
Bara dan Bas terus mengawal Dewi, yang belum sadar paska operasi, karena keguguran. Rasa penasaran Bara, apa yang telah terjadi pada wanita itu sangat mengganggu pikirannya. Sementara, Dewi masih belum sadar juga.
" Bos, gimana ini. Kok belum sadar juga ya, perempuan itu. Mana gak ada pula keluarga yang mencarinya," ucap Bas.
Bara menghela nafasnya. Pikiran Bas, sama dengan apa yang berkecamuk di hatinya. Bara ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan perempuan muda itu.
Jika perempuan itu belum sadar juga, bagaimana cara untuk melaporkan kepada kepada keluarganya? Sementara tidak ada ditemukan KTP, atau kartu identitas lainnya di dalam tas. Yang bisa merujuk siapa sebenarnya perempuan itu.
Ingin memfostingnya di dunia maya, Bara merasa ragu juga. Bagaimana kalau perempuan itu adalah korban percobaan pembunuhan. Bukan tidak mungkin, pembunuhnya sendiri datang mengaku sebagai keluarga. Lalu menuntaskan pekerjaannya yang gagal.
Tiba- tiba seorang dokter datang memeriksa ke ruangan, Dewi.
" Bagaimana keadaannya, Dokter? Kenapa belum sadar jua?" tanya Bara, pada Dokter Fariz yang melakukan operasi pada Dewi.
" Sudah satu jam lebih. Sebaiknya kita tunggu saja, Pak, mungkin trauma yang dia alami sangat berat." tukas Dokter Fariz.
" Keluarganya mana, Pak?" tanya Dokter Fariz, merasa heran karena belum juga ada yang datang.
" Kami tidak tau siapa keluarganya, Dokter. Karena kami menemukan ibu itu tergeletak di pinggir jalan. Kami juga tidak menemukan kartu identitasnya.," sahut Bara.
" Jadi, tinggal menunggu ibu itu siuman, ya?"
" Iya Dokter."
" Baiklah kalau begitu, semoga ibu itu cepat sadar. Kalau ada hal mendesak, hubungi saya, Pak." Dokter Fariz memberikan kartu namanya pada Bara.
Lima menit setelah kepergian Dokter Fariz dari ruang rawat Dewi. Dewi siuman. Ia merintih dan kaget saat menyadari dirinya tengah berada di tempat yang asing.
" Aku di mana, ya? Siapa yang telah membawaku ke mari? Bagaimana aku bisa berada di sini?" tanya Dewi. Dewi merasa heran saat melihat dua wajah orang asing yang tersenyum padanya.
" Syukurlah, akhirnya Ibu sadar juga," ucap Bara.
" Kamu siapa? Kenapa aku bisa berada di sini?"
" Kami menemukan Ibu, terbarirng di pinggir jalan," ucap Bara. " Apa Ibu ingat, kejadian yang menimpa Ibu? Sehingga berada di pinggir jalan dalam keadaan pingsan?" tanya Bara - hati- hati.
" Aku pingsan di pinggir jalan?" Dewi malah nalik bertanya dengan sorot mata keheranan. Sekelebat bayangan Alex tiba- tiba melesat dalam ingatannya, Dewi.
__ADS_1
Kengerian jelas terpahat di mata Dewi. Dia menatap tajam ke arah Bara dan Bas penuh kecurigaan. Dewi merangsek ke sudut ranjang. Ingin menjauh karena ketakuyan yang amat sangat.
Dalam benak Dewi, kedua otang yang tak dikenalnya itu adalah utusan suaminya, Alex.
" Pergi! Pergi kalian!" Usirnya panik. Jarum infus di lengannya terlepas, karena hentakan Dewi.
" Bu, tenang Bu. Jangan takut, kami hanya hendak menolong, Ibu," bujuk Bara perlahan, mendekati Dewi.
" Stop! Jangan mendekat! Atau aku akan berteriak!" Ancam Dewi, berusaha meraih tiang gantungan selang infus.
" Ibu, tenanglah dulu. Kami bukan orang jahat. Kami akan membantu, Ibu. Tapi Ibu harus bercerita, apa yang telah terjadi dengan Ibu. Siapa yang telah melakukan semua ini, pada Ibu?"
"Iya, Bu. Tolong percaya pada kami, ya?" bujuk Bas lembut.
" Aduh, sakit!" Rintih Dewi kesakitan, lalu meraba bagian perutnya. Dewi merasakan perutnya rata. Usia kehamilannya memang masih, muda. Tapi perutnya sudah terasa buncit. Mengapa ada perih di bagian bawah perutnya.
Apa yang terjadi dengan janinnya. Apakah dia tidak bertahan, karena tendangan suaminya di bagian perutnya itu.
" Apakah yang telah terjadi dengan anakku?" Dewi menatap Bara dan Bas bergantian.
" Sudah, jangan lanjutkan lagi. Aku sudah bisa menebak apa yang hendak, Anda katakan." Isak Dewi seraya meremas sprei. Dewi menangis tertahan. Ia teringat, betapa tega suaminya Alex menendang perutnya.
Membiarkannya terkapar kesakitan, hingga ia pingsan. Lalu selanjutnya Dewi tidak ingat apa- apa lagi. Ketika sadar dirinya telah terbaring di Rumah Sakit.
" Nama saya, Dewi. Jadi Anda berduakah yang telah menolong saya?" Dewi memandang Bara.
" Tapi seharusnya kalian biarkan saja saya mati. Tak ada gunanya saya hidup lagi. Aku telah hancur. Suamiku telah membunuh anakku. Untuk apa lagi aku hidup."
" Maaf, Bu Dewi. Kalau boleh tau, di mana alamat Ibu tinggal? Biar kami hubungi keluarga, Ibu,"
" Saya sudah tak punya keluarga lagi. Satu-satunya keluarga saya, adalah suami. Tapi dia sudah menikah lagi. Dialah yang telah membunuh anak saya." Tangis Dewi kembali pecah, saat mengingat perlakuan suamianya.
" Tidak apa- apa, Bu. Kalau Ibu sudah tidak punya keluarga lagi. Ibu boleh kok, tinggal di rumah saya,"
" Trimakasih, atas kebaikannya. Tapi sebaiknya aku pulang saja ke desaku."
" Apa Ibu yakin, akan aman di sana? Siapa tau, suami Ibu datang mencari Ibu. Memastikan apakah Ibu masih hidup atau tidak," ujar Bara.
__ADS_1
Dewi tercenung, memikirkan ucapan Bara. Jika dia kembali ke kampungnya. Orang akan bertanya tentang suaminya. Apa yang akan dia jawab nanti? Bisa saja orang di kampungnya akan bergosip, tentang rumah tangganya.
Apalagi, karena ia telah keguguran. Mereka akan mencari tau, apa sebenarnya yang telah terjadi.
Dewi tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi dalam hidupnya selanjutnya. Semua begitu kacau.
" Tapi, bila saya ikut kalian, apa tidak akan merepotkan? Bagaimana dengan istri atau orang tuanya Bapak?"
" Saya belum menikah, di rumah saya ada bibi dan teman saya. Ibu nanti boleh bekerja di sana menemani, bibi,"
" Saya akan berbakti sama Bapak. Untuk membalas kebaikan Bapak sama saya, " desah Dewi. Dewi tau, biaya perobatannya pasti banyak. Dia akan membalas kebaikan sang penolongnya itu.
Dia harus bangkit, dan akan membalaskan sakit hatinya, pada suaminya. Dia harus hidup dengan dendam itu!
Tiga hari paska dioperasi karena keguguran, Bara membawa Dewi pulang ke rumahnya. Bara telah mengabarkan kepulangan mereka lebih dulu.
Supaya Bi Arni dan Sava menyiapkan kamar untuk Dewi.
Setelah sampai di rumah kediaman Bara, Dewi sangat terkejut mendapat sambutan hangat untuknya. Hingga tanpa sadar, Dewi menangis karena terharu atas perlakuan Bi Arni dan Sava.
Padahal mereka baru kenal dirinya. Tapi sikap dan sambutan mereka seolah dia adalah bagian dari keluarga itu.
" Selamat datang di rumah ini, semoga Nak Dewi kerasan tinggal di sini,"
" Trimakasih, Bu. Telah menerima saya di sini,"
" Selamat datang juga, saya Sava," ucap Sava.
" Oh, ya, Sisy mana?" tanya Bara. Karena sedari tadi tak melihat sosok Sisy.
" Nak Sisy lagi berkuda Nak Bara. Hampir tiap hari dia pergi, selama Nak Bara gak di sini, "
" Ya, udah Bi. Biarlah dia lakukan sesukanya. Aku mau istrirahat dulu ," ucap Bara enteng.
Sisy memang, bukan orang yang mau di kekang. Semakin di larang dia akan semakin berontak.
" Nak Dewi juga harus istirahat, mari Bibi antar ke kamarmu." Bi Arni menuntun Dewi kemarnya yang bersebelahan dengan kamarnya. ***
__ADS_1