Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 74. Aku Tidak Akan Pernah Kalah


__ADS_3

Nafas Joana senantiasa memburu, kabar yang Dylan sampaikan adalah kabar paling buruk yang pernah dia dengar. Bisa-bisanya semua klien berpindah haluan dengan begitu mudah. Padahal mereka belum tahu betul kwalitas bangunan dan pemberdayaan yang ditawarkan perusahaan tersebut.


Hah, hanya dengan harga murah, mereka langsung memutuskan kerja sama. Joana sangat yakin, perusahaan itu hanya perusahaan ilegal dan tidak memiliki sertifikat resmi dari pemerintah.


Semua kepala divisi berkumpul di ruang rapat, sesuai perintah Joana. Mereka akan membahas laba yang menurun dengan begitu drastis dalam minggu ini, dan pastinya akan terus seperti itu jika mereka tidak mengambil tindakan.


Dia harus membuat rancangan baru, agar dapat mengalahkan perusahaan yang berani menyainginya. Rasanya kepala Joana ingin pecah, sebab terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya.


Tidak di rumah, tidak di perusahaan, masalah seolah senang sekali datang menghampiri dia.


"Kalian pasti sudah tahu kenapa aku mengumpulkan kalian semua di sini. Ya, ada pesaing baru yang berani mengambil klien kita dengan sengaja, dan kita tidak mungkin diam saja ...."


"Jadi sebagai pemimpin perusahaan aku meminta kalian untuk membuat laporan dari satu tahun terakhir sampai minggu ini, aku tidak mau tahu, sore ini, semuanya sudah ada di mejaku! Aku akan mengeceknya satu persatu. Dan setelah itu, aku akan meminta kalian berkumpul lagi di ruang rapat untuk membahas semuanya," jelas Joana. Dia akan mulai memutar otak, bagaimana caranya agar bisa mempertahankan kepercayaan para klien yang tersisa.


Kalau bisnis mereka terus-terusan menurun, maka sudah dipastikan para pemegang saham akan mulai meminta pengembalian modal, dan mereka akan gulung tikar. Astaga, dengan membayangkannya saja rasanya Joana tidak sanggup.


Setelah pertemuan itu ditutup, Joana kembali ke ruangannya dengan dada yang bergemuruh. Baru saja dia melewati pintu, wajahnya yang masam sudah disambut oleh Evans.


Pria paruh baya itu sudah mendengar desas-desus penurunan pendapatan perusahaannya, dan ini adalah kasus pertama yang akan Joana tangani sejak ia menjabat sebagai presdir.

__ADS_1


"Jangan pakai emosi, Jo!" ujar Evans untuk menenangkan putrinya. Dia tidak mau membuat pikiran Joana semakin kacau, karena itu semua hanya akan berimbas pada kinerja Joana.


"Bagaimana aku tidak emosi, Dad? Mereka benar-benar tidak tahu aturan, beberapa orang yang sudah percaya pada kita, dalam sekejap berpindah haluan dan memutuskan kerja sama, mereka pikir, mencari klien itu mudah?" ketus Joana, kemudian mengayunkan tangan di udara, sebagai bentuk kekesalannya.


"Daddy tahu, tapi jadikan masalah ini untuk pembuktian bahwa kamu memang pantas menjadi seorang presdir," balas Evans seraya mengangkat tangan untuk mengusap puncak kepala putrinya. "Kamu harus bekerja keras lagi "


Joana menghela nafas panjang. "Aku akan lembur malam ini."


"Ya, lakukan yang terbaik, dan apapun itu jangan lupa kabari Daddy."


Wanita hamil itu menganggukkan kepala, dia tidak perlu terlalu cemas, karena dia pasti bisa mengembalikan semuanya.


***


Senja telah tiba, dan semburat jingga mulai memenuhi angkasa. Keindahan sementara, yang kerap dinanti-nantikan oleh para manusia penghuni jagat raya.


Sama seperti kedua manusia yang kini duduk di balkon apartemen dan saling memeluk satu sama lain. Sudah beberapa hari ini Bizard tidak langsung pulang ke rumah, karena dia senantiasa menyempatkan diri untuk menemui Bianca.


Mereka saling menatap langit di ufuk barat dengan lengkungan yang tidak pernah sirna. Sama seperti senja, Bianca adalah keindahan yang selalu Bizard nantikan saat dia pulang bekerja.

__ADS_1


"Kamu terlihat senang sekali hari ini, ada apa?" tanya Bizard setelah matahari sudah benar-benar tenggelam. Tangan besarnya terangkat, kemudian menyusuri pelipis Bianca, menyelipkan anak rambut wanita itu ke belakang telinga.


Benar, dia sangat bahagia. Karena perusahaannya berhasil menggaet beberapa klien Joana. Bianca tersenyum manis, lengkungan itu sama sekali tidak hilang, meksipun dia telah mengecup bibir Bizard.


"Hari ini aku sangat senang, Sayang. Karena aku mulai mendapatkan klien. Bagaimana istrimu hebat 'kan?"


Melihat Bianca yang tersenyum, Bizard pun ikut tersenyum pula.


"Tentu saja, istriku memang sangat hebat, tidak hanya pandai menyenangkan aku, tapi kamu juga pandai mengelola perusahaan."


"Kalau kamu itu nomor satu, Sayang. Jadi aku tidak mungkin melupakannya," ucap Bianca sambil mencolek hidung mancung Bizard.


"Mana buktinya?" tantang pria tampan itu. Tangannya yang nakal mulai turun, meraih tali kimono yang Bianca kenakan.


"Tunggu apalagi? Tarik saja," balas Bianca tak kalah menggoda.


Bizard terkekeh kecil, tanpa ba bi bu dia langsung menarik tali yang ada di tangannya. Hingga sesuatu yang jauh lebih indah dari senja, kini dapat dia nikmati tanpa jeda. Keindahan yang sempurna.


***

__ADS_1


Bukannya sholat maghrib, malah aha-ihi terus 🙄🙄🙄


__ADS_2