
" Sebenarnya apa tujuan kamu ke mari, Sy?" tanya Bara. Seusai mereka makan siang.
" Aku hanya hendak berlibur."
" Kamu tau dari mana alamat rumah ini?" cecar Bara curiga.
"Dari seseorang,"
" Siapa?!" nampak sekali wajah Bara menahan kesal.
" Eh..aku da..pat...dari.," Sisy gugup untuk memberi jawaban.
Bara mengatupkan rahangnya. Bagaimana mungkin Sisy senekad dan senaif ini. Menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya dengan alasan berlibur. Tapi justru berakhir di rumahnya. Dan mengatakan dengan gamblang kalau dia sangat merindukannya.
Wajar Bara curiga akan ke datangan Sisy yang tiba- tiba. Siapa tau Sisy di mamfaatkan oleh orang asing. Yang ingin balas dendam padanya. Terlebih karena ia sebelumnya telah di peringatkan!
Jadi sungguh tak masuk akal jika kemunculannya tanpa maksud apa- apa. Belum lagi, pas datang Sisy dalam keadaan mabuk.
Beruntung sekali dia tidak apa- apa. Supir taxi yang mengantarnya sungguh orang baik. Mengantarnya sampai ke rumahnya.
Sang supir sempat menjelaskan Sisy ngotot minum tuak, saat dalam perjalanan. Makanya dia mabuk. Konyol sekali! Juga ceroboh!
" Aku hanya beri kamu waktu tinggal seminggu di rumah ini. Setelahnya kamu harus pulang."
" Tidak perlu menunggu seminggu. Hari ini juga aku akan pergi!" seru Sisy sakit hati.
" Jangan keras kepala, Sy. Dan jangan membantah!" hardik Bara lantas bergegas meninggalkan Sisy.
" Bara, aku sangat merindukan kamu. Aku selalu mencemaskanmu sejak kamu menhilang." tiba- tiba Sisy memelul Bara dari belakang.
Bara terperanjat. Tubuhnya mendadak kaku.
"Apa- apaan kamu,Sy?" Bara melepas pelukan Sisy. Menatapnya nanar! Dengan sorot mata tajam.
Sisy hanya bisa menahan rasa malu, atas perlakuan Bara. Memang salahnya, datang ke sini tanpa berpikir panjang.
Rasa rindunya yang tidak tertahan pada, Bara. Telah mematikan logikanya. Selama mengenal Bara, tak pernah sekalipun dia bersikap manis padanya.
Bara selalu acuh dan dingin!
Tapi selalu saja membuatnya penasaran!
Sisy sempat berhayal, pertemuannya dengan Bara akan mengharu biru. Dia ingin memberi kejutan pada Bara! Tapi semua harapannya malah jadi bumerang baginya!
Bara marah, dan tak mentolelir kehadirannya.
Apakah sikap Bara itu, karena gadis bernama Sava? Siapakah gadis itu. Apakah dia kekasih Bara?
Beberapa kali Sisy memergoki sikap lembut Bara, setiap memandang Sava. Sebuah sikap yang membuat iri, hati Sisy. Sekaligus cemburu!
Tetapi haruskah segitunya Bara marah padanya, hanya untuk menjaga perasaan Sava?
__ADS_1
Karena Bara jelas tahu, seperti apa perasaan Sisy padanya. Sisy selalu terang- terangan menunjukkan perasaannya selama ini pada, Bara.
Tapi tak pernah di respon, Bara!
Jika sudah begini, menyesal rasanya mencuri tau alamat Bara dari file Richard. Dan bila Bara menayakan hal ini pada Richard. Pasti akan membuat murka Richard, karena telah mengaduk- aduk filenya
Sisy, mengetok kepalanya berkali- kali. Menyadari ketololannya. Yang selalu mengandalkan perasaannya ke timbang logika.
Sehingga membuatnya sering terseret masalah. Sifatnya yang tak kunjung dewasa, dan selalu memaksakan kehendaknya. Mungkin itu yang membuat Bara, tak respek padanya.
Terbiasa jadi anak manja dalam keluarganya. Apa yang dia inginkan, harus dapat dia miliki.
***
Bara menerima notifikasi di ponselnya, menanyakan keberadaan Sisy. Apakah Sisy berada di tempat Bara. Karena Sisy telah menghilang beberapa hari.
" Sisy baru tiba semalam, Richard.Aku meragukan keselamatannya di sini."
" Suasana makin bergolak di sana, ya?"
" Iya, aku sudah di peringatkan untuk waspada. Karena aku tidak kapan mereka akan berulah."
" Gak usyah khawatir, Bara. Aku sendiri yang akan datang menjemputnya. Sementara ini, jaga dia agar jangan kemana- mana. Dia itu sangat sulit di kendalikan. Selalu bertingkah semaunya."
" Baiklah, aku akan menjaganya."
" Satu hal lagi Bara. Tolong, jangan terlalu keras pada Sisy. Kamu taukan Sisy sangat mencintaimu. Dia nekad lakukan itu, hanya untuk bertemu dengan kamu. Dia sangat terpuruk, saat kamu menghilang, tiba-tiba. Kamu pasti tau apa maksudku, kan?"
" Kalau begitu, perlakukan dia seperti sahabat. Ubahlah sikap dinginmu padanya. Setidaknya selama dia di sana. Sebelum aku datang menjemputnya. Mungkin hanya dengan cara itu, hatinya terbuka. Dan mau menerima kenyataan."
" Baiklah, aku akan mencoba. Tapi jangan salahkan aku. Bila masalah makin rumit."
"Aku percaya kamu pasti bisa, meluluhkan hatinya. Mungkin yang dia inginkan adalah perhatianmu, Bara."
Bara menghela nafas berat. Mengingat betapa gigihnya Sisy hendak meraih hatinya. Tapi semua usaha Sisy, sia- sia. Karena Bara selalu bersikap dingin. Bahkan terkadang begitu kasar.
Siapa yang patut untuk di salahkan dari semua, ini? Sisykah? Bersalahkan dia, karena menaruh hatinya untuk, Bara. Sementara Bara tau, kalau Richard juga menaruh hatinya untuk Sisy.
Selama ini, Bara selalu menghindar. Tapi Sisy juga semakin penasaran dan nekad. Richard mungkin benar. Bara harus mengubah sikapnya menghadapi Sisy.
***
" Bi, Sava dan Sisy pada ke mana?" tanya Bara, karena tak melihat mereka berdua.
" Tadi katanya mau melihat kuda, nak Bara,"
" Melihat kuda?" Bara bergegas keluar, takut Sisy menunggangi kuda. Tanpa seijinnya. Karena Sisy belum kenal daerah ini.
Dugaan Bara, benar. Kedua gadis itu sedang mengelus kuda kesayangan Bara dan Frank.
" Hai, Bara. Kuda- kudamu bagus dan hebat!" seru Sisy saat melihat Bara menyusul mereka ke kandang kuda.
__ADS_1
" Kalian mau berkuda, ya?" tatap Bara bergantian.
" Gak! Aku ngeri dengan kuda. Cuma mau nemani, kak Sisy saja. Melihat si hitam dan si putih," sahut Sava.
" Aku mau, kalau di ijinkan. Aku juga punya kuda tapi tidak sebagus kuda ini. Boleh ya?" ucap Sisy memelas.
Bara gak kuasa menolak.
" Boleh, tapi kamu belum kenal daerah ini."
" Yah, temani aku dong, Bara?" rengek Sisy manja.
" Egh, mungkin lain kali, Sy. Kita bertiga naik kuda bersama, " tolak Bara halus.
" Yeah! Waktuku kan gak lama di sini. hari ini juga pas liburan. Iya kan?"
Bara menatap Sava. Sava tersenyum lembut, mengiyakan.
" Kak Sisy, benar. Pergi sajalah. Keburu sore, nanti." dukung Sava. Membuat Sisy tersenyum riang.
" Yuk! Bara. Aku dengan si hitam putih, ya." Sisy memilih kuda Frank.
Bara mengeluarkan ke dua kuda itu.
" Hati- hati, Sy. Kuda mendiang Om Frank ini agak agresif. "
Bara menaikkan pelana. Setelah terpasang nyaman. Sisy naik di bantu, Bara.
Lalu Bara melakukan hal yang sama, padq si putih kudanya.
" Yuk, Sava. Kamu naik di depan." ajak Bara tapi Sava menolak.
" Ah, kasihan kudanya nanti. Masa di tunggangi dua orang sekaligus," tolak Sava.
" Yuk! Bara. Kita pacuan!" teriak Sisy langsung memacu si hitam putih ke arah irigasi.
" Sisy, hati- hati!" teriak Bara kaget. Karena jalan menuju irigasi sangat curam. Mana Sisy belum mengenal kondisi jalan. Juga rute ke irigasi.
Bara bergegas mengejar Sisy. Takut terjadi sesuatu padanya.
Sava memandang kepergian Sisy dan Bara. Ada sebuah rasa yang tiba-tiba menelusup di relung hatinya.
Cemburukah?
Ah, Sava segera menepis perasaan itu. Tak ingin terlalu kepo akan hubungan Sisy dengan Bara. Buru- buru, Sava masuk ke rumah. Mending bantu- bantu bi Arni menyiapkan makan malam.
Sementara, Sisy dengan lincahnya menunggangi si hitam putih. Mengikuti arah jalan yang mendaki dan menurun.
Sisy semakin memacu kudanya, ketika melihat Bara menyusulnya.
" Hati- hati, Sy!" teriak Bara rada kesal. Melihat Sisy yang begitu nekad, memacu si hitam putih.
__ADS_1
Bukannya berhenti, Sisy malah semakin melaju kencang. ****