
Kini di rumah Bizard dan Joana sudah ada pembantu yang menggantikan Bianca. Akan tetapi untuk urusan Bizard, Joana telah mengambil alih semuanya. Dia tidak mau pria tampan itu semakin jauh darinya, maka dari itu sebisa mungkin Joana mengambil perhatian Bizard.
Seperti hari-hari sebelumnya, Joana akan menyiapkan pakaian Bizard, saat pria itu tengah membersihkan tubuhnya. Dia mengambil satu setel kemeja berikut celana, dan juga jas yang menggantung di dalam lemari pakaian.
Joana meletakkan itu semua di atas ranjang, sebab dia ingin keluar dari kamar. Akan tetapi belum sempat dia memutar badan, tatapan matanya tertuju pada sesuatu yang menempel di jas suaminya.
Mata Joana menyipit, memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Kemudian tangannya terangkat untuk mengambil satu helai rambut panjang berwarna keemasan yang sukses membuat jantungnya berdebar dengan kencang.
Glek! Wanita hamil itu langsung menelan ludahnya dengan kasar. Tangannya terangkat semakin tinggi, hingga menutupi cahaya matahari yang menerpa jendela kamar mereka. Dan dia sangat yakin, bahwa pemilik rambut itu adalah seorang wanita.
Namun, bagaimana caranya rambut tersebut ada di pakaian Bizard? Dada Joana mendadak sesak. Sementara ketakutan semakin merayapi hatinya. Dia menggeleng kecil, seolah tak bisa percaya.
"Tidak mungkin!" lirih Joana dengan bibir yang bergetar, lantas pandangan matanya beralih pada suara gemericik air dari dalam kamar mandi. "Kamu tidak mungkin melakukannya 'kan, Bee? Ayolah, kamu bukan pria yang seperti itu." Sambung Joana, seolah dia tengah berbicara dengan suaminya.
Kepala wanita itu kembali berdenyut dan seolah ingin pecah. Sebab masalah tak kunjung usai mendatanginya. Kecurigaan terhadap Bizard kian besar, meskipun dalam hati dia tidak ingin percaya.
Akan tetapi jika dia tidak memastikan semuanya. Dia akan terus dihantui oleh harap-harap cemas yang tiada guna. Ke manapun, dan dengan siapapun Bizard pergi, dia pasti akan terus-menerus menaruh curiga.
"Percuma, aku tidak bisa bertanya pada dia, karena dia pasti akan mengelak. Aku harus diam-diam mencari tahu. Aku sungguh sangat takut, semua yang dibicarakan Miranda adalah benar, bahwa Bizard memiliki wanita lain selain aku," ucap Joana dengan tekad yang bulat, dia akan mulai mencari kebenaran tentang suaminya.
__ADS_1
Sebab sudah ada beberapa hal aneh yang ditunjukkan oleh Bizard. Dari tanda merah di leher, sampai sekarang rambut seorang wanita menempel di jasnya. Kalau mereka tidak berdekatan, rambut itu tidak akan mungkin tertinggal. Jadi, ada kemungkinan, Bizard memeluk wanita itu, wanita yang entah siapa, Joana tidak tahu.
"Aku harus bisa membuktikan semuanya. Bizard tidak boleh tahu, kalau aku akan mengikuti dia."
Sekali lagi, Joana melirik sinis ke arah pintu kamar mandi yang sama sekali belum terbuka. Tempat di mana suaminya berada.
***
"Saya senang bekerja sama dengan Nyonya Bianca," ucap seorang pria bersetelan jas yang sedang menjabat tangan Bianca.
"Terima kasih, Tuan, saya juga senang bisa berkesempatan bekerja sama dengan anda," balas Bianca sambil tersenyum ramah.
Mereka baru saja menyepakati kerja sama. Pria itu tampak sangat puas, hingga senantiasa menyunggingkan senyum sumringah. Tak berbeda jauh dengan Bianca, yang kini menyeringai senang, saat pria bersetelan jas itu, pergi meninggalkan restauran tempat mereka bertemu.
"Friska, siapkan salinan dokumen yang tadi, karena yang asli akan saya bawa," ucap Bianca, memberi perintah pada sekretarisnya. Seorang wanita yang akan selalu menemani Bianca selama bekerja.
"Baik, Nyonya," jawab Friska.
"Apalagi jadwalku hari ini?"
__ADS_1
"Jam 3 sore, ada kunjungan dari beberapa petinggi Antarakna Group, Nyonya. Kalau Nyonya tidak ingin menemui mereka, maka saya akan menggantikan anda."
"Tidak, Friska. Aku sendiri yang akan menemui mereka, kamu hanya perlu mendampingi aku."
Friska langsung mengangguk paham, dia tahu Bianca sedang mencari nama, agar dia mendapatkan kepercayaan para pengusaha yang memiliki popularitas di atasnya. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa tujuan Bianca sebenarnya adalah menghancurkan wanita bernama Joana.
***
Bentar, gue mau ngomong dulu. Wkwk
Para reader uler-uleran yang budiman, gue nggak marah, gue nggak ngambek. Gue cuma kesel, dan berujung ambyar buat nulis, di saat gue pengen satsetsatset, eh tbtb ada aja yang buat hati sedikit down. Dan otak jadi nggak sinkron.
Gue nggak pernah larang-larang kalian buat nebak cerita, dan berandai-andai menurut versi kalian. Tapi, gue cuma minta, jangan bandingin karya ngothor satu dengan ngothor yang lain. Sumpah, itu sakit.
Sepele? Oh jelas, mungkin itu sepele bagi kalian yang nggak pernah ada di posisi kita. Padahal kita udah puter otak, dan mikir keras supaya beda. Dan pada kenyataannya, tidak akan pernah bisa, karena apa? Tema ini tuh gue ambil karena lagi ikut lomba, dan otomatis ada ada banyak ngothor yang ambil tema sama.
Gue nggak lagi ngomongin novel bikinan gue paling sempurnahhh, kagak. Karena gue sadar masih banyak cacatnya. Tapi lagi nih ya, ayolah hargai kita yang lagi berusaha nyenengin pembaca🥺🥺🥺
Hihiksss ...
__ADS_1
Dahlah capek gue nyapnyap🤣🤣🤣
Salam anu 👑