
"Aku tidak ingin di sini!" ketus Bianca sambil menahan air matanya. Dia mencoba untuk membangun dinding kokoh dalam hatinya, agar ia tidak mudah goyah.
Dia harus mengingatkan hati dan pikirannya, bahwa ini semua salah, selamanya Bizard bukanlah pria yang ditakdirkan untuknya.
Berhasil, Bianca sukses menarik kembali sesuatu yang hampir saja menetes. Dia membuang wajah dan mencoba untuk menguasai dirinya.
Bianca tidak ingin lengah sedikitpun karena menggunakan perasaan dalam hubungan ini. Tugasnya hanya membuat Joana menderita, bukan malah mengemis cinta pada pria yang ada di hadapannya.
Bizard menarik tangan Bianca untuk masuk ke dalam dapur. Dia mengunci pergerakan wanita itu di depan meja pantry, Bizard bisa melihat dua bola mata Bianca yang sempat berkaca-kaca. Dan Bizard tahu wanita itu marah karena menyadari dia bercinta dengan Joana.
"Sayang," panggil Bizard dengan suara yang begitu pelan sambil melirik ke belakang, memastikan bahwa situasi benar-benar aman.
Bianca terdiam, dia tak menjawab panggilan Bizard. Dia malah melihat ke arah lain, yang penting bukan wajah suaminya.
Akan tetapi Bizard tak menyerah, dia mencengkram dagu Bianca hingga wanita itu mengangkat wajah. "Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Aku tidak mungkin menolaknya, yang ada nanti dia curiga."
Bianca membalas tatapan Bizard yang terasa begitu lekat. Dia bisa melihat kesungguhan pria itu, hingga membuat hatinya seketika menghangat.
"Tetap saja aku tidak suka!" ketusnya.
"Aku tahu kamu cemburu, tapi aku tidak akan mungkin bisa menghindarinya, Sayang. Ayolah, mengerti posisiku."
"Kamu juga harusnya mengerti aku dong, Bee."
"Kamu maunya bagaimana? Hem?"
"Aku tidak mau tinggal satu atap dengannya."
Bizard menghela nafas panjang, sementara otaknya mencoba memikirkan cara.
"Kamu ingin pindah ke apartemen? Kita pergi hari ini, oke? Kita bicarakan semuanya di sana. Tapi aku minta, jangan menatapku seperti itu," kata Bizard sambil menyelipkan anak rambut Bianca ke belakang telinga.
Mendengar itu, tentu saja Bianca merasa bahagia. Sebab Bizard benar-benar mengutamakan dirinya ketimbang Joana, tak sia-sia dia menunjukkan wajah sedih di hadapan Bizard, karena pada akhirnya pria itu terjatuh semakin dalam pada permainannya.
Bianca kembali meyakinkan hatinya, bahwa dia tidak akan lagi tergoda oleh pesona Bizard. Selamanya mereka hanyalah orang lain, yang tidak akan pernah bersatu.
__ADS_1
"Oke, aku tunggu di sana."
"No, kita berangkat bersama. Seperti biasa, aku akan memberikan alasan padanya."
Pelan-pelan Bianca mulai mengulum senyum, dia memberanikan diri untuk memangkas jarak dan menyatukan bibir mereka berdua. Namun, belum ada beberapa detik tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara teriakan Joana.
"Bee!"
Bizard dan Bianca yang tengah berciuman langsung gelagapan, bahkan jantung mereka hampir saja terlepas. Bizard segera menjauh dari tubuh Bianca, begitu pun dengan wanita cantik itu.
"Bee, kenapa kamu lama sekali mengambil minumnya?" teriak Joana dari dalam kamar.
"Iya, Sayang, sebentar. Aku sekalian bawa sarapan buat kamu," balas Bizard tak kalah berteriak. Tidak ada balasan dari Joana, dan Bizard yakin bahwa wanita itu percaya padanya.
Sekali lagi, Bizard melangkah ke arah Bianca dan mengecup bibir istri keduanya itu. "Siap-siap sana!" Titah Bizard, Bianca langsung patuh, dia melenggang ke kamarnya untuk bersiap-siap dan pergi bersama Bizard.
***
"Kamu mau pergi juga?" tanya Joana melihat Bianca yang berpakaian rapih.
"Bian, kamu mau pergi?" tanya Bizard pula. Pura-pura tidak tahu jika Bianca pun ingin keluar dari rumah.
"Iya, Tuan."
"Kebetulan saya juga mau menghadiri seminar. Mau bareng?"
"Apa tidak merepotkan, Tuan?"
"Halah, biasanya juga kamu repotin suamiku!" sambar Joana, tak suka melihat basa-basi Bianca. Sebab selama Bianca bekerja, wanita itu selalu ikut mobil suaminya.
"Sayang," panggil Bizard menegur Joana. Akan tetapi wanita itu malah melengoskan wajah, malas melihat asisten rumah tangganya.
"Kamu hati-hati, Sayang, ingat kalau sudah selesai langsung pulang," ucap Joana, kemudian melangkah ke dalam kamar.
Sementara Bizard dan Bianca saling pandang. Detik selanjutnya, mereka sama-sama tersenyum lebar. Dan akhirnya mereka bisa bergerak dengan leluasa, apalagi saat mereka sudah sampai di apartemen, rasanya dunia hanya milik mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu benar-benar ingin pindah?" tanya Bizard saat mereka sudah berada di dalam kamar. Kini, Bianca menggunakan lengan Bizard sebagai bantalan.
"Iya, Sayang. Kamu pasti mengerti bagaimana perasaanku saat itu," jawab Bianca dengan mimik wajah sendu, satu tangannya bertengger di pinggang Bizard, berlaku semakin manja. Dia sudah mendapatkan hati pria itu, jadi untuk apa bertahan sebagai pembantu.
Cup!
"Maafkan aku yah. Walau bagaimanapun Joana tetap istriku, Honey."
"Aku mengerti. Dan setelah aku pindah ke sini, kamu harus sering-sering datang menjengukku."
"Tentu saja, aku tidak mungkin bisa jauh darimu lebih lama."
Bianca tersenyum manis. Namun, senyum itu memudar saat Bizard berkata. "Tapiβ"
"Tapi apa?" tanya Bianca dengan kening yang berkerut.
"Aku ingin kamu hamil, aku ingin punya anak darimu, Bian," kata Bizard sesuai dengan apa yang ada di dalam lubuk hatinya. Dia menginginkan buah cinta di antara keluarga kecilnya.
Deg!
"Tapi statusku masih dirahasiakan, Bee! Aku tidak mungkin hamil anakmu," tolak Bianca dengan alasan yang cukup logis. Lagi pula, Bianca tidak mungkin mau mengandung anak pria yang ada di sampingnya.
Bizard membelai wajah Bianca dan menatap dua bola mata berwarna perak itu. "Setelah kamu hamil, aku janji, aku akan katakan semuanya pada Joana. Lagi pula, sebentar lagi kamu pergi dari rumah, jadi dia tidak akan mungkin curiga."
Bianca menarik nafas dalam-dalam, untuk saat ini dia hanya perlu mengiyakan semua keinginan Bizard dan membuat pria itu merasa senang. "Oke, aku akan hamil anakmu."
Mendengar itu, Bizard langsung tersenyum sumringah, bahkan kecintaannya pada Bianca kian bertambah.
"Aku mencintaimu, Honey."
"Aku juga mencintaimu, Bee."
***
Jempolnya jangan lupa digoyang πππ
__ADS_1