
Joana tidak terima bahwa dirinya dinyatakan keguguran, sebab dia takut Bizard akan meminta cerai. Tidak, sedikitpun dia tidak mau berpisah dari Bizard. Dia harus menyembunyikan semua itu, dan membuat Bizard percaya bahwa dia masih hamil anak mereka.
Keluar dari rumah sakit, bukannya mengkhawatirkan tentang kondisi tubuhnya, Joana malah menelpon orang suruhannya yang mengawasi Bizard.
Dia tidak mau kehilangan jejak pria itu, sebab dia sudah sangat penasaran, siapa wanita yang berani merebut Bizard darinya.
"Apakah dia masih ada di sana?" tanya Joana dengan cepat. Kini dia sudah ada di dalam mobil, dan duduk di kursi kemudi.
"Masih, Nyonya."
"Apa kamu yakin?"
"Sangat yakin, karena saya terus mengawasi mobil suami anda."
"Kerja bagus, aku akan segera datang ke sana. Beritahu aku kalau mereka pergi, dan jangan sampai kehilangan jejak."
"Baik, Nyonya."
Setelah panggilan itu terputus, Joana langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Kemudian membawa kendaraan roda empat itu melenggang ke jalan raya.
Nafas wanita itu memburu, sementara detak jantungnya berdebar dengan keras. Dia tidak peduli sama sekali terhadap rasa sakit yang sesekali datang memenuhi perutnya. Yang terpenting sekarang hanyalah Bizard, dia tidak boleh lengah.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Bee. Kamu harus tahu itu," gumam Joana seraya menatap lurus pada jalanan yang harus ia lewati. Obsesi dan ambisi sudah memenuhi otak wanita itu, sehingga dia berpikir hanya dia yang boleh memiliki Bizard. Terlepas apapun masalah yang terjadi di rumah tangga mereka.
Dan tak berapa lama kemudian, mobil Joana memasuki area restoran di mana Bizard berada. Dia langsung menepikannya, dan keluar dari sana.ย
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat mobil milik suaminya. Hanya dengan menyadari itu saja, dada Joana terasa sangat sesak. Tanpa ba bi bu, Joana langsung mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam restoran.
Akan tetapi di pertengahan jalan, dia melihat Bizard di pintu utama bersama dengan seorang wanita. Jantung Joana seketika mencelos, apalagi saat Bizard meraih tangan wanita berambut pirang itu.
Jleb! Seperti ada yang menancap tepat ke ulu hatinya. Sumpah demi apapun, rasanya sangat sakit.
"Jangan harap kamu bisa lepas, tunggu aku!" ucap Joana penuh penekanan, kemudian melanjutkan langkahnya.ย
Namun, dia harus berlapang dada, karena belum juga sampai wanita itu sudah pergi, bersama Bizard yang akan kembali ke dalam mobilnya.
Bizard dibuat terkejut saat dia berbalik sudah ada Joana yang menunjukkan wajah marah. Wanita itu melotot tajam, dengan bibir yang mengatup rapat, belum sempat Bizard bicara Joana sudah meraih pergelangan tangannya, dan melayangkan sebuah pertanyaan.
"Siapa wanita itu?"
"Jawab aku dulu, siapa wanita itu?!" tegas Joana, sudah tak peduli dengan beberapa orang yang menjadikan mereka berdua sebagai tontonan gratis.
Bizard yang menyadari itu, sontak saja meraih pergelangan tangan Joana dan membawanya menjauh dari kerumunan. Wanita itu sedikit meronta, tetapi Bizard tidak peduli sama sekali.
"Bee, lepas! Kamu harus jawab dulu, siapa dia?!"
Joana menarik kasar tangannya hingga sukses terlepas. Bizard menghela nafas kasar, kini dia tahu pasti Joana tengah merasa curiga.
Dan entah ada urusan apa, tiba-tiba Joana berada di restoran yang sama dengannya. Padahal ia ke sana sedang menemui klien yang kebetulan seorang wanita.
"Dia klienku," jawab Bizard. Yang membuat Joana seketika memicing tajam.
__ADS_1
"Jangan bohong!" tudingnya, bahkan dengan berani dia menunjuk wajah Bizard di depan umum.
"Bohong apa sih, Jo? Kalau kamu tidak percaya, hubungi saja nomor teleponnya! Tanya pada dia tentang pertemuan kami hari ini!" jawab Bizard, ikut merasa emosi sebab Joana dengan gamblang mempermalukannya.
Dia menyerahkan ponsel, serta memberitahu sang istri nomor klien yang baru saja dia temui, agar Joana percaya, bahwa wanita itu bukanlah siapa-siapa.
Nafas Joana semakin menderu hebat, hingga dadanya naik turun.ย
"Ayo buktikan pikiranmu!" ketus Bizard, dia sama sekali tidak takut, sebab dia memang tidak bersalah.
Tanpa tahu malu, Joana segera meraih ponsel Bizard, kemudian mengecek isi percakapan mereka berdua.
Kerutan di dahi Joana sedikit menghilang, dan berganti dengan mulut yang menganga, sebab pembahasan mereka hanya seputar masalah, masalah dan masalah.
Tidak ada pesan mesra seperti yang ada di dalam bayangannya. Membuat dia mati kutu, dan tak dapat mengeluarkan suara. Akan tetapi entah kenapa perasaan Joana belum bisa lega.
"Bagaimana? Kamu menemukan apa yang kamu cari-cari selama ini?" tanya Bizard membuat Joana langsung tersadar. Dia mengangkat kepala, merasa malu karena terus-menerus menaruh curiga pada suaminya.
Tanpa bicara, Joana langsung menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. Akan tetapi jangan pernah berpikir, bahwa dia akan percaya begitu saja. Dia akan terus menyelidiki Bizard, hingga menemukan siapa wanita itu, wanita yang sudah merusak rumah tangganya.
Akan kurusak wajahnya, kalau sampai dia berani menampakkan diri di hadapanku.
***
Curiga yuk curiga๐๐๐
__ADS_1