
Percintaan keduanya benar-benar berlangsung dengan sangat panas, Bizard seperti menemukan sesuatu yang tidak pernah lagi dia dapatkan. Hingga dia merasa sangat bahagia saat berhasil menggagahi Bianca.
Dari siang sampai malam, keduanya terus bermalas-malasan di tempat tidur. Bahkan sedikitpun Bizard tidak mengizinkan Bianca untuk keluar dari kamar.
Namun, karena malam itu mereka tidak melakukan apapun. Mereka memutuskan untuk tidur lebih awal, Bizard menarik tubuh Bianca, mendekap wanita itu sepanjang ia terlelap.
Hingga pagi datang dengan cepat, tetapi Bizard yang begitu menikmati kehidupannya yang sekarang, terlihat enggan untuk membuka mata. Berbeda dengan Bianca yang kini sudah mulai mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indera penglihatannya.
Dia menatap ke samping, di mana sang suami masih mendengkur halus dan memeluk dirinya. Bianca mengulum senyum sambil memindai wajah tampan Bizard.
Cup!
Kecupan selamat pagi dia daratkan pada bibir tipis Bizard. Kemudian ia mencoba untuk bangun, Bianca meringis karena masih merasakan sakit di inti tubuhnya. Lagi pula dia masih tak habis pikir, kenapa benda panjang nan besar itu bisa menembus miliknya.
Mengingat itu semua, membuat Bianca merinding. Hingga dia segera menggelengkan kepala.
Bianca mencoba untuk bangkit dari ranjang, karena ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan memasak sarapan. Namun, fokus Bianca teralihkan pada benda pipih milik Bizard yang tergeletak di atas nakas.
__ADS_1
Ya, benda itu bergetar.
Bianca melirik ke arah Bizard yang masih setia memejamkan mata. Mumpung pria itu masih tidur, Bianca memberanikan diri untuk melihat siapa yang menelpon Bizard sepagi ini. Beruntung, ponsel Bizard tidak dikunci, sehingga Bianca bisa leluasa memainkannya.
Bianca menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis, melihat Joana yang berusaha untuk menelpon Bizard. Sebenarnya dari kemarin ia tahu bahwa Joana terus melakukan hal itu, tetapi karena Bizard tengah bercinta dengan dia, pria itu mengabaikan panggilan dari istri pertamanya.
"Hah, jangan harap kamu bisa mengganggu kami!" gumam Bianca, kemudian menolak panggilan Joana dan menghapus riwayat telepon tersebut.
Sementara di ujung sana, Joana langsung mengernyitkan dahi, untuk pertama kalinya Bizard menolak panggilan darinya. "Ini pasti salah, Bizard tidak pernah berani menolak panggilan dariku. Mungkin dia masih tidur, jadi tidak sengaja mematikannya."
"Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Buktinya semalam Bee masih membalas pesanku. Dia habis lembur dan pastinya dia kelelahan."
Ya, Bizard bohong pada istrinya, mengatakan bahwa dia lembur dan tidak pulang ke rumah. Dia tidur di kantor, membiarkan Bianca sendirian di rumah mereka.
Dan di antara kegundahan itu, Dylan melangkah mendekati bos-nya. Pria berkacamata itu menepuk bahu Joana, karena yang dipanggil tidak lekas memberikan respon.
"Bu, sarapan sudah siap," ucapnya, saat Joana sudah menoleh.
__ADS_1
"Oh iya, kamu duluan saja, nanti saya menyusul."
"Baik, Bu. Dan jangan lupa, kalau nanti malam ada perkumpulan para pembisnis di Hotel Marina Bay."
"Iya, Dylan, terima kasih sudah mengingatkan saya."
Dylan mengangguk. "Sama-sama, Bu. Saya keluar dulu, jika anda membutuhkan sesuatu, seperti biasa Ibu bisa panggil saya."
Lantas setelah itu Dylan keluar dari ruangan Joana. Meninggalkan wanita cantik itu sendiri dengan segala pikiran yang berkecamuk. Belum lagi tentang pesan-pesan yang semakin meneror dirinya.
Sungguh, dia tidak tahu apa motif seseorang dibalik pesan itu. Sepertinya dia harus meminta Dylan menyewa detektif untuk melacak nomor seseorang itu. Supaya dia tahu, siapa yang berani bermain-main dengan dia.
"Andai kamu tertangkap, aku tidak akan melepaskanmu! Aku akan membuatmu mendekam di penjara, karena berani mengganggu kehidupanku!" gumam Joana.
***
Jangan lupa like, koumen supaya makin anu
__ADS_1