
Dewi yang tidak menduga suaminya akan bertindak kasar, menjerit kesakitan . Saat kaki suaminya mampir di perutnya.
Dewi terduduk menahan sakit di perutnya. Dewi tidak menduga sama sekali kalau suaminya akan bertindak kasar.
" Apa yang kamu lakukan bang. Kenapa kamu tega menyakiti aku dan anak kita." Dewi mengaduh kesakitan.
" Pergilah segera. Aku tidak ingin melihat lagi wajahmu. Jangan pernah datang ke mari lagi!"
" Bang! Aku ini istrimu bang!" Dewi susah payah mau berdiri. Rasa sakit di perutnya makin menjadi. Dewi terkejut, saat melihat ada darah merembes di sela kakinya.
"Astaga, apa yang terjadi denganku? Aduh, sakit. Bang! Tolong aku bang. Anak kita bang!" jerit Dewi menahan sakit yang amat sangat. Wajahnya memutih pucat.
Tapi Alex mengabaikan teriakan Dewi. Alex malah menyuruh anak buahnya untuk menyeret Dewi ke luar.
" Cepat! Singkirkan perempuan itu dari sini!" perintah Alex, pada anak buahnya.
" Tapi pak, kasihan dia pendarahan." ucap pria kekar dengan iba.
" Bukankah dia istri bapak?" seru pak kumis bingung. Apalagi melihat keadaan Dewi yang meringis menahan sakit.
" Dia bukan istri saya lagi. Perempuan itu tidak pantas jadi istri saya. Istri saya adalah LiLy." ucap Alex pongah, seraya memeluk Lily mesra. Dan menciumnya sekilals.
" Apa salah saya, bang? Kenapao abang tega menyakiti saya dan anak kita?" lenguh Dewi perlahan. Tiba- tiba Dewi merasa sekitarnya gelap. Dewi jatuh pingsan.
" Aduh! Bu, ibu. Sadar, bu." pak kumis mengguncang tubuh Dewi, tapi Dewi tidak merespon.
" Aduh, bos! Gimana nih. Dia pingsan!
Alex mendekat, sekali lagi dia menendang tubuh Dewi. Memastikan apa benar di pingsan.
" Woi! Bangun!" seru Alex.
" Cukup pak! Jabgan menyakiti dia lagi. Kasihan, kalau ada apa- apa dengan kandungannya."
" Alah, dasar! Cepat singkirkan perempuan ini. Buang di ke jurang!"
" Tapi pak....!!!"
" Tidak ada tapi- tapian. Ayo, cepat!" perintah Alex murka. Dengan ketakutan ke dua anak buah Alex terpaksa menuruti perintah Alex.
__ADS_1
Mereka menggotong tubuh Dewi yang telah berlumur darah di sela- sela kakinya. Keduanya memasukkan tubuh Dewi ke mobil.
"Gimana ini, apa kita harus membuangnya seperti kata bos, Mis?"
" Aku juga bingung. Gak tega aku. Kejam kali tu si bos, sama istrinya. Mentang-mentang dinikahi bos Lily."
" Ya, sudahlah. Kita letakkan saja di pinggir jalan. Biar di lihat orang yang melintas. Mudah- mudahan ada yang nolong."
" Tapi, gimana kalau terjadi sesuatu padanya, Mis? Kita antar saja sekalian ke rumah sakit, gimana?"
" Kalau kamu mau digorok, Bos. Silahkan. Tapi aku juga gak tega, melihatnya." keluh si Kumis.
Tiba- tiba pknsel si Kumis berdering. Buru- buru dia mengangkatnya.
" Kalian di mana? Lama kali kembali!" seru Alex lantang di seberang.
" Iya, bos. Bentar lagi kami selesai. Masih cari lokasi."
" Kampret! Cepat lakukan, atau kalian aku bunuh, hah!"
" Iya, ya bos. Kami sudah tiba di lokasi," lapor si Kumis ketakutan.
Darah berceceran di bagasi. Kedua anak buah Alex itu langsung mengangkat tubuh dewi dan meletakkannya di pinggir jalan. Dan bergegas berlalu dari yempat itu, sebelum ada yang melihat. Mereka kembali ke pos. Melapor pada Alex.
" Bagaimana, apa tugas kalian telah selesai?" selidik Alex dengan mata garang. Keduanya mengangguk lemah.
" Sudah bos." sahut si pria kekar." melirik ke arah rekannya.
" Bagus! Kalau ada yang mencarinya ke sini. Katakan kalian tidak tau apa- apa, faham!" gertak Alex kasar.
" Iya, bos."
" Nih, ambil!" Alex melemparkan amplop tebal ke arah kedua anak buahnya. Alex tersenyum licik. Senyum kepuasan terlintas di sudut bibirnya.
" Aku tak menyangka, ternyata kamu setega itu, dengan istrimu, Lex. Kamu tak.menyesal sama.sekali." Lily memeluk tubuh Alex dari belakang.
" Semua kulakukan demi kamu sayang?"
" Tapi tidak segitu, kali. Kamu bisa menceraikan- nya tanpa harus melukainya. Tapi aku senang juga. Itu artinya kamu adalah orang yang sadis. Aku butuh orang seperti kamu. Yang tidak segan- segan bertindak bila terancam."
__ADS_1
" Bukankah sudah aku katakan, aku akan melakukan apa saja, untukmu." dengus Alex kesal. Karena Lily masih saja meragukannya.
" Bagus, kamu memang orang yang tepat untuk membalaskan kematian pamanku, Vincent! Aku ingin kamu membunuh, Bara. Orang yang telah menghabisi pamanku!" seru Lily dengan tatapan penuh api kebencian.
" Aku sudah siap kapan saja kamu butuhkan, sayang." desah Alex seraya menc**m bi**r istrinya yang selalu menggodanya. Desah manja Lily membuat gairah Alex makin memuncak. Alex membopong tubuh istrinya ke kamar. Ingin menikmati setiap celah dari tubuh seksi itu.
Tanpa ada beban sama sekali di hatinya. Setelah apa yang dia lakukan pada Dewi, istrinya. Nuraninya benar- benar sudah mati. Alex begitu tega. Semua dia lakukan hanya untuk uang dan jabatan. Lily telah memberikan segalanya, padanya. Sehingga ia lupa pada istrinya, Dewi. Yang ia tinggalkan di desa.
Tiga bulan yang lalu.
Saat Alex tiba di kota bersama teman, Arden. Alex bekerja sebagai kuli angkut di Pasar. Satu bulan dia bekerja di sana. Sekalipun berat, Alex menikmati pekerjaannya itu. Sedikit demi sedikit dia menyisihkan penghasilannya, untuk dia kirimkan ke istrinya di kampung.
Bulan kedua, Alex mengalami satu peristiwa yang membuat hidupnya berubah.
" Copet! Copet! " teriakan di siang bolong itu, mengalihkan perhatian Alex yang saat itu sedang istrirahat. Alex melihat seorang laki- laki tengah berlari ke arahnya. Dikejar seorang perempuan muda, sambil teriak- teriak copet.
Spontan, Alex menjegal langkah sang pencopet. Hingga jatuh terjengkang. Pencopet itu langsung melarikan diri, karena takut di amuk massa.
Alex memungut tas milik perempuan itu, dan memberikannya pada pemiliknya.
" Trimakasih, ya. Kenalkan namaku Lily."
" Alex." ucap Alex menyambut jemari Lily. Keduanya berjabat tangan.
" Makasih ya, bang" seru Lily lalu bergegas pergi. Meninggalkan Alex sebelum sempat membalas ucapan Lily.
Seminggu sejak kejadian itu, Alex kena tabrak. Hingga masuk Rumah Sakit. Untung saja lukanya tidak seberapa. Orang yang menabrak Alex ternyata sopir pribadi Lily.
Lily sangat kaget, saat mengetahui korban tabrakan itu adalah Alex. Lelaki yang menolong -
nya saat menjadi korban pencopet.
" Eh, Bang Alex ya?" seru Lily.
" Iya dek, ngapain di sini?"
" Aku mau bezuk korban yang ditabrak supir keluarga kami. Gak taunya abang ya, korbannya."
" Oh, jadi itu supir kalian?" tunjuk Alex pada supir Lily yang sudah berusia paruh baya.
__ADS_1
" Iya, supirnya mama. Sudah tua, memang. Tapi mama saya tetap memakai jasanya. Harusnya sudah pensiun sih." ***