
Bizard melampiaskan kekesalannya dengan membuang apa saja yang ada di sekitarnya. Bahkan cermin yang ada di meja rias dia pecahkan dalam satu kali pukulan.
Crank!
Benda itu langsung remuk dan berserakan di lantai, sama seperti hati Bizard sekarang.
Rasa sesak kembali menguasai dada pria tampan itu. Sebab ketidakjujuran Bianca kembali membuka luka yang sudah mati-matian dia sembuhkan. Bahkan kini pedihnya jauh lebih terasa.
"Kenapa kamu begitu jahat padaku, Bi?" lirih Bizard. Dia membiarkan darah yang keluar dari sela-sela jarinya mengalir begitu saja. Sebab rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Dia sudah mencoba untuk melupakan semuanya. Akan tetapi pada kenyataannya tidak bisa. Apalagi sekarang Bianca telah membawa sebagian dari dirinya. Apakah sampai saat ini Tuhan masih belum mengizinkannya untuk bahagia?
Sesaat Bizard hanya mampu tergugu. Dia pun tak lepas menyalahkan dirinya. Karena terlambat menyadari kalimat Bianca yang menunjukkan bahwa saat itu Bianca telah mengandung buah hati mereka.
Setelah berhasil menguasai dirinya, Bizard langsung bangkit dan keluar dari apartemen. Dia ingin menemui Aneeq untuk meminta bantuan, agar secepatnya dia bisa menemukan Bianca dan calon anaknya.
Sambil menyetir Bizard menggigit kepalan tangannya. Dia tidak tahu bagaimana kehidupan Bianca di luar sana. Apakah wanita itu benar-benar bahagia karena lepas darinya? Atau malah sebaliknya?
"Aku harap kamu baik-baik saja dengan anak kita, Bi. Aku akan menjemput kalian. Karena sampai ke ujung dunia pun, aku akan mencarimu. Dan pada saat itu kamu akan menerima pembalasan dariku. Sedetikpun aku tidak akan pernah melepaskan kalian lagi," ucap Bizard dengan bola matanya yang senantiasa berkaca-kaca.
__ADS_1
Setelah membuang waktu di jalan raya. Akhirnya Bizard sampai di perusahaan keluarganya yang kini di pimpin oleh Aneeq—sang kakak.
Dengan kondisi tubuh yang acak-acakan. Bizard langsung naik ke atas ruangan Aneeq. Dia tidak peduli sama sekali terhadap sapaan semua orang, karena tujuannya sekarang hanyalah meminta pertolongan pada pria itu.
Bahkan saking tidak sabarnya, Bizard langsung menyelonong masuk. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dan tentu saja hal tersebut membuat Aneeq dan Caka langsung melayangkan tatapan mereka masing-masing, pada pria yang terlihat begitu menyedihkan itu.
Belum sempat Aneeq bertanya, Bizard sudah lebih dulu buka suara. "Kamu harus membantuku, An." Ucapnya dengan suara yang bercampur isak tangis.
Aneeq memiringkan kepalanya lengkap dengan dahi yang mengeryit, belum paham apa yang dimaksud Bizard, hingga dia pun bangkit dari kursinya. "Maksudmu apa, Bee?"
Tak hanya Aneeq yang terperangah, Caka pun melakukan hal yang sama. Sebagai sesama pria, terlebih mereka adalah keluarga. Kedua pria itu pun bisa merasakan apa yang Bizard rasakan.
Hingga akhirnya Aneeq langsung mengangguk paham. Dia bersumpah akan membantu Bizard menemukan Bianca, secepatnya.
"Aku akan melakukan yang terbaik. Kita pasti bisa menemukan mereka, kamu jangan khawatir," ucap Aneeq sambil menepuk bahu Bizard. Dan setelah itu Aneeq langsung menelpon anak buahnya. Mengerahkan mereka semua untuk mencari keberadaan Bianca di kota ini.
Jika memang tidak ada, maka ia akan menggali informasi tentang wanita itu dan memperluas pencarian. Untuk Bizard, Aneeq akan melakukan apapun, terlebih kini ada calon anggota keluarga Tan di rahim wanita itu.
__ADS_1
Namun, sampai beberapa bulan mereka melakukan pencarian. Belum menunjukkan hasil yang signifikan, karena Bianca memang memakai identitas Bella saat meninggalkan ibu kota. Sehingga hampir semua penduduk di sana tidak mengenal nama Bianca.
"Sebenarnya kamu sembunyi di mana, Bi? Apakah kamu tidak merindukan aku sedikitpun? Benarkah semua yang kamu berikan hanyalah bentuk kepura-puraan?" tanya Bizard pada dirinya sendiri, sebab Bianca bagai ditelan bumi. Padahal keluarganya sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan wanita itu.
"Sampai kapan, Bi? Sampai kapan kamu ingin menyiksaku?"
Bizard hampir saja menyerah, keadaannya semakin memprihatinkan karena kabar mengenai Bianca tak kunjung ada. Sisi dalam dirinya seolah kosong, tetapi orang-orang menganggap itu semua karena Bizard telah bercerai dari Joana. Ya, sebulan yang lalu keduanya telah resmi menyandang status janda dan duda.
Sementara seseorang yang dicari-cari, kini tengah memeriksakan dirinya di sebuah klinik. Sebuah pemeriksaan rutin setiap sebulan sekali.
Bianca duduk dan menunggu antrian. Di antara ibu hamil yang lain, hanya Biancalah yang datang sendirian. Sebab semua orang ditemani oleh suami masing-masing.
Hati Bianca selalu terenyuh setiap momen ini datang. Di saat-saat paling membahagiakan, dia malah harus berjuang sendirian. Bekerja banting tulang, demi mendapatkan sesuap makanan. Dan menjamin bahwa anak-anaknya sehat di dalam sana.
Ujung mata Bianca basah, dia pun mengelus perut buncitnya. "Kalian tidak usah iri. Kan ada Mama." Lirihnya, kemudian mengusap setitik air yang hampir saja jatuh dari pelupuk matanya.
***
Yok bisa yok bisa yok😗
__ADS_1