
"Sayang baik-baik ya di rumah," ucap Joana saat mereka berpisah di Bandara. Saat ini Bizard sedang mengantar kepergian Joana ke luar negeri, pria itu mengulum senyum sambil menganggukkan kepala, baru kemudian mengelus puncak kepala Joana.
"Kamu juga hati-hati, sesibuk apapun jangan lupa makan, jaga kesehatanmu di sana," jawabnya.
Joana memeluk Bizard sekilas, juga meninggalkan kecupan di bibir pria tampan itu. Sebelum akhirnya, mereka benar-benar berpisah. Lambaian tangan Joana, bagai gerbang terbuka bagi Bizard untuk melangkah semakin jauh bersama Bianca.
Karena setelah itu, Bizard langsung pergi dan menjemput Bianca. Dia akan menggunakan kesempatan ini, untuk menikahi wanita cantik itu. Tidak ada Joana di sisinya, maka seharusnya pernikahan mereka berjalan dengan mulus. Yang penting sekarang mereka bisa sah.
Hari ini Bizard dan Bianca sengaja tidak masuk kantor, sebab pria itu sudah merencanakan semuanya. Dia akan membawa Bianca ke salah satu pemuka agama, sebab mereka akan menikah secara sembunyi-sembunyi. Hanya ada beberapa saksi yang tentunya dibayar oleh Bizard. Dan salah satunya adalah Bella, selaku saksi dari pihak wanita.
Sebelum pengucapan janji suci pernikahan, Bianca lebih dulu didandani oleh Bella. Dia menggunakan gaun yang sengaja Bizard pesan secara diam-diam dari butik adiknya—Eliana.
Bizard menunggu Bianca dengan rasa cemas, jantungnya berdebar kencang persis seperti saat ia hendak menikahi Joana. Bahkan tangannya senantiasa mengeluarkan keringat dingin, tanda bahwa dia benar-benar gugup.
Maafkan aku, Joana. Maafkan aku.
Pria tampan itu terus bergumam, ada rasa sesak saat ia mengingat tentang Joana, tetapi sisi kosong dalam hatinya terus meyakinkan bahwa ia tidak salah, ia berhak bahagia, meskipun jalur yang ia tempuh berbeda dari para saudaranya. Itu semua lebih baik, dari pada ia terus-menerus mengemis cinta pada istri pertamanya.
Bizard memejamkan mata sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam, dia berusaha untuk tenang. Dan kegundahan hati Bizard seketika hilang, saat seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik ruangan, memakai gaun putih dengan rambut yang tergerai.
__ADS_1
Bizard terpaku, melihat Bianca yang diapit oleh Bella, wanita itu terlihat semakin cantik dengan polesan make up sederhana, bola matanya yang terang membuat Bizard tak dapat mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Jantung pria tampan itu semakin berpacu dengan cepat, saat Bianca mengulum senyum tipis dan menunjukkan rona merah di pipinya. Bizard tak sanggup berkata-kata, apalagi saat Bianca sudah sukses berdiri di depannya.
Bella meraih tangan Bizard, menyerahkan tangan Bianca pada pria tampan itu. "Aku hanya minta satu darimu, bahagiakan dia."
Setelah mengatakan itu Bella mundur, sementara Bizard sama sekali tak mengalihkan tatapannya pada wajah Bianca. Pria itu tersenyum, kemudian berkata. "aku tidak bisa berjanji, tapi untukmu, aku akan mengusahakannya. Aku akan selalu membuatmu bahagia di sampingku."
Bianca tidak bisa untuk tidak tersenyum, semakin menunjukkan kebahagiaannya. Hingga akhirnya janji suci itu kembali Bizard ucapkan, tetapi kali ini untuk wanita yang berbeda. Dan entah kenapa, Bianca meneteskan air matanya saat ia benar-benar sudah sah menjadi istri kedua dari Bizard—suami musuhnya.
Bizard memasangkan cincin di jari manis Bianca, kemudian mencium kening wanita itu begitu dalam.
"Astaga!" Zoya tersentak, dengan perasaan yang tiba-tiba tak enak. Dia seperti merasakan ada sesuatu yang terjadi, tetapi entah apa.
Ken yang duduk di meja makan langsung menghampiri Zoya, dan memegang pipi wanita berkepala empat itu. "Sayang, ada apa?" Tanyanya cemas.
Zoya terlihat pucat, sementara jantungnya terus berpacu dengan cepat. Pikirannya mulai melalang buana, mencemaskan semua anaknya.
"Sayang, perasaanku tiba-tiba tak enak. Ada apa yah? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan anak-anak kita?" jawab Zoya apa adanya, salah satu asisten rumah tangga yang melihat itu langsung membersihkan serpihan beling di kaki Zoya, sementara wanita itu langsung dipapah untuk duduk terlebih dahulu.
__ADS_1
Ken mengambil air minum, kemudian menyerahkannya pada Zoya. "Sayang, minum dulu."
Patuh, Zoya langsung menenggak air putih yang diberikan oleh suaminya. Dia seperti kehausan, hingga dalam beberapa teguk, air tersebut langsung tandas.
"Kalaupun ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, pasti mereka menghubungi kita, Sayang."
"Tapi, Hubby."
Ken mengelus puncak kepala Zoya, mencium lembut kening wanita cantik itu. "Jangan terlalu banyak berpikir. Nanti mengganggu hormonmu, kamu sedang menyusui, Baby. Tenanglah, nanti kita telepon mereka satu-persatu yah." Pria paruh baya itu berusaha untuk meyakinkan istrinya.
Zoya terdiam, meskipun perasaannya masih tak karuan, tetapi dia tak bisa egois, benar apa yang dikatakan oleh Ken, lebih baik dia menelpon anak-anaknya, apalagi De dan Bee yang kini sudah tidak tinggal di mansion.
"Iya, Sayang. Kalau begitu aku akan menelpon mereka sekarang, aku akan memastikan bahwa bayi-bayi kecilku baik-baik saja," jawab Zoya sambil berusaha tersenyum.
Ken mengangguk, sekali lagi dia mengecup kening Zoya.
***
Tuh anakmu bandel, Mom🙄🙄
__ADS_1