
Kembali gawai Bara berdering- dering. Tak di acuhkan. Bahkan dengan emosi, Bara menon aktifkan benda pipih itu.
Buku- buku jarinya, yang menonjol di kemudi, serta suara rahangnya yang gemeletuk. Menciptakan aura ngeri di mata Sava. Jauh lebih mengerikan dari tatapan dingin si manusia iblis, Vincent!
Bara tetap fokus pada kemudi. Ingin tiba secepatnya di rumah dan menginterogasi bocah di sampingnya. Bagaimana pun, caranya dia harus mengorek keterangan apa keterlibatannya dengan kelompok pemilik tato itu.
" Ciiiiitttt......" suara decit ban, tersedengar sangat menyakitkan telinga, ketika mobil yg di kemudi Bara, berhenti tiba- tiba.
Tubuh Sava, terdorong ke depan, kepalanya menyentuh dahsboard mobil. Padahal dia pakai sabuk pengaman.
Bara melirik ke sampingnya, saat Sava mengelus keningnya yang rerasa sakit. Tapi Bara acuh saja.
Bara membuka pintu dan keluar, bergegas membuka pintu dan menarik tubuh Sava, kasar.
Tanpa bicara apa pun. Bara mencekal lengan Sava. Menyeretnya masuk ke rumah. Dan membawanya naik tanggga menuju kamarnya.
Sava hanya bisa menangis, mendapatkan perlakuan itu. Sedapat mungkin ia menahan air matanya. Dan mengusapnya diam- diam.
" Bara menjangkau kursi di kamarnya, dan mendudukkan Sava dengan kasar.
" Duduk! " perintah Bara sarkas. Lalu Bara mengambil tali dari laci meja. Mengikat tubuh Sava ke kursi. Sava sempat meringis karena ikatan itu terlalu kencang.
Tapi Bara tak peduli!
" Sekarang, jawab pertanyaanku!" seru Bara seraya duduk di depan Sava. Sava menunduk takut. Bibirnya bergetar untuk memberi jawaban.
" Ayo, tatap aku!" bentak Bara lagi.
Dengan berlinang air mata, Sava menatap Bara. Bagi Sava, segala perjuangannya akan berakhir sudah. Tatapan matanya yang putus asa.
Bara terkesiap menyaksikan wajah Sava yang menatap sendu.
Tadi mata itu masih menyorot tajam. Kenapa sekarang berubah menyedihkan seperti ini. Hati Bara seperti terbetot, beku.
" Hem. Dasar cengeng! Bocah tengik!" kecam Bara tak ingin terperangkap dengan tipu musliat Sava.
" Ayo, jawab. Siapa nama kamu!"
" Apa perlunya kamu tau namaku," sahut Sava sinis.
" Brengsek! Aku tanya, ya harus kamu jawab. Ngerti!" bentak Bara, kesal. Karena Bara merasa seolah di permainkan.
" Sava." sahut Sava singkat. Bara mengernyitkan keningnya mendengar nama itu. Kecurigaannya bertambah dengan sosok di depannya.
__ADS_1
" Kamu perempuan ya, ngapain menyaru jadi laki- laki hah?!"
Sava kaget karena penyamarannya terbongkar.
" Hem, sudah kuduga, ada yang tidak beres denganmu. Siapa yang menyuruh kamu, memata- matai aku. Ayo jawab!" bentak Bara.
Sava malah jadi bingung dengan ucapan, Bara.
" A..aku tidak, di suruh siapa- siapa.. " gagap Sava.
" Bohong! Seseorang telah mengutusmu mematai ku. Ayo, ngaku! Sebelum aku bertindak kasar padamu."
" Aku tidak di suruh siapa- siapa. Aku melarikan diri dari seseorang. Aku tidak mau di kurung di kamar itu lagi.Aku mohon, jangan pulangkan aku." ceracau Sava, menghiba. Membuat Bara kaget tak kepalang.
Apalagi melihat Sava yang begitu ketakutan. Seketika timbul ibanya. Tapi dia tidak boleh gegabah. Jangan- jangan itu hanya triknya, untuk menarik simpati.
" Jangan ngaco kamu. Kamu kira aku akan percaya ucapanmu. Kamu melarikan diri dari siapa, hah! "
" Vin...Vincent. Tuan Vincent! " ucap Sava menyebut sebuah nama dengan ekspresi ketakutan.
Bara tersentak kaget. Apa benar apa yang barusan ia dengar. Bahwa Sava adalah tahanan Vincent. Apa ucapan orang ini bisa di percaya.
Monolog hati Bara bertubi.
" Jadi benar, kamu ini seorang perempuan?"ucap Bara halus. Nada bicaranya tidak kasar lagi seperti tadi. Sava mengangguk. Sava semakin menundukkan kepalanya.
Sejenak Bara termangu. Menatap sosok di depannya yang masih terus tertunduk.
" Kenapa kamu menampilkan sosok seorang pria?"
" Aku tak ingin, anak buah Vincent mengenaliku."
" Bagaimana kamu bisa melarikan diri dari sana. Bukankah, Vincent punya anak buah yang berjaga di sana."
Sava menuturkan kisahnya sampai bisa melarikan diri dari rumah Vincent. Perjuangannya di malam itu, menembus hutan, hingga ia harus menyaru jadi laki- laki. Untuk menghindari anak buah Vincent.
Bara tergugu mendengar cerita Sava. Berarti kejadiannya sama, di malam terjadinya rusuh di proyek irigasi yang di picu anak buah Vincent.Tapi dia masih setengah percaya ucapan Sava. Bara menatap nyalang ke tato di lengan Sava.
" Apa kau bisa menjelaskan tato di lenganmu itu. Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?"
Sava malah menangis sesegukan saat di ingatkan dengan tato di lengannya.
" Aku bersumpah! Akan membalaskan dendamku pada manusia iblis itu!" bukannya menjawab pertanyaan Bara. Sava malah mengucapkan sumpah serapah!
__ADS_1
Bara dapat merasakan kesakitan dalam hati Sava. Karena dia sendiripun dalam posisi yang sama. Menyimpan dendam ke pada orang yang sama.
Bara akhirnya memutuskan, melepas ikatan dari tubuh Sava dari kursi. Sava mengelus ke dua lengannya yang tampak memerah, bekas ikatan tali .
" Maaf, aku telah salah faham dengan tato di tanganmu itu. Tadinya aku mengira kalau kau adalah salah satu anak buah, Vincent.
" Tato ini adalah bentuk penghinaan padaku. Dia lakukan ini padaku, setelah membakar keluargaku, setahun yang lalu. Kedua orang tuaku dan adikku, mati terbakar bersama rumah kami malam itu."
" Vincent bukanlah manusia. Dia adalah iblis bermuka manusia." geram Sava.
Merinding juga Bara, melihat kilatan dendam di mata Sava.
" Kemana sekarang tujuanmu? Apa kamu punya sanak famili yang hendak kamu singgahi?"
Sava menatap bingung ke arah Bara, saat mendengar ucapan itu. Sava memang belum punya rencana untuk langkah hidupnya selanjutnya.
Asal bisa meninggalkan kota ini dengan nyaman tanpa pengejaran anak buah Vincent itu saja sudah cukup.
Tapi kini dia malah terjebak, oleh seseorang yang menculiknya karena kesalah fahaman.
Dia sudah tak punya keluarga, begitu juga dengan sanak saudara. Hidupnya kini tinggal sebatang kara. Benar- benar menyedihkan!
" Aku tak punya sesiapapun. Aku hidup sebatang kara," lenguh Sava lirih.
Padahal, kalau ingat masa lalunya dulu. Selagi ayah dan ibunya serta adiknya masih hidup.
Meski bukan dari keluarga terpandang, tapi ke dua orang tuanya masih punya tanah perkebunan dan pertanian. Kehidupan mereka masih tergolong berada, di antara warga di kampungnya.
Dengan mengelola tanah pertanian ke dua orang tuanya masih bisa membiayai hidup keluarganya, lebih dari cukup.
Tapi entah kenapa ayahnya bisa berurusan dengan tuan tanah yang kejam seperti, Vincent.
Sehingga terlilit hutang yang berujung dengan kematian mereka. Dengan peristiwa kebakaran itu.
Dan sejak itu hidupnya ada dalam belenggu Vincent.
" Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal sementara di sini. Rumah..." belum sempat Bara menyelesaikan ucapannya, tiba -tiba sosok Frank telah berdiri di pintu kamar Bara.
Bara dan Sava sama- sama terkejut
Untuk sesaat Frank juga heran! Terlebih dia melihat Bara ada di kamar, bersama seorang pria asing yang tidak di kenal Frank.
" Apa ini orang yang kamu tabrak? Kenapa kamu membawanya ke sini?" tanya Frank penuh selidik.
__ADS_1
****