Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 46. Berbelanja (Memanjakanmu)


__ADS_3

Setelah mandi bersama, Bizard mengajak Bianca untuk pergi berbelanja. Tentang pernikahan mereka berdua, Bizard akan mengurus itu semua secepatnya. Agar Bianca percaya bahwa dia sungguh-sungguh ingin menikahi wanita itu.


"Sayang, mau pakai baju yang mana?" tanya Bianca, kini mereka berada di kamar Bizard dan Joana. Wanita itu tengah memilih pakaian yang akan dikenakan Bizard hari ini.


"Yang mana saja, Sayang, pilihanmu selalu bagus."


Bizard tak henti-hentinya memberikan pelukan hangat pada Bianca. Membuat wanita cantik itu mengulum senyum, dia pun mengambil satu set pakaian santai dari lemari Bizard.


"Pakai yang ini saja yah," ucap Bianca, kemudian melayani Bizard seperti biasa. Patuh, pria itu langsung memakai pakaiannya, sementara dua bola mata Bizard senantiasa menatap wajah cantik calon istrinya.


Bizard merapihkan sedikit anak rambut Bianca yang tak terikat. Dan sentuhan itu membuat Bianca mengangkat wajah, sementara tangannya sibuk mengaitkan kancing kemeja lengan pendek yang Bizard kenakan.


"Kenapa?" tanyanya.


Bizard mengulum senyum.


"Kamu cantik."


Siapa yang tidak akan tersipu jika dipuji seperti itu? Bahkan pipi Bianca langsung mengeluarkan semburat merah, membuatnya semakin terlihat menggemaskan di mata Bizard, hingga pria itu tak tahan untuk tidak menggigit dagu runcing Bianca.


"Aw, sakit, Sayang," keluh Bianca sambil memegangi dagunya, sementara Bizard hanya terkekeh kemudian mengusap pelan bekas gigitannya.


"Maaf, aku terlalu gemas."


"Kamu gemas setiap saat!"

__ADS_1


Bibir Bianca mencebik, dia melangkah melewati Bizard untuk kembali ke kamarnya. Namun, belum sampai di ambang pintu, tubuh Bianca terasa terbang ke udara, karena Bizard menggendongnya tanpa aba-aba.


"Aku tidak sabar ingin memakanmu, Honey."


***


Kedua orang itu sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota. Sebelumnya Bizard mengirimi Joana sebuah pesan, kalau dia akan pergi bersama Bianca untuk belanja bulanan.


Pesan itu hanya terbaca, tetapi kali ini Bizard tak menanggapinya begitu serius. Karena ada seseorang yang mampu membuatnya tersenyum sepanjang waktu. Wanita yang ada di sampingnya—Bianca.


Bizard membantu Bianca untuk membuka seat belt. Membuat wanita itu merasa begitu diistimewakan. Hingga dia berpikir jauh, bagaimana seandainya Bizard benar-benar menjadi suaminya? Akankah pria itu senantiasa bersikap manis seperti ini setelah semuanya telah terbongkar?


Ah tidak! Dia tidak boleh terlena dengan kebaikan Bizard. Kelak, pria itu pasti akan membencinya.


"Sayang, sebenarnya kita mau beli apa?" tanya Bianca, sebab Bizard bilang ingin membawanya untuk membeli sesuatu. Bukan hanya tentang kebutuhan rumah tangga.


Akhirnya Bianca hanya bisa patuh, dia keluar dari mobil dan mengekor pada Bizard. Mereka tidak bisa bergandengan tangan sebab di sini adalah tempat umum. Bizard tidak akan mungkin menyentuh Bianca dengan sembarangan, sementara statusnya masih menjadi suami orang.


Bianca seperti menemukan dunianya, dia melirik ke sana ke mari untuk cuci mata. Selama ini, dia hanya bisa menatap barang-barang branded itu dengan bola mata berbinar, tetapi tiba-tiba Bizard mengajaknya untuk masuk ke dalam.


"Pilihlah yang kamu suka, biar aku yang bayar," ucap Bizard, kemudian melangkah ke arah sofa untuk menunggu Bianca memilih pakaian. Namun, Bianca tak lekas mematuhi ucapan Bizard, dia malah mengekor pada pria itu, dan berdiri persis di depan Bizard.


"Bee, ini pasti mahal. Aku tidak mau!" tolak Bianca. Dia tidak boleh terlalu matre di depan Bizard, karena dari apa yang dia amati, Bizard cukup menyukai dia yang sederhana.


"Jangan membantah!"

__ADS_1


"Tapi —"


"Aku tidak suka mengulang kata-kataku."


Bianca menghela nafas panjang, kali ini dia tidak bisa membantah ucapan Bizard. Akhirnya Bianca memilih satu dress yang terlihat sederhana di matanya. Namun, tak disangka saat Bizard membayarnya, harga dress tersebut lebih mahal dari gaji Bianca.


"Astaga, aku tidak ingin kembali ke toko itu," gerutu Bianca berjalan lebih dulu, sementara Bizard hanya terkekeh kecil, bagi dia itu semua bukan apa-apa. Bahkan jika Bianca menginginkan rumah, dia akan membelikannya saat itu juga.


Setelah keluar dari toko pakaian, Bizard mengajak Bianca ke toko yang lain, wanita itu semakin menganga saat Bizard meminta dia untuk memilih satu set perhiasan.


"Apalagi ini, Bee?" tanya Bianca dengan kening yang dipenuhi tanda tanya.


Bizard mendekatkan kepalanya ke telinga Bianca. "Hadiah pernikahan." bisiknya, yang membuat Bianca tak bisa untuk tidak tercengang. Beginikah rasanya di ratukan?


"Bee, tapi ini terlalu berlebihan," balas Bianca dengan suara pelan, tak ingin ada seorang pun yang mendengar percakapan mereka.


"Tidak ada yang berlebihan untukmu, Sayang."


Bianca menarik nafas, mengamankan jantungnya yang sedari tadi berdebar dengan kencang. Dia tak bisa berbuat apa-apa, sebab membantah ucapan Bizard adalah sesuatu yang percuma.


Kali ini dia dibantu oleh Bizard untuk memilih perhiasan mana yang cocok untuknya, dan dia kembali menahan nafas, saat kasir menyebutkan total belanjaan mereka.


"Aku bilang juga apa? Tidak usah! Aku tidak pantas mendapatkannya," gerutu Bianca, tetapi Bizard tak peduli, dia malah merebut paper bag yang dipegang oleh Bianca sambil berkata.


"Habis ini kita beli mall-nya."

__ADS_1


***


Tahu gitu ajak gue yah😩


__ADS_2