
Sepulang kerja Daniah, Rita dan Nia, sudsh ngumpul di tempat parkir. Sengaja menunggu ke datanhan Reni.
Mereka ingin tau, apa yang terjadi setelah Reni di panggil Bara.
Sudah lewat lima menit mereka menunggu, tapi Reni belum muncul juga. Ke tiganya jadi cemas tak karuan. Mereka benar- benar takut, insiden di kantin berbuntut panjang.
" Reni mana sih, kok belum muncul juga," keluh Daniah.
" Jangan- jangan Reni kena hukum. Bisa merembet sama kita nih," Rita juga sudah ketularan Daniah. Mengeluh karena Reni masih gak muncul juga.
" Makanya lain kali mau omongin orang, pake filter. Ginilah jadinya." sindir Nia sama Rita. Karena ucapan Ritalah yang kelewat pedas.
" Udah deh Nia, jangan ngomporin ah. Bikin suasana tambah panas saja." sungut Rita.
" Jangan berisik! Tuh, Reni udah muncul." lerai Daniah, saat melihat Rita dan Nia bersitegang.
" Hai Ren!" teriak Daniah sambil melambaikan tangannya ke arah Reni. Reni menghampiri ke tiga sobatnya.
" Kirain kalian sudah pulang,"
" Nungguin kamu. Gimana, apa kata pak Bara, soal tadi? " todong Daniah gak sabar.
" Pokoknya gak usah cari masalah deh, soal itu. Si bos marah besar. Ngasih peringatan!"
"Ofs! Trus apa lagi katanya.?" Rita makin penasaran.
" Udah, itu aja. Pokoknya si bos marah besar. Kalo ada dengar gosip itu lagi, kita akan dapat masalah!. Aku belum pernah liat pak Bara marah.Ih, ngeri!" jelas Reni sampai tubuhnya merinding.
Daniah, Rita dan Nia turut merasa ngeri juga, saat melihat ekspresi Reni. Mereka percaya ucapan Reni. Sosok pak Bara, bos mereka memang sikapnya dingin.
Tapi untuk melihat dia marah, mereka belum pernah menyaksikannya. Jadi pak Bara tidak main- main dengan ucapannya.
" Hem, sejak sekarang kita harus hati- hati. Jangan sembarangan ngomongin pak Bara lagi. Apa lagi soal hubungannya dengan, Dave." cetus Daniah lagi.
" Terutama kamu, Rit. Hati- hati lo," tegas Nia.
" Apaan sih kamu. Kok, nyalahin aku mulu."
" Ya, karena mulut dan sikap kamu yang paling sadis! Ngaku deh,"
" Ya, iya! " Rita ngedumel panjang pendek. Kesal juga jadi orang yang paling di salahkan.
__ADS_1
" Pulang ,yuk! Dah laper, nih." celetuk Daniah menengahi ketegangan antara Rita dan Nia.
Ke empatnya meninggalkan area parkir, pulang ke rumah masing- masing.
***
Bara mencari keberadaan ,Sava. Sejak keluar tadi dari ruangannya. Sava belum kembali juga. Tadinya dia berpikir, Sava akan kembali setelah beberapa saat. Setelah emosinya reda.
Tapi ini sudah lebih lima belas menit, belum juga balik. Membuat konsentrasi Bara hilang, saat menggerjakan pekerjaannya.
Akhirnya Bara keluar dari ruangannya. Andai saja Sava punya ponsel, Bara tak akan sesusah ini. Cukup menghubunginya saja, tak perlu repot mencari.
Mana karyawan sudah pulang semua. Hanya beberapa orang saja yang masih tinggal. Mungkin karena mau lembur atau lagi beres-beres.
Bara mencari ke kantin, tak ada. Juga keruangan lainnya.
Apa asih yang salah dengan ucapannya tadi, hingga Sava sepertinya begitu rapuh. Ah, dasar wanita! Susah banget mengerti sifat mereka. Monolog hati Bara.
Kini dia berhenti di ruang pertemuan. Perlahan Bara membuka pintu, melongokkan kepalanya siapa tau Sava ada di sana. Kosong!
" Huhhff! Kemana sih anak itu. Benar- -benar bikin repot," ucap Bara kesal pada dirinya sendiri.
Saat mau menutup pintu lagi. Bara seperti mendengar suara nafas . Tepatnya dengkuran halus. Bara mengernyitkan alisnya., heran.
Bara memasuki ruangan, mencari keberadaan suara itu. Ya ampun! Bara geleng- geleng kepala tak habis mengerti. Dia melihat Sava tertidur di salah satu kursi, di sudut ruangan.
Bisa- bisanya anak ini tidurndi sini? Dengan posisi seperti anak bayi dalam kandungan.
Bara hendak berteriak membangunkan Sava , saking kesalnya. Tapi urung dia lakukan. Pantasan tak balik keruangannya. Ternyata dia lagi enak-enaknya tidur di sini. Padahal di ruangannya kan ada kamar khusus untuk istirahat.
Lha, ini malah milih tidur di sini! Mana sudah sore lagi.
Akhirnya Bara duduk di kursi di hadapan Sava. Mengamati setiap tarikan nafasnya. Tidurnya begitu damai.
Astaga anak ini! Bisa- bisanya tidur senyaman itu. Tanpa memikirkan resiko. Bagaimana kalau ada orang yang mengikutinya tadinke sini. Dan melakukan sesuatu terhadao dirinya.
Tangan Bara telah terulur untuk membangunkan Sava. Tapibtangan itu tergantung di udara, saat mendengaar Sava sedang mengingau.
" Mama, papa, adek. Aku rindu kalian." sepertinya Sava tengah bermimpi. Air mata mengalir di sudut mata Sava, yang masih terpejam.
Hati Bara seolah di hantam balok! Rasanya sakit sekali. Seperti berpuluh jarum menusuk hatibya sekaligus.
__ADS_1
Sungguh anak yang malang. Kehilangan orang tuanya di depan mata sendiri. Di bunuh orang dengan sangat kejam. Sama seperti yang dia alami juga.
Dan kehidupannya masih terancam juga. Karena dia adalah saksi dari kekejaman manusia iblis, Vincent! Sama seperti dirinya juga.
Tubuh Sava perlahan bergetar hebat. Dalam mimpinya tubuhnya tengah di kelilingi kobaran api. Dia menjerit minta tolong, tapi tak seorangpun yang perduli.
Sava semakin merasakan hawa panas yang siap membakar tubuh. Lalu tiba- tiba Sava melihat sesosok tubuh, datang menerjang bara api.
Mengulurkan tangannya, hendak menolongnya.
Sava menjerit saat melihat ada sosok lain, di belakang orang yang hendak menolongnya.
Sosok jahat itu hendak memukul orang yang hendak menolongnya. Sehingga terjadi pertarungan hebat antara keduanya. Hingga orang jahat itu berhasil di lumpuhkan.
Tapi kobaran api sudah makin besar, sulit bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Tapi sosok itu langsung menggendong tubuhnya. Mengeluarkan mereka dari kobaran api.
Bara melihat tubuh Sava makin bergetar hebat.
Sepertinya, mimpinya buruk sekali. Bara mengguncang tubuh Sava , agar terjaga dari tidurnya.
Dan saat itulah Sava terjaga! Tubuhnya berkeringat karena mimpi yang begitu menakutkannya.
Sava membuka matanya, dan melihat ada Bara di depannya. Spontan, Sava memeluk tubuh Bara. Ia menangis sesegukan, karena lega bahwa ia cuma bermimpi.
Bara membalas pelukan Sava. Berusaha menenangkannya.
" Kamu bermimpi buruk ya. Sudah, sekarang kamu sudah aman." Bara menepuk lembut punggung Sava, mencoba menenangkannya.
Perlahan tubuh Sava tidak menegang lagi. Tapi pelukan Sava makin ketat ke tubuh Bara. Sava masih tak percaya, kalau tadi dia hanya bermimpi buruk.
" Ayo kita pulang. Bagaimana kamu bisa tertidur di sini?" tanya Bara, seraya merenggangkan pelukan Sava.
" Oh, eh...Maafkan aku," Sava tergagap saat menyadari posisi tubuhnya yang ada dalam pelukan, Bara. Seketika wajahnya memerah karena malu.
" Trima kasih telah membangunkan aku, dari mimpi buruk itu."
" Tidak apa, kamu baik - baik saja kan?" kedua jemari Bara menangkup wajah Sava. Sava tertunduk, tak mampu bersirobok mata dengan Bara.
" Ayo pulang. Untung saja aku menemukanmu tadi. Kalo gak kamu pasti sudah di culik genderuwo," ucap Bara bercanda. Tapi Sava berteriak ngeri mendengar ucapan itu.
Tanpa sadar Sava kembali memeluk tubuh, Bara.
__ADS_1
Cerita soal genderuwo adalah cerita paling menakutkan baginya. Papanya dulu sering bercerita tentangnitu di masa kecilnya.
Bara terbahak tak menyangka Sava akan ketakutan seperti itu. Di balasnya pelukan Sava, seraya mereka melangkah keluar dari ruangan itu.****