Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 42


__ADS_3

Setelah berusaha keras, Bara berhasil menyusul Sisy. Melihat Bara berhasil menyusulnya, Sisy memeperlambat langkah si hitam putih. Sisy memeluk kuda itu dan mengusap lehernya.


Dengan sorot mata dingin, Bara memandang Sisy. Nafas Bara memburu karena mengejar Sisy.


Selain kesal, Bara bersyukur juga, karena Sisy tidak apa- apa.


Sungguh, tadi Bara sangat mencemaskan Sisy. Karena belum mengenal medan, juga karena kuda yang di tunggangi Sisy suka berulah. Entah kenapa Sisy bisa menaklukkannya.


Sisy tertawa sumringah, takjub akan panorama yang tersaji di depannya. Suasana alam yang masih alami. Sisy menarik nafas dalam- dalam, menghembuskannya secara perlahan.


Dengan mata terpejam, seolah ingin menyatu dengan alam.


Bara menyaksikan semua tingkah Sisy. Masih jelas tersisa rasa kesal di hatinya.


" Apa ke indahan alam ini, tidak bisa meluruhkan kemarahanmu?" sindir Sisy. Jauh di hatinya, Sisy senang karena berhasil menarik perhatian Bara.


Hanya dengan cara seperti ini, dan bertingkah konyol dia bisa mencuri perhatian Bara. Sehingga dia bisa berduaan dengan Bara.


" Tergantung dengan siapa dan momennya apa."


sahut Bara sarkas. Sisy selalu berhasil memunculkan sisi buruk dalam dirinya.


" Hem, jadi dengan aku kamu tidak.bisa menikmati semua keindahan ini, Bar?" delik Sisy seolah di tantang


" Kamu memang konyol. Setelah kekacauan yang kamu buat, kamu malah berharap aku menikmati semua ini! Yang ada aku, justru ingin menghajarmu!" ungkap Bara.


" Ha...ha..." Sisy tertawa lepas. Bara memang selalu berterus terang menunjukkan sikapnya di hadapan Sisy.


" Lalu, kenapa tidak kamu lakukan saja. Bukankah kita hanya berdua di sini. Kamu bisa melampiaskan amarahmu padaku." tantang Sisy.


" Dasar bodoh" maki Bara. Di tepuknya lembut si putih untuk berjalan. Si putih melangkah lambat. Mengikuti perintah tuannya menuju Irigasi.


Sejauh mata memandang, tanah pertanian di lembah sudah di garap para petani. Petak- petak hijau terhampar. Sangat kontras dengan hijaunya pohon pinus, yang seolah jadi pagar.


Sisy mengikuti langkah Bara. Dan berdecak kagum melihat lembah yang di tanami padi. Sisy tak menduga kalau di balik pepohonan pinus ada lukisan alam yang begitu excotic.


Diam- diam Sisy mengamati punggung lelaki gagah di hadapannya. Lelaki yang sangat sulit menampakkan sisi lembutnya. Lelaki yang ia puja dan harapkan selama ini.

__ADS_1


Tapi perlahan semakin jauh dari gapaiannya!


Hanya untuk menarik perhatiannya saja. Harus melakukan aksi liar yang mengancam nyawanya.


Sungguh, kejadian tadi sempat membuatnya merinding.Berpacu dengan kuda di tempat yang belum ia kenal medannya sama sekali. Juga dengan kuda yang telah di peringatkan agak agresif. Beruntung sekali, bisa ia taklukkan dengan mudah.


Tapi hati sosok di depannya, bertahun- tahun dia dekati. Malah semakin jauh. Tapi dengan gadis yang tinggal di rumahnya itu, kok bisa - bisanya Bara memperlakukannya dengan lembut.


Baru beberapa hari, dia datang. Sisy bisa melihat betapa kedua sejoli itu saling mencintai. Bahasa tubuh mereka tak bisa menipu. Walau sikap Bara, masih dingin.


Tapi sorot matanya setiap kali memandang Sava, ada percik cinta di sana. Sesuatu yang tak pernah di temukan Sisy tersirat padanya.


Bara telah turun dari kudanya, dan berdiri membelakangi Sisy. Kedua tangannya di masukkan ke kantong celananya. Hawa dingin mulai terasa menggigit.


Ingin rasanya Sisy memeluk tubuh itu dari belakang. Mendapatkan pelukan hangatnya sekali saja. Atau melihat tatapan matanya mengerjap indah untuknya, meski sekejap.


Tapi hati itu bukan untuknya. Adalah sia-sia untuk mengharap memilikinnya. Sesuatu menggenangi netra Sisy. Sekuat hati ia mencoba agar perasaan melankolis ini tak menguasainya.


Tapi terlambat!


Mengulurkan tangannya. Membuat Sisy gelagapan.


" Ayo, aku bantu kamu turun!" ucap Bara terasa begitu lembut di telinga Sisy. Sisy mengulurkan tangannya. Menggemgam tangan Bara, yang begitu kokoh dan terasa nyaman.


Tapi sial, Sisy tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya saat mau melompat. Akhirnya tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan Bara. Bara yang tak menduga tubuh Sisy limbung, dengan refleks menangkap tubuh, Sisy.


Untuk beberapa saat ke duanya berpelukan. Sisy mencium aroma tubuh Bara. Aroma yang begitu ia sukai. Tapi Sisy tiba- tiba menarik tubuhnya dari pelukan Bara. Sebelum hatinya bertambah luka, dia harus mengentaskan pesona Bara di hatinya.


" Eh, maaf.." Sisy menjauhi tubuh Bara dengan wajah bersemu merah.Kejadian yang hanya beberapa detik itu telah membuat hatinya gemetar.


" Hati- hati!" ucap Bara tercekat. Masih dengan eskpresi wajah datar. Itu yang di tangkap mata Sisy. Sesaat dia melepaskan dirinya.


Sisy mengedarkan pandangannya kesekitarnya. Diam-diam mengusap air bening di matanya. Ah, mengapa perasannya jadi rapuh seperti ini. Sisy benci pada dirinya. Selama ini ia selalu bersikap tegar.


Apakah karena suasana alam ini yang membuatanya jadi begitu melankolis?


Tiba- tiba Sisy merasakan pelukan dari belakang tubuhnya. Sisy terkejut! Sisy menggigit bibir bawahnya. Apakah ia bermimpi? Tapi gigitannya terasa sakit. Lalu siapa yang memeluknya? Barakah?

__ADS_1


Sisy ingin berontak, tapi tubuhnya terasa kelu untuk bergerak. Tidak! Ini hanya halusinasiku. Tidak mungkin seorang Bara memelukku seperti ini.


" Sisy, kamu kenapa? Kamu kedinginan ya?"


Nah! Tuh kan? Semua hanya ilusiku? Ah, tempat ini membuatku jadi kacau! Sergah hati Sisy.


" Sisy!" sentakan itu menyadarkan Sisy dari perangkap lamunannya.


" A...ada apa?" suara Sisy gagap.


" Ayo pulang, sudah sore.Tidak baik terpapar hawa dingin di sini." seru Bara. Menuju ke arah kuda yang ia tambatkan tadi.


Sisy mengikuti langkah Bara. Sisy manut saja saat Bara, membantunya naik ke punggung kuda. Juga ketika Bara menuntun kudanya, jalan bersisian.


Sisy hanya bisa diam. Manut saja seolah energinya telah hilang. Bara merasa heran melihat perubahan sikap Sisy. Beberapa menit lalu Sisy masih cerewet. Kok mendadak diam seperti ini?


Terus terang Bara lebih suka melihat Sisy bertingkah dari pada diam seperti ini. Entah apa yang membuat Sisy berubah mendadak begini. Apakah karena kedinginan?


" Sy, kamu tidak apa- apakan?" jelas ada nada khawatir dalam ucapan Bara. " Kamu kedinginan ya?" lanjutnya lagi. Sisy mengangguk lemah. Sisy juga tak tau kenapa dirinya tiba- tiba serapuh ini.


Bara jadi panik. Dihentikannya langkah kuda Sisy, lalu Bara mendekati Sisy. Meraih kedua tangannya. Telapak tangan Sisy memang tersa dingin. Bara menggosok- gosokkan telapak tangannya ke telapak tangan Sisy.


Mencoba mengalirkan hawa panas tubuhnya. Sisy memang menggigil kedinginan. Giginya gemelutuk menahan hawa dingin yang tiba- tiba menyergap tubuhnya.


Untuk mencegah hal yang lebih buruk lagi. Bara pindah ke kuda Sisy. Bara memukul si Putih untuk pulang sendiri.


Sementara Bara memacu si hitam putih agar segera sampai ke rumah. Dengan satu tangan menyangga tubuh Sisy. Dan satunya memegang tali kekang.


Keadaan tubuh Sisy makin lemas, tapi kesadarannya masih berpungsi. Dekapan tubuh Bara pada tubuhnya masih menyadarkannya. Degub jantung Bara, yang terasa di punggungnya seolah itu adalah degup jantungnya sendiri.


Bas yang tengah mencuci mobilnya di dekat garasi terkejut melihat si putih yang pulang sendiri tanpa tuannya.


Ringkikan kuda itu seolah memberi tahu ada yang tidak beres. Buru- buru Bas masuk ke rumah, mengambil ponselnya. Hendak menghubungi, Bara.


Tapi ponsel Bara tidaj aktif. ***


Mohon like dan komennya readerku terkasih.

__ADS_1


__ADS_2