
Bizard hanya terdiam saat tangan langsing itu berhasil mendaratkan sebuah tamparan di pipinya.
Namun, tamparan keras dari tangan kedua orang tuanya tidak berarti apa-apa, ketimbang rasa sakit di hati mereka. Bizard sadar akan hal itu. Karena ia telah menabur luka dan mengecewakan orang-orang di sekitarnya.
Zoya berdiri tepat di hadapan Bizard yang senantiasa mematung dengan air mata yang menderas. Bukan tanpa sebab dia menampar putranya. Bukan tanpa alasan dia ingin memarahi buah hati yang telah dibesarkannya.
Dia adalah seorang ibu, dia adalah seorang wanita, dia paham betul bagaimana sifat Bizard, dia tahu bagaimana pria itu mencintai Joana meskipun rumah tangga mereka kerap tidak baik-baik saja.
Dan mendengar perselingkuhan yang dilakukan oleh Bizard, benar-benar melukai hati Zoya.
Sebab luka sebuah perselingkuhan tidak akan pernah ada obatnya. Sekuat apapun masalah di antara mereka, perselingkuhan tidak akan pernah dibenarkan. Apalagi Zoya ingat betul, saat ibunya diselingkuhi oleh sang ayah.
Di saat itu, Elina berjuang sendirian dengan kehamilannya yang sudah sangat besar, sementara sang ayah asyik dengan istri keduanya.
Hingga pada akhirnya Elina meninggal dunia ketika melahirkan dia.
Sumpah demi apapun, walaupun dia tidak mengalaminya. Rasa sakit itu masih membekas, terpatri jelas di hatinya. Dan sekarang tiba-tiba ia mendengar salah satu putranya mengikuti jejak kakeknya.
Meskipun ia tahu, ada ribuan alasan Bizard melakukan itu.
"Kamu tahu, Bee, Mommy kecewa padamu," ucap Zoya dengan bibir yang bergetar. Dadanya teramat sesak, seperti ada batu besar yang mengganjal di sana.
Sama seperti Bizard, Zoya pun tak sanggup menahan air matanya. Merasa tak percaya kalau Bizard sanggup melakukan itu semua.
Mendengar ucapan Zoya, tentu saja membuat Bizard semakin tergugu. Dia merasa menjadi pria paling bodoh, karena mengingkari janjinya untuk tidak membuat Zoya menangis. Tubuhnya terasa lunglai dengan hati yang kian lara.
__ADS_1
Apalagi saat Zoya kembali bersuara sambil terisak-isak. "Apa kamu tidak ingat pada Mommy, Bee? Dan juga adik perempuanmu, bagaimana jika seandainya mereka diselingkuhi oleh suami mereka, apa yang akan kamu lakukan, apakah kamu yakin akan diam saja, terlepas apapun masalahnya?"
Semua orang yang baru saja datang hanya bisa terdiam dan menatap pemandangan pilu itu. Di mana ketiga orang yang ada di hadapan mereka, sama-sama menangis dengan luka akibat tindakan Bizard yang ketahuan berselingkuh.
"Apa yang ada di pikiranmu hanya kesenangan? Apakah dengan begitu hatimu menjadi puas?" timpal Ken, masih dengan amarahnya yang mencapai puncak ubun-ubun.
Kali ini dia berusaha mati-matian untuk tidak menghajar putranya, meskipun sedari tadi tangannya sudah terkepal kuat. "Jawab Daddy!" Sambungnya dengan bentakan yang membuat tubuh Bizard ambruk dengan uraian air mata yang semakin turun dengan lancang.
"Maafkan aku, Dad, Mom. Aku minta maaf," lirih Bizard dengan kesakitan yang berkali-kali lipat.
Sumpah demi apapun dia tidak sanggup melihat kedua orang tuanya seperti ini, cukup dia yang merasa sakit hati karena dibohongi oleh kedua wanita yang dicintainya. Dia tidak mau melihat Ken dan Zoya sama-sama terluka.
Di hadapan keduanya, Bizard hanya bisa tergugu dan terus memohon ampun. Dia tidak berdaya.
Melihat itu tentu saja membuat semua orang panik, terlebih Ken yang ada di sampingnya.
"Baby!"
"Mommy!"
Teriak semua orang seraya menghampiri Zoya yang kini sudah jatuh dalam pelukan Ken. Wanita itu pingsan. Dan tentu saja hal tersebut membuat Ken semakin meradang dengan tingkat kekhawatiran yang semakin tinggi. Dia mengangkat tubuh langsing Zoya, dan memerintahkan semua orang untuk minggir.
Tak terkecuali Bizard yang senantiasa mendapat tatapan tajam dari Ken. "Jangan temui Mommy sebelum kamu siap menjelaskan semuanya!" Cetus pria itu, kemudian melangkah ke arah kamar mereka berdua yang ada di lantai dua. Disusul oleh Derrick, sebab dia akan memeriksa keadaan Zoya.
Sementara Bizard ditarik mundur oleh Aneeq. Dia adalah seseorang yang paling tahu bagaimana rumah tangga Bizard dengan Joana, jadi dia ingin membantu saudara kembarnya, dia ingin Bizard menjelaskan semuanya hari ini juga. Agar ia bisa memadamkan kobaran amarah di keluarganya.
__ADS_1
Di ruang belajar.
Plak!
Satu tamparan kembali Bizard dapatkan dari tangan kakaknya. Namun, dia tidak bisa melawan, sebab dia tahu dia salah dan pantas mendapatkannya.
"Itu dari Mommy," ucap Aneeq, kemudian kembali mengangkat tangannya, dan melayangkan tamparan kedua.
Plak!
"Itu dari Daddy!"
Plak!
"Tamparan ketiga itu dari aku, dan kelima adikmu! Kamu sadar apa yang kamu lakukan telah melukai semua orang? Apakah kamu tidak bisa berkaca pada aku? Sebelumnya aku adalah pemain wanita, tapi kamu tahu aku tidak pernah memainkan pernikahan, karena hal tersebut sakral," ucap Aneeq sambil menatap Bizard yang senantiasa berkaca-kaca.
Dan dari sana dia bisa melihat, ribuan luka yang Bizard pendam sendirian. Seolah tak ada seseorang yang sanggup menjadi tempatnya berkeluh kesah.
Hening, hanya ada deru nafas yang keluar dari hidung masing-masing, hingga tanpa aba-aba Aneeq menarik tubuh Bizard untuk dipeluknya. Di bahu sang kakak, tangis Bizard kembali pecah. Dia menyuarakan semua kesakitannya di sana.
"Menangislah, aku ada untukmu."
***
Janji nggak nangis ya😭😭
__ADS_1