
Bara seperti melihat slide film di hadapanya. Api yang membara di luar. Darah yang tergenang di lantai. Tubuh yang bersimbah darah, tergeletak tak berdaya.
Tetapi wajah ke dua orang yang terbunuh itu sama sekali tak dia kenal. Bara berusaha mengingat siapa wajah itu.
Tapi tak juga berhasil.
Yang Bara ingat malah seraut wajah yang tersenyum puas. Saat Bara kecil di gendong petugas keluar dari rumah mereka , malam itu.
Bara melihat ada sosok berdiri tak jauh dari halaman rumah mereka. Laki- laki dengan pakaian serba hitam. Dengan senyum licik!
Mata Bara terarah ke sana, karena petugas mendudukan Bara di mobil petugas. Dan membiarkan pintunya tetap terbuka.
Hanya dia sendiri yang berdiri di sana. Dengan tatapan tajam ke arah gudang yang terbakar.
Di saat semua orang sibuk memadamkan api. Dia tetap berdiri. Lalu diam - diam pergi. Dia luput dari perhatian semua orang malam itu.
Posisinya berdiri malam itu, sama seperti saat ini.
Angkuh dan arogan. Bedanya, kalau dulu dia masih muda, sekarang dia seperti pohon kering yang siap di tebang.
Bara melangkah dua langkah hendak menjumpai lelaki tua itu. Ingin memastikan, wajah yang telah menebar teror ke banyak orang . Itu rumor yang ia dengar.
" Bara! Apa yang hendak kamu lakukan!" tegur Frank. Saat melihat Bara yang tadinya tertegun. Kini beranjak dari tempatnya menuju Vincent.
" Aku hanya hendak memastikan, masihkan lelaki tua itu punya nyali!" cetus Bara.
" Sudah. Ayo pulang! Sebentar lagi fajar datang."
" Dia ternyata hanya lelaki biasa. Seperti kayu lapuk menunggu pembakaran." guman Bara. Tapi cukup jelas terdengar oleh Vincent.!
Vincent menendang tubuh Rendra yang masih tergeletak di depannya. Melampiaskan amarahnya!
Bisa- bisanya Frank berani datang menginjak tanah pribadinya. Mengancamnya! Dihadapan anak buahnya. Harga dirinya serasa tercabik! Kepalan tangannya menonjolkan buku jarinya. Hingga nampak memutih.
Belum lagi ocehan bocah ingusan yang sok, jago.
Siapa tadi namanya. Bara? Iya , benar Bara. Begitu tadi Frank memangil bocah itu!
__ADS_1
Oke, tunggu saja. Sebesar apa nyalimu menghadapi ku. Akan kuremukkan semua tulang- tulangmu. Terutama karena telah berani melecehkan ku. Tunggu saja bocah!
Vincent menyuruh anak buahnya melepas tali ikatan Rendra. Lantas ia masuk ke rumahnya yang berdiri megah, mirip kastil saja dengan lusinan kamar.
Vincent membangun rumahnya bak istana saja. Rumahnya yang berdiri megah di atas perbukitan. Di areal hutan pinus dengan luas puluhan hektar.
Telah mengukuhkan diri Vjncent seorang tuan tanah.Dulunya tanah - tanah itu ia beli dengan harga miring dari beberapa warga, yang ia teror kehidupannya.
Banyak para warga yang meninggalkan tanah dan pertaniannya begitu saja.Mereka pindah ke kota kecamatan lain. Sehingga tanahnya jadi terbengkalai dan di klaim Vincent sebagai hak miliknya.
Akses jalan menuju bukit itu adalah milik pribadinya juga. Dengan menyogok beberapa pejabat pemerintahan, Vincent dengan mudah mendapat fasilitas dan kemudahan lainnya dalam urusan bisnisnya.
Karena itulah tak banyak yang tau soal ladang dan pabrik pengolahan barang terlarangnya.
Selama ini, Vincent aman- aman saja mengelola bisnis illegalnya.
Tapi tidak, setelah tetangganya Frank, pengelola tanah pertanian yang kembali membuka lahan pertaniannya.Juga perusahaan Artha Gruop yang dulunya adalah perusahaan yang sama sekali di pandang sebelah mata olehnya. Kini telah berbenah di bawah pinpinan Ceo baru mereka yang di datangkan dari luar negeri.
Bahkan tanh pertanian yang selama ini di kelola Frank dengan seadanya saja, kini juga sudah mulai di kembangkan dengan memulai membangun irigasi dulu.
Pembangunan irigasi itu adalah sebuah ancaman besar bagi bisnis terlarangnya. Karena itu dulu dia nekad menghabisi keluarga Hartono, untuk memuluskan usahanya.
Dan sudah dua puluh tahun tanah itu terbengkalai.
Tapi sekarang dia tidak mungkin lagi menggunakan cara kuno selerti dulu lagi. Untuk menyingkirkan Frank.
Gertakan Frank tadi bukanlah sekedar ancaman kosong. Vincent sadari itu. Selama ini Frank hanya diam. Bukan berarti takut atau bodoh.
Instingnya mengatakan, bahwa Frank tengah membangun kekuatan. Jadi dia tidak boleh bertindak gegabah.
Salahnya sendiri, kenapa dulu tidak ikut melenyapkan Frank. Sehingga dia sekarang memperlihatkan taringny!
Dia memang menganggap remeh, Frank. Karena Frank bukanlah salah satu dari keturunan Wisnu. Tapi siapa sangka, Wisnu memberi wasiat apa bila keturunannya telah, meninggal semua. Franklah yang berhak mengurus semua harta warisannya.
Vincent tak bisa menyentuh Frank waktu itu. Apabila Frank bernasib sama dengan keluarga Hartono, dialah orang yang paling di curigai dengan kematian tragis keluarga Hartono.
Karena keluarga Hartono sejak dari ayahnya, Wisnu adalah musuh bebuyutan!
__ADS_1
Semua bukti keterlibatannya atas kematian keluarga Hartono, ada pada polisi. Tapi karena kelicikannya yang menyuap beberapa pejabat dan pengacaralah membuat dia bebas hingga hingga saat ini.
***
Di tempat lain, Sava yang telah melarikan diri dari istana Vincent tengah menyusuri jalan setapak. Rencananya Sava hendak ke kota. Untuk mencari pekerjaan agar dia bisa memiliki uang untuk pergi lebih jauh.
Vincent memang belum menyadari kalau Sava telah melarikan diri. Penyerangan anak buahnya ke proyek irigasi yang boleh di katakan gagal, karena mendapat perlawanan.
Sangat menyita perhatiannya. Apalagi Rendra yang babak belur kena hajar. Padahal Rendra adalah anak buahnya yang paling ia andalkan.
Bara melajukan kenderaanya sangat kencang. Karena ia ada rapat di perusahaan. Sementara Bas ia suruh membantu memulihkan kekacauan di proyek.
Bara kurang fokus pada jalan raya, karena sekretarisnya, Reni telah berkali - kali menghubunginya. Bara tak melihat, saat itu ada seorang pejalan kaki hendak menyeberang.
Bara menginjak pedal rem, secara mendadak. Suara decit ban mobil beradu dengan aspal mengagetkan pejalan kaki.
Tak urung bumper depan mobil menabrak pejalan kaki itu. Hingga terpental beberapa meter
Bara menahan nafasnya. Untuk seketika Bara menahan sakit di kepalanya karena terbentur oleh kemudi. Ada darah merembes di keningnya.
Tapi Bara tak memeperdulikan keadaan dirinya.
Bara lebih khawatir dengan seseorang yang barusan ia tabrak.
Dengan menahan pusing, Bara mencari orang yang ia tabrak. Kebetulan jalanan sunyi, sehingga tidak ada yang menyaksikan kejadian itu.
Akhirnya Bara melihat sesosok tubuh yang terkapar di rerumputan dalam keadaan pingsan.
Bara mengangkat tubuh itu, lalu meletakkannya di kursi penumpang. Tak ada luka memar di tubuh lelaki yang tabrak.
Tapi Bara memutuskan membawanya ke Rumah Sakit. Takut terjadi apa- apa dengannya.
Untunglah jarak Rumah Sakit tidak terlalu jauh. Bara tiba dengan segera dan meminta bantuan lara medis untuk membawa korban.
Dengan sigap para medis membawa korban ke ruang gawat darurat.
" Pak, bapak harus ikut juga. Sepertinya bapak juga terluka," ucap salah satu petugas kesehatan kepada Bara.
__ADS_1
" Tolong dia saja dulu, suster. Aku tidak apa- apa." sahut Bara seraya menekan keningnya dengan saputangannya. Bercak darahnya telah membasahi kemeja putihnya.
" Ayolah pak. Bapak juga butuh perawatan. Benturan di kepala bapak jangan di anggap sepele, pak." akhirnya Bara menurut saja saat dirinya di bawa ke ruang gawat darurat. ***