
Hari ini, Sava resmi bekerja di perusahaan Artha Group. Ada hal lucu yang terjadi saat Sava di perkenalkan dengan nama Dave.
Sosok Sava yang menampilkan seorang pria, harus berhadapan dengan cewek- cewek yang cari perhatiannya.
Bahkan terang- terangan mengodanya. Bulu kuduk Sava berdiri, ngeri dengan respon mereka yang mengira dirinya laki- laki.
Tapi tak mungkin Sava buka kartu. Membuka rahasianya sendiri, yang taruhannya adalah nyawanya .
Sava harus bisa bertahan dalam sandiwara ini!
Kalau tidak ingin, rahasianya terbongkar.
Apa lagi saat Sava di tempatkan sebagai staf khusus untuk Bara. Selentingan kabar miring merebak di antara karyawan. Yang mengira ada hubungan khusus di antara Sava dan Bara.
Melihat dari sikap Bara yang selama ini acuh dan dingin terutama terhadap wanita. Mereka menduga kalau Ceo mereka penyuka sesama jenis.
Apalagi saat mereka melihat Sava terlalu manis untuk seorang pria. Makin kuatlah dugaan mereka.
Bukannya tak tau gosip yang beredar di tengah para karyawannya. Tapi Bara memilih tak perduli.Tetap bersikap dingin dan acuh. Seperti kesehariannya.
Sementara Sava malah panas dingin mendengar gosip itu. Terlebih kalau di hadapannya karyawan itu berani menyindir secara langsung. Beda dengan di depan Bara. Atau pas mereka jalan bersama. Para mulut nyinyir itu pasti bungkam.
Seperti hari ini setelah seminggu Sava bekerja. Saat ia duduk sendiri di sudut kantin dengan segelas kopi instan. Bara masih asyik dengan pekerjaannya, sehinnga Sava diam - diam pergi ke kantin.
Di depan Sava beberapa meja jaraknya dari tempat duduknya. Daniah, Rita, Nia juga Reni juga duduk seraya menunggu pesanan mereka.
" Eh Itu, Dave. Kita samperin yuk!" bisik Daniah.
" Ah, biarin aja. Aku gak suka sama cowok bertulang lunak," cemooh Rita.
" Hush, ngomong jangan keras- keras, ntar dia dengar dan ngadu ke pak Bara. Bisa kena pecat, lo!" tegur Reni. Rita malah meleletkan lidahnya.
" Tapi tumben pak Bara nya gak ada. Biasanya kan lengket," nimbrung Nia penasaran.
" Bukan urusan akuh. Mau bareng kek, mau jauh kek. Itu tak penting." dengus Rita lagi.
" Kamu Rit. Sentimen banget sih?" colek Nia.
" Bodo ah. Jeruk makan jeruk, siapa yang gak jijik," ucap Rita makin ketus.
Dengan volume suara yang lumayan keras. Sava mendengarnya dengan sangat jelas. Sava terbatuk mendengar sindiran itu. Tapi ia tetap berusaha tenang.
Sava menatap tajam ke arah mereka berempat.
__ADS_1
" Padahal kalau gak kayak gitu, dia cukup tampan lo. Seperti artis korea aja. Hihi..hihi." kekeh Daniah. Membalas tatapan Sava.
" Tapi sangat di sayangkan, mau- maunya jadi ..." Nia tak jadi meneruskan ucapannya karena melihat Bara, berjalan ke arah kantin.
" Dave, ngapain di sini? Pergi tak pamit!" sergah Bara, kesal.
" Tuh, karyawanmu mulutnya, pada pedes! Sekolahin dulu biar pada tau sopan santun. Biar gak gosipin orang terus." sahut Sava dengan muka kecut.
Bara langsung menoleh ke meja Daniah dan temannya. Wajah ke empatnya langsung memucat, begitu Bara menatap mereka.
Mereka tak menyangka akan di serang balik seperti ini. Sehingga terjadi perang batin.
Tuh mulut kayak punya perempuan, batin Daniah ngedumel dalam hati.
" Mampus gua," rutuk Nia dalam hati pura- pura sibuk dengan ponselnya.
" Ih, gimana nih. Bakalan kena pecatlah aku. Kok itu mulut pas kek mulut ban**. Perangah Rita. Yang sejak dari awal paling anti dengan Dave.
" Ya udah, siap- siap ajalah aku kena pasal. Tadi mulut Rita udah keterlaluan banget. Wajar Dave ngadu. Tapi salah siapa juga coba. Ngapainlah bos nya Bara, bawa- bawa cowok gitu ke perusahaan.
" Reni! Temui aku di ruanganku. !"
Nah kan? Kaki Reni lemas, mendadak tak bertulang. Reni menggeser kursinya.
Ke tiganya menunduk tak berani menatap Reni.
" Kalo ada apa - apa denganku. Kalian akan kuseret juga," ancam Reni. Ke tiganya persis cacing kepanasan mendengar ancaman, Reni.
Reni bergegas mengikuti langkah Bara dan Dave yang sudah jalan duluan.
Pelan, Reni mengetuk pintu ruangan Bara. Terdengar sahutan dari dalam.
Dengan jantung berdegup kencang, Reni mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan Bara.
" Kamu tau kenapa di panggil ke mari?"
Reni makin menundukkan kepalanya.
" Sava sini!" seru Bara . Sava keluar dengan berlinang aiir mata.
Sava???
Siapa Sava?
__ADS_1
Reni kebingungan. Bukankah itu Dave?
Tapi kenapa bosnya menyebutnya Sava?
Bara menangkap raut kebingungan di wajah Reni.
" Dia adalah Dave. Tapi dia jugalah adalah Sava. Dia perempuan sama seperti kamu, Reni. Saya menolongnya dari orang yang hendak berbuat jahat padanya. Sama seperti kamu dulu.
Tapi untuk melindungi dirinya, dia harus menyaru jadi laki- laki." jelas Bara gamblang.
" Maafkan saya dan teman saya pak. Kami tidak.."
" Cukup! Sejak sekarang kamu harus hentikan teman- temanmu menebar gosip. Dan, jaga rahasia tentang Dave. Jangan sampai rahasianya bocor. Keluar!" hardik Bara.
" Ba..baik pak," buru- buru Reni keluar dari ruangan Bara. Reni menarik nafasnya dan melepasnya sepuasnya. Hanya beberapa menit di dalam ruangan bosnya. Sepertinya dia telah lupa berjam- jam untuk bernafas.
Pertama karena aura bosnya yang begitu dingin. Dan, tentang siapakah Dave yang sebenarnya. Mengapa bosnya begitu melindunginya? Sampai dia harus menyaru jadi seorang laki- laki?
Bergegas Reni menuju mejanya. Rasa haus tetiba menyerang tergorokannya. Reni menyeruput air putih, di gelas yang ada di atas mejanya hingga tandas!
" Kamu itu harus kuat Sava. Seharusnya, kamu juga tak ambil pusing apa yang di omongkan mereka."ucap Bara setelah Reni keluar dari ruangannya.
" Tapi ucapan mereka itu terlalu berlebihan. Dan sangat menyakitkan sekali."
" Ya, sudah! Lebih dari situ sudah kamu alami. Masak hanya karena dengar gosip murahan kamu sudah melempem. Ingat, tujuanmu untuk balas dendam! " hardik Bara. Sava melototkan matanya ke arah Bara, yang termakan emosi.
Bara sengaja berucap begitu, agar semangat Sava tidak patah. Tapi entah kenapa, hardikan Bara malah membuat hati Sava makin patah.
Air mata Sava makin deras mengucur. Rasa sakitnya makin membuatnya kehilangan pegangan. Tubuhnya bergetar hebat.
Bara kaget melihat reaksi Sava yang tidak ia duga sama sekali. Apa yang salah dengan ucapannya tadi?
" Sava kamu kenapa? " Bara merengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Sava mendorong tubuh Bara. Dia mengusap air matanya, lalu menarik nafasnya dalam- dalam.
" Kamu benar, terimakasih telah mengingatkan aku," sahut Sava dingin.
Membuat kening Bara berkerut. Bara sungguh bingung dalam sekian detik sikap Sava berubah drastis.
Sava keluar dari ruangan Bara, dia tak ingin Bara melihat air matanya lagi. Entah kenapa hatinya tadi begitu sakit, saat mendengar hardikan Bara. Dia tau, Bara tidak bermaksud menyakiti hatinya dengan ucapannya.
Tapi entah kenapa, sisi sensitif dalam hatinya seakan di sentil. Dan yang paling membuatnya bingung, mengapa tiba- tiba ia serapuh ini?
****
__ADS_1