
Prosesi pemakaman Frank telah selesai. Begitu banyak orang datang mengucapkan belasungkawa. Rasa lelah dan sedih campur baur jadi satu, di dalam benak Bara. Tapi tak juga ia bisa tertidur. Sementara malam sudah semakin larut.
Banyak hal yang membuatnya tidak bisa tidur. Terutama misteri kematian Frank. Itu akan menjadi agenda khusus Bara. Menyelidiki siapa saja yang ikut terlibat.
Walaupun sudah bisa menebak, bahwa Vincent pasti ada di balik semua ini. Hanya saja tanpa ada bukti akan sulit membawa masalah ini ke meja hijau. Meskipun Vincent telah dengan jelas menyatakan.
Bahwa kematian Frank adalah peringatan baginya untuk lebih bijak. Maksudnya , agar Bara membatalkan pembukaan lahan pertanian itu!
Bara tidak akan gentar sedikit pun! Dia akan terus melanjutkan rencana itu. Karena tujuannya adalah untuk meningkatkan kehidupan warga di sekitar mereka.
Kini, tinggal Bara sendiri yang akan mengurus perusahaan. Serta menyelesaikan pengerjaan proyek irigasi.
Proyek yang tinggal beberapa minggu lagi, akan di resmikan. Untuk segala kemungkinan, Bara telah meningkatkan pengawasan di proyek itu. Agar semua berjalan lancar sesuai rencana.
Tiba- tiba Bara seperti mendengar langkah kaki. Mengendap di lantai dua. Ada tamu yang tak di undang! Bara menghubungi Bas, untuk berhati- hati.
Bas yang kebetulan masih asyik dengan gadgetnya. Melihat notif peringatan Bara. Segera Bas bersiaga! Menajamkan pendengarannya.
Sementara, Bara langsung menyelinap ke kamar Sava. Bara membangunkan Sava yang tertidur lelap. Serta berbisik di telinganya.
Hampir saja Sava menjerit saat dia mendengar bisikan Bara yang membangunkannya.
" Bara, ada apa?" beliak Sava dalam gelap.
" Sssttt...ada orang di luar. Kamu jangan ke mana- mana. Tetaplah di dekatku." bisik Bara lirih. Sava mendadak jadi panik! Tubuhnya bergetar hebat. Sementara Bara telah melihat bayangan orang memasuki kamarnya.
Merasakan tubuh Sava yang gemetaran, perhatian Bara jadi sedikit teralih. Bara mengangkat tubuh Sava dari tempat tidur. Dan menyembunyikannya di sudut ruangan. Dan terhalang lemari.
" Sava, jangan panik. Rileks Sava! Aku akan melindungimu. Kamu tunggu di sini, ya. Aku akan memeriksa ke luar. Bara siap berdiri, tapi Sava menahan langkah Bara.
" Aku takut. Jangan -jangan itu Vincent!" bisik Sava lirih. Masih dengan tubuh gemetaran. Trauma akan perlakuan Vincent, yang menyekapnya hampir satu tahun. Membuat Sava begitu rapuh.
" Aku janji, akan melindungimu, Sava. Jadi tenanglah di sini. Oke?" Bara keluar dari kamar Sava. Dan mengunci Sava dari luar.
Dengan langkah ringan, Bara memasuki kamarnya. Dan melihat seseorang di kamarnya, tengah mengacak- acak isi lemarinya. Sehingga tak menyadari kehadiran Bara.
__ADS_1
Sama seperti pelaku yang mencegatnya tempo hari di jalan, saat menuju proyek irigasi. Memakai pakaian ala ninja. Orang yang berada di kamarnya saat ini juga seperti itu. Memakai pakaian yang sama. Jangan- jangan malah orang yang sama.
" Siapa kamu, dan apa yang kamu lakukan di sini?!" hardik Bara dengan posisi siap menyerang.
Yang di tegur nampak terkejut. Langsung menyerang Bara. Bara menangkis beberapa serangan pria misterius itu. Dan balik menyerang dengan tendangan telak, mengenai dadanya. Sehingga pria itu terhenyak dan terhuyung ke belakang, dan membentur kepala tempat tidur. Pingsan!
Bara meraba nadi pria. Ternyata cuma pingsan. Tadi Bara memang tidak main- main dengan serangannya. Buru- buru Bara mengikat pria itu ke jerejak jendela. Agar tidak lolos, saat dia sudah siuman.
Terdengar suara ribut di bawah! Mungkin Bas sudah berhadapan dengan para penyerang itu.
Bergegas Bara turun setelah memastikan, bahwa pintu kamar Sava masih terkunci.
Benar saja, Bas tengah berjuang mengahadapi dua orang penyerangnya sekaligus.
Bara memberi bantuan, sehingga kini satu lawan satu. Bara bergerak ke luar, memancing si penyerang agar bertarung di luar saja. Selain karena tidak leluasa bergerak. Bara tidak ingin barang- barang di rumah itu hancur.
Pancingan Bara kena juga. Si penyerang langsung mengikuti langkah Bara keluar. Bas juga melakukan hal yang sama.
Kini pertarungan kian seru. Ternyata tamu tak di undang itu ada tiga orang. Bara yakin mereka adalah, orang yang sama yang menyerangnya tempo hari.
Kali ini Bara akan bertarung tanpa ampun. Di pengaruhi dendam atas kematian Frank, Bara menyerang dengan membabi buta. Sedikitpun tak memberi peluang kepada lawan. Yang tingkat ilmu bela dirinya masih di bawah, Bara.
Kemarin Bara kewalahan karena mereka main keroyok. Empat lawan satu.
" Bukkk, aarrgh...!!!! Terdengar jerit kesakitan saat tendangan kaki Bara, menghantam dada lawan. Darah segera ke luar dari mulutnya. Dengan menahan rasa sakit, dia memegang dadanya. Lantas ambruk ke tanah!
Melihat kawannya tak berdaya, orang yang berhadapan dengan Bas menghentikan serangannya. Ia menatap kawannya cemas. Sementara temannya yang satu lagi belum juga muncul.
Secepat kilat otaknya berpikir untuk melarikan diri. Tapi keburu di serang Bas, karena melihat lawannya yang lengah. Dengan mudah Bas menjatuhkannya hingga pingsan juga.
Bara langsung masuk kembali ke dalam rumah. Bergegas naik ke atas dan membuka pintu kamar Sava. Bara lega, karena Sava masih di sudut ruangan. Duduk sambil menekuk lututnya. Masih dengan tubuh yang gemetaran.
Sava yang mendengar pintu di buka, mengira itu adalah anak buah Vincent. Ketakutannya makin menjadi. Apalagi ketika mendengar langkah kaki mendekatinya.
Sava memeluk erat lututnya. Pasrah apa yang akan menimpanya selanjutnya. Ketika Bara menyentuh bahunya, Sava menjerit histeris.
__ADS_1
" Sava! Ini aku Bara!" teriak Bara menenangkan Sava. Begitu mendengar suara Bara, Sava membuka kelopak matanya.
Dan benar, Baralah yang berdiri di depannya!
Sava menghambur ke pelukan, Bara. Memeluk Bara ketat hingga Ia kesulitan untuk bernafas.
" Sava, tenanglah. Sudah tak apa- apa, sekarang."
Bara menekan saklar lampu, sehingga ruang kamar terang kembali. Dengan jelas Sava melihat wajah Bara. Dan mendadak ia malu, saat mendapati dirinya dalam pelukan, Bara.
Perlahan, Sava melepaskan pelukannya. Keteganganya kini perlahan sirna. Dengan wajah bersemu merah, Sava menunduk malu.
Kepanikannya tadi, membuatnya tak sadar telah memeluk Bara. Tapi Bara malah tak melepas pelukannya. Bara semakin memeluknya erat.
" Tetaplah seperti, Va. Sebentar saja." lenguh Bara. Dia begitu nyaman dalam pelukan Sava. Sehingga Bara enggan melepasnya. Terlebih karena keteganngan yang barusan terjadi.
Sungguh pelukan Sava, mampu menenangkan andrenalinnya yang lepas kontrol.
Sava hanya diam. Dan membiarkan Bara tetap dalam pelukannya. Teringat akan pesan almarhum Om Frank, agar dirinya mendampingi Bara sampai akhir.
Sunguh Sava merinding mengingat pesan itu. Pesan pertama dan terakhir yang di bisikkan Frak kepadanya.
Tanpa sadar, Sava mengelus kepala belakang kepala Bara. Naluri kewaniataannya yang ingin menenangkan, Bara.
Diperlakukan seperti itu, membuat hati Bara bergetar. Sungguh! Ini pertama kalinya Bara mendapatkan perlakuan seperti itu.
Merasa nyaman dalam pelukan seorang wanita. Yang tidak pernah lagi ia dapatkan semenjak kehilangan ke dua orang tuanya.
Bara, menangkup wajah Sava dengan kedua telapak tangannya. Menelusuri wajah Sava dengan tatapannya. Membuat wajah Sava memerah.
Tatapan mata Bara terhenti di b***r Sava yang merekah merah. Pandangan Bara sama sayunya dengan netra Sava.
Bara melabuh kecu****nya di b***r merah merekah itu. Melabuhkan hasrat yang tiba-tiba menuntut. Sava melenguh lirih. Hingga Bara menghentikan gerakannya. Nafas keduanya terngah!
Kembali Bara memeluk tubuh, sava. Seakan enggan melepasnya.*****
__ADS_1