Hasrat Penggoda

Hasrat Penggoda
Bab 79. Seperti Runtuh


__ADS_3

Baru saja Joana kembali ke perusahaan, dia sudah dimarahi habis-habisan oleh Evans. Karena kecerobohannya, perusahaan yang selama ini dibangun mati-matian sudah berada di ambang kehancuran.


"Di mana otakmu, Joana?!" sentak Evans, merasakan amarahnya yang sudah mencapai puncak ubun-ubun. Dia mencoba sabar, tetapi setelah mendapat kabar dari Dylan, bahwa beberapa pemegang saham meminta balik modal, dia terlihat sangat geram.


Namun, Joana tak bisa diam saja. Dia juga ingin membela dirinya, sebab dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia hanya sedang berusaha mempertahankan rumah tangganya dengan Bizard, jadi Evans tidak bisa memojokkannya seperti itu.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Dad! Jadi jangan mengaturku!" jawab Joana tak kalah menggebu, membuat Evans mendelik.


"Kamu berani berkata seperti itu di depan Daddy?"


"Kenapa tidak? Daddy selalu saja menekanku untuk melakukan ini dan itu, tapi Daddy tidak pernah mengerti bagaimana perasaan Joana?! Bizard hampir berpaling dariku, Dad, dan kamu pikir aku akan diam saja. No! Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankannya!"


"Astaga, Joana! Jadi hanya karena dia kamu meninggalkan meeting?"


Evans bertolak pinggang, dia terus menatap Joana dengan tajam, karena benar-benar tak habis pikir dengan cara kerja otak putrinya.


"Hanya? Bee itu suamiku, Dad. Ayah dari anakku! Aku tidak mungkin membiarkan dia berpaling, apalagi sampai bermain api!" teriak Joana frustasi, padahal sedari tadi dia menahan sakit pada perutnya.


Sebenarnya dokter telah menyarankan untuk melakukan tindakan kuretase atau istilah yang lebih dikenal dengan kuret. Akan tetapi Joana menolak, karena saat itu dia ingin segera menemui Bizard.


Dia juga tidak mungkin berbicara jujur pada Evans, tentang dirinya yang keguguran, cukup dia saja dan pihak rumah sakit yang tahu. Agar tidak ada orang yang bisa membocorkan rahasia itu pada suaminya.


Melihat kemarahan Joana, akhirnya Evans tidak bisa berbuat apa-apa. Dia yakin, jika dia melanjutkan pertengkaran ini, dia tidak akan bisa lagi menahan emosinya. Bisa-bisa Joana menjadi objek rasa kesalnya, dan membuat hati putrinya itu semakin terluka.


Evans mendesaah kasar, mengepalkan tangan dan meninju udara di sekitarnya. Tanpa berkata apapun, pria paruh baya itu keluar dari ruangan Joana.


Brak!

__ADS_1


Pintu ditutup dengan keras, bahkan membuat Dylan dan Joana kompak berjengit saking terkejutnya.


***


Setelah pertengkaran yang terjadi di antara Bizard dan Joana. Keduanya sama-sama bungkam, bahkan saat makan malam, keduanya sama-sama tak mengeluarkan sepatah katapun.


Hingga akhirnya Bizard pun mengalah. Dia memulai semuanya lebih dulu. Karena dia selalu ingat bahwa di dalam rahim Joana ada anaknya yang tengah berkembang, dia sama sekali tidak curiga, bahwa sebenarnya janin itu telah menatapnya dari surga.


Ketika Joana mulai berbaring, Bizard mendudukkan tubuhnya di samping wanita cantik itu. Hingga membuat Joana mengangkat pandangannya. Dia bertanya melalui sorot mata, ada apa?


"Luruskan kakimu, aku akan memijatnya," ucap Bizard penuh perhatian. Karena sejatinya, dia adalah tipe pria penyayang, jika dia diistimewakan, maka dia akan membalasnya seribu kali lipat dari apa yang ia dapatkan.


"Bee," lirih Joana.


"Aku tahu kamu lelah seharian bekerja, apalagi kondisimu yang sedang mengandung anak kita, jadi aku akan memijatmu," balas Bizard, kemudian mengangkat tangan dan mulai memijat kaki istri pertamanya.


"Terima kasih ya, Sayang," ujar Joana. Namun, entah kenapa Bizard merasa asing dengan panggilan itu. Seolah Joana bukanlah seseorang yang pantas mengucapkan kata 'Sayang' untuknya.


***


Pagi datang dengan cepat, bahkan Bizard sudah bersiap-siap dan duduk di meja makan untuk sarapan. Kali ini Joana yang memasak, sebab asisten rumah tangga mereka sedang izin untuk mengurus anaknya yang sakit.


Setelah Joana menyiapkan semuanya, dia pun pamit untuk membersihkan diri dan bersiap-siap bekerja. "Sayang, kalau kamu sudah lapar, kamu makan sendiri dulu ya."


Cup!


Satu kecupan melandas di pipi kanan Bizard. Pria tampan itu mengangguk samar, kemudian menatap kepergian Joana yang sudah melangkah ke arah kamar.

__ADS_1


Dia sedikit menyunggingkan senyum, tetapi bukan karena kecupan Joana. Dia merasa senang sebab hari ini dia dan Bianca akan bertemu.


Mereka sudah sepakat, untuk menghabiskan malam di apartemen, dan melepas rindu yang bersemayam di dada masing-masing.


Sementara di dalam sana, Joana sudah hendak masuk ke dalam kamar mandi, tetapi langkahnya terhenti begitu mendengar suara ponsel yang bergetar. Ya, hanya sebuah getaran yang menjadi nada dering di benda pipih itu.


Deg! Ketakutan itu kembali muncul, membuat Joana menelan ludahnya susah payah, dia mencari-cari di mana asal suara itu, hingga dia menemukan satu titik, yaitu tas kerja suaminya.


"Bukankah nada panggilan Bizard bukan seperti itu? Lalu ponsel milik siapa?" gumam Joana sambil melangkah ke arah tas yang tergeletak di atas ranjang.


Dia sedikit melirik ke arah pintu kamar, takut tiba-tiba Bizard masuk dan memergokinya. Dengan segala rasa takut, cemas, yang bersatu padu, Joana langsung menggeledah tas tersebut.


Awalnya dia tidak bisa menemukan benda pipih itu, tetapi begitu ia melihat resleting kecil yang entah digunakan untuk menyimpan apa, ia pun merasa curiga. Jantung Joana mendadak berdebar dengan sangat kencang, bahkan tangannya gemetar saat menarik resleting itu agar terbuka.


Pelan tapi pasti, akhirnya dia berhasil!


Joana berhasil membukanya dan dia benar-benar menemukan ponsel lain, yang ia yakini bukan milik Bizard. Saat itu juga, Joana merasa sesak nafas, dengan dua bola mata yang memanas.


Namun, waktu semakin bergulir, dia tidak bisa membuangnya hanya untuk menangis, hingga akhirnya dia memutuskan untuk membukanya.


Klik!


Dunia Joana seolah runtuh saat itu juga, saat ia melihat ada panggilan tak terjawab dari seseorang yang bernama "Honey Bee"


****


Jangan lupa komen, awas nih🙄🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2