
Sepasang mata menatap kepergian Bara dan Sava. Tadi ia sempat mendengagr percakapan mereka di dalam ruangan.
Dari awal lelaki itu telah curiga dengan keberadan Sava. Dia seperti pernah melihatnya. Tapi karena dandanannya seperti seorang pria. Kecurigaannya jadi tidak mendasar.
Belum lagi, karena namanya Dave. Kalau saja bukan karena Bara memanggilnya Sava, pria itu tidak akan tau sama sekali.
Pantasan mereka tidak bisa mencarinya ke mana- mana. Ternyata Bara yang menyembunyikannya.
Tapi, bagaimana bisa Sava bertemu dengan Bara? Apakah Bara menculiknya dari kediaman Vincent. Itu tak mungkin. Bagaimana mungkin Bara bisa mengetahui keberadaan Sava di rumah Vincent. Lalu menculiknya.
Bisa saja yang terjadi adalah, Bara bertemu Sava dan menolongnya.Sekarang apa yang harus aku lakukan. Melaporkannya pada Vincent atau Rendra.
Tapinjika aku laporkan, kasihan juga anak itu. Hidupnya sudah cukup menderita sejak ke dua orang tuanya tewas di bunuh dan ia di sekap di rumah Vincent.
Ah, mending aku tutup mulut saja. Kalau soal pekerjaan di perusahaan ini, bisalah aku laporkan.
Tapi soal gadis itu aku akan tutup mulut. Batin lelaki separuh baya itu.
Laki- laki adalah pak Ridwan. Pak Ridwan bekerja sebagai satpam di perusahaan Artha Group sudah cukup lama.
Dia sengaja di pekerjakan di sana, untuk memata- matai perusahaan yang di pinpim, Bara. Selama ini sepak terjangnya sebahai mata- mata belum ada yang mengetahuinya.
Walaupun Frank sudah mencurigai ada seseorang di perusahaan yang bekerja untuk Vincent.
Tapi yang mereka curigai adalah para pekerja lapangan dan staf kantor. Hingga sejauh ini posisinya masih aman.
Tapi akhir- akhir ini, pak Ridwan mulali menyadari. Kalau apa yang dia lakukan selama ini adalah salah. Tapi dia juga tak ingin keluarganya dalam bahaya, kalau menolak pekerjaan itu.
Pak Ridwan memutuskan, untuk tidak melapor kan keberadaan Sava. Biarlah perempuan itu ada dalam perlindungan Bara. Karena dia memang sudah tak memiliki siapapun.
Pak Ridwan mengikuti langkah Bara dan Sava, karena dia akan membuka dan menutup pintu gerbang. Saat mereka mau pulang nanti.
Tak berapa lama mobil Bara menuju pintu gerbang. Pak Ridwan yang sudah di posko jaga, menyapa dengan hormat.
Bara membuka jendela mobilnya dan membalas sapaan pak Ridwan.
" Tugas jaga malam ini, ya pak"
" Iya, pak!"
" Ini pak buat beli rokok, sama beli bandrek," Bara menyodorkan beberapa lembar uang merah.
__ADS_1
" Aduh, trima kasih banyak pak!" seru pak Ridwan.
" Sama- sama pak." Bara melambaikan tangan dan melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai ramai.
***
" Mulai besok, aku tidak mau lagi ikut kerja," ucap Sava memecah kesunyian di antara mereka sepanjang perjalanan.
" Kenapa? Apa ada kaitannya dengan gosip itu?" tukas Bara, menatap Sava sekilas. Karena jalan yang padat dengan kenderaan.
" Ya, aku merasa tak nyaman. Juga nama baik kamu jadi tercemar. Lagi pula pekerjaanku pun cuma liatin kamu bekerja. Mending aku di rumah bantuin bibi Arni."
" Itu demi ke amanan kamu, Sava. Lagi pula hanya untuk sementara kamu pekerjaan tidak ada. Aku sedang menyiapkan pekerjaan yang cocok untuk kamu. Om Frank bilang , aku harus selalu mendampingi kamu. Kita tidak tau, kapan anak buah Vincent bisa menemukanmu." jelas Bara gamblang.
Sava terkejut dan merasa malu. Karena dirinya terlalu banyak protes dan mengeluh. Sementara om Frank dan Bara melakukan banyak aturan padanya, adalah untuk kebaikannya.
Tapi Sava lebih tak enak lagi, gegara dirinya Bara di gosipin oleh karnyawannya secara terang- terangan. Bahwa dia dan Bara memiliki hubungan khusus, yang tercela.
Meski gosip itu adalah kesalah fahaman. Dan berawal karena dia, menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya.
Dan itu dia lakukan demi keselamatnnya juga. Menghindar dari pengejaran anak buah,Vincent. Semua ini terasa sangat melelahkan dan membuatnya stres.
Dan terlebih lagi, karena dirinya. Tanpa sengaja melibatkan Bara dan om Frank dalam masalahnya. Sementara kubu Vincent dan Bara telah bertikaai sejak dulu. Dan konflik itu akan makin memanas karena dirinya.
" Sebaiknya aku pergi saja dari kota ini. Aku tidak ingin melibatkan kalian dengan masalahku dan menjadi beban bagi kalian,"
" Ngomong apaan sih, Va! " seru Bara kaget dan menghentikan mobilnya tiba- tiba. Hampir saja kepala Sava menyentuh dashboard.
" Oke, mulai besok kamu di rumah saja. Tapi jangan pernah berpikir kalau kamu telah menjadi beban bagi kami!" Bara memukul setir mobil dan kembali menyalakan mesin.
Sava jadi ketakutan sendiri saat Bara menahan emosinya, karena ucapannya barusan. Wajah Bara nampak membeku. Buku- buku jemarinya nampak bertonjolan karena menahan marah.
Sepanjang perjalanan mereka jadi tegang. Sava tak berani lagi bicara. Bara juga belum bisa menurunkan emosinya.
Hingga mereka tiba di rumah, Bara buru- buru turun dan menghempaskan pintu dengan sangat keras.Sava sampai tak sadar menjerit karena kaget.
Tapi Bara tak peduli, dia langsung masuk ke rumah. Tanpa ingat kalau belum membukakan pintu, untuk Sava seperti kebiasaannya.
Sava keluar dengan menahan tangis. Dia yang sama sekali tak menduga reaksi Bara akan seperti itu. Ah, selalu saja dirinya buat masalah.
Bi Arni yang melihat kedatangan Bara dan Sava yang tidak seperti biasanya, menjadi keheranan.
__ADS_1
Tapi bibi Arni tak mau turut campur. Beliau diam saja saat Bara menaiki anak tangga satu dua sekaligus. Dan kaget ketika mendengar suara pintu yang di hempaskan.
Sava juga mendengarnya, membuat hayinya makin kecut.
Dengan langkah gontai Sava menaiki anak tangga dan berhenti di depan pintu kamar Bara.
Sava memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Tak ada suara. Sepi mencekam. Sava mengulanginya untuk yang ke dua kali.
" Masuk!" terdengar sahutan keras dari dalam.
Dengan perasaan takut, Sava mendororng pintu yang terbuka sedikit. Pandangannya langsung menatap sosok tubuh Bara yang berdiri menghadap jendela.
" Maafkan semua perkataan ku tadi. Aku tak bermaksud membuat kamu marah. A..ku.." suara Sava tergagap tak mampu bicara lagi. Sava berlari ke arah jendela dan memeluk tubuh Bara dari belakang.
Sava menumpahkan tangisnya, tak tahan melihat Bara yang tegak mematung karena kesalahannya.
Tiba- tiba dia takut. Takut kehilangan Bara yang begitu perhatian padanya. Jadi sikap Bara sangat menyakitkan hatinya.
" Maafkan aku.." Sava masih memeluk tubuh Bara. Bara juga sangat kaget saat Sava memeluk tubuhnya dari belakang., sambil menangis.
Hatinya tadi yang panas karena emosi, perlahan luruh mendengar tangis Sava. Bara memutar tubuhnya. Melihat wajah Sava yang penuh air mata.
Tangan Bara mengusap air mata itu. Dia sungguh tak tega Sava menangis seperti ini. Bara merengkuh tubuh Sava dalam pelukannya. Mencoba menenangkannya. Tangis Sava makin keras, di perlakukan lembut seperti itu.
Sava merasa terlindungi. Pelukan Bara begitu nyaman. Tuhan, akankah pelukan ini selalu bisa aku dapatkan. Ternyata aku begitu rapuh, batinnya.
" Sudah, aku maafkan kamu. Jangan menagis lagi. Dan jangan pernah menganggap bahwa kamu adalah beban. Kamu lebih berharga dari sekedar beban, Va. Kamu masih muda, cantik. Masa depanmu masih panjang. Jadi jangan pernah menilai diri kamu tak berguna." Bara merenggangkan pelukan Sava.
Menatap wajah yang perlahan mencairkan kebekuan hatinya. Selama ini Bara tak pernah memiliki ikatan hati seperti yang ia rasakan pada Sava. Seolah hatinya lepas dari belenggu!
Dengan Sava ia sangat boros bicara. Dengan Sava selalu saja ada emosi yang naik turun. Dengan Sava pula ia ingin memberikan apa saja, yang ada dalam hidupnya untuk kebahagiannya.
Bara ******* bi*** lembu merekah di depannya
Seolah memberi hukuman ci**** itu begitu panas dan liar. Sava meleguh menikmati setiap sentuhan Bara. Dan terhempas begitu saja, saat tiba- tiba Bara menghentikan aktifitasnya. Nafas Bara memburu begitu juga Sava, yang masih mendamba.
" Tidak Sava. Maafkan aku. Aku akan menjagamu. Karena kamu adalah milikku." Bara membenahi kancing baju Sava yang sempat ia lucuti. " Pergilah sebelum aku berubah pikiran." ucapnya dingin.
Sava perlahan meninggalkan kamar Bara. Cumbuan Bara hampir saja membuatnya lupa diri. Dia juga terhanyut oleh sesuatu gejolak yang baru kali ini ia rasakan. ***
__ADS_1