Hati Yang Terpasung

Hati Yang Terpasung
Bab 32


__ADS_3

Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi di masa depan. Setelah om Frank pamit pergi. Bara dan Bas seperti biasanya pergi ke perusahaan. Sava dan Bi Arni di rumah. Karena Sava menolak dan tidak mau lagi bekerja. Sava lebih memilih bekerja membantu Bi Arni.


Waktu berjalan singkat. Ketika tiba- tiba Bara mendapat kabar kalau Frank meninggal dalam satu kecelakaan. Dalam perjalanannya ke kota.


Mobil yang ia supiri sendiri, mengalami kecelakaan tunggal. Menabrak pembatas jalan dan berakhir dengan menabrak dinding tebing.Di sisi jalan.


Menurut saksi mata, yang melihat kejadian, Frank sepertinya kehilangan kendali. Kemungkinan rem mobilnya tak berfungsi.


Tapi menurut visum dokter, Frank tidak sadar saat mengalami kecelakaan. Karena di darahnya di temukan cairan obat bius . Saat di bawa ke rumah sakit, keadaannya juga sudah sangat kritis.


Frank sempat di bawa ke Rumah Sakit. Dan menjalani perawatan.


Tapi meninggal saat para medis tengah memberi pertolongan.


Kenyataan itu sangat memukul hati Bara. Seakan tak percaya. Begitu cepat om Frank pergi. Padahal masih banyak rencana yang belum mereka wujudkan.


Bara tidak percaya kalau kematian Frank karena kecelakaan biasa. Apalagi visum dokter, yang menyatakan Frank dalam kondisi tak sadar mengendarai mobilnya.


Belum lagi saat berangkat dari rumah, keadaan Frank segar bugar. Tidak ada tanda- tanda sedang menggunakan obat terlarang. Bahkan Bara yakin Om Frank bukan seorang pecandu.


Om Frank menjalani pola hidup sehat. Dan selalu peduli dengan kesehatannya.


Bara teringat akan ancaman Om Frank pada Vincent tempo hari. Akan membongkar kejahatan Vincent. Bara yakin Vincent terlibat dalam kasus kematian Om Frank.


Bara menyuruh orangnya untuk menyeliki penyebab kematian Om Frank. Hasil yang ia terima, memang benar ada hal yang mencurigakan.


Sepertinya saat mengendarai mobilnya, ada orang yang membuntutinya. Dan menembakkan obat bius ke tubuh Frank sehingga ia kehilangan kesadaran, sehingga terjadilah kecelakaan itu.


Hari ini adalah prosesi pemakaman Frank. Banyak tamu yang berdatangan melayat, memberi penghormatan terakhir untuk Frank.


Bukan hanya dari kalangan perusahaan atau rekan bisnis, yang hadir mengucapkan turut berduka cita. Bahkan Vincent juga hadir untuk berbela sungkawa.


Di ikuti beberapa pengawalnya, Vincent datang ke tempat Frank di semayamkan. Melihat kedatangan Vincent, beserta anak buahnya. Bara bergegas menyongsong hendak mengusir mereka.


" Mau apa datang ke sini? Kalian adalah tamu paling tak di harapkan kehadirannya di sini!" ucap Bara dingin, menjegal langkah Vincent.


" Sebagai tetangga, tentu sudah wajar kami datang, berbela sungkawa." sahut Vincent dengan senyum liciknya.

__ADS_1


" Tidak perlu repot- repot. Kami tak butuh kehadiran anda. Jadi segeralah pergi, meninggalkan tempat ini!"


" Kamu menghinaku ya!" sahut Vincent dengan tekanan tajam.


" Seharusnya kamu lebih hati- hati dengan ucapan kamu. Jika kamu tak ingin berakhir seperti Frank malang ini."


" Enyahlah lelaki tua! Aku tau semua ini adalah hasil perbuatanmu. Siap- siap saja dengan pembalasanku!"


" Ha..ha... Kamu mengancamku bocah? Sombong sekali. Kamu benar- benar tidak tau berhadapan dengan siapa!" ucap Vincent dengan tatapan meremehkan.


" Separuh dari kota ini ada dalam kendaliku! "


" Dasar lelaki tua bangka! Seharusnya kamu lebih fokus urusan akhirat. Karena semua yang kau sombongkan itu, tak bisa kau bawa mati. Hanya amal baikmulah yang bisa kamu bawa." wajah Vincent memerah mendengar, ucapan Bara yang menurutnya sangat kurang ajar.


Ingin sekali dia memukulkan tongkatnya, ke wajah Bara. Tapi pikirannya masih waras, karena mereka berada di tempat duka.


Sehingga masih bisa menahan emosinya. Jika tidak. Semua orang yang ada dalam ruangan itu akan menyalahkannya.


" Ingat! Kematian Frank ini adalah peringatan bagimu. Semoga kamu lebih bijak dan faham maksudku." bisik Vincent, meneror Bara.


" Dasar bedebah sialan! " Bara menarik krah baju Vincent. Dan hampir saja kehilangan kontrol, menghajar si tua bangka, Vincent. Tapi Bara akhirnya bisa menahan emosinya. Karena tak ingin suasana pemakaman Frank, ternoda .


Untuk beberapa detik, nafas Vincent seperti tehenti saat mendengar ancaman Bara.Ada kengerian yang dalam dari aura mata Bara!


Orang - orang di sekitar mereka menatap juga penuh keheranan. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Vincent berbalik arah, memberi kode pada anak buahnya untuk segera pergi. Meninggalkan tempat itu.


Dari arah berlawanan, tiba- tiba Sava datang menghampiri Bara. Mereka bicara sambil berbisik. Sava yang melihat kehadiran Vincent di tempat itu. Merasa khawatir dengan Bara.


Langkah Vincent yang belum begitu jauh, berbalik lagi ke arah Bara!


" Sepertinya aku pernah melihat anda. Tapi lupa di mana?" tatap Vincent tajam meneliti wajah Sava.


" Maaf, mungkin anda salah orang! Saya Dave," sahut Sava parau. Menirukan suara pria. Kening Vincent mengernyit menyadari keteledorannya.


" Oh, maaf!" Vincent berbalik lagi dengan fikiran yang masih di penuhi raasa penasaran.Tadinya dia begitu yakin dengan dugaannya. Tapi karena fisiknya yang berbeda, ternyata dia keliru mengira orang.

__ADS_1


" Ada apa bos?" bisik pengawalnya penuh tanya.


" Siapa laki- laki muda itu?"


" Oh, menurut gosip yang beredar. Itu adalah pacar tuan Bara. Katanya dia penyuka sesama jenis," bisik pengawalnya.


Vincent kembali menatap tajam ke arah Bara. Dan kebetulan, Bara tengah memegangi tangan Sava. Memberi kekuatan karena Sava sempat syok saat melihat kehadiran Vincent.


" Kamu tidak apa- apa, Va?" bisik Bara, melihat Sava yang limbung.


" Aku tidak baik- baik saja. Aku takut sekali, Bara!" ucap Sava berusaha bertahan dan bersikap normal.


" Tenanglah, sepertinya dia tidak mengenalimu," bisik Bara lagi. Seraya memegang lengan Sava.


"Fuih! Dasar manusia hina!" decih Vincent segera berlalu. Sungguh dia tak mengira, Bara ternyata seorang pria penyuka sesama. Pantasan Frank begitu melindunginya.


Dirinya benar- benar telah di permalukan oleh bocah ingusan itu. Nyalinya hebat juga. Vincent salah prediksi.


Dia memang datang dengan sengaja, untuk menunjukkan taringnya. Sehingga semua orang di sekitaran Frank akan ketakutan.


Terutama Ceo Bara, yang akan ketakutan karena telah kehilangan Frank. Orang yang selalu melindunginya. Sehingga dengan kematian Frank akan lebih mudah baginya menguasai Bara.


Ternyata nyali bocah ingusan itu hebat juga. Berani- beraninya mengusirnya dari tempat itu. Di hadapan khalayak ramai. Mengancamnya pula!Sehingga dirinya merasa kehilangan harga diri!


Karena tetamu yang hadir saat itu bukanlah kalangan biasa saja. Mungkin mereka memang tidak tau apa yang mereka perbincangkan. Karena mereka bicara saling bisik dan saling tekan.


Tapi setidaknya mereka semua tau, kalau dia di tolak di tempat itu, mentah- mentah!


Dan tatapan semua orang yang tertuju pada mereka, menyiratkan sesuatu hal yang penuh tanda tanya.


" Kurang ajar! Berani- beraninya dia mengusirku dari sana" ucap Vincent penuh amarah setibanya di kediamannya.


Semua anak buahnya bungkam, tak berani bersuara.


Tiba- tiba Vincent tersenyum licik.


" Rendra!" teriak Vincent

__ADS_1


" Iya bos!" sahut Rendra antusias.


" Aku ingin kamu menghancurkan satu persatu orang- orang di sekitar, Bara. Terutama kekasihnya itu. Culik dan habisi! Biar dia tau dan rasakan. Apa akibat telah berurusan denganku! Ha..ha...!!" tawa Vincent menggema, tawa khas orang yang telah kerasukan iblis!" ***


__ADS_2