Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 50


__ADS_3

Alex menendang kursi di depannya, karena kesal dengan laporan anak buahnya. Bahwa pengiriman paket, yang seharusnya mereka terima hari ini gagal total. Paket itu telah di sita oleh petugas bea cukai, sekalipun sudah di kemas dalam mainan anak-anak, berupa boneka.


Namun tetap saja terbongkar.


"Huh! Aku telah rugi ratusan juta. Benar-benar berengsek!" maki Alex.


"Sudahlah, Lex, tak guna juga kamu marah-marah terus," lerai Lily. Ngeri juga dia melihat amarah Alex yang tak terbendung.


Daripada masalah tambah runyam, mending Lily mengajak suaminya, liburan. Supaya kekesalannya berkurang.


"Bagaimana kalau kita liburan saja? Lupakan sejenak soal pekerjaan." Bujuk Lily, mengusap leher suaminya supaya lebih rileks. Alex menatap wajah istrinya yang tersenyum.


"Nanti saja, setelah urusan pekerjaan ini selesai," tolak Alex, dengan ekspresi kesal. Belum juga bisa mengontrol emosinya. Selama ini pengiriman paketnya selalu berjalan lancar. Entah mengapa kali ini gagal.


"Kamu ini kenapa sih, kamu lebih sayang pekerjaanmu dari pada aku, ya?" ucap Lily ngambek.


"Bukan begitu sayang, kamu adalah segalanya bagiku. Aku hanya harus profesional dalam pekerjaan." Alex berusaha membujuk istrinya. Kalau istrinya sudah ngambek, alamat neraka dunia mampir dalam kehidupannya.


"Hem, mana buktinya kalo aku adalah segalanya bagimu, Beb?" Bisik Lily dengan manja serta memperlihatkan ekspresi menggoda, meluluhkan perasaan Alex. Alex sungguh tak tahan bila istrinya sudah bertingkah begini. Sesuatu rasa akan mendesak untuk di penuhi.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Alex langsung membopong tubuh istrinya, ke kamar. Mel**uti satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Tubuh putih mulus, yang selalu mampu membangkitkan hasratnya. Keduanya akhirnya berpacu , mendaki bersama , mencapai puncak dalam penyatuan yang penuh gairah.


Deringan ponsel Alex, menyentakkan dari tidur. Alex meraba sekitar tempat tidur dengan mata masih terpejam. Tapi benda yang ia cari belum tersentuh juga, sementara nada dering ponselnya makin riuh terdengar.


"Sayang, berisik kali," keluh Lily yang terganggu tidurnya mendengar suara itu.


"Iya," Alex bangkit dari tempat tidur. Mencari ponselnya yang tadi diletakkannya sembarang tempat. Ternyata di saku celananya yang teronggok begitu saja di depan pintu kamar.


Alex mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponnya tengah malam begini.


Astaga! Ternyata sudah tengah malam. Padahal tadi saat bergumul dengan istrinya, hari masih sore. Monolog hati Alex. Alex ke luar dari kamar, takut istrinya terganggu.


" Halo , Pak Kumis, ngapain nelpon tengah malam begini?"


" Maaf Bos, ada masalah di " Dinasty ", seseorang berbuat onar. Kami sudah kewalahan mengatasinya, Bos," lapor Pak Kumis penjaga keamanan di salah satu cabang usaha billyardnya.

__ADS_1


Meski kurus, Pak Kumis selalu bekerja tegas. Dia salah satu anak buah kepercayaannya. Bila dia sampai melapor seperti ini, berarti masalah sudah tak terkendali.


" Sayang, aku keluar sebentar dulu, ya."


"Mau kemana malam- malam begini?" sahut Lily masih dengan mata terpejam. Seluruh tubuhnya serasa remuk atas ulah suaminya tadi.


" Aku mau ke Dinasty, ada hal penting!" Alex bergegas salin pakaian. Mengecup pipi istrinya dan keluar dari kamar. Alex juga mengirim pesan kalau dia mau datang segera.


Setibanya di Dinasty, Alex melihat orang sudah ramai berkerumun. Bahkan ambulans sudah ada parkir di sana. Alex memakirkan mobilnya dan bergegas keluar.


Diam-diam Alex masuk dari pintu rahasia, dan sudah tiba di lantai tiga. Alex menelepon Pak Kumis kalau dia sudah ada di lantai tiga.


"Maaf Bos, saya terpaksa memanggil, Bos malam-malam begini,"


"Sebenarnya apa yang telah terjadi. Kenapa sampai ada ambulans di depan?"


" Itu, Bos. Ada yang terluka kena pecahan botol. Kami sudah berupaya melerai perkelahian itu. Tapi mereka malah makin beringas." Beber Pak Kumis menjelaskan kronologi masalah yang tengah terjadi.


" Mereka siapa, maksudmu?" delik Alex dengan mata melotot.


"Kurang ajar, berani-beraninya membuat rusuh di tempatku." Kecam Alex terpicu emosi, lantas bergegas turun ke lantai dasar. Sesampainya di sana, Alex menghampiri kedua kubu yang bertikai.


"Itu mereka Bos. Hati-hati! Sepertinya mereka dibawah pengaruh narkoba," ucap Pak Kumis.


"Ada masalah apa, ini?"


"Maaf, Anda jangan turut campur. Ini urusanku dengan dia!" seru si rambut gondrong, berang.


"Terserah! Tapi apapun masalah kalian, selesaikan di luar sana. Tempat ini adalah milik saya, jangan bikin rusuh di sini." hardik Alex gusar.


"Maaf Pak. Tadi saya sudsh ajak keluar, makanya saya selesaikan di sini. Lagi pula dia emosi duluan, dan nyerang saya," sahut pria berambut cepak. Mirip angkatan.


"Ya, sudah. Cepat kalian bereskan urusan kalian. Aku tidak mau tau. Segera hengkang dari sini!" usir Alex naik pitam. Dua gank yang sedang seteru, segera angkat kaki dari tempat itu. Membawa anak buah masing-masing yang terluka.


"Mis, segera periksa. Properti apa saja yang telah mereka rusak. Dan kirim klaim ganti rugi," perintah Alex pada si Kumis.

__ADS_1


"Baik, Bos,"


"Kamu tau siapa mereka itu, Mis?"


" Maksud, Bos, gank mereka ya?"


"Aku kurang tau, Bos, kalau ysng berambut gondrong. Kayaknya mereka hanya preman pasar, gitu. Tapi kalau kelompok yang berambut cepak itu, adalah binaan anak buahnya, Bara,"


"Bara? Maksudmu, Bara, yang membunuh tuan Vincent itukah?" beliak Alex penasaran.


"Iya, Bos, itu setahuku. Kenapa, Bos? Bos kenal tuan Bara 'kah?"


"Tidak, hanya pernah dengar namanya saja," sahut Alex, seraya mengelus dagunya yang kasar, karena habis bercukur.


*****


Dewi telah sembuh total paska operasi keguguran. Luka fisiknya telah telah mengering. Tetapi luka hatinya akibat perlakuan, suaminya Alex. Semakin menebal menjadi guratan ysng tak akan pernah hilang selamanya.


Cintanya untuk suaminya, Alex, pupus sudah, raib entah ke mana. Percuma mengingat sosok lelaki tak punya hati dan nurani itu. Bagi Dewi, Alex telah mati.


Digantikan bara dendam, untuk membalas rasa sakit akan perlakuan Alex. Suatu hari nanti, Dewi akan membalasnya dengan cara.apapun.


Atas pertolongan Bara dan Bas waktu, hingga dia bisa di selamatkan. Dewi sangat berterimakasih, pada Bara, juga Bas. Selain menyelamatkan nyawanya, dia juga diberi tempat tinggal. Tingal di rumah besar dengan gaya rumah masa penjajahan Belanda dulu.


Dewi betah tinggal, bersama orang-orang yang begitu saling mengasihi dan menghormati.


Terutama, Bara, sang pemilik rumah dan pewaris tanah pertanian yang begitu luas. Juga pemilik sebuah perusahaan, yang bergerak di bidang pertanian juga.


Lelaki muda dan kaya itu, tetap menjadi sosok yang rendah hati. Walau sikapnya selalu tampak dingin. Tapi hatinya dan rasa pedulinya pada orang lain, tidak diragukan lagi. Tapi sayang, dia masih betah sendiri. Sekalipun sudah ada Sava, sebagai kekasih, Bara.


Sangat jarang, Bara, memperlihatkan perasaannya. Mungkin, karena adanya Sisy juga, yang tak hentinya mencuri perhatian, Bara.


Seperti pagi ini. Saat semua berkumpul di meja makan besar, untuk sarapan. Bi Arni telah menyiapkan semua hidangan di meja dibantu oleh Sava dan juga Dewi.


" Bara, biar aku yang ambilkan sarapanmu, ya." Sisy mengambil piring dihadapan Bara. Menyendokkan nasi dan lauk ke piring Bara. Lalu meletakkannya di depan, Bara. Tempat duduknya pun persis di samping, Bara.

__ADS_1


"Trim's ya," ucap Bara. Seraya menatap ke arah, Sava. Sava yang ditatap malah melengos. *****


__ADS_2