
Setelah merasa cukup tenang, akhirnya Bizard pun menceritakan keadaan rumah tangganya dengan Joana.
Tidak ada yang ditutup-tutupi sedikitpun, dari awal sampai akhir Bizard mengadukannya pada sang ibu, berharap dengan begitu luka yang ada di hatinya bisa segera sembuh.
"Anakku, Mom—" Ludah Bizard tercekat di tengah tenggorokan. Tak sanggup menceritakan hal yang satu ini. Dadanya teramat lara, mengetahui fakta bahwa sang anak tiada karena ulah ibunya.
"Dia tega membunuh anakku," lirih Bizard sambil sesenggukan. Dia tidak sanggup lagi untuk bicara sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah menangis di pangkuan Zoya.
Suara raungan tangis Bizard terdengar sangat keras. Membuat siapa saja pasti akan merasakan lara yang sama.
Mendengar itu, Zoya langsung memejamkan matanya kuat-kuat. Hingga air matanya berjatuhan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya sang anak di dalam kehidupan rumah tangga yang seperti itu.
Sebab Kesakitan Bizard adalah kesakitannya, dan kebahagiaan Bizard adalah kebahagiaannya juga.
Sama seperti Bizard, Zoya pun kembali terisak kencang, dia mencium puncak kepala Bizard, berusaha untuk meredam amarah di dada anaknya. Meskipun ia tahu, itu sangat sulit, sebab yang dihilangkan adalah nyawa.
"Aku tidak tahu apa salahku, Mom. Aku juga tidak tahu apa yang kurang dariku. Sehingga Joana terus membohongi aku. Kalau boleh aku memilih, lebih aku sakit hati karena dia pergi bersama pria lain, dari pada dia harus menghilangkan nyawa anakku," ucap Bizard sambil memukuli dadanya yang teramat sesak.
Meskipun dia belum tahu bagaimana wujud anaknya, tetapi dalam pikiran Bizard sudah terbayang akan tangisan bayi kecil itu saat tahu dirinya dibunuh. Andai dia bisa bicara, pasti dia akan memohon pada Joana untuk tetap mempertahankannya.
Namun, entah ke mana hati nurani wanita itu, sehingga ia tega menghilangkan nyawa tak berdosa hasil buah cinta mereka.
Suara isak tangis terus bersahutan di ruangan itu. Bahkan salah satunya keluar dari mulut Ken, pria paruh baya itu sadar bahwa dia adalah sosok orang yang keras kepala dan juga tempramental. Tak peduli siapa yang ada di hadapannya, jika menurut dia salah, maka dia akan menghajarnya.
__ADS_1
Namun, setelah mendengar pengakuan Bizard. Hatinya terenyuh, jantungnya seperti diremass-remass, hingga menyisakan sakit yang luar biasa.
Tanpa bicara dia melepaskan pelukan putrinya, dan berjalan ke arah Zoya. Air matanya tak berhenti menetes, mengiringi langkahnya yang terasa begitu berat.
Tepat di hadapan Zoya dan Bizard, Ken berhenti. Dia mengangkat kedua tangannya yang gemetar, berusaha untuk menyentuh bahu Bizard. Sebuah sentuhan yang membuat Bizard menoleh, hingga ia bisa melihat wajah sang ayah yang dipenuhi oleh air mata.
Mereka saling tatap. Hingga akhirnya Ken menganggukkan kepala dan semakin membuka kedua tangannya, agar Bizard masuk ke dalam pelukannya.
Melihat itu, Bizard langsung bangkit, tanpa segan dia memeluk tubuh sang ayah dengan sangat erat. Dan Ken membalasnya berlipat-lipat. "Maafkan Daddy, Bee."
Kini Bizard tahu bahwa di depan kedua orang tuanya, dia tidak akan pernah terlihat dewasa. Dan baginya, Ken dan Zoya adalah orang tua terbaik, sosok yang tidak akan pernah tergantikan, meskipun kelak maut akan memisahkan mereka semua.
***
Sejak hari itu, perusahaan Joana mengalami kemunduran yang signifikan, hingga terancam gulung tikar. Belum lagi masalah Joana yang dipanggil untuk memenuhi sidang. Hal tersebut membuat perusahaan bertambah semakin kacau.
Dan hal tersebut tentu saja membuat wanita itu sangat stres. Terlebih Bianca kembali membawa kabar buruk yang membuat Laura—sang ibu—jatuh sakit. Karena ternyata orang yang membantu Bianca dalam menjalan misinya adalah Evans, ayahnya sendiri.
Pria itu menjadikan Bella simpanan, tanpa tahu bahwa wanita itu adalah sahabat Bianca di club malam.
"Dia benar-benar merencanakannya dengan sangat matang. Argh! Bianca, wanita sialan, badjingan kau!"
Sebelum memenuhi persidangan, Evans meminta tolong pada Edwin agar membantu Joana. Sebagai bentuk permintaan maaf pada putrinya.
__ADS_1
Namun, apa yang terjadi? Ternyata selama ini perceraian antara Edwin dan istrinya hanyalah rumor belaka. Mereka masih bersama, bahkan istri Edwin sedang hamil besar, dan mereka akan segera memiliki anak dalam waktu dekat.
Jadi, Edwin menolak untuk menolong Joana.
"Tidak usah so peduli, lebih baik Daddy pergi dari sini! Aku tidak sudi memiliki ayah sepertimu," ketus Joana saat melihat Evans berada di depan rumahnya.
Sebab amarah Joana selalu meluap ketika mengingat bahwa ada campur tangan Evans di dalam kehancuran hidupnya.
Mendengar itu, tentu saja membuat Evans meradang. Dia sudah berusaha untuk meminta maaf, tetapi di hadapan Joana dia seperti tidak ada harganya.
"Baik, kalau kamu memang tidak mau dipedulikan, maka jangan pernah mencari aku ketika kamu butuh pertolongan! Urus masalahmu sendiri!" ucap Evans dengan rahang yang mengeras. Dia tahu dia salah, tetapi sama halnya dengan Joana, dia pun memiliki sifat keras kepala.
Joana mendelik tak percaya, kini semua orang malah meninggalkannya. Di saat ia terpuruk, tak ada satupun yang bisa dia jadikan sandaran. Terlebih Bizard telah mengurus surat perceraian mereka.
Joana benar-benar hancur. Apalagi saat dia sudah masuk ke dalam ruang persidangan. Tangannya terus terkepal kuat saat hakim menyebutkan pasal demi pasal yang menjeratnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab uang yang dia punya telah terkuras habis untuk membayar hutang perusahaan.
Air mata Joana jatuh saat ketukan palu itu memenuhi gendang telinganya. Mengubah status dia menjadi seorang narapidana. Di dalam kehancuran yang ia terima, dia berusaha untuk tidak melirik ke arah Bianca yang duduk bersebrangan dengannya.
Namun, sialnya wanita itu malah menghampiri Joana. Seolah menyuarakan kemenangannya.
Tepat di hadapan wanita itu Bianca tersenyum lebar, membentuk seringai yang membuat Joana benar-benar merasa muak dan ingin menghabisi Bianca saat itu juga.
"Selamat menempuh hidup baru, Joana. Dengan status janda dan menjadi seorang narapidana, semoga kamu betah ya di penjara," bisik Bianca.
__ADS_1
***
Jangan lupa kembang, kupi dan mpotnya oey 🤸🤸🤸