
Setelah pulang dari persidangan, Bianca dan Bella pergi ke tempat madam Gevanya. Mereka akan membicarakan tentang Bianca yang ingin pindah dari kota ini dan hidup dengan anaknya.
Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu semua. Sebab baik Bella maupun Bianca takut jika keluarga Joana kembali melakukan serangan. Terlebih Bianca ingin menjauh dari bayang-bayang pria yang dicintainya, karena ia merasa bahwa mereka tidak akan pernah bisa bersama.
Dari jauh-jauh hari Bella telah menyiapkan semuanya untuk Bianca. Dari tempat, transportasi dan juga uang untuk memenuhi kebutuhan Bianca selama di sana. Sebuah pulau terpencil, yang memiliki segelintir warga.
Sementara madam Gevanya belum mengetahui sama sekali bahwa Bianca tengah hamil anak Bizard. Wanita itu kira setelah ini Bianca akan kembali padanya. Namun, pada kenyataannya tidak. Bianca ingin hidup normal dan bekerja untuk membesarkan buah hatinya dengan cara yang sederhana.
Sesampainya di tempat madam Gevanya, Bianca tak lantas turun. Sebab ia takut ibu angkatnya itu tidak akan setuju. Namun, Bella yang paham dengan bahasa tubuh Bianca, mencoba untuk meyakinkan wanita itu, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia akan membantu Bianca.
"Kamu tahu 'kan Madam menyayangimu, jadi percayalah padanya, bahwa dia pun menginginkan yang terbaik untuk hidupmu," ucap Bella dengan wajah yang sangat serius.
Bianca terdiam sejenak, dengan pikiran yang menerawang jauh, selama ini madam Gevanya sudah terlalu baik padanya. Menjadi sosok ibu yang diidam-idamkan oleh Bianca.
Namun, walau bagaimanapun bertahan di tempat ini adalah sesuatu yang salah. Dia tidak bisa membawa serta anaknya terjun ke dalam lembah hitam yang dapat menyengsarakannya.
Hingga akhirnya Bianca pun menganggukkan kepala, semakin menguatkan tekadnya.
"Aku akan mencoba percaya itu, Bel."
"Kalau begitu ayo keluar!" ajak Bella sambil mengelus lengan Bianca.
Bianca pun menurut, mereka keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumah madam Gevanya. Tidak ada satupun orang yang mampu menghalangi mereka, sebab keduanya adalah anak kesayangan wanita itu.
Tanpa membuang-buang waktu Bella langsung mengetuk pintu kamar madam Gevanya. Dia terus seperti itu hingga terdengar suara dari dalam sana. "Masuk!" Perintahnya.
__ADS_1
Melihat kedatangan Bella dan Bianca, tentu saja membuat madam Gevanya merasa sangat senang. Kedua bola matanya berbinar, hingga dia langsung bangkit dan menghambur ke arah Bianca, sosok yang selama ini dia rindukan.
"Baby, akhirnya kamu kembali," ucap madam Gevanya, membuat Bianca langsung tak bisa menguasai dirinya. Dia mencoba untuk tersenyum, meski getir. Sebab kedatangannya bukanlah untuk kembali, melainkan untuk pamit pergi.
"Madam, ada yang ingin kami bicarakan," ucap Bella lebih dulu. Dia tahu Bianca tidak akan sanggup untuk memberitahu semuanya, jadi dia selalu mengambil inisiatif.
Mendengar ucapan Bella, dan dengan melihat raut wajah di antara keduanya. Tentu saja membuat madam Gevanya langsung merasa curiga. Senyum di bibir wanita itu sirna seketika, bahkan ia langsung meregangkan pelukannya.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanyanya sambil melangkah ke arah ranjang. Tak bisa bohong, ia merasakan hatinya mulai tidak tenang.
Bella melirik ke arah Bianca, memberi kode untuk mendekat pada madam Gevanya. Di depan wanita itu, Bella dan Bianca berdiri dengan rasa bersalah. Sebab mereka tahu, ini semua akan melukai hati madam Gevanya.
"Bianca hamil anak pria itu, Madam."
Deg!
Namun, dengan cepat ia menghapusnya.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan meninggalkan aku?"
Sebuah pertanyaan yang membuat tubuh Bianca ambruk. Tepat di kaki madam Gevanya dia terisak. "Maafkan aku, Madam. Aku tahu salah, aku telah melanggar kesepakatan awal kita. Aku—aku mencintainya, tapi aku tahu bahwa kita tidak akan bisa bersama. Jadi, aku memutuskan untuk mengambil bagian dari dirinya. Aku akan membesarkan dia dengan seluruh cinta yang aku punya." Jelas Bianca sambil menundukkan kepala.
"Kamu ingin membuat hidupmu kembali menderita?"
Bianca menggeleng pelan, dengan cucuran air mata. "Aku akan bahagia bersama anakku, karena dia adalah harta paling berharga untukku sekarang." Wanita itu meraba perutnya, semakin meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan dengan semestinya.
__ADS_1
"Apa rencanamu?"
"Aku telah menyiapkan tempat tinggal untuk Bianca di sebuah pulau, Madam. Pulau terpencil yang tidak dihuni oleh banyak orang. Aku juga akan memberikan uang padanya, sebelum dia mendapatkan pekerjaan di sana," timpal Bella, ikut angkat bicara.
Mendengar itu semua madam Gevanya menganggukkan kepala. "Lalu setelah itu kamu akan melupakan aku?" Tanyanya pada Bianca, dia bersikap seperti itu sebab ia benar-benar menganggap bahwa Bianca adalah anaknya. Orang yang selalu ia jamin kebahagiaannya.
Bianca semakin terisak kencang, dengan kaki gemetar dia mencoba bangkit. Dan tanpa aba-aba dia memeluk madam Gevanya dengan erat. "Kau ibuku. Dan itu artinya anak yang ada di kandunganku adalah cucumu. Lalu bagaimana bisa aku melupakanmu? Aku hanya berpindah tempat, bukan untuk pergi selamanya. Jadi, kapanpun Madam merindukanku, datanglah … aku akan menyambutnya dengan sukacita."
Sukses, baru kali ini Bianca mampu membuat seseorang seperti madam Gevanya menangis haru. Dia membalas pelukan Bianca tak kalah erat, merasa memiliki keluarga yang begitu utuh. Sebab dalang masa lalu, menjadi alasan utama mengapa ia jatuh pada kehidupan malam yang penuh gemerlap. Namun, di balik itu semua dia hanyalah sosok jiwa kesepian, yang membutuhkan kehangatan.
"Aku akan mengizinkanmu pergi, tapi berjanjilah bahwa kamu akan selalu memberi kabar padaku. Katakan jika kamu ada dalam kesulitan, dan jangan pernah memendamnya sendirian," ucap madam Gevanya, yang membuat Bianca tersenyum dalam tangisnya.
Hari itu, mereka bertiga saling memeluk satu sama lain. Memberikan dukungan penuh pada Bianca untuk membesarkan anaknya, tanpa adanya seorang pria di antara mereka.
***
Setelah berkemas, Bianca langsung pergi hari itu juga. Kini dia sedang menuju dermaga, dengan diantar oleh Bella dan madam Gevanya.
Namun, sebelum benar-benar meninggalkan ibu kota. Bianca memiliki permintaan terakhir, yaitu melihat wajah Bizard—tidak peduli meskipun ia hanya bisa melihatnya dari jarak jauh, yang penting Bianca sudah memastikan bahwa Bizard baik-baik saja.
Hingga kini mobil yang Bella kendarai melewati mansion megah milik keluarga Tan. Bella sengaja mengurangi kecepatan, hingga Bianca bisa puas menatap bangunan mewah itu.
Air mata wanita hamil itu terus mengalir, dengan tangan yang terangkat, menyentuh kaca mobil, seolah tengah mengelus wajah Bizard. "Jaga dirimu baik-baik, Bee. Karena sekarang aku hanya bisa menjaga anak kita. Tapi tenang saja, sampai kapanpun hatiku akan selalu milikmu. Sosokmu tidak akan pernah tergantikan, karena aku benar-benar mencintaimu, sangat, aku sangat mencintaimu, Bee."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, mobil Bella langsung melandas dengan cepat. Membawa tangis Bianca yang kembali pecah. Karena kini dia harus kembali kehilangan cintanya.
__ADS_1
***
Selametan selametan😌😌😌