Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 81. Menemui Kehancuran


__ADS_3

Suara teriakan Joana terdengar sangat kencang, tetapi itu semua tidak mampu untuk menghentikan Bizard yang sedang dikuasai oleh api kemarahan. Dia terus melajukan mobilnya ke jalan raya. Pria itu tidak menyangka, sampai akhir dia terus dibohongi seperti ini oleh Joana.


Sebagai pria biasa yang bisa merasakan sakit hati, Bizard pun menangis di dalam mobil. Air matanya senantiasa mengalir deras hingga turun ke janggutnya. Dia terus bertanya pada dirinya sendiri, dari awal apa salahnya? Kenapa takdir begitu tega mempermainkannya seperti ini?


"Aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan lagi dariku, Jo? Rumah tangga ini benar-benar penuh kepalsuan!" lirih Bizard dengan sesak yang mengikat dadanya. Dia menambah kecepatan, tujuannya sekarang hanyalah apartemen Bianca.


Dia berharap wanita itu belum berangkat bekerja, karena kini hanya Bianca lah yang menjadi tempat pelabuhannya.


Tangan Bizard terkepal kuat hingga urat-uratnya terlihat menonjol, dengan emosi yang meluap dia memukul stir sambil berteriak. "Bangsattt!" Pria tampan itu tergugu, sebab hatinya merasakan sakit yang begitu luar biasa.


Walau bagaimanapun Joana tetaplah seseorang yang telah mengisi hatinya lebih dulu ketimbang Bianca. Mereka sudah hidup bersama selama satu tahun lamanya, tetapi semua itu terasa percuma, karena dia seolah tidak pernah bisa mengenali sifat istrinya.


Bizard sampai di basemen apartemen Bianca dengan keadaan yang cukup kacau. Sebab selama perjalanan dia terus-menerus meracau dan melampiaskan semua kekesalannya.


Tanpa menunggu lama, dia langsung keluar dari mobil dan melangkah ke arah unit apartemen istri keduanya. Pikiran pria itu buntu, hingga dia membutuhkan Bianca untuk berada di sisinya.


Langkah kaki lebar itu membawa Bizard sampai di tempat yang dia tuju. Tanpa menekan bel, dia langsung masuk dan disambut oleh wajah cantik Bianca yang tampak sudah rapih, karena dia akan berangkat bekerja.


Baru saja Bianca ingin buka suara. Bizard langsung menarik pinggangnya, dan membungkam mulut Bianca dengan ciuman. Pria itu membawa Bianca duduk di sofa, tanpa melepaskan pertautan di antara mereka.


Di sela ciuman itu, Bianca tersenyum tipis. Karena ini semua sudah ada dalam prediksinya. Kalian pasti bisa menebak, siapa yang telah mengirimkan surat hasil pemeriksaan Joana ke rumah?


Ya, itu adalah ulah Bianca. Kini dia bisa menggunakan uang untuk mendapatkan segalanya, sama seperti Joana saat membeli hukum yang menjeratnya.


Sebelum Joana memerintahkan seseorang untuk mengikuti Bizard, dia sudah lebih dulu meminta seseorang untuk memata-matai Joana. Beruntung wanita itu tidak curiga.

__ADS_1


Jadi sudah dipastikan bahwa semua kebohongan Joana, satu persatu Bianca yang membongkarnya.


Bizard mencium bibir Bianca dengan sedikit kasar, dan Bianca bisa merasakan itu semua. Ada emosi yang mengiringi tiap lumaatan yang Bizard berikan untuknya.


Namun, Bianca tidak akan mempermasalahkannya. Dia malah semakin gencar untuk membalas perlakuan Bizard. Hingga pria itu semakin jatuh pada permainannya.


Tangan Bianca sudah mengelus dada bidang Bizard, sementara ciuman mereka terlepas sesaat karena mereka kehabisan nafas.


"Ada apa, Bee? Kenapa kamu terlihat buru-buru?" tanya Bianca, pura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Bizard dan Joana.


Tatapan mata pria itu terlihat sendu, bercampur hasrat yang sudah menjadi satu.


"Aku menginginkanmu, Bian," balas Bizard dengan nafas yang terdengar memburu. Satu tangannya mencengkram dagu Bianca, sementara tangan yang lain sudah bertengger di dada.


Bianca tersenyum tipis, dia membuka kancing kemeja Bizard sambil mengikis jarak untuk kembali menyatukan bibir mereka. Dan permainan semakin bertambah panas, sebab tubuh kekar Bizard semakin meringsek ke sofa.


Sambil menangis dan menahan rasa sakit yang sesekali memenuhi perutnya, dia mengendarai kendaraan roda empat untuk menuju apartemen Bianca. Ya, dia sangat yakin bahwa Bizard ingin menemui wanita yang berani merusak rumah tangganya.


"Awas saja kamu! Jangan harap kamu akan lolos, Jalaang," gumam Joana dengan rasa geram. Dia menambah kecepatan, hingga membuat kendaraan roda empat itu mendahului kendaraan yang lain.


Beruntung jalanan belum terlalu macet, sehingga Joana tidak perlu merasa kesal karena harus menunggu lama untuk sampai di tempat tujuan.


Namun, cobaannya belum berakhir, sebab Joana ditahan di pintu utama. Sebagai bentuk privasi dan keamanan, seseorang tidak boleh sembarangan memasuki area apartemen orang lain, kecuali mereka adalah kerabat atau keluarga.


"Tapi suami saya ada di dalam sana!" sentak Joana dengan sekuat tenaga. Karena ia benar-benar tidak terima, jika Bizard menemui wanita lain di belakangnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, bisa tunjukan buktinya kalau suami anda benar-benar ada di sini?" tantang petugas keamanan. Bukan apa-apa, tetapi semua ini memang sudah menjadi bagian dari tugasnya.


Joana langsung mengelap air matanya yang sedari tadi turun dengan lancang. Dia membuka ponsel, dan menunjukkan foto Bizard yang dikirimkan oleh bodyguardnya.


"Ini mobil suamiku, dan ini orangnya. Kalian mengenal dia 'kan?" tanya Joana dengan bibir yang senantiasa bergetar.


Melihat foto yang ditunjukkan Joana, sudah tentu pria itu tahu siapa yang sedang dicari oleh wanita yang ada di hadapannya. Dia adalah pria yang membeli salah satu apartemen di kawasan tersebut untuk istrinya—Bianca.


Akhirnya setelah percekcokan itu selesai, Joana pun diizinkan untuk naik ke atas, di mana unit apartemen Bianca berada. Dia didampingi oleh satu staf keamanan, karena takut terjadi keributan yang berakibat fatal.


Dengan jantung yang bergemuruh hebat, Joana melangkahkan kaki untuk menemui kehancuran hidupnya. Dadanya seperti ingin meledak, setiap memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh Bizard dan wanita jalaangnya.


Hingga tak berapa lama kemudian, sampailah Joana di depan apartemen Bianca. Air matanya terus mengalir, mengiringi gerak tangannya yang memencet bel dengan keras.


Siap tidak siap, Joana harus menerima semuanya. Beberapa kali dia menekan benda kecil itu, akhirnya pintu sukses terbuka, dan menampilkan seorang wanita yang berpenampilan cukup berantakan.


Seketika itu juga Joana membelalakkan matanya. Karena dia begitu mengenali siapa wanita yang ada di hadapannya. Bianca? Seseorang yang pernah bekerja di rumahnya, wanita rendahan yang bahkan tidak memiliki pendidikan sama sekali? Astaga, apakah Bizard tidak bisa melihat perbedaan di antara mereka?


"Dasar wanita sundal! Jalaaang!" teriak Joana dengan lantang, tetapi makian itu langsung dipatahkan oleh ucapan Bizard.


"Dia bukan jalaang, dia istriku!"


Deg.


***

__ADS_1


Tahan, tahan 😌😌😌


__ADS_2