
Astaga! Sindiran om Frank sungguh membuat merah wajah Bara. Gegara bi Arni yang asal ngomong menuduh Sava adalah istrinya.
Sungguh tebakan konyol yang berakhir konyol juga.
Bara bergegas mengambil anak kunci yang tergantung di dekat tangga. Tumben om Frank menyabotase Bas jadi supirnya.
" Bi, aku pamit dulu."
" Bukankah om Frank bilang aku ikut ke perusahaan hari ini?" ucap Sava mengingatkan Bara.
" Dengan kakimu yang sakit itu? Yang benar saja,"
sahut Bara acuh.
" Huh! Sialan!" rutuk Sava kesal. Gegara kejadian semalam, dia batal ikut ke perusahaan . Padahal dia sudah bosan di rumah terus. Tapi kalau dia tetap memaksa ikut bisa merepotkan. Karena kakinya memang masih terasa sakit.
" Bi, pintunya di kunci, ya. Kalau ada yang datang jangan sembarangan buka pintu." pesan Bara.
Memang ada beberapa pengawal yang di tempatkan di setiap sudut rumah. Yang menyaru jadi penyadap getah pohon pinus.
Sekilas rumah besar tanpa pagar itu seolah tak di jaga. Tapi om Frank telah menempatkan orang- orang pilihannya untuk selalu menjaga lingkungan rumahnya.
Bara hendak pergi meninjau proyek irigasi, yang tinggal penyelesaian saja. Irigasi akan resmi di buka beberapa minggu lagi. Seiring di mulainya musim tanam para petani.
Tanah pertanian yang telah bertahun- tahun di tutup. Sejak meninggalnya Hartono akan di buka kembali. Pengelolaannya akan di serahkan kepada beberapa kelompok tani. Yang tidak memiliki tanah Dengan cara bagi hasil.
Karena Frank dan Bara begitu peduli dengan kehidupan masyrakat di sekitar lingkungan mereka. Meneruskan cita- cita almarhum Hartono, ayah nya Bara.
Dengan bersiul kecil, Bara menyusuri jalan yang masih terbuat dari tanah. Lebarnya juga cuma dua meter. Dan semakin sempit karena rumput liar yang tumbuh di ke dua sisi jalan.
Rumah kediaman Bara dibangun di atas tanah warisan leluhurnya. Berupa daerah perbukitan, yang di tumbuhi pohon pinus.
Rumah itu terletak di puncak bukit. Akses jalan satu- satunya memang sudah di aspal sampai ke di depan rumah.
Sedang jalan yang di lewati untuk lalu lintas pembangunan proyek di buka jalur lain yang lebih rendah.
Karena letaknya yang di atas bukit, tidak ada orang lain yang melintasi jalan itu. Kecuali ada orang yang berkepentingan. Juga karena jalan itu adalah jalan pribadi.
Jarak rumah ke area proyek irigasi lebih kurang satu kilometer. Dan butuh kewaspadaan karena melintasi jalan yang masih terbuat dari tanah.Karena di sisi kanan, ada jurang yang lumayan dalam.
Belum lagi jalan yan menurun.
__ADS_1
Tiba- tiba, Bara menghentikan mobil sportnya, saat melihat ada pohon pinus melintang di badan jalan. Sepertinya pohon itu sengaja di letakkan untuk menghalangi orang yang melintas.
Bara menatap curiga. Karena pohon itu bukan pohon yang tumbang. Instingnya membisikkan ada hal tak beres di sekitarnya.
Lewat kaca spion Bara menatap arah belakang kalau ada hal yang mencurigakan. Tapi ia tak melihat apapun. Lalu di sekitar semak- semak di kedua sisi jalan.
Bara
meraih ponselnya, menghubungi Frank. Tapi tidak di angkat. Perlahan Bara keluar dari mobil dengan pandangan tetap waspada.
Lebih baik dia keluar dari pada tetap berada di dalam mobil. Bertahan dalam mobil, akan lebih mudah menyingkirkannya. Bila ada yang berniat membunuhnya. Karena sudah jelas ada seseorang atau beberapa orang yang tengah mengawasinya.
Bara dapat merasakan aura itu. Aura membunuh!
Bara menyingkirkan kayu pinus itu hingga ke sisi jalan.
Dan saat menunduk itu, Bara mendengar seperti suara angin di belakangnya.
Zlepp!
Empat sosok tubuh sudah berdiri di belangkang.
Sungguh Bara takjub! Akan ilmu meringankan tubuh dari ke empat orang di hadapannya. Karena langkah mereka nyaris tak mengeluarka suara.
" Jadi ini ulah kalian?"tuduh Bara sinis pada empat sosok yang membalut tubuh mereka dengan pakaian serba hitam. Ala ninja.
" Apa yang kalian lakukan di sini tanpa izin. Karena tanah ini adalah tanah pribadi!"
Tapi ke empat orang berpakaian hitam itu tak menjawab. Malah mereka mulai menyerang, Bara. Empat lawan satu.
" Fuih! Bisanya cuma main keroyok!" Bara menghindar dari serangan salah satu mereka. Bara bersikap waspada. Dia tak boleh anggap remeh, apalagi mereka main keroyok. Dan menyerang tanpa ampun.
Beberapa kali serangan mereka gagal, karena Bara juga punya ilmu bela diri. Sehingga mampu mematahkan gerakan lawan. Untuk beberapa saat Bara masih bisa memberi perlawanan . Atau menghindari serangan.
Tapi karena lawan yang tak seimbang, Bara merasa kewalahan juga. Satu saat salah satu dari mereka berhasil memberi tendangan kewajah Bara. Bara berhasil berkelit, tapi tak urung ujung kaki lawan mengenai rahangnya.
Akibatnya Bara terhuyung ke belakang, tapi masih bisa menyeimbangkan langkahnya.
" Fuih!" Bara meludahkan darah segar dari mulutnya. Karena sudut bibirnya berdarah.
Ke empat musuhnya takjub juga melihat pertahan, Bara. Tak bisa mereka pungkiri, ilmu bela diri Bara cukup tinggi. Kalau saja permainannya fair. Mungkin mereka tidak bisa mengadapi Bara. Mereka akan sangat mudah di kalahkan.
__ADS_1
Merasa dirinya terdesak, Bara mengubah strateginya. Dia akan menggunakan kekuatan lawannya menghadapi lawannya.
Dengan tiba-tiba Bara menangkap sosok di depannya. Karena tak menduga gerakan Bara, spotan ke tiganya menyerang balik pada Bara.
Dan naas, justru teman mereka sendiri yang mendapat serangan itu, dan babak belur.
Dan tiba- tiba saja sebuah sebuah sepeda motor melesak dan berhenti di dekat, Bara. Bara terkejut saat melihat Bas dan Om Frank sudah ada di antara mereka.
Dan duel itu berlanjut dengan seimbang, satu lawan satu!
Bara yang tak menduga akan datangnya bala bantuan itu terperangah dengan kedatangan Bas.
Berapa menit sebelumnya.
Frank melihat panggilan tak terjawab di layar ponselnya, dari Bara. Saat Frank menelepon balik tidak ada respon. Lalu menghubungi bi Arni apa Bara masih di rumah.
Balasan dari bi Arni, Bara sudah pergi dari rumah. Lantas Frank menelepon mandor oengawas proyek apa Bara sudah sampai di proyek. Tapi jawabnnya belum. Padahal sudah seharusnya Bara tiba di lokasi, menurut jarak dan waktu tempuh.
Frank menjadi curiga kalau ada terjadi sesuatu pada Bara. Apa lagi setelah berkali- kali di telepon Bara tak juga mengangkat panggilan itu.
Dan akhirnya Frank mengajak Bas meninjau ke proyek. Karena firasat buruk telah menghantuinya.
Dan dugaannya benar,mereka melihat Bara tengah bertarung dengan empat orang yang tak di kenal.
" Bara, kamu tidak apa- apa?!" seru Frank saat melihat darah di sudut bibir Bara.
" Aku baik- baik saja om!" Bara terus melancarkan beberspa serangan ke arah musuh mereka. Ketiganya terdesak, hingga mereka.terjengkang ke tanah.
" Siapa kalian? Dan siapa yang menyuruh kalian?"
Farank menarik salah satu dari mereka, mengorek keterangan. Tapi belum sempat mendapat jawaban, ketiganya melompat seraya membopong teman mereka yang masih pingsan.
Mereka melompat ke arah jurang dan menghilang ke arah utara.
" Itu pasti suruhan Vincent. !" seru Frank geram.
" Om, tau dari mana kalau mereka orangnya Vincent?"
" Karena mereka menghilang ke arah utara. Perbatasan tanah kita dengan Vincent kan di arah utara. Dan ini," Frank memungut sebuah benda bulat di tanah. Ternyata sebuah logo.
Logo kepala ular dan ranting bambu!
__ADS_1
Tiba- tiba kepala Bara pusing, melihat logo itu. Seperti slide film yang di putar, cepat seperi gasing bersileweran dalam ingatan Bara. Cepat dan semakin cepat. Bara merasakan sakit yang luar biasa. *****