Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 46


__ADS_3

" Kalau begitu, kasih tau saja tuan Alex. Kalau ada perempuan mencarinya, di ruko."


" Tapi bagaimana kalau nyonya besar tau. Bisa berabe nantinya." seru pria kurus berkumis tebal itu pada rekannya.


" Trus mau bagaimana lagi. Kasihan jugakan perempuan itu. Mana lagi hamil pula!"


" Baiklah kalau begitu," pak kumis menghubungi kontak Alex bosnya. Beberapa saat mereka terlibat percakapan. Pak kumis tak hentinya mengangguk- angguk, seolah tuannya bisa melihat gerakannya itu.


" Bagaimana?"


" Suruh saja perempuan itu masuk. Bentar lagi si bos datang." pria bertubub kekar itu buru- buru keluar lagi, menjumpai Dewi. Yang masih berdiri di luar menunggu jawaban.


" Mari masuk, bu." ucapnya ramah mempersilahkan Dewi masuk, ke dalam ruko.


" Saya duduk di sini saja, pak." ucap Dewi ragu mengikuti langkah pria kekar itu. Dewi duduk di sisi sebuah meja besar. Tidak jauh dari pintu masuk


Dewi melihat banyak meja besar tersusun di ruangan yang cukup besar itu. Dia teringat ucapan lelaki paruh baya tadi pagi. Kalau ruko itu adalah tempat perjudian. Dan hanya buka pada malam hari.


Jadi di sinikah suamiku bekerja? Lenguh batin Dewi.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara klakson mobil di luar. Dewi terkejut. Jantungnya tiba- tiba berdegup kencang tak beraturan. Karena ia akan segera bertemu dengan suaminya.


Wajah Dewi yang agak pucat, jadi bersinar. Senyumnya merekah dan tak sabar untuk melihat suaminya yang telah tiga bulan lebih meninggalkannya.


Sesosok tubuh tinggi atletis, dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya. Keluar dari dalam mobil. Tubuhnya yang di balut stelan jas mewah, amat serasi melekat. Menonjolkan kegagahannya.


Lelaki tampan itu memutari mobil. Membukakan pintu mobil di sisi lain. Seorang wanita cantik dengan tubuh semampai, rambut tergerai indah.


Bodynya yang seksi di balut pakaian ketat, menonjolkan keelokan tubuhnya


Sungguh pasangan yang serasi. Keduanya masuk ke ruko saling berpelukan mesra.


Mata Dewi, nanar mencari sosok lain kalau suaminya akan muncul. Tapi jelas tidak ada lagi yang keluar dari mobil itu. SelaIn pasangan tadi.

__ADS_1


Kini pasangan itu makin dekat, ke arah Dewi berdiri. Dewi sungguh tak mengenal sosok yang melangkah mendekatinya.


" Bu, ini dia tuan Alex. Yang ibu tanya tadi." si pria kekar itu berbisk ke telinga Dewi.


" Oh, bukan dia pak. Dia sama sekali bukan orang yang saya cari. Maaf, saya salah orang." Dewi buru- buru hendak pamit, karena merasa malu. Bagaimana kedua orang yang menjaga ruko itu bisa salah faham dengan yang dia maksud.


Lagi pula kalau itu suaminya kenapa hanya diam saja saat melintas dari depannya?


Dia mencari suaminya Alex. Tapi orang yang mereka sebut Alex sama sekali bukan suaminya. Hanya namanya yang sama. Wajah dan postur tubuhnya serta gaya hidupnya jelas berbeda.


Suminya tak segagah itu. Suaminya kutilang! Kurus tinggi langsing. Bagaimana dalam tempo tiga bulan bisa berubah seperti sosok itu.


" Tunggu!" sebuah suara menahan langkah Dewi. Suara itu sepertinya tidak asing baginya. Tapi orang yang berdiri tidak jauh darinya, tidak ia kenal.


Dewi memandang heran, pada Alex. Jelas ucapan itu tertuju padanya.


" Maaf pak. Telah terjadi kesalah fahaman. Sungguh saya minta maaf." Dewi bergegas ke arah pintu.


" Saya bilang tunggu! Bukankah kamu mencari saya?" Alex membuka kaca matanya. Mendekati Dewi dengan langkah tenang. Sementara Dewi terbeliak kaget. Menyorot Alex seakan tak percaya!


Tiba- tiba saja rindu di hati Dewi, menguap. Tubuhnya terasa dingin dan kaku. Ternyata suaminya masih hidup, dan hidup mewah. Sementara dia hidup susah dan ditelantarkan.


" Bang Alex," desis Dewi lirih. Akhirnya keluar juga ucapan kelu itu dari mulut, Dewi. Dia memang suaminya, tapi seolah bukan lagi miliknya.


" Kenapa nekad mencariku ke mari, hah?!" tubuh Dewi makin menegang mendengar kalimat dingin itu. Sungguh sebuah pertanyaan bodoh! Jiwa Dewi serasa mati mendengarnya.


" Abang tidak mengabari adek lagi. Adek cemas dan takut telah terjadi sesuatu. Ternyata, abang baik- baik saja." akhirnya dewi mengahambur ke pelukan suaminya. Tak mampu lagi menahan haru dan rindu


Betapa tidak! Rasa rindu itu tak bisa ditahannya lagi. Alex diam saja saat Dewi istrinya, memeluk tubuhnya penuh kerinduan. Alex tak membalas pelukan itu. Walaupun dia ingin merengkuh tubuh istrinya, ke dalam pelukannya. Istri yang ia rindukan beberapa bulan ini.


Tapi, Alex harus menahan semua itu. Karena dia bukanlah Alex, suami Dewi yang dulu.


Dewi melepas pelukannya pada Alex. Karena suaminya itu hanya diam saja dan tak membalas pelukannya. Ditatapnya wajah suaminya. Air matanya sudah menggenang sedari tadi. Dan telah membasahi pakaian suaminya.

__ADS_1


Melihat perbedaan yang begitu mencolok dengan dirinya. Dewi mundur dan mengusap air matanya.


Tubuh Alex masih diam tak bergeming.


"Pulanglah, anggap saja aku sudah mati. Karena aku bukan suamimu yang dulu lagi." ucapan dingin Alex, bagaikan air es mengguyur tubuh Dewi. Membuatnya menggigil kedinginan.


" Tapi kenapa bang? Apa yang telah terjadi padamu. Kenapa abang berkata begitu? Aku hamil bang. Karena itulah aku mencarimu. Aku ingin memberitahu kamu, kalau kita akan punya anak." Dewi meraih tangan Alex ke perutnya. Agar suaminya menyentuh perutnya yang sudah tampak membuncit.


Tapi Alex menepiskan tanganyanya dengan kasar! Dewi terkejut sekaligus terluka.


Dewi menatap ke sekelilingnya. Menatap ke dua pria yang tadi ia temui, dengan tatapan bingung. Juga perempuan cantik yang datang bersama suaminya tadi. Perempuan itu juga menatap Dewi dengan sorot mata yang tajam.


" Saya mengerti. Abang kini telah menikah lagi, yà? Tapi kenapa abang tak pernah bilang? Aku tidak akan datang ke sini, kalau saja abang bicara jujur." isak Dewi makin keras.


" Baguslah, kalau akhirnya kamu mengerti. Pergi dan pulanglah! Ini uang untuk biaya hidupmu dan anak dalam kandunganmu itu." Alex memberikan sebuah amplop yang cukup tebal ke tangan, Dewi.


" Plak....!!!" Dewi menampar wajah suaminya dengan geram. Karena telah menghina harga dirinya. " Aku tidak sudi uang najismu itu! Aku datang bukan untuk untuk mengemis! Apa salahku hingga kamu perlakukan aku seperti ini, bang! Kamu jahat! Jahat...!" teriak Dewi.


Alex mengusap pipinya bekas tamparan istrinya. Hatinya serasa di iris. Tapi dia juga tak ingin kehidupannya hancur. Sudah cukup penderitaan yang dia alami beberapa bulan lalu.


" Plok....plok...!! Sangat mengaharukan sekali. Sungguh kisah yang sangat menyedihkan!" cibir perempuan yang sejak tadi terdiam. Dia adalah Lily, pemilik ruko yang menikahi Alex satu bulan yang lewat.


Pandangan mata Dewi teralih. Dewi menatap wajah Lily, tajam.


" Siapa kamu? Dan apa hubunganmu dengan suamiku?" meski sudah dapat menerkanya. Tapi Dewi tetap menanyakan itu, untuk memperjelas.


" Kenalkan, aku Lily, istri dari Alex!" ucapnya angkuh, seraya memeluk tubuh Alex dari belakang. Dan Alex mengusap- usap lengan Lily dengan lembut yang melilit pinggangnya.


" Kenapa abang begitu jahat, pada Dewi. Menikahi perempuan itu tanpa.menceraikan aku lebih dulu. Aku masih istrimu, bang!" jerit Dewi pilu.


" Tidak lagi dari sekarang!" dengus Alex.


" Tapi kenapa bang? Kenapa kamu perlakukan Ku seperti ini. Apa salahku bang?! Bagaimana dengan anak dalam kandunganku ini?" Dewi bersimpuh di kaki suaminya. Tetapi Alex menendang istrinya dengan kasar. *****

__ADS_1


"


__ADS_2