Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 42. Menyampaikan Kabar Bahagia


__ADS_3

Joana merasa tak sabar untuk pulang ke rumah dan memberitahu kabar bahagia pada suaminya. Bahwa sebentar lagi pemilihan kandidat Presdir akan segera di selenggarakan, tepatnya hari Senin yang akan datang. Dan Evans telah memberi informasi tersebut pada seluruh pemegang saham dan seluruh jajaran perusahaan.


Hari ini Joana tidak lembur, dia mengemudikan mobilnya untuk sampai di rumah dengan terus tersenyum sumringah.


"Bee pasti akan semakin bangga padaku jika aku bisa menduduki kursi itu. Aku harus bisa mengalahkan dua sepupuku, dan membuktikan pada mereka semua, bahwa seorang wanita pun bisa memimpin perusahaan dengan baik," gumam Joana, sudah membayangkan dirinya yang kelak menduduki kursi tertinggi, menggantikan posisi sang ayah.


Dia tidak tahu, bahwa semua itu hanyalah taktik Evans dan Laura, agar Joana semakin sibuk bekerja. Mereka tahu, Joana adalah wanita yang gila kerja, jika Edwin tidak bisa menjadi alasan Joana untuk menjauh dari Bizard, maka mereka akan menggunakan kedudukan di perusahaan sebagai penggantinya.


"Heuh, teman-temanku pasti akan semakin iri padaku. Aku harus mengajak mereka makan siang nanti besok, aku akan menceritakan semuanya, agar aku semakin terlihat keren di mata mereka."


Joana merupakan wanita dengan standar sosialita yang tinggi. Dia hanya berteman dengan orang-orang yang memiliki kasta setara atau lebih tinggi darinya. Mereka yang memakai barang-barang branded bahkan sampai limited edition.


Untuk memenuhi gaya hidupnya, tentu saja Joana harus bekerja. Sebab menjadi wanita karir adalah impiannya. Namun, meskipun dia sibuk bekerja, Joana tidak akan lupa untuk menjaga tubuh dan wajahnya agar senantiasa terlihat awet muda.


Dia tidak suka kulit yang bergelambir, apalagi sampai ada cacat di tubuhnya.


Mobil yang dikendarai Joana melandas membelah jalan raya ibu kota. Meskipun macet, tetapi tak mengurangi rasa bahagia di hati Joana. Hingga pada pukul 6 lewat beberapa menit, mobil tersebut sudah berhenti sempurna di depan gerbang rumah mewah.


Joana menekan klakson. Sebab ia tahu Bianca dan Bizard sudah pulang lebih dulu.


Mendengar itu, kedua orang yang ada di dalam sana langsung berjengit. Pasalnya mereka habis mandi bersama di kamar Bianca.


"Sayang, itu pasti Nyonya. Cepat sana keluar!" pinta Bianca dengan raut cemas, sambil mendorong tubuh Bizard yang hanya terbungkus handuk.


"Iya-iya, tidak usah gugup begitu nanti dia malah curiga," balas Bizard sambil mengusap pipi Bianca.


Bianca tak menggubris ucapan Bizard, dia ingin pria itu segera keluar dari kamarnya. Namun, pria yang tengah dimabuk asmara itu malah terus menggoda Bianca dengan meremass salah satu dadanya.

__ADS_1


"Aku suka yang kiri, Honey."


"Sayang, keluar!" sentak Bianca dengan keras, membuat Bizard terkekeh. Sementara di luar sana suara klakson semakin terdengar nyaring.


Setelah Bizard kembali ke kamar sebelah, Bianca langsung memakai pakaiannya. Dia keluar dengan terburu-buru, kemudian membuka pintu gerbang untuk Joana.


Joana yang merasa kesal, sontak saja membuka kaca mobilnya kemudian menatap tajam pada Bianca yang berdiri di samping gerbang. "Begitu saja lama sekali, kamu ini habis apa sih?!"


Aku habis meladeni suamimu! Cih, dasar wanita tidak berguna.


Ingin sekali Bianca menjawab seperti itu tepat di hadapan Joana. Namun, sayang lagi-lagi dia harus menahan semuanya. Joana benar-benar wanita yang sombong dan angkuh.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya sedang di kamar mandi tadi, jadi tidak tahu kalau anda sudah pulang."


"Maaf-maaf, kerjaanmu hanya bisa minta maaf saja!" ketus Joana, kemudian melandaskan mobilnya ke arah garasi, malas meladeni manusia lelet seperti Bianca.


Dari pada kamu, menyenangkan suami saja tidak bisa. Lihat, dia malah lebih manja padaku, dan sebentar lagi aku akan memberikanmu pelajaran, supaya otak dangkalmu itu sedikit terbuka.


Joana langsung melangkah cepat masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan suaminya. "Sayang, kamu di mana?" teriaknya. Kaki jenjang wanita itu terus bergerak.


Saat dia sampai di kamar, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, dia tersenyum pasti Bizard sedang membersihkan tubuhnya.


"Sayang, kamu sedang mandi yah?"


"Iya, Jo. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berbagi sesuatu padamu. Cepatlah sedikit."

__ADS_1


"Baiklah," jawab Bizard singkat. Kemudian dia meraih handuk, pura-pura mengelap tubuhnya yang basah, padahal dia sudah mandi hampir satu jam lamanya bersama Bianca.


Ceklek!


Begitu pintu terbuka, Joana langsung melangkah mendekati suaminya, tanpa ragu dia memeluk pinggang Bizard, membuat pria itu mematung dengan kening yang berlipat-lipat.


"Ada apa, Jo? Kenapa kamu terlihat senang sekali?" tanya Bizard.


Joana mendongak sambil tersenyum sumringah. "Aku sangat bahagia, Sayang. Sebentar lagi pemilihan presdir baru akan diselenggarakan, dan kamu tahu kan aku adalah salah satu kandidatnya, doakan aku yah, supaya aku bisa mengalahkan dua sepupuku."


Bizard terdiam, entah kenapa dia malah merasa tidak ada keantusiasan apapun mendengar cerita Joana. Seorang Presdir? Joana tidak bercanda 'kan? Bukankah semakin tinggi jabatan, maka akan semakin banyak pula pekerjaan seseorang?


"Sayang, kenapa kamu hanya diam?" tanya Joana, melihat Bizard yang sama sekali tak bereksi.


Pria itu tersadar, kemudian tersenyum getir. Ternyata benar, hingga di titik ini pekerjaan tetaplah yang utama bagi istrinya. Dia bukanlah apa-apa.


"Iya, aku pasti akan mendoakanmu."


Dan lebih gilanya, Joana sama sekali tidak merasakan keraguan di wajah Bizard, hingga dia kembali tersenyum, menyangka bahwa pria itu mendukungnya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu memang yang terbaik."


Kamu salah, Jo. Karena aku yang ada di hadapanmu, bukanlah aku yang dulu. Aku tidak ingin munafik, aku menginginkan sesuatu yang tidak bisa kamu berikan untukku.


***


Eak eak, tim Joana mana suaranya?😌😌😌

__ADS_1


__ADS_2