Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 60. Sejak Kapan


__ADS_3

Beginikah rasanya mendapat penolakan? Padahal dia sudah berdandan secantik mungkin dan menunggu Bizard berjam-jam. Akan tetapi apa yang ia dapat? Sang suami malah menolaknya dengan alasan lelah. Sesak, itu yang dirasakan dada Joana.


Dia membeku sambil menatap nanar punggung kekar suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi, dia terduduk lunglai di atas ranjang, mencoba untuk memahami situasi ini.


Usahanya sia-sia.


Joana berusaha untuk baik-baik saja, meskipun hatinya meradang. Sebab dia benar-benar tengah merindukan sentuhan Bizard. Mereka sudah cukup lama tidak menyatu, dan hal tersebut membuat Joana sedikit berhasrat.


"Tumben sekali dia menolakku. Padahal aku sudah berdandan secantik ini, tapi dia tidak menghargai usahaku sama sekali," gumam Joana, tidak sadar bahwa dia pun kerap menolak diajak bercinta disaat Bizard menginginkannya.


Dengan rasa kecewa, Joana pun langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia tidak menyiapkan baju Bizard terlebih dahulu, sebab dia merasa kesal terhadap sikap pria itu.


Tak berapa lama kemudian Bizard selesai membersihkan tubuhnya. Dia keluar dengan handuk yang melilit di pinggang. Baru saja kakinya melangkah, fokus Bizard teralihkan pada sosok Joana yang tidur dengan posisi miring, dia melihat ke sana ke mari, tidak ada pakaian yang disiapkan, membuatnya geleng-geleng kepala.


Akan tetapi Bizard tak ambil pusing, dia langsung mengambil pakaiannya dari dalam lemari kemudian keluar dari kamar.


Tanpa diduga Bizard menemui Bianca, wanita yang sedang duduk di depan meja rias itu sampai terlonjak kaget melihat kedatangan suaminya yang begitu tiba-tiba.


"Sayang, kamu mau apa?!" tanya Bianca cemas, pasalnya Bizard datang dengan bertelanjang dada, sementara di rumah itu juga ada Joana.


Bizard melangkah semakin dekat, kemudian menyerahkan pakaian pada Bianca, hingga membuat wanita itu ternganga. "Aku yang pakai 'kan?"


Bizard langsung tersenyum lebar.


Inilah bedanya Bianca dengan Joana, tanpa bicara wanita itu sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Wanita cantik itu pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian melakukan tugas yang biasa ia kerjakan.

__ADS_1


Dalam jarak sedekat itu, aroma tubuh Bizard yang begitu segar terus menguar dalam indera penciuman Bianca, hingga membuat wanita itu ingin menggoda suaminya. Dengan nakal Bianca menggigit bibir, kemudian meremass sesuatu yang baru saja dia tutup.


"Bian, jangan nakal. Aku masih banyak pekerjaan, Sayang," ucap Bizard memberi peringatan.


Namun, Bianca tak mengindahkan ucapan Bizard, dia terus memainkan kelima jarinya. Memancing aset berharga milik Bizard yang mudah sensitif. Senggol sedikit langsung bangkit.


"Bukankah kamu bisa bermain cepat? Pekerjaan bukanlah sebuah alasan."


"Kamu menginginkannya malam ini?"


"Benda ini adalah sesuatu yang paling menyenangkan. Munafik kalau aku tidak menginginkannya."


Bizard menarik sudut bibirnya ke atas, dia suka kalau Bianca sudah bersikap sedikit liar. Tangan Bizard terangkat untuk menyentuh pipi Bianca, dia mengelusnya lembut, hingga membuat wanita itu menengadah. "Baiklah, aku tunggu di ruang kerja, bawa kan aku kopi, oke?"


Bianca meraih tangan Bizard yang ada di pipinya, kemudian menuntunnya hingga turun ke dada. "Yang dua ini memang tidak cukup?"


Lantas setelah itu Bizard keluar dari kamar Bianca, melangkah menuju ruang kerjanya. Sementara Bianca tersenyum senang, karena Bizard selalu tergoda oleh bujuk rayunya. Tak ingin membuat pria itu menunggu lama, Bianca langsung pergi ke dapur, dan membuat kopi hitam untuk suaminya.


Dia melangkah masuk ke dalam ruangan Bizard, kemudian meletakkan gelas yang ada di tangannya. "Ini kopinya, Tuan."


Mendengar itu, Bizard langsung mengangkat kepala. Belum sempat ia bangkit dari kursi, Bianca sudah lebih dulu duduk di pangkuannya. Wanita itu segera membuka satu persatu kancing piyamanya, hingga dua buah kesukaan Bizard terpampang nyata. "Dan yang ini sesuatu yang akan membuatmu tidak tidur semalaman."


Pria itu menyeringai. Tanpa ba bi bu, Bizard langsung menyerang. Membawa Bianca menembus surga dunia yang penuh dengan kenikmatan.


***

__ADS_1


Pagi datang.


Joana sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sementara Bizard tengah membersihkan tubuhnya. Kali ini Joana menyiapkan pakaian Bizard, rasa kesalnya berangsur hilang karena mendapati Bizard yang memeluknya semalaman.


"Sayang, aku tunggu—" Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Bizard sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat sangat segar bugar dengan rambutnya yang basah.


"Aku kira kamu masih lama. Ini aku sudah siapkan pakaianmu, aku ke dapur duluan yah."


Bizard langsung mengangguk, dia segera menyambar pakaiannya dan membelakangi Joana, sementara wanita itu memutar langkah untuk pergi ke dapur, tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang ditangkap oleh matanya, Joana menatap ke arah Bizard, tepatnya tengkuk pria tampan itu.


"Bee," panggil Joana lemah, sambil terus memperhatikan sesuatu yang mirip dengan tanda kepemilikan.


"Hem."


"Apa itu di tengkukmu?" tanya Joana yang kini sudah sukses di hadapan Bizard. Mendengar itu, jantung Bizard langsung berdetak lebih kencang. Dia sudah seperti maling yang tertangkap basah.


"Oh ini, kemarin aku disengat lebah, tapi aku baik-baik saja," jawabnya bohong, padahal itu adalah sesapan Bianca.


"Tapi itu terlihat parah." Joana hendak menyentuh leher Bizard, tetapi pria itu langsung menghindar.


"Aku bilang tidak apa-apa, aku sudah membeli salep untuk menyembuhkannya. Lagi pula sejak kapan kamu begitu peduli padaku?" ceplos Bizard yang akhirnya membuat Joana membatu.


Dan terhitung dua kali dia kalah telak.


***

__ADS_1


Eak eak, komen nggak komen nggak, nggak komen gue lilit 🙄


__ADS_2