Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 43. Pesan Nomor Tak Dikenal


__ADS_3

Malam itu wajah Joana selalu nampak sumringah. Dia tidak menyadari bahwa sedari tadi Bizard terus terdiam, sama sekali tak bahagia dengan kabar yang disampaikan oleh dirinya.


Sebelum tidur, Joana yang hendak mengajak teman-temannya bertemu untuk merayakan keberhasilannya, membuka ponsel dan langsung mengetikkan pesan di grup. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


Joana menautkan kedua alisnya, karena setahunya dia tidak pernah memberikan nomor pada siapapun. Akhirnya karena merasa penasaran, Joana membuka isi pesan tersebut.


Namun, Joana yang terlalu terkejut langsung melemparkan ponselnya dengan sembarangan. Hingga menyisakan bunyi gaduh, yang menarik perhatian Bizard.


"Hmpt!" Joana langsung menutup mulutnya agar tidak berteriak histeris. Sebab isi pesan itu terlihat sangat mengerikan, ada seseorang yang sengaja mengirim gambar nama Joana di batu nisan, tetapi yang membuat dia lebih terkejut batu nisan tersebut dilumuri darah segar.


"Kamu kenapa, Jo?" tanya Bizard seraya bangkit dari ranjang, dia yang sudah hampir memejamkan mata, kini berganti memperhatikan punggung Joana yang terlihat bergetar.


Joana menoleh ke belakang, wajah wanita itu pias dan terlihat ketakutan, membuat Bizard bertambah penasaran.


"Aku—aku tidak apa-apa," jawab Joana dengan terbata, sementara dia belum berani untuk mengambil ponsel yang jatuh tepat di bawah kakinya. Dia mulai berpikir, apa maksud dari ini semua? Apakah ada seseorang yang sedang mengajaknya bermain-main?


"Lalu ada apa dengan wajahmu? Kamu terlihat ketakutan," timpal Bizard apa adanya. Dia tidak akan mungkin percaya begitu saja dengan ucapan Joana, sementara reaksi tubuh wanita itu berbeda.

__ADS_1


Joana menggelengkan kepalanya. Ingin meyakinkan Bizard bahwa dia baik-baik saja. Namun, kejadian empat tahun lalu tiba-tiba terngiang-ngiang di ingatan wanita cantik itu. Saat Joana menabrak seorang pria yang membawa boneka beruang besar di tangannya.


Tidak mungkin, ini tidak mungkin ada sangkut pautnya dengan kejadian itu. Joana mencoba meyakinkan dirinya, dia pun akhirnya mengajak Bizard untuk tidur.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" Bizard bertanya sekali lagi, ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Joana. Akan tetapi Joana yang tidak ingin Bizard mengorek-ngorek masa lalunya, akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu."


Akhirnya Bizard diam, dia tidak lagi bertanya. Bizard mengulurkan tangan, menarik Joana agar masuk ke dalam dekapannya. Wanita yang tengah ketakutan setengah mati itu pun menurut, meskipun pada kenyataannya dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Berbeda dengan Bianca yang menyunggingkan senyum sinis. Karena pelan-pelan dia akan meneror Joana, dia akan merasa puas, jika wanita itu pun hancur di tangannya.


***


"Jo, kamu terlihat rapih sekali, kamu mau pergi?" tanya Bizard dengan kedua alis yang saling bertautan. Pasalnya kemarin dia sempat mengajak Joana untuk pergi ke mansion kedua orang tuanya, tetapi Joana menolak, sebab ingin istirahat di rumah.


Joana mengulum senyum, kemudian menganggukkan kepala. "Iya, Sayang. Aku ingin bertemu dengan teman-temanku. Katanya mereka ingin memberikan doa dan dukungan untuk keberhasilanku di kantor."

__ADS_1


Bizard berdecih pelan.


"Kemarin kamu bilang tidak ingin pergi ke mana-mana. Kenapa sekarang kamu tiba-tiba pergi, bahkan tanpa bilang terlebih dahulu padaku," cetus Bizard sedikit memprotes sikap Joana yang bertambah semena-mena. Dia benar-benar sudah seperti tak di anggap, bahkan untuk sekedar meluangkan waktu berdua, Joana tidak memberikannya.


Joana melangkah ke arah Bizard, memeluk lengan pria itu untuk merayu. "Ini dadakan, Sayang. Mereka baru saja mengirim pesan dan membuat janji, jadi mau tidak mau ya aku harus datang."


Bizard terdiam, sudah malas mendengar alasan Joana. Dia sudah seperti tidak ada lagi dalam daftar kehidupan wanita itu. Joana sendiri yang membuat hatinya mati rasa. Akhirnya Bizard menganggukkan kepala.


"Pergilah."


Hanya satu kata yang terucap dari bibir Bizard, tetapi satu kata itu memiliki arti yang lebih luas jika Joana ingin memahaminya. Sayang, wanita itu malah tersenyum, seolah tak memiliki rasa sesal karena terus mencampakkan suaminya.


Maka, jangan salahkan Bizard jika kini harapannya tertuju pada wanita yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan menenteng dua tong sampah di tangannya.


Bianca tersenyum ke arah Bizard, seolah memberi warna baru pada pria itu.


***

__ADS_1


Sekalian ga usah pulang ya🙄🙄🙄


__ADS_2