Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 48. Naik Jabatan


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Joana telah datang. Dia sudah merasa tak sabar untuk menempati kursi presdir di perusahaan. Tepat hari ini, perusahaan Joana mengadakan rapat oleh seluruh pemegang saham, serta para kepala staff dan jajarannya.


Sepanjang acara, Joana terus tersenyum sumringah. Dia begitu yakin, bahwa dia akan mendapatkan jabatan tersebut. Selama ini dia telah bekerja keras, sesuai dengan jabatannya sebagai direktur utama.


"Aku tidak boleh membuat Daddy malu," gumam wanita cantik itu, duduk dengan elegan di antara kandidat yang lain.


Perhitungan suara mulai berjalan. Tangan Joana sampai berkeringat dingin, dengan jantung yang berdebar kencang, karena merasa gugup. Dan semuanya hilang begitu saja, saat satu suara yang menjadi penentuan bertuliskan namanya—Joana Audrey.


Tepuk tangan dan sorak sorai langsung memenuhi ruang rapat. Joana tersenyum bahagia dengan satu tangan yang menutup mulutnya, akhirnya apa yang dia impikan menjadi kenyataan. Dia berhasil naik jabatan.


"Nona Joana selamat," ucap beberapa orang berbarengan saat Joana diminta untuk maju ke depan. Wanita cantik itu mengangguk, menyalami mereka semua.


"Terima kasih."


Joana menatap ke arah ayahnya yang duduk di kursi paling depan, Evans terlihat mengulum senyum bangga, sampai matanya menyipit. Pria paruh baya itu memberikan jempolnya pada Joana, sementara dalam hati Evans menyeringai penuh.


"Dengan kepintaranmu, kamu tidak pantas mendapatkan pria seperti Bizard. Karena dia tidak akan ada apa-apanya dibandingkan kamu."


***


Joana pulang dengan hati yang teramat gembira. Bahkan saking senangnya dia langsung mencari keberadaan Bizard, tak peduli dengan Bianca yang senantiasa memperhatikannya.

__ADS_1


"Sayang, aku punya kabar bahagia, kamu harus mendengarnya!" teriak Joana, dia berlari masuk ke dalam kamar, menemukan Bizard yang baru saja membuka pakaian kerjanya.


Mendengar suara pintu yang terbuka, Bizard pun menoleh ke belakang. Dan tepat pada saat itu, dia langsung ditubruk oleh tubuh Joana. Wanita itu tersenyum sumringah seraya memeluknya erat. "Sayang, kamu tahu tidak?"


"Apa?"


Joana mengecup dada Bizard. "Aku berhasil naik jabatan, orang-orang mempercayakan aku menduduki kursi presdir. Dan lusa aku akan pergi ke luar negeri untuk menghadiri perkumpulan pembisnis. Mereka akan mengenalku sebagai wanita karir yang hebat, bukankah itu keren, Sayang?" jelas Joana, sesuai dengan apa yang Evans bicarakan dengannya.


"Kamu pergi sendiri?"


"Tidak, aku berangkat dengan Dylan dan Silvia, kepala divisi humas di perusahaan."


"Berarti kamu akan meninggalkanku?"


"Hanya tiga hari, Bee. Aku tidak akan lama di sana, kalau kamu rindu, kan kita bisa membuat panggilan video, aku janji, aku akan sering-sering menghubungimu ketika ada waktu luang," ucap Joana, mencoba membujuk suaminya. Untuk kali ini, dia benar-benar berharap Bizard bisa mengizinkannya.


Karena ini adalah kesempatan bagus, dia bisa menggaet beberapa pembisnis di sana untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Dia cantik, pintar dan terampil dalam bicara, tidak menutup kemungkinan dia bisa berkenalan dengan beberapa pembisnis yang sudah mendunia.


Bizard terlihat membuang pandangannya, benarkah Joana tak sadar dengan semuanya? Kali ini ia tidak akan berbasa-basi lagi, jika memang hanya karir dan pekerjaan yang menjadi tujuan Joana, dia tidak akan menghalanginya.


"Iya, aku akan mengizinkanmu pergi. Yang penting kamu hati-hati," ucap Bizard akhirnya, dia memegang kepala Joana, kemudian mengecupnya dengan lembut.

__ADS_1


Rasa cinta di hatinya sudah terasa semakin hambar. Namun, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk memutuskan hubungan dengan Joana. Melihat dua bola mata itu, Bizard masih merasa tak tega. Namun, dia tidak bisa terus-terusan hidup tanpa kasih sayang dan cinta.


Setelah melakukan itu, Bizard tak lagi bicara. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan meninggalkan Joana yang sama sekali tak menanggalkan senyumnya.


Setelah pembicaraan itu.


Bizard terus mengajak otaknya untuk bekerja. Hingga tengah malam ia masih terjaga. Dia melirik Joana yang terlelap di sampingnya. Sorot mata Bizard terlihat sendu, sementara sisi lain hatinya mulai memanggil nama Bianca.


Bizard seperti sudah gila. Sebab detik selanjutnya ia memberanikan diri untuk turun dari ranjang, keluar dari kamarnya dan beralih ke kamar Bianca.


Beruntung, kamar Bianca tidak dikunci hingga ia bisa menyelinap dengan mudah. Pria itu langsung masuk ke dalam selimut kemudian melingkarkan tangan di sepanjang perut Bianca, hingga wanita itu mengerjapkan matanya, merasakan sentuhan lembut, juga helaan nafas yang mengenai lehernya.


Bianca menyipit, dia terhenyak saat melihat Bizard berada di kamarnya.


"Sayang, kamu sedang apa?" bisik Bianca.


Bizard mengusakkan hidungnya di tengkuk Bianca, dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tidak bisa tidur, aku rindu padamu. Jadi biarkan aku seperti ini, sebentar saja."


Bianca menghela nafas, dan akhirnya tak bisa berbuat apa-apa. Dia pun membalas pelukan Bizard dengan mendekap dua tangan kekar itu dengan tangannya.


***

__ADS_1


Masih ndlosor 🥱🥱🥱


__ADS_2