
Kedua orang itu sama-sama hanyut, hingga Bizard kembali meraup bibir Bianca. Dia memegang kuat tengkuk wanita itu dan terus merayapi bibir Bianca yang sudah lama tidak dijamahnya.
Mereka sama-sama mengalirkan cinta yang sama, melepas jejak rindu yang selama ini menyemai di hati masing-masing.
Namun, saat Bizard ingin menyusuri leher jenjang Bianca. Wanita hamil itu segera menahannya. Dia memegang kepala Bizard dengan nafas yang memburu. Dia belum membersihkan tubuhnya, dan ia tidak ingin sentuhan ini semakin jauh.
Bizard mendongak, menatap wajah Bianca yang terlihat cemas juga salah tingkah. Wanita itu sedikit menggigit bibirnya, kemudian berkata. "Kita sudah melewati batas, Bee."
Mendengar itu, Bizard langsung mengulum senyum tipis. Merasa lucu dengan ucapan Bianca. Ternyata wanita itu masih peka dengan apa yang menjadi keinginannya. Akhirnya Bizard kembali menegakkan diri, menangkup satu sisi wajah Bianca, dan mengusapnya menggunakan ibu jari.
"Kapan kita melewati batas? Asal kamu tahu, aku tidak pernah menandatangani surat perceraian kita. Meskipun kita menikah tidak berdasarkan izin negara, tapi aku dan kamu memiliki perjanjian yang mengikat kita satu sama lain. Selama aku tidak menandatanganinya, maka kamu masih menjadi istriku," jelas Bizard yang membuat Bianca semakin tersipu.
Dia memalingkan wajah, tak sanggup untuk bersitatap dengan kedua netra milik Bizard. Apalagi kondisi tubuhnya yang seperti ini. Dia masih bau ikan, kulitnya juga hitam. Sama sekali tidak pantas untuk dilihat oleh Bizard.
"Aku merindukanmu, Bi," ucap Bizard dengan suara yang terdengar lirih. Namun, mampu membuat bulu-bulu halus di tubuh Bianca meremang. Karena jemari pria itu semakin berlarian turun hingga menyentuh dadanya.
Tak bisa bohong, jantung Bianca berdebar dengan sangat kencang. Rasanya hampir saja meledak. Dia terlihat gugup, apalagi saat Bizard mencoba untuk menurunkan resleting dress-nya.
__ADS_1
Dia tahu Bizard sangat merindukannya, terlebih tentang penyatuan mereka. Karena dia pun merasakan hal yang sama. Dia tidak ingin munafik, bahkan hampir setiap malam dia selalu dihantui oleh sentuhan Bizard yang tidak nyata.
Namun, ketika tangan Bizard ingin bergerak turun. Bianca langsung menahannya. Sumpah demi apapun, dia sangat malu. "Bee, aku belum mandi." Ucap Bianca cepat, lalu membuang pandangannya ke arah lain.
Lagi-lagi Bizard tersenyum. Karena untuk pertama kali Bianca terlihat begitu malu-malu padanya. Dia pun menghentikan aksinya, berganti untuk meraih dagu runcing Bianca dan mengangkatnya.
"Kalau begitu kita mandi bersama. Aku 'kan juga belum mandi," ucap Bizard yang malah membuat Bianca terjebak. Wanita itu hendak memprotes keinginan Bizard, tetapi tidak bisa, karena pria itu kembali bicara.
"Tunjukan di mana kamar mandinya!" pintanya sambil mengedarkan pandangan. Belum sempat Bianca menjawab, Bizard sudah berhasil menemukan apa yang ia cari. Dia sangat yakin, dibalik kain bercorak itu adalah tempat yang biasa digunakan oleh Bianca untuk membersihkan diri.
Tanpa aba-aba Bizard langsung mengangkat tubuh Bianca. Hingga wanita itu reflek mengalungkan tangan di leher Bizard. "Bee, kamu ini apa-apaan? Aku ini berat, jadi turunkan aku."
Pipi Bianca tidak bisa untuk tidak memerah. Akhirnya dia hanya bisa menyembunyikan diri di dada bidang Bizard. Hingga mereka benar-benar masuk ke dalam bilik kamar mandi. Hanya ada satu kain yang menjadi penutup ruangan itu. Membuat kaki keduanya terlihat dari luar.
Namun, siapa peduli? Karena tidak ada satu pun orang yang bisa mengganggu mereka berdua yang sedang mengobati rindu.
Bizard melepaskan semua pakaian yang Bianca kenakan. Hingga membuat tubuh wanita itu benar-benar polos. Lagi-lagi Bianca memalingkan wajah, karena dia sangat malu untuk bersitatap dengan kedua netra milik Bizard, apalagi saat pria itu melakukan hal yang sama, hingga Bianca pun bisa melihat keindahan itu lagi.
__ADS_1
Dengan reflek Bianca menggigit bibirnya kuat. Dia terus membeku sampai Bizard mengelus lembut perut buncitnya. Perlahan, Bizard mengecupi bahu polos Bianca, hingga menyisakan sengatan yang begitu dahsyat.
Lama semakin lama sentuhan itu membuat Bianca tak bisa menahan dirinya. Hingga akhirnya dia pun menyerah. Sebuah suara lolos dari mulutnya, membuat Bizard tersenyum puas.
Tempat ini memang tidak mewah. Namun, terasa begitu istimewa, saat kita bersama dengan orang yang kita cinta. Bizard mengambil jeda sejenak, untuk mengguyur tubuh keduanya. Bianca sedikit menggigil, tetapi dengan cepat Bizard menghangatkannya.
Mandi hanyalah sebuah alasan. Karena pada kenyataannya, baik Bizard maupun Bianca tidak bisa untuk menahan hasrat di tubuh masing-masing.
Setelah beberapa guyuran air, Bizard menyerang bibir Bianca, sementara kedua tangannya begitu lihai dalam hal menjamah. Wanita itu terus mendesaah tertahan, apalagi saat Bizard menyesap puncak dadanya.
Sebuah rasa yang kembali dia temukan. Hingga dengan cepat membuatnya basah. Bianca menatap Bizard dengan tatapan mata sayu. Dan Bizard tidak bisa menahannya lebih lama lagi, dia mengangkat tubuh Bianca, mereka keluar dengan tubuh yang basah menuju ranjang, tempat yang biasa Bianca gunakan untuk melepas lelah.
Di atas ranjang sempit itu, Bizard mengungkung tubuh Bianca. Tidak ada kata yang terucap, tetapi sebuah suara yang lolos dari bibir Bianca menunjukkan bahwa mereka sama-sama bahagia melakukan ini semua.
Detik selanjutnya adalah pagelaran tanpa busana yang hanya dimengerti orang dewasa saja.
***
__ADS_1
Lanjutkan dengan uler masing-masing 😝😝😝