
Setelah mengatakan itu semua, Bianca langsung mengambil barang-barangnya, dan keluar dari apartemen.
Dia berjalan sambil menyeka air matanya yang turun dengan lancang. Sesekali dia juga mengelus perutnya yang masih rata, mencoba untuk meyakinkan diri terhadap semua keputusannya.
Ya, kini dia tengah mengandung anak Bizard. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, sebab setelah melihat kemarahan pria itu ketika mengetahui Joana mengonsumsi pil kontrasepsi, Bianca langsung memutuskan untuk berhenti dan membuang semua pil itu.
Dengan dorongan rasa cinta yang mulai tumbuh di hatinya, dia membiarkan benih yang Bizard tanam tumbuh dan berkembang di rahimnya.
Dia baru saja tahu setelah menyadari bahwa dia telah terlambat datang bulan. Dan dia langsung mengeceknya menggunakan alat tes kehamilan.
Hasilnya positif, saat itu Bianca langsung tersenyum, meskipun dalam hati dia meringis kesakitan, sebab ia tahu bahwa cepat atau lambat, dia akan kehilangan Bizard.
"Setidaknya aku bisa hidup dengan anakku, aku bisa melihat dan menatap wajahnya ketika aku merindukanmu, Bee," lirihnya pada saat itu.
Di basemen, Bella sudah menunggunya. Sebab ini semua memang sudah ada dalam perkiraan mereka. Dan pada akhirnya rencana mereka berhasil, Joana telah tahu semuanya. Tentang ia dan Bizard, juga tentang balas dendamnya.
Sesaat Bianca merasa sangat puas, karena melihat hidup Joana hancur, persis seperti dirinya beberapa tahun lalu. Namun, saat mengingat tentang Bizard, hati Bianca tak bisa bohong, dia merasa sangat menyesal karena telah menyakiti pria itu.
Saat Bianca masuk ke dalam mobil, tangis wanita itu kembali pecah. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan terus terisak kencang. Dan Bella tahu alasan mengapa Bianca menangis.
Sebab ini semua yang ia khawatirkan sejak awal, Bianca akan jatuh cinta pada Bizard, dan menyebabkan goresan luka yang begitu mendalam.
__ADS_1
"Kenapa tidak memilih bertahan saja?" tanya Bella, dengan bola matanya yang berkaca-kaca. Melihat Bianca yang menangis, dia pun ikut merasa iba.
"Dia pasti membenciku, Bel. Di matanya aku hanya wanita jahat, pendendam dan dipenuhi amarah. Dia tidak akan mungkin menerima aku kembali begitu saja. Aku harus sadar itu," balas Bianca dengan bibir yang senantiasa bergetar hebat.
Pelan, dia menyentuh perutnya. Tempat buah cinta dia dan Bizard berada.
"Sejak awal aku sudah memperingatimu, Bi. Jangan main hati, dan sekarang kamu tahu kan bagaimana akibatnya?" tanya Bella sambil menatap ke arah Bianca yang tergugu.
Bianca semakin menangis kencang, dia tahu dia salah. Dia yang terlalu gegabah karena mengikutsertakan perasaannya dalam misi balas dendam ini. Hingga akhirnya, dia pun ikut merasakan sakit hati.
Wanita yang sudah menganggap Bianca sebagai adiknya itu mengangkat tangan, kemudian mengusap bahu Bianca dengan sayang. Dia tahu bahwa urusan hati memang sangat sulit untuk dipecahkan. "Ini resiko yang harus kamu tanggung. Jadi kuat kan hatimu. Kita besarkan dia sama-sama yah."
"Hatiku sakit, Bel. Aku tidak sanggup melihat dia terluka. Terlebih karena aku." Bianca semakin tergugu, dan Bella tidak bisa diam saja. Dia langsung menarik tubuh Bianca dan memeluknya.
Menepuk punggung setegar karang itu beberapa kali agar Bianca segera tenang. Dia berjanji akan melakukan apapun untuk Bianca, dan selalu berada di sisi wanita itu. Meskipun kelak madam Gevanya akan menolak keputusan Bianca. Semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa.
***
Bizard langsung diminta untuk pulang ke mansion. Dan semua keluarganya sudah menunggu di sana. Dengan langkah kaki berat, dia menapaki kediaman kedua orang tuanya. Mata pria itu senantiasa memerah, sebab masih ada sisa tangis di sana.
Belum sembuh luka yang kemarin, ada luka lain lagi yang jauh lebih menganga. Dan kini ia pun harus siap untuk menerima kemarahan Ken dan Zoya. Sebab dia sadar betul konsekuensi yang harus ditanggungnya, setelah rahasia ini terbongkar semua.
__ADS_1
Bizard dibuat terkejut saat tubuhnya ditarik dengan paksa. Terlalu banyak melamun membuat dia tidak sadar, bahwa sedari tadi Ken telah melangkah ke arahnya.
Plak!
Satu tamparan keras melandas di pipi Bizard saat kerah jasnya dilepaskan oleh Ken. Menyisakan rasa panas dan juga kebas sekaligus, untuk pertama kalinya Ken menghajar dia.
Tatapan tajam Ken berikan untuk putra keduanya. Dia tidak menyangka bahwa Bizard bisa melakukan itu semua. Seketika amarah memenuhi dada pria paruh baya itu, dia kembali menarik kerah kemeja Bizard dan berteriak dengan lantang.
"Kenapa tidak bunuh aku saja? Hah? Kenapa tidak bunuh aku saja kalau kamu berani bersikap seperti itu? Mati-matian aku menjunjung kesetiaan, seenaknya kamu berselingkuh! Di mana harga dirimu?!"
Bizard langsung tertegun, sekaligus tak punya muka. Karena ia telah menghancurkan kepercayaan keluarganya. Dia terlalu egois, dan tidak memikirkan bagaimana perasaan ayah dan ibunya.
Dan dia semakin dibuat terkejut saat satu tamparan kembali menghantam pipinya.
Plak!
Sebuah tamparan yang berasal dari tangan Zoya. Wanita pertama yang telah mengenalkan dia cinta.
***
Abis tisuuuuu gue😩😩😩 pokoknya minta ganti, Bang!
__ADS_1