sampai sore."
Bianca mendelik, dan langsung memberi jarak. "Tidak, Sayang. Aku tidak sanggup." Tentu saja dia menjawab seperti itu, sebab ia masih merasakan perih di inti tubuhnya. Cukup dua kali, dia tidak ingin Bizard melakukannya lagi hari ini.
Bizard turun dari ranjang, kemudian mengambil ponselnya. Baru saja ia membuka benda pipih tersebut, ia sudah disuguhi nama Joana. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari istri pertamanya. Kemudian disusul pesan Joana yang mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di tempat tujuan.
Pria itu mulai merasa biasa saja saat mendapat pesan dari Joana. Hingga dia membalas pesan itu dengan kalimat singkat.
[Ya, semoga pekerjaanmu lancar.]
Setelah itu, Bizard sibuk untuk memesan makanan. Sementara Bianca yang tak dapat berjalan hanya bisa duduk di atas ranjang dan menunggu Bizard menggendongnya.
"Sayang, gendong," rengek Bianca saat Bizard menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Wanita itu mengulurkan tangan terlihat lebih manja, dan Bizard suka. Dia langsung mengulum senyum, kemudian mengangkat tubuh Bianca untuk masuk ke dalam kamar mandi, Bizard meletakkan Bianca di bathtub, kemudian mengisi bak tersebut dengan air dingin.
Setelah air penuh, Bizard ikut masuk, tapi kali ini dia duduk di belakang tubuh Bianca, memeluk wanita itu dengan erat, hingga Bianca merasakan sesuatu menusuk-nusuk tubuhnya.
"Bee, katanya mau mandi?"
"Iya, Honey. Tapi sepertinya ularku tidak mau tidur." Jawab Bizard dengan sendu.
Bianca tentu tahu apa yang dimaksud oleh Bizard. Namun, rasanya dia tidak sanggup untuk memenuhi keinginan suaminya. Dia tidak menyangka, ternyata hasrat Bizard dalam bercinta begitu besar, pantas saja pria itu selalu merasa kesepian di samping Joana.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Bianca.
"Kamu yakin ingin membantuku?"
"Ya, selagi aku bisa melakukannya, kenapa tidak?"
Mendengar itu, Bizard tersenyum sumringah. Bianca memang paling bisa dia andalkan untuk urusan yang satu ini, Bizard kembali bangkit dari duduk, berdiri di depan wajah Bianca dengan menekuk satu kakinya di pinggiran bathtub.
"Buka mulutmu!" titah Bizard. Bianca langsung patuh, dia mengikuti instruksi Bizard, dan terus terdiam saat Bizard memegang kepalanya kemudian memajukan diri hingga mulut Bianca langsung terasa penuh.
Bianca mendongak, menatap dua bola mata Bizard. Pria itu terlihat tersenyum puas karena berhasil menguasainya. "Aku akan melakukannya dengan cepat."
Bianca mengangguk, sementara Bizard kembali bergerak.
***
__ADS_1
Terus aja terus🙄🙄🙄
Dah cukup ye, gue udah spaneng😩