Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
2B (1)


__ADS_3

Bizard semakin memperdalam ciumannya. Melepaskan semua rindu yang ia punya untuk wanita satu ini. Bohong kalau ia tidak cinta. Karena nyatanya kepergian Bianca hampir membuatnya gila.


Terlepas adanya anak atau tidak di antara mereka. Bizard tidak bisa membohongi dirinya. Kecewa hanya sebuah alasan, sebab dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia membutuhkan Bianca, seperti tumbuhan yang membutuhkan udara.


Awalnya Bianca hanya terdiam. Namun, dia tidak bisa untuk tidak hanyut dalam sentuhan lembut bibir Bizard. Hingga perlahan-lahan, dia pun mulai membalasnya.


Bianca sedikit meremat dada Bizard, sementara deru nafas mereka saling beradu dan menjadi satu. Seolah berkejaran dengan senja yang semakin tenggelam.


Tepat setelah langit menjadi gelap, Bizard melepaskan pertautan mereka. Dengan nafas terengah, dia mengusap bibir Bianca yang terlihat memerah.


"Kita pulang besok saja. Sekarang tunjukkan padaku, di mana selama ini kamu tinggal," ucap Bizard, ingin mengetahui bagaimana kondisi Bianca selama wanita tidak ada di sisinya. Apakah wanita itu hidup dengan berkecukupan, sedangkan dia sedang hamil besar.


Bianca terlihat ragu, tetapi tatapan mata Bizard tidak bisa ia lawan. Sehingga akhirnya dia pun mengangkat tangan, untuk menunjukkan jalan ke arah rumahnya. "Di sana."


Bizard menganggukkan kepala, dia mengambil wadah yang sempat dijatuhkan Bianca, kemudian meraih tangan wanita itu untuk digenggamnya.


Sebuah momen yang membuat mata Bianca terasa panas. Dia meneguk ludahnya susah payah, merasa bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka. Namun, genggaman Bizard mengatakan bahwa apa yang dialaminya sekarang, adalah kenyataan.


Akhirnya mereka melangkah bersama, dan selama perjalanan itu, bayi-bayi kecil yang ada di dalam perut Bianca terus-menerus bergerak. Seolah tahu, bahwa ayah mereka telah datang untuk menjemput dan membawa mereka pulang.

__ADS_1


Di belakang punggung Bizard, Bianca tersenyum lebar dengan matanya yang basah. 


Kalian pasti senang ya. Batin wanita cantik itu sambil mengusap sekilas perut buncitnya.


Hingga tak berapa lama kemudian, mereka sampai di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu-kayu kelapa. Bizard menelisik rumah tersebut, tak berbeda jauh dari rumah-rumah yang dilewatinya.


Namun, benarkah Bianca sanggup tidur di tempat seperti ini? Sedangkan ia tahu bagaimana cuaca di sekitar pantai, sudah pasti Bianca kedinginan setiap malam.


"Kamu benar-benar tinggal di sini, Bi?" tanya Bizard memastikan, dan Bianca langsung mengangguk sebagai jawaban.


Bianca pun melepaskan genggaman tangan mereka, mengajak Bizard untuk masuk ke dalam rumahnya. Dia terlebih dahulu menaruh wadah yang berisi ikan di sudut ruangan, kemudian mengambil air minum.


"Aku hanya punya air putih, Bee," ucap Bianca. Namun, Bizard malah tersenyum. Dia kembali meraih pergelangan Bianca, lalu menaruhnya di atas pipi.


Mata Bianca senantiasa berkaca-kaca, dia sedikit mengulas senyum, karena merasa bahagia dapat bertemu kembali dengan pria yang dicintainya.


Namun, dia juga harus tahu diri, jika ternyata yang menjadi tujuan Bizard hanyalah anak mereka. Bukan dia.


"Apa kamu mencariku karena anak kita, Bee?" tanya Bianca, memberanikan diri untuk buka suara. Karena jika memang benar begitu adanya. Maka, dia tidak boleh berharap lebih, apalagi sampai berpikir bahwa Bizard akan kembali menerimanya.

__ADS_1


Bizard langsung menghentikan gerakan tangannya. Lantas dia bangkit, dan menatap Bianca dengan sorot mata yang begitu dalam. "Apakah di matamu aku sepicik itu?"


Lolos, air mata Bianca kembali luruh. "Aku hanya tidak ingin berharap. Karena aku sadar apa kesalahanku."


"Jika memang begitu. Mari kita bangun kehidupan kedua. Di mana kamu dan aku hanya bisa saling mencinta, bukan mengecewakan. Aku mencintaimu, Bi. Terlepas masalah yang kemarin, aku tahu kamu hanya korban. Tapi kamu salah dalam menjalankan misimu, karena kamu terlanjur mencintaiku. Aku tidak perlu bukti, karena buktinya sudah ada di depan mataku," jelas Bizard, sambil mengangkat tangan untuk mengelus perut buncit Bianca.


"Di sini, buah cinta kita," sambungnya.


Wanita hamil itu semakin terisak-isak. Kini dia pun percaya, bahwa Bizard memang sungguh mencintainya. Tanpa aba-aba Bianca menghamburkan diri untuk memeluk tubuh kekar Bizard yang kini terlihat lebih kurus. 


"Aku juga mencintaimu, Bee. Sangat, aku sangat mencintai kalian," balas Bianca.


***


Tuh udah gue kabulin 😝😝 mana mpot dan kembangnya🤸🤸


Ngothor juga mau kasih tahu, jangan lupa pantengin terus profilku, karena akan ada yang baru. Hehe ...


Ini kisah Choco, aku rombak idenya. Karena rencananya akan aku daftarkan lomba. Jadi jangan bilang kok temanya sama sama yang onoh, yang inih kucruttt. Karena setiap author pasti menyajikan dengan cara yang berbeda.

__ADS_1


Salam anu 👑



__ADS_2