
Bizard menunggu Bianca di sofa kecil yang ada di kamar wanita cantik itu. Kini Bianca tengah berganti pakaian, menggunakan lingerie yang sempat mereka beli di pusat perbelanjaan.
Bizard mengendurkan dasinya, sementara jas yang sedari tadi ia kenakan sudah terlepas dan ia letakan di punggung sofa. Pria tampan itu menghela nafas, baginya waktu 5 itu sangat lama, sebab ia sudah merasa tak sabar untuk mengarungi lautan cinta bersama istri keduanya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka disusul tubuh gemulai milik Bianca yang terbungkus kain merah tipis yang memamerkan lekuk tubuhnya.
Deg!
Bizard langsung terpaku, jantungnya berpacu semakin cepat saat melihat Bianca memakai baju kesukaannya itu. Keperkasaannya mulai tergoda, apalagi pandangan mata Bizard kini hanya terfokus pada benda segitiga yang menutupi inti tubuh Bianca.
Nafas pria itu memburu, sorot mata Bizard tak terputus. Terus memindai lekukan indah Bianca yang tampak begitu sempurna.
Dada wanita itu tumpah ruah, seolah melambai dan menggodanya. Belum lagi leher jenjangnya yang terlihat putih bersih, bahkan terlihat lebih menggiurkan dari pada milik Joana.
Akhirnya Bizard jatuh pada pesona Bianca. Wanita itu melangkahkan kaki jenjangnya dengan menggigit bibir bawah menggoda.
Tanpa aba-aba Bianca duduk di pangkuan Bizard. Membuat gaun tersebut tersingkap. Wanita cantik itu mengangkat tangan untuk sekedar mengelus pipi suaminya. Sementara Bizard tengah menikmati aroma tubuh Bianca yang terasa menggugah selera kejantanannya.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Bianca dengan suara selembut mungkin. Menggoda Bizard yang sudah benar-benar bergairah.
"Luar biasa."
Kedua tangan Bianca beralih untuk melepaskan dasi yang masih mengikat leher Bizard. Kemudian membuka satu persatu kancing kemeja pria tampan itu, hingga menyisakan dada bidang Bizard yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Bizard hanya terdiam saat Bianca melakukan aksinya, hingga kini pria tampan itu mengulurkan jari jemarinya untuk menelusuri wajah cantik Bianca. Turun ke leher, dan beralih pada salah satu aset berharga milik istrinya.
"Kamu menyukainya?"
Bizard mengangguk.
"Sangat, aku sangat menyukainya, Honey," ucap Bizard sesuai apa yang ada di dalam hatinya. Bianca tersenyum, semakin membuat Bizard tak dapat menahan semuanya.
__ADS_1
Darah pria itu mendidih, semakin terasa panas, hingga dengan cepat Bizard merampas bibir Bianca. Dia mencengkram kecil dagu Bianca, dan memberikan lumataan yang begitu dalam.
Sementara Bianca berusaha membuka mulut, memberikan akses pada Bizard untuk menjelajahi apapun yang pria itu suka. Tangan Bizard mulai menjalar ramah. Menelusuri tempat-tempat yang membuatnya semakin bergetar.
Bizard melepaskan ciumannya yang sudah semakin menuntut. Memberikan ruang pada Bianca yang sudah tersengal-sengal. Wajah wanita itu seketika memerah, apalagi saat Bizard menaikkan kepalanya hingga mencapai telinga Bianca dan menghembuskan nafasnya di sana.
Menciptakan getaran yang begitu dahsyat di sekujur tubuh wanita cantik itu. Bianca ikut merasa panas, dan akhirnya ia hanya bisa melenguh saat Bizard menggigit daun telinganya dengan gemas.
"Aku sungguh menginginkanmu, Honey." kata Bizard dengan suara berat.
"Aku milikmu, Sayang."
Bianca semakin terbawa suasana, saat Bizard menyesap bagian lehernya. Sementara tangan pria itu mulai mengusap bagian dalam paha Bianca yang tak terhalang apa-apa. Bianca dibuat meleleh oleh sentuhan pria perkasa itu, hingga yang dapat dia lakukan hanyalah melenguh.
"Bisakah aku mengambilnya sekarang?" tanya Bizard sekali lagi, memastikan bahwa Bianca benar-benar setuju, sebelum mereka melakukannya semakin jauh.
"Aku sudah bilang, Sayang. Aku milikmu, apalagi yang kamu tunggu?"
Bizard membuang kemejanya ke sembarang arah. Kemudian menatap sayu pada dua bola mata Bianca yang terlihat berbinar indah. Bizard sudah hilang kendali hingga dengan cepat dia menarik baju tipis sang istri, menyisakan penutup yang tak seberapa besarnya, tangan Bizard merayap menyentuh salah satu dada.
"Jangan salahkan aku jika akhirnya aku tidak bisa berhenti," ucap Bizard sebelum ia kembali meraup bibir Bianca.
Bianca tak dapat menjawab apapun, sebab bibirnya kini terbungkam bibir Bizard. Pria itu melakukannya dengan sangat lembut dan tak terlihat terburu-buru, seolah banyak waktu yang mereka punya.
Ya, siapa yang akan mengganggu percintaan mereka setelah menikah. Sebab kini di rumah itu hanya ada mereka berdua. Seketika kamar itu didominasi oleh suara lenguhan Bianca, Bizard tak henti-hentinya mengalirkan sentuhan yang membakar gairah.
Bahkan dia sudah menjamah sesuatu yang bersembunyi di antara kedua paha Bianca. Sementara kini mulutnya penuh oleh dada sang istri, dia seperti seorang bayi kelaparan, hingga tak ada sedikitpun niat untuk melepaskan.
"Sa-yang …." Ucapan Bianca terputus. Dia mendongak merasakan getaran yang merasuk ke dalam jiwanya. Dia sudah tidak dapat kabur, sebab detik selanjutnya Bizard melepaskan sisa pakaian yang menutupi tubuhnya.
Tubuh kekar nan perkasa itu membuat Bianca meneguk ludah. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Bizard yang polos seperti itu, tetapi hari ini dia sungguh mengagumi keindahan milik suaminya.
__ADS_1
Bizard yang lebih berpengalaman menjadi pemegang kendali dalam permainan kali ini. Dia mengelus pipi Bianca yang sudah memerah sejak tadi, kemudian dia menggerakkan kepala untuk sekedar mencium bibir Bianca.
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi."
Dan sejurus dengan itu, Bianca terperangah saat Bizard mendorong tubuhnya untuk memasuki tubuh Bianca. Rasa sakit dan juga perih seketika memenuhi diri Bianca. Dia menjerit dan mencakar punggung Bizard sebagai pelampiasan.
Pria itu masih berusaha keras untuk mengoyak pertahanan istrinya. Bizard merasakan sesuatu yang berbeda, sebab dulu ia tidak perlu bersusah payah. Sementara dengan Bianca, sudah beberapa kali ia mencoba tetapi belum berhasil juga.
Di bawah kungkungannya Bianca sudah mulai pucat, sedangkan dia masih berusaha lebih keras, dia kembali meraup dada istrinya untuk mengalihkan rasa sakit yang Bianca rasakan, hingga akhirnya dalam hitungan detik ia berhasil menyatukan tubuhnya dengan milik Bianca.
Bianca langsung menganga, sementara Bizard merasa begitu lega. Pria itu terdiam sejenak, membiasakan tubuh mereka yang menyatu. Punggung Bizard sudah berdarah akibat cakaran kuku Bianca, tetapi dia terlihat tidak peduli.
Bizard mengusap lembut wajah cantik Bianca dan menatapnya dalam. Menyiratkan cinta untuk wanita itu—istri keduanya.
"Aku mencintaimu, Honey."
"Aku juga mencintaimu, Sayang."
"Kalau begitu sebut namaku, aku akan mulai bergerak."
Bianca mengangguk cepat.
"Bizard."
Pria tampan itu tersenyum, dan detik selanjutnya ia mulai menghentak tubuh Bianca. Hingga dia kembali merasakan bagaimana nikmatnya dalam bercinta.
***
Inikah yang kalian tunggu? Awas aja kalo ga ngasih sajen, Senin nih oey Senin🙄🙄🙄
Nah gue juga bawa cerita ga jelas, update suka-suka dan isinya cuma ada percakapan aja🤣🤣🤣
__ADS_1