
Sejak penyelidikan hingga masuk ke persidangan, Bianca didampingi oleh paman dan bibinya. Mereka menganggap bahwa semua ini adalah kesempatan bagus, karena orang yang sudah menabrak Adam pasti akan memberikan uang yang banyak sebagai permintaan maaf.
Namun, dugaan mereka sepertinya salah. Karena keluarga Joana—wanita yang telah menabrak Adam tanpa tanggung jawab itu, telah menyiapkan rencana.
Di dalam persidangan, Joana didampingi oleh pengacaranya, seseorang yang dikenal begitu hebat pada masa itu. Tanpa segan keluarganya mengeluarkan uang untuk menyewa pengacara tersebut agar Joana tidak dipenjara, yang dapat mempermalukan keluarga Anderson.
"Rileks, semuanya akan baik-baik saja," ucap Evans, menenangkan sang anak, agar tidak terlalu tegang. Dia yakin Joana akan memenangkan persidangan.
Joana pun mengangguk patuh, bahkan ada senyum kecil yang menghiasi bibirnya. Berbeda dengan Bianca yang senantiasa menampakkan wajah marah, sekilas dia melirik ke arah Joana, dan kebencian itu semakin membara di hatinya.
Aku pasti bisa memberikan keadilan untuk Papa. Gumamnya dengan penuh percaya diri, tangannya pun terkepal kuat, sangat yakin bahwa Joana akan dihukum seberat-beratnya.
Akan tetapi Bianca harus menelan pil pahit, karena ternyata pihak Joana masih tidak mengakui kesalahannya. Mereka malah memutar balikkan fakta, bahwa Adam lah yang sengaja menabrakkan tubuhnya ke mobil Joana.
Dan pengacara Joana juga mengatakan bahwa kliennya itu tidak kabur. Melainkan takut, bahwa Adam adalah seorang penjahat yang akan berbuat macam-macam padanya. Atau bahkan menipu dia dengan pura-pura terluka.
Mendengar itu semua, tentu saja Bianca langsung mendelikkan matanya. Sebab ia tahu bagaimana perilaku sang ayah, sesulit-sulitnya mereka, Adam tidak pernah mengajarkan untuk bertindak bodoh seperti itu, apalagi sampai membahayakan nyawa.
"Papaku tidak mungkin berbuat seperti itu!" teriak Bianca tanpa kenal takut, ayahnya tengah difitnah dan dia tidak bisa diam saja.
"Tidak mungkin? Anda tidak tahu apa-apa, Nona. Mungkin ini memang sudah takdir Tuhan untuk mengambil nyawa ayah anda, karena dia ingin berbuat jahat pada klien saya. Bukannya mendapat untung, dia malah rugi," ucap pengacara Joana, membuat wanita itu langsung menarik sudut bibirnya ke atas. Semakin merasa menang.
__ADS_1
Seketika persidangan itu pun ricuh, karena Bianca hanya bisa mengamuk dan tak memiliki kekuatan apa-apa. Perusahaan ayahnya telah bangkrut beberapa bulan lalu, dan kini Adam hanya berprofesi sebagai karyawan biasa. Alhasil tidak ada yang membelanya.
Apalagi hukum telah dibeli oleh Evans, demi menjaga nama baik keluarganya. Sehingga hakim pun membuat keputusan bahwa Joana tidak bersalah. Dia bebaskan dari tuduhan pembunuhan itu, dan kini semuanya malah berbalik menyerang Bianca.
Karena pencemaran nama baik, keluarga Joana tidak terima. Sehingga mereka meminta ganti rugi, atau sebaliknya, Biancalah yang akan dipenjara.
Paman dan Bibi Bianca langsung membelalakkan matanya. Sebab apa yang ada dalam otak mereka tidak terealisasikan. Mereka pun ikut menyalahkan Bianca, karena gadis itulah yang paling terdepan untuk menjebloskan Joana ke penjara.
"Bibi sudah bilang tidak perlu! Sekarang kamu kan yang jadi kena getahnya. Mereka itu orang-orang kaya yang tidak mau kalah, munafik!" ketus Bibi Bianca, sementara gadis itu sudah menangis, dengan letupan amarah di dadanya.
Kebencian terhadap Joana semakin menggunung, membuat dia ingin mencabik-cabik wajah wanita itu.
"Papa tidak bersalah, Bi, dia yang salah!" teriak Bianca sambil menunjuk Joana yang pura-pura memasang wajah tertekan.
Dia diberi waktu 3 hari, dalam waktu sesingkat itu, jika Bianca tidak bisa memberikan uang denda, maka dengan terpaksa dia akan menjadi narapidana.
Di dalam penderitaannya yang tiada akhir, Joana malah memberikan senyum mengejek pada dirinya. Seolah mengatakan bahwa 'kamu tidak akan pernah bisa melawan orang yang memiliki uang seperti dirinya'
Seketika itu juga, dendam dalam diri Bianca mulai menjalar. Akan dia pastikan bahwa Joana akan membayar apa yang dia dapatkan hari ini, kehilangan seseorang yang ia sayang, juga kehidupan yang hancur lebur, nyaris tak tersisa.
"Aku akan melakukannya, Joana!" ucap gadis berkacamata itu, sambil mengepalkan tangannya sangat kuat.
__ADS_1
Semenjak hari itu, akhirnya rumah peninggalan orang tua Bianca dijual. Dia diusir karena dicap sebagai pembawa sial.
"Pergi dan jangan pernah datang lagi!" ucap Bibi Bianca sambil mendorong keponakannya, beban hidupnya sudah sangat banyak, jadi dia tidak mau menambahnya dengan menerima Bianca tinggal di rumahnya.
Ke sana ke mari, Bianca ditolak sehingga dia tinggal di jalanan. Sepanjang malam dia kedinginan dan terus menangis. Hingga suatu hari, ada beberapa orang yang mendekatinya.
Bianca yang polos akhirnya hanya bisa mengangguk patuh, karena dia diiming-imingi untuk bekerja. Dan di sanalah, dia bertemu dengan Bella. Gadis lusuh yang terlihat memiliki kulit hitam manis.
"Hai, namamu siapa?" tanya Bianca lebih dulu sambil mengulurkan tangannya.
Bella melirik sekilas, kemudian dia melihat seorang gadis yang berpenampilan tak jauh darinya. Bahkan terkesan culun, karena Bianca memakai kacamata.
"Aku Bella, kamu siapa?" jawab gadis itu sedikit terbata.
Bianca tersenyum karena merasa senang mendapatkan teman baru. Mereka pasti akan bekerja di tempat yang sama, jadi Bianca pikir mereka harus akrab. "Aku Bianca."
***
Cie yang kangen 🤣🤣🤣 maap ye updatenya agak kesendat, karena real life ku sedang sibuk guys🙏🙏🙏 Mohon doanya supaya bisa luangin waktu buat nulis, dan obati kangen kalian. Sehat-sehat semuanya🤗🤗🤗
Jangan lupa ini hari Senin, waktunya mpottt, kembang kupi nya guys😘😘😘
__ADS_1
Oh ya, ada yang bilang Bianca dipenjara, itu sama sekali nggak ada scene-nya ya, jadi itu salah. Dan untuk usia remaja, umur 19 itu memang masih dianggap remaja kok. Sumbernya ada di bawah 🙏